Mereka berjalan kembali ke arah rumah, para pembantu yang tadi sedang duduk di meja dapur pun bangkit, karena majikan mereka akan lewat.
Disa hanya melihat sekilas wajah Nyonya Mariska, dia tak balik menatap Disa, tapi Disa tau raut wajah Nyonya Mariska nampak sendu, 'ada apa gerangan dengan mbak Mariska?' ucap Disa dalam hati.
Saat semua majikannya sudah melewati mereka, para pembantu pun kembali duduk di meja dapur, karena sedang mempersiapkan menu makan siang untuk majikan mereka.
"Dis— kamu mau di pindah ke toko ya?" tanya Mita yang sedang mengambil air dingin di kulkas.
Dia baru kembali dari kamar Ndoro Putra setelah menidurkan majikan kecilnya itu.
Lantas ia pun duduk bergabung dengan yang lainnya, seraya menunggu jawaban Disa.
"Iya kah? Ngga tau aku, dulu emang aku ngelamar jadi karyawan toko pak Hanubi, tapi Bu Sum yang nyuruh aku ngerawat Nyonya Mariska dulu," jawabnya, ada perasaan bimbang di hatinya. Dia senang akhirnya bisa memiliki pengalaman lain selain bekerja di rumah ini, tapi dia jadi tak bisa berbincang lagi dengan teman sekampung sekaligus Nyonya-nya itu.
"Tadi aku denger Bu Sum, ngomong gitu," jawabnya Mita santai, senang karena dia sudah berhasil menyingkirkan rival-nya itu.
"Iya, syukurlah kalo gitu mah," jawab Disa, tapi bukan dengan nada yang senang dengan berita itu.
"Kok kaya ngga seneng gitu? Kenapa emang?" selidik Mita.
Mbak Fatmah dan Yanti, cukup terkejut dengan berita yang di sampaikan Mita, walau mereka tau jika Disa memang hanya sementara tinggal bersama mereka.
"Ngga gitu Mit, cuma ada rasa gimana gitu, harus berpisah sama kalian," ucapnya jujur dengan perasaannya.
Setidaknya selain perpisahan dengan Nyonya Mariska, perpisahan dengan teman-teman yang baru ia kenal di rumah ini juga membuatnya sedih.
"Sedih pisah ma kita, apa sedih pisah ma Nyonya?" Ucap Mita menyindir.
Disa tak merasa tersindir mendengar ucapan Mita, toh memang dia merasa sedih juga berpisah dengan majikan sekaligus temannya itu.
"Ya sedih juga lah Mit, kan aku baru ketemu Nyonya Mariska setelah lima tahun ngga pernah ketemu," jawab Disa jujur.
"Kamu jangan suka lancang memberi tahu apapun yang baru kamu dengar!" ucap Bu Sum, yang tiba-tiba berdiri di sana dan menegur Mita.
"Ma ... maaf Bu, aku hanya senang mendengar kabar itu, dan aku juga merasa jika Disa juga pasti senang mendengar kabar ini," jawab Mita gugup.
"Bukan kah kamu sudah tau peraturan di rumah ini, kalian dilarang ikut campur urusan Majikan kalian!" ucap Bu Sum tegas.
Mereka semua hanya bisa menunduk, hanya Mita yang merasa ketakutan karena kelancangannya bisa berakibat dia kehilangan pekerjaan ini.
Selain bekerja di rumah Kanjeng Ibu mendapatkan gaji yang lebih besar dari pada di tempat lain, Mita yang tau jika keluarga majikannya bahkan akan mencari pendamping untuk Tuan muda mereka, dia merasa tertantang untuk mendapatkan posisi itu.
"Dis ... ikut saya menghadap kanjeng ibu di ruang baca," ucapnya menatap Disa, dan berjalan di depan lantas di ikuti Disa.
Sepeninggalan Bu Sum dan Disa, mereka semua bernafas lega.
"Kamu sih, kalo ngomong ngga pake rem, bahas begituan di siang bolong," gerutu Yanti.
"Namanya juga dapat berita bagus, ya seneng sampe lupa lah," elak Mita.
"Kayaknya cuma kamu doang yang seneng, perasaan kita malah sedih loh," sindir Yanti, yang tau jika Mita sepertinya memang tak menyukai teman baru mereka, dan dia tak tau kenapa.
"Ya aku sedih, maksud aku harusnya Disa seneng dong, karena mo di tempatin di tempat tujuan awalnya," ucapnya, padahal dirinya memang merasa senang dengan kepindahan Disa.
.
.
.
Disa sudah sampai di ruangan baca Kanjeng Ibu, beliau sedang duduk di kursi goyangnya menghadap ke jendela.
Lagi Disa merasa merinding melihat lukisan besar itu, padahal hanya lukisan seorang wanita yang berpose duduk anggun, tapi jika melihat bola matanya seperti mengawasi orang yang baru masuk.
Kanjeng ibu pun bangkit, dia menyuruh Disa duduk di sova satu dudukan di hadapannya,sedang dia dan Bu Sum duduk di sofa panjang.
Disa merasa gugup entah karena apa, hati kecilnya berteriak agar ia segera pergi dari sana, insting alaminya mengatakan seperti itu.
Bu Sum bangkit menuju ke sebuah meja mini bar, dia sedang membuat minuman untuk mereka semua.
Disa masih menundukan pandangannya, Bu Sum mendekat dan menepuk bahunya, tiba-tiba Disa tak sadarkan diri.
.
.
Disa terkejut Dia berada di tempat asing, sepertinya di sini sedang di adakan pesta, banyak orang berlalu lalang, dengan pakaian adat jawa, hanya Disa yang berpakaian biasa.
"Kenapa aku ada di sini, tempat apa ini," ucap Disa dalam hati dia melihat sekeliling, tapi sepertinya semua orang tak memperhatikan dirinya.
Tak lama terdengar suara bunyi gamelan, Disa memperhatikan disana ada sebuah panggung tak jauh dari tempatnya berdiri, dia pun mendekati sumber suara itu.
Disa melihat banyak pemain musik sedang memainkan gamelan di sana, ada dua orang penari sedang melakukan tarian dengan sangat indah.
Disa tersihir dengan suara musik itu, suara merdu nan indah, Di belakang para penari ada sebuah singgasana, ada seseorang yang sedang duduk disana, beliau sedang di kipasi oleh dua dayang di samping kiri kanannya.
Ada pula se-seorang yang sepertinya seorang pelayan bersimpun di bawah kakinya dekat dengan meja kecil, yang terdapat cangkir minuman beserta buah-buahan di sana.
Pelayan itu mengambil apapun yang di tunjuk oleh majikannya.
Orang-orang disana ada yang duduk di depan panggung itu, ada yang berdiri, Disa termasuk salah satu yang berdiri di sana, dan sepertinya semua orang tak menyadari ke hadirannya.
Hingga Disa merasa guncangan di belakangnya, dan sepertinya hanya dia yang merasakannya, karena para pengunjung lain masih antusias menyaksikan pertunjukan di depan sana.
Disa menoleh ke belakang, dan semua nampak gelap, tak ada cahaya apapun di belakang Disa, Disa pun kembali menatap ke arah panggung itu, suaranya nampak menjauh, saat Disa menengok kembali, dia sudah berada jauh dari kerumunan orang-orang tadi.
Disa merasa jika ia tak berjalan, dia hanya menoleh ke belakang kenapa tiba-tiba mendadak dia berada jauh dari kerumunan.
Saat itu lah pertunjukan tiba-tiba berhenti, semua orang menatap dirinya, bahkan seseorang yang ada di belakang penari pun menatap dirinya.
Disa terpaku, entah kenapa dia merasa dirinya tamu yang tak di undang, nyalinya menciut ingin segera lari dari sana.
Tapi lari kemana, sekelilingnya gelap, satu-satunya cahaya adalah di tempat mereka berdiri.
Dan guncangan itu kembali datang, Disa yang takut pun tetap menoleh kebelakang.
Gelap ... .
Tak terlihat apapun di belakangnya, Disa pun kembali menatap kedepan, betapa terkejutnya dia melihat semua orang di sana sudah berubah wujud.
Wujud manusia normal sudah tak ada di sana, mereka semua memiliki wajah yang tak normal, kesamaan mereka hanya pada mereka sama-sama berkulit merah, telinga mereka seperti anjing, dan memiliki ekor yang panjang, tak ada pakaian yang melekat di tubuh mereka, sungguh pandangan yang mengerikan.
Sekarang mereka semua menatap Disa, badan Disa sudah gemetar ke takutan, dia ingin menangis dan berteriak minta tolong, tapi tubuhnya kaku, lidahnya kelu, Disa hanya memejamkan matanya dan berdoa dalam hati semoga ia bisa selamat dari tempat asing ini.
Jika ia bermimpi semoga ia bisa segera bangun dari mimpi buruk ini.
Tak lama, Disa merasa ada seseorang menarik pergelangan tangannya, orang itu menariknya dan mengajaknya berlari dari sana.
Disa pun pasrah dan mengikuti orang itu, semoga ia bisa selamat dari tempat aneh ini.
Saat ia berlari terdengar suara geraman binatang buas yang sangat mengerikan, Disa ingin menoleh tapi tiba-tiba seseorang yang menariknya berkata.
"Apapun yang kau dengar jangan meoleh kebelakang, berdoa saja dalam hati, ingat orang tuamu yang selalu mendo'akanmu di rumah, lari, dan jangan hiraukan suara di belakangmu," ucap orang itu tegas.
Suara seorang laki-laki yang sepertinya sudah tua, Disa tak tau karena dia tak bisa melihat wujudnya di kegelapan seperti ini.
Sekarang suara di belakang Disa berganti suara panggilan ibunya, tentu saja dia ingin menoleh karena tak asing dengan panggilan ibunya itu.
"JANGAN!!! apapun suara di belakang mu itu bukan keluargamu, tetap berlari, jangan sampai tertipu," ucap lelaki itu marah, karena Disa hampir tak mendengarkan peringatannya.
Disa pun memilih pasrah, dia tau ini bukan alamnya, entah ada di mana dia, dan benar tak mungkin orang tuanya berada di tempat seperti ini, suara di belakangnya silih berganti, semua orang yang Disa kenal memanggilnya, bahkan ada yang menangis dan meminta tolong, sekuat tenaga Disa tak menghiraukannya.
Hingga ia tersentak saat Bu Sum menepuk bahunya, tiba-tiba ia sudah ada di tempat semula, lalu apa tadi dia melamun?
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ali B.U
next.
2024-04-24
1
Yuyun Yuningsih
saya sudah tamat baca novel ini kerennn.
tapi saking bagus nya kangennn di baca ulang deh,
ttp aja seruu.
2023-02-11
0
ſᑎ🎐ᵇᵃˢᵉ
Disa tidak lagi melamun,kanjeng ibu membawa disa ke alam lain,dan penjaga disa yang tak kasat mata selalu menjaganya di mana pun dia berada..👏🏻👏🏻
2022-07-27
0