Saat Mita akan keluar dari kamar Ndoro Putra, dia mendengar jika pintu kamar Nyonya Mariska di buka.
Mita pun kembali masuk ke arah kamar Ndoro Putra, tanpa menutup rapat pintunya.
Mita mendengar sekilas pembicaraan majikannya dengan Bu Sum.
Dia mendengar jika Bu Sum mengatakan bahwa Disa dan Tuan Irwan akan di jodohkan.
Mita terkejut, dia keluar setelah mendengar suara pintu tertutup, Mita melihat Bu Sum berjalan meninggalkan kamar.
Tak ada yang tahu, ternyata Bu Sum tau jika Mita menguping percakapannya, Dia hanya tersenyum miring sambil terus melanjutkan jalannya.
Mita merasa marah, dia tak sudi jika Disa akan menjadi Nyonya barunya.
Di fikiran Mita, penyakit Nyonya Mariska semakin parah, sehingga keluarga majikannya akan menikahkan Tuan Irwan dengan Disa.
Bukan kah seharusnya dirinya yang menjadi kandidat utama yang jadi bakal calon Nyonya baru di rumah ini? karena dia merasa selama ini dia yang merawat Ndoro Putra.
Mita membenci Disa, dia berfikir bahwa gadis itu ternyata memiliki sifat licik.
Ternyata dia baik terhadap Nyonya Mariska, karena sedang mencari perhatian majikannya itu.
.
.
Mita pun kembali ke dapur dan melihat Disa di sana, dia menatap Disa dengan pandangan mencemooh, Disa yang tak tau ada apa dengan gadis itu pun balik menatapnya.
Tapi Mita, tak perduli dengan tatapan Disa, karena dia masih kesal dengan apa yang dia dengar.
Mita akan lebih giat lagi mencari perhatian majikannya, itu yang dia fikirkan.
Saat dia di kamar, dia berbaring menatap langit-langit kamarnya.
Dia sedang berfikir siapa sebenarnya Disa, kenapa bisa dia di jadikan kandidat menjadi ibu sambung dari anak yang dia asuh.
Apa ndoro Putra akrab dengan Disa? atau lebih nyaman dengan gadis itu? gumamnya dalam hati.
Dia merasa tak kalah manis dari Disa, bahkan dia masih sangat muda, apa tuan Irwan tak pernah memperhatikan dirinya.
"Mbak ... ," panggil Mita ke mbak Fatmah.
"Apa Mit, kamu belum tidur?" tanya mbak Fatmah dengan mata terpejam.
"Sebebernya Disa itu siapa sih mbak?" tanyanya, karena hanya Mita yang sepertinya tak menyimak saat Bu Sum mengatakan jika Disa adalah teman Nyonya Mariska, makanya dia yang akan merawat Nyonya mereka itu.
"Gimana sih, kan Bu Sum pernah ngasih tau, Disa itu teman sekampung Nyonya Mariska," masih tetap memejamkan mata.
"Hah!" jawab Mita kaget, dan langsung beranjak duduk.
"Serius Mbak?" tanyanya masih tak percaya dengan kenyataan itu.
Apa karena itu dia menjadi kandidat Nyonya baru di rumah ini, karena Disa mungkin di pilih langsung oleh Nyonya Mariska? fikirnya.
"Kamu kenapa sih, kaget gitu, makanya kalo ada orang ngomong di perhatikan, jadi ngga kaget begini." Mbak Fatimah pun berbalik dan memilih memunggungi Mita.
Mita tak mengatakan apapun tentang dia mendengar jika Disa akan di jodohkan dengan Tuan Irwan.
...****************...
Back to story ... .
Setelah Majikan mereka selesai sarapan, mereka pun berbincang di gazebo.
Nyonya Mariska hari ini makan bersama keluarganya, makan di ruang makan, ia nampak lebih sehat sekarang. Mereka tampak seperti keluarga normal lainnya.
Disa belum bertemu dengan Nyonya Mariska sejak semalam, bahkan pagi ini Nyonya Mariska masih di bantu oleh Bu Sum.
Disa pun hanya memperhatikan keluarga majikannya itu dari jauh.
Hanya Mita yang berada dekat dengan mereka, karena dia harus menjaga Ndoro Putra.
.
.
"Sepertinya anda sudah sehat Nyonya, jadi apa bisa Disa membantu di toko?" tanya Bu Sum tenang, sambil menyeruput teh nya.
Mita yang mendengar perkataan Bu Sum, merasa terkejut tapi tetap senang, setidaknya mereka mungkin sedang berfikir ulang tentang perjodohan itu, atau mungkin memang hanya omongan sekilas Bu Sum.
Sedang Nyonya Mariska, ia terkejut mendengar perkataan Bu Sum. Dan merasa tak suka.
"Bukankah aku masih harus di bantu?" tanyanya mencoba mempertahankan temannya itu, dia tau jika Bu Sum berencana menjauhkan Disa darinya.
Bu Sum lalu melirik ke arah Mita, dan Nyonya Mariska tau, itu adalah teguran untuknya.
"Disa kita datangkan dari kampung memang untuk membantu Di toko Nyonya, lagi pula masih ada yang lain yang siap merawat Nyonya," jawabnya.
"Betul," jawab Mita dalam hati, bahkan dia rela merawat calon madunya itu, ia terkekeh geli mendengar istilahnya sendiri 'calon madu.'
Nyonya Mariska tak bisa membantah perkatannya, memang Disa sudah memberi tahunya dulu, jika ia melamar sebagai karyawan toko di usaha keluarganya itu.
"Apa kamu masih belum merasa sehat, Nak?" tanya Kanjeng Ibu. Yang menatap iba menantunya itu.
"Sudah lumayan Bu," jawab Nyonya Mariska lemah, dia berharap Kanjeng Ibu akan bisa merubah keputusan Bu Sum, untuk mempertahankan Disa di rumah ini.
Walaupun Nyonya mariska tak begitu berkesan dengan perhatian mertuanya itu, karena bagaimana pun, keadaannya sekarang memang ulah dari persekutuan mertuanya, dan ia ikut terkena imbasnya.
Dan sepertinya Bu Sum mengetahui rencananya.
"Mita ... bawa Ndoro Putra kembali ke rumah," perintah Bu Sum.
Semua anggota keluarga tau ada yang akan Bu Sum katakan.
"Baik Bu," jawab Mita lantas pergi dari sana menuntun Ndoro Putra. Sedikit kecewa karena tak bisa mendengar percakapan majikannya.
.
.
"Anda tau Nyonya, jika semalam Tuan marah pada kita?" ucapnya setelah Mita sudah jauh dari mereka.
"Bahkan aku memohon untuk keselamatan kita, karena kelalaian kita," lanjutnya.
"Kelalaian kita?" jawab Nyonya Mariska sinis.
"Kau yang lalai, buka kami, kau yang baru mengetahui jika Disa memiliki penjaga, kami tak tau jika kau tak memberi tau" jawab Nyonya Mariska menohok.
Bu Sum nampak geram di serang seperti itu, walau kenyatannya itu memang kesalahannya.
Dia yang tak waspada hingga tidak mengetahui jika seseorang seperti Disa ternyata memiliki pelindung.
"Kenapa? kau tersinggung? kau yang memiliki kemampuan seperti itu, dan tugasmu adalah melenyapkan seseorang yang menjadi ancaman Tuan bukan? apa kau tak mampu melawannya?" ejek Nyonya Mariska.
Anggota keluarga yang lain tak menengahi perdebatan itu, di satu sisi keselamatan mereka terancam karena ternyata ada mahluk yang datang kewilayah mereka.
Dan memang itu adalah tugas Bu Sum, sebagai kuncen yang menjaga mereka semua.
Tiba-tiba Nyonya Mariska merasa sesak nafas, lehernya seperti tercekik, mereka semua tau jika Bu Sum marah, dan sedang menggunakan kekuatannya untuk mencelakai Nyonya Mariska.
"Sum ... cukup!" bentak kanjeng Ibu, saat melihat menantunya sudah nampak membiru.
Nyonya Mariska terbatuk-batuk karena cekikan ghaib itu, Tuan Irwan segera menolongnya dengan memberikan air minum.
"Apa kau akan melenyapkan menantuku? asupan Tuan kita?" Tanya Kanjeng Ibu.
"Kita patut bersyukur Tuan masih memaafkan kita, tak perlu saling menyalahkan, lebih baik kita tingkatkan kewaspadaan, karena bagaimana pun kita tak tau apa penjaga Disa berbahaya bagi kita atau tidak," ucap kanjeng Ibu.
'Apa yang akan mereka lakukan terhadap Disa?' gumam Nyonya Mariska.
Mereka terkecoh oleh pelindung Disa, yang tak dapat terdeteksi.
"Bu Sum pun berkata jika pelindung Disa lumayan kuat, berarti dia tak mampu menyingkirkannya." Nyonya Mariska masih bergumam dalam hatinya, karena dia belum bisa bicara apa-apa karena rasa sakit di tenggorokan.
Tuan mereka merasa terancam akan kehadiran mahluk itu, mereka belum bisa memprediksi sampai di mana kemampuan penjaga Disa.
Tetap untuk mahluk seperti mereka, jika ada mahluk lain memasuki teritorial mereka tentu membuat mereka tersinggung.
Nyonya Mariska merasa, jika harapannya terhadap Disa semakin besar.
Ini kah maksud Bu Sum untuk menjadikan Disa sekutu? berencana menyingkirkan Disa dengan cara licik seperti ini?
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-04-24
1
Linda 🌹
Jangan sampai Disa jd tumbalnya
2022-02-15
1
xlkslbccdtks 432
Ternyata aku idah baca sampai bab 17 sebab dari sini yg blum ada jempolnya.
Lanjut 18
2022-02-06
1