Malam Jum'at Part 1

Disa lupa jika sudah dua hari dia bekerja dia belum mengabari orang tuanya.

Disa bahkan tak mengecek gawainya sama sekali. Dia memang langsung sibuk dengan urusan rumah majikannya.

Malam ini dia berniat menghubungi orang tuanya, pasti mereka khawatir.

Disa pun harus merepotkan temannya, karena dia akan mengganggunya agar mau meminjamkan gawainya agar bisa menelpon orang tuanya.

Karena orang tua Disa tak memiliki alat komunikasi itu, untungnya tetangga sekaligus teman Disa sudah mengijinkan Disa untuk menelponnya jika akan berbicara dengan orang tuanya.

.

.

Setelah sampai Disa dan Yanti pun langsung membereskan belanjaan mereka.

Mereka akan memepersiapkan makan siang. Disa pun pamit untuk membersihkan diri, karena dia baru pulang dari pasar, sudah pasti baunya tak sedap.

Saat sampai di kamar, Disa pun mengecek gawai dan menyalakannya, ternyata batre terlihat sudah merah, Dia bergegas men-charger.

Yanti masuk ke kamar dan melihat Disa sedang nge-charger gawainya.

"Kamu bawa hape ya Dis? aku ngga pernah liat."

"Iya Yan— aku juga lupa, aku mau telpon orang tuaku Yan, aku lupa mengabari mereka."

"Ya ampun Dis, sampe segitu lupanya kamu, mereka pasti kuatir." Yanti pun menggeleng-geleng dengan kelakuan teman barunya itu.

Disa hanya cengar-cengir menanggapi Yanti, memang benar dirinya sangat keterlaluan sampai hal penting seperti itu ia melupakannya.

"Nanti aku pinjem, ya Dis? Aku isiin pulsa, deh," rayu Yanti.

"Sip. Tinggal ngomong kalo memang butuh, ya?" balas Disa, tak ayal membuat Yanti merasa senang.

Disa pun segera mengambil pakaian dan berjalan menuju kamar mandi. Saat sedang berjalan ke kamar mandi dia melihat Bu Sum, sedang di gazebo. Ia sedang melilitkan kain merah di semua tiang gazebo itu, Disa merinding melihatnya, sampai segitu berharganya gazebo itu sampai diperlakukan spesial, batin Disa.

Seperti biasa Disa akan melayani Nyonya Mariska, sebelum dia mengisi perutnya sendiri. Nyonya mudanya itu sudah duduk bersandar di kepala ranjang dan sebuah buku yang sedang ia baca. Hari ini wajahnya nampak lebih segar, meski masih pucat tapi tak terlalu sayu, ada rasa hidup dari senyumannya itu.

"Dis—" sapanya, kemudian meletakan bukunya di bantal sebelahnya.

"Gimana kabar nyonya hari ini?" ucap Disa sambil menyerahkan segelas air minum.

"Lumayan baik Dis, makasih udah nanya," jawab Nyonya Mariska, dengan senyum cemerlangnya.

Disa pun mulai menyuapinya, sambil melirik sekilas buku yang tadi sedang di baca majikannya itu.

Nyonya Mariska yang tahu jika Disa melirik bukunya lantas mengambilnya dan memperlihatkan ke arah Disa.

"Buku yang bagus, Dis. Nanti klo aku udah selesai baca, kamu mau pinjem?" tawarnya.

Disa tersenyum kikuk, karena ketahuan melihat benda milik majikannya itu.

Disa memang gemar membaca buku, jadi saat melihat sampul buku majikannya dia pun penasaran.

Judulnya tertulis Harta Tak Menjamin Bahagia? Benarkah?, judul yang simple, tapi membuat sisi hati Disa menggelitik, ada apa dengan Nyonya mudanya ini.

"Dis—" panggil mbak Mariska. "Apa yang kamu liat dari aku?" tanyanya kemudian.

"Maksudnya gimana, Nyonya?" Disa belum faham arah pembicaraan majikannya itu.

"Kamu kenal aku sudah lama, apa yang kamu liat dari kehidupanku sekarang?" Menoleh menatap Disa.

Disa merasa kelu, apa Nyonya-nya itu tidak bahagia? Atau dia merasa putus asa dengan keadaannya.

"Kehidupan Nyonya? Maksudnya tentang keluarga Nyonya atau keadaan Nyonya?" tanya Disa beruntun.

"Klo keadaanku kamu tau aku seperti ini, apa kamu berpikir aku sakit keras, Dis?"

"I ... iya Nyonya," jawab Disa tergagap, dia memang merasa jika majikannya itu memiliki penyakit serius, seperti yang Disa dan Yanti bicarakan kemarin malam.

Nyonya Mariska tertawa pelan tapi terdengar nada getir di sana, mungkin banyak orang yang menganggapnya sakit keras, karena mereka tak pernah tahu ada apa dengan dirinya.

"Saat aku baca buku ini, aku baru tau arti bahagia, dulu aku memuja kebahagian hanya dari materi. Ya, mau bagaimana juga hidup itu perlu uang, kan Dis?" jelasnya.

Disa masih belum faham arah pembicaraan majikannya itu, Disa berfikir mungkin karena Nyonya mudanya itu sakit keras, mungkin dia menyesal, tak menjaga kesehatan, atau apa mungkin.

"Iya Nyonya, makanya saya rela bekerja apa aja, biar dapat uang, yang penting halal."

Lagi-lagi Majikannya itu tersenyum penuh ironi, dengan jawaban Disa.

"Lebih baik bekerja sungguh-sungguh, dari pada nyari yang singkat-singkat Dis," setuju dengan perkataan Disa.

Disa pun mengangguk setuju mendengar nasihat dari majikannya itu, walau tak seperti nasihat, lebih seperti peringatan.

"Udah selesai, Nyonya mau saya temani?" tanya Disa ketar-ketir, dia sebenarnya lelah, dan lapar, ingin segera mengisi perutnya.

Nyonya Mariska pun tertawa, memperhatikan raut wajah Disa, dia memang menawarkan diri untuk menemaninya, dan memang dia ingin mengobrol banyak dengan Disa, tapi Nyonya Mariska tau jika Disa pun harus makan siang.

"Kamu makan saja Dis, kalo ngga ada pekerjaan kamu kesini lagi ya?" pintanya.

"Iya Nyonya," jawab Disa lega, dia tak keberatan menemani Majikannya sekaligus teman sekampungnya itu, tapi dia tak akan bisa berkonsentrasi untuk menjawab pertanyaan nyonya-nya itu dengan perut kosong begitu.

"Mas Irwan sama bapak ngga pulang Dis?" tanya Nyonya Mariska saat Disa akan beranjak keluar.

"Ngga Nyonya, tapi diantarkan makan siangnya sama Bu Sum," jawab Disa.

Memang hari ini Pak Hanubi dan Tuan Irwan tidak makan siang di rumah, tetapi mereka diantarkan makan siang dari rumah.

Tuan mereka memang lebih suka masakan dari rumah sepertinya, karena mereka menyempatkan waktu untuk makan siang bersama setiap hari.

"Ya sudah, cepat sana makan, nanti kamu pingsan lagi di sini," canda Nyonya Mariska.

Disa pun menundukan diri bermaksud pamit dari sana, Disa senang menurutnya Nyonya Mariska sudah terlihat lebih baik.

.

.

Sesampainya di dapur ada Yanti yang sedang makan, dan Mbak Fatmah, yang sedang mengelap cangkir yang bentuk ukirannya sangat indah.

Disa pun mendekat meletakan nampan berisi piring kotor di sebelah bak cuci piring.

"Bagus banget mbak gelasnya," ucap Disa sambil mengangkat cangkir itu, memperhatikan dari dekat.

"Baguslah, mahal," jawab Mbak Fatmah.

Disa pun mengangguk setuju, cangkir keramik seperti itu pasti mahal harganya.

"Kamu tumben baru makan, Yan," tanya Disa sambil duduk dan mengambil nasi beserta lauk di sana.

"Iya tadi jagain Ndoro Putra dulu, gantian sama Mita," jawabnya, Yanti pun selesai makan, dan segera bangkit mencuci semua piring yang ada di bak cuci piring.

"Kenapa cangkirnya baru di keluarin Mbak?" tanya Disa di sela makannya.

"Biasalah kalo malam jum'at majikan kita akan ada acara menyapa sesepuh nenek moyang," jawab Mbak Fatmah ringan, sepertinya memang dia sudah sangat terbiasa dengan kegiatan majikan mereka.

Berbeda dengan Disa, dia yang masih tak mengerti kegiatan aneh yang majikannya lakukan tetap merasa janggal.

"Kamu kayanya udah sedikit tau, Dis," tukas mbak Fatmah sambil melihat kearahnya.

"Iya tadi udah dijelasin sedikit sama Yanti sama mas Yuda." Disa berusaha tenang, walau tak di pungkiri hatinya tetap merasa takut.

"Oh ... syukurlah, hormati saja kepercayaan majikan kita," saran fatmah sambil melanjutkan pekerjaannya.

Disa pun paham karena sudah diberitahu tentang hal itu, dan dia akan berusaha tak ikut campur urusan majikannya.

.

.

.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Ali B.U

Ali B.U

next

2024-04-24

1

eMakPetiR

eMakPetiR

Marisa udh mulai sembuhkah?

2022-07-02

0

NADIRAH

NADIRAH

sejauh ini cerita nya masih aman
masih penasaran semangat buat othor nya

2022-02-21

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Rumah Majikan
3 Hari Pertama Kerja
4 Mariska
5 Ndoro Putra
6 Hak Suami
7 Membersihkan Diri
8 Perkenalan Diri
9 Kalut
10 Obrolan Malam
11 Berbelanja
12 Malam Jum'at Part 1
13 Malam Jum'at Part 2
14 Sesajen
15 Sungkem
16 Gazebo
17 POV Mariska
18 Rencana
19 Perpisahan
20 Amung
21 Ilmu Gaib
22 Tanda Pengikut
23 Pertarungan
24 Halusinasi atau Nyata
25 Pamit
26 Menyembuhkan Diri
27 Tempat Kerja
28 Rumah Kontrakan
29 Malam Mencekam
30 Rencana Mariska
31 Setan??
32 Di Hantui
33 Kembalinya Bu Sumarni
34 Peramal
35 Rumah Hantu.
36 Terungkap Kebenaran
37 Risau
38 Nona Wulan
39 Kehilangan
40 Berita mengejutkan
41 Lamaran
42 Acara lamaran
43 Putus Asa
44 Pesan misterius.
45 Perewangan Bu Sumarni
46 Kembalinya Nona Wulan
47 Keangkuhan Mita
48 Siraman
49 Janji Suci
50 Gagal
51 Pasca Pernikahan
52 Kebahagiaan Mita
53 Sungkem Pertama
54 Penerus Perjanjian
55 Penangkal
56 Ruwatan
57 Mutih
58 Misi pencarian Wiwit
59 Sulit dijangkau
60 Derita Wulan
61 Pengumuman
62 Kecurigaan
63 Asa Binasa
64 Penyatuan
65 Rasa Sakit Dua Sisi, Satu Waktu & Dua Dimensi
66 Perasaan Keluarga
67 Arti Sebuah Penyesalan
68 Tuhan?
69 Berita Duka
70 Tekad Kuat
71 Tugas Ayah Telah Usai
72 Pencarian Kedua Part 1
73 Pencarian Kedua Part 2
74 Peramal dan Wiwit
75 Akhir Pencarian
76 Menyembuhkan Luka Dalam
77 Petuah Ki Wiryo
78 Isi Petuah
79 Naluri Alamiah
80 Misteri Mulai Terungkap
81 Terungkapnya Misteri
82 Kubah
83 Kelemahan Bu Sumarni
84 Turun Gunung
85 Keluarga Disa
86 Batu Sudojiwo
87 Menuju Penobatan
88 Para Penjaga
89 Ide Gila
90 Murka Sumarni
91 Lawan Dan Kawan
92 Perang Bayanaka
93 Berakhirnya Perjanjian
94 Semoga Tercapai ... Amien
95 Tongkat Iblis Pencabut Nyawa
96 Akhirnya Lenyap
97 Hancurnya Kekuasaan
98 Akhir Cerita, Awal Kisah Baru
99 Extra Part
100 Epilog
101 Kesan dan Pesan Author
102 'The Soul (Seed of Life)'
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Prolog
2
Rumah Majikan
3
Hari Pertama Kerja
4
Mariska
5
Ndoro Putra
6
Hak Suami
7
Membersihkan Diri
8
Perkenalan Diri
9
Kalut
10
Obrolan Malam
11
Berbelanja
12
Malam Jum'at Part 1
13
Malam Jum'at Part 2
14
Sesajen
15
Sungkem
16
Gazebo
17
POV Mariska
18
Rencana
19
Perpisahan
20
Amung
21
Ilmu Gaib
22
Tanda Pengikut
23
Pertarungan
24
Halusinasi atau Nyata
25
Pamit
26
Menyembuhkan Diri
27
Tempat Kerja
28
Rumah Kontrakan
29
Malam Mencekam
30
Rencana Mariska
31
Setan??
32
Di Hantui
33
Kembalinya Bu Sumarni
34
Peramal
35
Rumah Hantu.
36
Terungkap Kebenaran
37
Risau
38
Nona Wulan
39
Kehilangan
40
Berita mengejutkan
41
Lamaran
42
Acara lamaran
43
Putus Asa
44
Pesan misterius.
45
Perewangan Bu Sumarni
46
Kembalinya Nona Wulan
47
Keangkuhan Mita
48
Siraman
49
Janji Suci
50
Gagal
51
Pasca Pernikahan
52
Kebahagiaan Mita
53
Sungkem Pertama
54
Penerus Perjanjian
55
Penangkal
56
Ruwatan
57
Mutih
58
Misi pencarian Wiwit
59
Sulit dijangkau
60
Derita Wulan
61
Pengumuman
62
Kecurigaan
63
Asa Binasa
64
Penyatuan
65
Rasa Sakit Dua Sisi, Satu Waktu & Dua Dimensi
66
Perasaan Keluarga
67
Arti Sebuah Penyesalan
68
Tuhan?
69
Berita Duka
70
Tekad Kuat
71
Tugas Ayah Telah Usai
72
Pencarian Kedua Part 1
73
Pencarian Kedua Part 2
74
Peramal dan Wiwit
75
Akhir Pencarian
76
Menyembuhkan Luka Dalam
77
Petuah Ki Wiryo
78
Isi Petuah
79
Naluri Alamiah
80
Misteri Mulai Terungkap
81
Terungkapnya Misteri
82
Kubah
83
Kelemahan Bu Sumarni
84
Turun Gunung
85
Keluarga Disa
86
Batu Sudojiwo
87
Menuju Penobatan
88
Para Penjaga
89
Ide Gila
90
Murka Sumarni
91
Lawan Dan Kawan
92
Perang Bayanaka
93
Berakhirnya Perjanjian
94
Semoga Tercapai ... Amien
95
Tongkat Iblis Pencabut Nyawa
96
Akhirnya Lenyap
97
Hancurnya Kekuasaan
98
Akhir Cerita, Awal Kisah Baru
99
Extra Part
100
Epilog
101
Kesan dan Pesan Author
102
'The Soul (Seed of Life)'

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!