Seperti biasa, Disa mengetuk sebelum masuk ke kamar Nyonya Mariska. Dia belum tau kamar penghuni yang lain, bahkan kamar Ndoro Putra pun dia belum tahu, tetapi kamar Nyonya Mariska sudah beberapa kali Disa datangi.
Disa pun mendekat ke ranjang majikannya yang tampak semakin pucat. Seprei yang sudah tak rapi walau tak terlalu berantakan, hanya kusut saja.
Sedangkan Nyonya Mariska, terlihat menyelimuti dirinya sampai sebatas leher.
Lagi-lagi Disa menghembuskan napas, karena dia belum tahu sama sekali bagaimana cara membersihkan majikannya itu.
Dilihatnya Nyonya Mariska yang sedang terlelap. Disa berpikir mungkin nanti saja dia kembali, tak tega harus membangunkannya. Namun, Disa takut jika tugas tidak segera diselesaikan.
Disa pun memilih membangunkan Mariska dengan sangat hati-hati, berharap dia tak terkena masalah. Dia memang dilema, di satu sisi tak tega membangunkan, di sisi yang lain takut malah hal itu ternyata salah.
"Nyonya ..." panggilnya.
Nyonya Mariska tampak menggeliat dan tak lama matanya pun mengerjap, dia bangun. Namun, mendadak dia terlihat malu saat di tatap Disa.
Walau ini bukan pertama kalinya pembantu di rumahnya mengetahui apa yang ia dan suaminya lakukan. Namun, saat Disa yang akan membantunya membersihkan diri, rasa malu itu makin besar, karena Disa adalah teman sekampungnya.
"Dis—" ucapnya.
Disa pun tersenyum membalas ucapan majikannya itu. Dia tahu, pasti Nyonya Mariska merasa malu dengan dirinya, tetapi mau bagaimana lagi, ini memang sudah tugasnya merawat Nyonya Mariska dan mau tak mau dia harus membiasakan diri dengan kejadian seperti ini.
"Saya bantu membersihkan diri ya Nyonya." Disa pergi berjalan ke kamar mandi, dia mengisi bathtub untuk majikannya.
Lalu kembali ke kamar. Di sana Nyonya Mariska sudah duduk menyandarkan dirinya, masih dengan selimut yang dia angkat sampai ke leher.
Disa lalu memunguti pakaian Nyonya dan Tuan mudanya yang bercecer di bawah.
Setelah itu Disa mendekat. "Mari Nyonya," ajaknya. Nyonya Mariska tampak enggan beranjak dari tempat tidurnya.
Disa mengerti dan tetap tersenyum. "Tidak pa-pa Nyonya, saya mengerti. Lagi pula, ini tugas saya juga untuk merawat Nyonya, kan?"
"Tapi Dis, aku malu," jawab Nyonya Mariska, sambil membenamkan kepalanya di balik selimut.
"Nanti keburu adem airnya Nyonya, ayo," pinta Disa.
Disa memakaikan jubah mandi kepada Nyonya mudanya itu, agar saat selimutnya dibuka, Nyonya Mariska tak telanjang bulat.
Disa pun memapahnya sampai ke kamar mandi. Baru, setelah sampai di Bathtub, Nyonya Mariska membuka jubah mandinya.
Disa berdiri di belakangnya, dia masih memiliki sopan santun untuk tak melihat ke depan.
Disa menghela napas melihat tubuh majikannya yang sangat kurus, bahkan tulang punggungnya saja sampai terlihat.
Saat Nyonya Mariska sudah membenamkan tubuhnya di air, Disa segera mulai membersihkan tubuh Nyonya mudanya.
Dimulai dari membersihkan rambutnya. Disa mengingat percakapan dengan Nyonya Mariska saat ia menyuapinya siang tadi, dia bahkan mengeluh jika suaminya tak memandangnya seperti seorang istri. Disa masih tak mengerti, apa maksud dari perkataannya itu.
Di pikiran Disa saat itu, Tuan mudanya mungkin tak mau menyentuh istrinya, dan Disa pikir itu masuk akal. Bagaimana Tuan mudanya akan memiliki hasrat, jika melihat istrinya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Tetapi, jika melihat keadaannya seperti sekarang, lalu yang di maksud dengan tidak menganggap Nyonya Mariska seorang istri itu apa? gumam Disa.
Sudahlah, Disa tak mau memikirkan itu terlalu jauh, dia teringat perkataan Mbak Fatimah untuk tidak ikut campur urusan majikannya.
Setelah membersihkan rambutnya kini Disa mulai membersihkan tubuh Nyonya Mariska.
Disa mulai menggosok lengan majikannya itu. Dia melihat ada tanda kissmark di leher Nyonya Mariska, tetapi masih diabaikannya, wajarlah pikir Disa.
Nyonya Mariska masih memejamkan mata, menikmati pelayanan yang dilakukan Disa.
Setelahnya, Disa mengatakan agar Nyonya Mariska bangkit, untuk segera di bersihkan dan kembali istirahat.
Mariska mengikuti arahan Disa, dia lantas bangun dan sepertinya sudah tak sungkan lagi, terbukti dia langsung berpegangan pada Disa dengan tubuh basah kuyupnya.
Disa pun terbelalak, dia terkesiap, saat melihat tubuh bagian dada Nyonya Mariska banyak sekali memar. Bisa di katakan dadanya itu berwarna biru keungu-unguan, berbanding terbalik dengan bagian tubuh lain yang menampakkan tulang belulangnya, tetapi tidak dengan bagian buah dadanya, bentuknya masih berisi.
Mariska yang melihat Disa menatap nanar dirinya, langsung menutup dadanya dengan sebelah tangan, berusaha menutupi.
"Dis," tegurnya.
Disa yang tau jika majikannya itu tak menyukai arah pandangnya, lantas menundukkan kepalanya. "Maaf nyonya," ucapnya dan segera menyalakan shower untuk menghilangkan sisa busa pada tubuh sang majikan.
Setelah mengelap kering tubuh majikannya, Disa lantas segera memakaikan kembali jubah mandinya. Berusaha tak memperhatikan bercak yang ada di dada sang majikan.
Disa kembali memapah majikannya ke dalam kamar, sekarang Disa mendudukkan Nyonya Mariska di sofa panjang depan ranjangnya. Dia belum membereskan sisa pertempuran Nyonya dan Tuannya itu.
Setelah memakaikan pakaian pada Mariska dan mengeringkan rambut serta menyisirnya, Disa lantas bergegas membereskan tempat tidur, mengganti dengan seprei yang baru agar majikannya dapat beristirahat dengan nyaman.
Baru setelah itu Disa memapahnya kembali ke tempat tidur dan membaringkannya.
Disa merawat Nyonya Mariska seperti merawat anak balita. Mau bagaimana lagi, memang keadaan Mariska itu sangat lemah. Untung saja Disa tak perlu membantu membersihkan hadas kecil dan besarnya, sepertinya majikannya masih sanggup jika hanya itu.
Setelahnya tampak majikannya itu kembali terlelap, terdengar dengkuran halus, Disa pun kembali menyelimutinya.
Disa membawa keranjang pakaian kotor untuk dicuci. Sambil berjalan, Disa masih tak dapat melupakan bercak biru di dada Nyonya Mariska, dia jadi berpikiran ke mana-mana.
Apa tuannya itu bermain kasar?
Lalu apa maksud dari perkataan Nyonya Mariska tentang dirinya yang tak dianggap istri adalah jika tuannya itu melakukannya dengan tak punya nurani? Seperti yang ia lihat sekarang?
Dengan kata lain Tuan Irwan meminta haknya sebagai suami, bahkan saat Nyonya Mariska sakit?
Disa menggeleng pelan untuk menjernihkan pikirannya.
Setelah sampai di dapur, Disa langsung pergi mengarah ke mesin cuci, menumpuk pakaian kotor di sana.
Arena mencuci memang berdekatan dengan dapur dan pintu yang langsung mengarah ke belakang untuk tempat menjemur, sehingga saat memasak tak terasa panas di dapur, karena sirkulasi udara menjadi lancar.
Disa menyisir pandangannya sambil masih memegang keranjang pakaian kotor dari kamar Nyonya Mariska, dia hendak kembali ke sana untuk mengembalikannya. Disa mencari-cari di mana teman-temannya.
Terdengar suara tertawa mereka dari arah samping, Disa lantas memutar tubuhnya untuk mendatangi teman-temannya. Ternyata mereka sedang memakan rujak dengan dua orang lelaki, lelaki pertama Disa tak pernah melihatnya, sedang lelaki kedua adalah lelaki tua yang memperingatinya untuk tak bermain di gazebo tadi pagi.
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-04-22
1
Pipi Tembem
Lelaki yg hanya mnuntut jatah tanpa mau peduli dgn keadaan istri.. trust me, ia hanya menikahi seorg wnita hanya tuk sekedar nafsu, bukan cinta.. Tidak lebih.. !!! Karena yg namany cinta itu harus bisa saling menghargai.. saling mmberi, saling menerima.. dan saling dapat mnikmati kebersamaan.. Bukan hanya nuntut jatah tanpa merasakan perasaan istri.. Itu namany nafsu binatang, yg memang tak bisa trkendali.. 😡
2022-09-02
1
eMakPetiR
masih ngikutin
2022-07-02
0