Putra pun dibawa kembali masuk. Disa lantas mengikuti mereka dari belakang, anak majikannya itu malah menjulurkan lidah ke arah dirinya.
Bu Sumarni mengajak mereka ke dekat tepian kolam ikan, dan menurunkan Putra.
"Ndoro, Bu Sum masuk dulu. Ndoro main lagi sama Mbak Disa, ya?" bujuk Bu Sumarni.
Putra mengangguk patuh. Bu Sumarni berbalik menghadap Disa. "Jaga Ndoro baik-baik, saya akan bertemu Kanjeng Ibu," perintahnya.
Disa mengangguk dan menjawab, "Baik bu." Disa mendekat ke arah anak majikannya itu, yang sedang mengaduk-aduk kolam ikan.
Disa pun duduk di tepian kolam mencoba mencuri perhatian Ndoro Putra.
"Ndoro mau nangkap ikannya?" ucapnya, karena melihat anak majikannya itu seperti mengaduk-aduk isi kolam hendak menangkap ikan, tetapi tak bisa.
Putra hanya mengangguk menjawab pertanyaan Disa. Disa segera bangkit dan berjalan ke arah pojok kolam untuk mengambil jaring ikan.
Lalu Disa mengambil pakan untuk memancing ikan-ikan itu mendekat ke arah mereka, agar mudah di jaring.
Disa kembali duduk ke tempat semula. Namun, ada yang aneh dari sikap Ndoro Putra, sebab dia terlihat tersenyum miring ke arahnya. Disa yang melihat itu pun tampak ngeri.
Disa tiba-tiba merasakan firasat buruk, tetapi dia berusaha menenangkan diri.
"Ada apa dengan Ndoro Putra? Kenapa dia tersenyum seperti mengejek?"
Berusaha bersikap biasa saja. Disa lantas segera berlutut di belakang Ndoro Putra, meletakan tangan Putra agar anak majikannya itu menggenggam jaring. Disa sendiri menggenggam jemari Putra, bermaksud mengajarkan Putra menjaring ikan.
Air yang keruh karena Putra mengaduk-aduknya tadi, membuat mereka sulit melihat ikan yang berada di kolam.
Lantas Disa pun menebar pakan ikan kembali, berharap kepala mereka dapat timbul dan bisa segera di jaring.
Saat ada seekor ikan menyembul, Disa lantas segera menjaringnya. Namun, bukan ikan ternyata yang dia tangkap, melainkan gumpalan rambut.
Disa yang terkejut melepaskan Putra, lantas jatuh terjengkang ke belakang.
Fatmah yang kebetulan lewat segera membantunya. "Kenapa Dis? Kok mukamu pucet gitu?" ucapnya khawatir.
"I ... itu Mbak, di jaring .... " tunjuk Disa dengan suara yang gemetar ketakutan.
Putra masih memegang jaring yang mereka tadi pegang bersama. Di dalam jaring itu, terdapat seekor ikan yang paling besar di kolam.
Fatmah mengernyitkan dahi bingung. "Ini ikan, memangnya kenapa? Hanya ikan mas biasa, kok.”
Disa menelan salivanya kasar, dan mencoba mendekat ke arah Putra, memastikan jika yang berada di dalam jaring memang seekor ikan.
"Ya sudah. Mbak masuk dulu, ya?" pamit Fatmah dan berlalu pergi.
Disa mendekat ke arah Putra. "Maafkan Mbak Disa, ya Ndoro? Mbak Disa kaget tadi liat ikannya besar," ucapnya yang tak ingin membuat takut anak majikannya itu.
Namun, jawaban Putra malah membuat Disa terperanjat hampir terjengkang. "Yang Mbak liat ngga salah kok."
‘A ... apa maksud Ndoro? Kenapa aku merasa dia bukan Ndoro, ya?’ pikir Disa.
"Mbak ... Mbak ...." panggil Putra seraya menarik-narik ujung baju Disa.
Disa terkesiap. Dia tersadar dari lamunannya, dan kembali berjongkok ke arah Putra. "Maaf Ndoro, kita makan buah saja, mau?" bujuknya, berharap mereka segera meninggalkan kolam itu.
Untungnya Putra mau mengikuti ajakan Disa. Disa segera mengambil kembali jaring yang masih di pegang Putra, hendak melepaskan kembali ikan ke kolam.
Namun, saat berbalik. Putra sudah tak ada di belakangnya, Disa segera berlari mencari ke dalam rumah. Di ruang dapur sampai ruang keluarga tak ada. Disa lantas ke teras rumah, berpikir mungkin Putra berlari ke luar. Nihil, tak ada Putra di sana.
Disa memutuskan masuk kembali, dan akan mencarinya di dalam rumah.
‘Apa mungkin di kamarnya? Astaga aku tak tau kamar Ndoro Putra,’ ucapnya dalam hati.
Saat Disa sedang berjalan menuju ruang tengah, Disa berpapasan dengan Kanjeng Ibu dan Bu Sumarni yang baru keluar dari ruang baca.
Disa langsung menundukkan pandangannya dan berhenti.
"Loh, ke mana Ndoro Putra?" tanya Bu Sumarni.
Disa menarik napas dan menghembuskannya perlahan saat menjawabnya. "Tadi sewaktu dari kolam ikan, Ndoro tiba-tiba sudah ngga ada, Bu. Saya sekarang sedang mencarinya. Maaf Kanjeng Ibu," ucapnya ragu.
Disa merasa takut, sebab sudah dua kali dirinya terlibat masalah karena cucu majikannya itu.
‘Apa karena Ndoro Putra menyusahkan? Lantas Mita menyuruhnya menjaga anak majikan mereka? Huhh,’ keluhnya.
"Mungkin dia hanya bersembunyi. Kamu sudah mencari ke semua tempat?" ucap Kanjeng Ibu. Tak ada nada marah dari perkataannya, sepertinya Kanjeng Ibu paham akan sifat cucunya itu.
"Baru di ruang tengah, sama di depan Kanjeng Ibu."
"Coba kamu cari ke kamarnya, siapa tau dia di sana." Kanjeng Ibu memberitahu, setelahnya dia berlalu dari hadapan Disa.
Namun Bu Sumarni berhenti di hadapan Disa. "Kamu ini bisa tidak jaga Ndoro? Sudah dua kali kamu buat kesalahan. Tanya Mita, bagaimana menjaga Ndoro— dan cari sampai ketemu!" cerca bu Sumarni, dan dia pun segera berlalu mengikuti kanjeng ibu.
Disa menghembuskan kasar napasnya, setelah kepergian Bu Sumarni dan Kanjeng Ibu.
Rumah majikannya memang tak bertingkat. Namun sangat luas, banyak kelokan dan ruangan. Seperti halnya ruang keluarga, ruang baca ataupun yang lainnya.
Sampai, berapa kamar yang berada di rumah majikannya sendiri, Disa belum mengetahuinya. Karena, memang Dia diberi tugas untuk membersihkan dapur dan area teras samping rumah saja.
Disa pun memutuskan untuk kembali ke belakang, bertanya pada pembantu lainnya.
Saat berjalan Disa melewati kamar Mariska. Dia memutuskan untuk melihat ke kamar majikannya itu.
"Siapa tau Nyonya Mariska sudah bangun."
Disa melakukan hal yang sama seperti yang bu Sumarni lakukan. Yakni, mengetuk sebelum memasuki kamar majikan mereka.
Dia membukanya secara perlahan, berharap itu tak mengganggu majikannya, jika masih terlelap tidur.
Alangkah terkejutnya ternyata Ndoro Putra ada di sana, tidur di samping Nyonya Mariska.
Disa yang tadinya kesal karena ulah Ndoro Putra, menjadi terenyuh melihat kesedihan di mata Putra.
‘Ndoro Putra pasti sangat merindukan Mbak Mariska,’ batin Disa, yang melihat Putra berbaring memeluk Mariska sambil mengusap pipi Ibunya itu.
Disa pun mendekat ke kursi sebelah tempat tidur, dan duduk seperti saat tadi pagi.
"Ndoro kangen sama ibu?" ucap Disa dengan suara sedikit berbisik, dia tak ingin mengganggu istirahat majikannya itu.
Putra pun mengangguk dan memilih duduk di samping tubuh ibunya.
"Ibu sakit apa Mbak? Putra kangen main sama ibu," ucapnya yang ikut berbisik namun di sertai isakkan khas anak kecil, dia mengucek matanya yang sudah mengalir air mata.
Terenyuh hati Disa, melihat bagaimana anak majikannya itu sepertinya sangat merindukan ibunya. Disa tak tahu sudah berapa lama Nyonya Mariska itu menderita sakit seperti ini, tetapi dari tatapan kerinduan Putra sepertinya majikannya itu sudah lama terbaring sakit.
Tak lama terdengar suara pintu diketuk, dan seseorang melangkah masuk. Ternyata Bu Sumarni yang datang ke kamar itu. "Ndoro jangan ganggu ibu istirahat, ya? Biar ibu cepet sembuh." Berbicara sambil mendekat ke arah mereka.
Disa bangkit dari duduknya, saat tau jika Bu Sumarni yang memasuki kamar majikannya.
Putra hanya mengangguk menjawab perkataan Bu Sumarni.
Bu Sumarni lantas menggendong kembali Ndoro Putra dan Disa mengikuti mereka dari belakang.
Ndoro Putra menatapnya, Disa melihat tatapan anak majikannya itu seperti terluka, seakan enggan meninggalkan ibunya.
Mungkin memang Ndoro Putra masih ingin berdekatan dengan ibunya. Namun, tak di izinkan oleh Bu Sumarni.
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-04-22
1
Kurniawan Wawan
7l7
2022-08-07
0
eMakPetiR
masih misterius
2022-07-02
0