Disa lupa jika sudah dua hari dia bekerja dia belum mengabari orang tuanya.
Disa bahkan tak mengecek gawainya sama sekali. Dia memang langsung sibuk dengan urusan rumah majikannya.
Malam ini dia berniat menghubungi orang tuanya, pasti mereka khawatir.
Disa pun harus merepotkan temannya, karena dia akan mengganggunya agar mau meminjamkan gawainya agar bisa menelpon orang tuanya.
Karena orang tua Disa tak memiliki alat komunikasi itu, untungnya tetangga sekaligus teman Disa sudah mengijinkan Disa untuk menelponnya jika akan berbicara dengan orang tuanya.
.
.
Setelah sampai Disa dan Yanti pun langsung membereskan belanjaan mereka.
Mereka akan memepersiapkan makan siang. Disa pun pamit untuk membersihkan diri, karena dia baru pulang dari pasar, sudah pasti baunya tak sedap.
Saat sampai di kamar, Disa pun mengecek gawai dan menyalakannya, ternyata batre terlihat sudah merah, Dia bergegas men-charger.
Yanti masuk ke kamar dan melihat Disa sedang nge-charger gawainya.
"Kamu bawa hape ya Dis? aku ngga pernah liat."
"Iya Yan— aku juga lupa, aku mau telpon orang tuaku Yan, aku lupa mengabari mereka."
"Ya ampun Dis, sampe segitu lupanya kamu, mereka pasti kuatir." Yanti pun menggeleng-geleng dengan kelakuan teman barunya itu.
Disa hanya cengar-cengir menanggapi Yanti, memang benar dirinya sangat keterlaluan sampai hal penting seperti itu ia melupakannya.
"Nanti aku pinjem, ya Dis? Aku isiin pulsa, deh," rayu Yanti.
"Sip. Tinggal ngomong kalo memang butuh, ya?" balas Disa, tak ayal membuat Yanti merasa senang.
Disa pun segera mengambil pakaian dan berjalan menuju kamar mandi. Saat sedang berjalan ke kamar mandi dia melihat Bu Sum, sedang di gazebo. Ia sedang melilitkan kain merah di semua tiang gazebo itu, Disa merinding melihatnya, sampai segitu berharganya gazebo itu sampai diperlakukan spesial, batin Disa.
Seperti biasa Disa akan melayani Nyonya Mariska, sebelum dia mengisi perutnya sendiri. Nyonya mudanya itu sudah duduk bersandar di kepala ranjang dan sebuah buku yang sedang ia baca. Hari ini wajahnya nampak lebih segar, meski masih pucat tapi tak terlalu sayu, ada rasa hidup dari senyumannya itu.
"Dis—" sapanya, kemudian meletakan bukunya di bantal sebelahnya.
"Gimana kabar nyonya hari ini?" ucap Disa sambil menyerahkan segelas air minum.
"Lumayan baik Dis, makasih udah nanya," jawab Nyonya Mariska, dengan senyum cemerlangnya.
Disa pun mulai menyuapinya, sambil melirik sekilas buku yang tadi sedang di baca majikannya itu.
Nyonya Mariska yang tahu jika Disa melirik bukunya lantas mengambilnya dan memperlihatkan ke arah Disa.
"Buku yang bagus, Dis. Nanti klo aku udah selesai baca, kamu mau pinjem?" tawarnya.
Disa tersenyum kikuk, karena ketahuan melihat benda milik majikannya itu.
Disa memang gemar membaca buku, jadi saat melihat sampul buku majikannya dia pun penasaran.
Judulnya tertulis Harta Tak Menjamin Bahagia? Benarkah?, judul yang simple, tapi membuat sisi hati Disa menggelitik, ada apa dengan Nyonya mudanya ini.
"Dis—" panggil mbak Mariska. "Apa yang kamu liat dari aku?" tanyanya kemudian.
"Maksudnya gimana, Nyonya?" Disa belum faham arah pembicaraan majikannya itu.
"Kamu kenal aku sudah lama, apa yang kamu liat dari kehidupanku sekarang?" Menoleh menatap Disa.
Disa merasa kelu, apa Nyonya-nya itu tidak bahagia? Atau dia merasa putus asa dengan keadaannya.
"Kehidupan Nyonya? Maksudnya tentang keluarga Nyonya atau keadaan Nyonya?" tanya Disa beruntun.
"Klo keadaanku kamu tau aku seperti ini, apa kamu berpikir aku sakit keras, Dis?"
"I ... iya Nyonya," jawab Disa tergagap, dia memang merasa jika majikannya itu memiliki penyakit serius, seperti yang Disa dan Yanti bicarakan kemarin malam.
Nyonya Mariska tertawa pelan tapi terdengar nada getir di sana, mungkin banyak orang yang menganggapnya sakit keras, karena mereka tak pernah tahu ada apa dengan dirinya.
"Saat aku baca buku ini, aku baru tau arti bahagia, dulu aku memuja kebahagian hanya dari materi. Ya, mau bagaimana juga hidup itu perlu uang, kan Dis?" jelasnya.
Disa masih belum faham arah pembicaraan majikannya itu, Disa berfikir mungkin karena Nyonya mudanya itu sakit keras, mungkin dia menyesal, tak menjaga kesehatan, atau apa mungkin.
"Iya Nyonya, makanya saya rela bekerja apa aja, biar dapat uang, yang penting halal."
Lagi-lagi Majikannya itu tersenyum penuh ironi, dengan jawaban Disa.
"Lebih baik bekerja sungguh-sungguh, dari pada nyari yang singkat-singkat Dis," setuju dengan perkataan Disa.
Disa pun mengangguk setuju mendengar nasihat dari majikannya itu, walau tak seperti nasihat, lebih seperti peringatan.
"Udah selesai, Nyonya mau saya temani?" tanya Disa ketar-ketir, dia sebenarnya lelah, dan lapar, ingin segera mengisi perutnya.
Nyonya Mariska pun tertawa, memperhatikan raut wajah Disa, dia memang menawarkan diri untuk menemaninya, dan memang dia ingin mengobrol banyak dengan Disa, tapi Nyonya Mariska tau jika Disa pun harus makan siang.
"Kamu makan saja Dis, kalo ngga ada pekerjaan kamu kesini lagi ya?" pintanya.
"Iya Nyonya," jawab Disa lega, dia tak keberatan menemani Majikannya sekaligus teman sekampungnya itu, tapi dia tak akan bisa berkonsentrasi untuk menjawab pertanyaan nyonya-nya itu dengan perut kosong begitu.
"Mas Irwan sama bapak ngga pulang Dis?" tanya Nyonya Mariska saat Disa akan beranjak keluar.
"Ngga Nyonya, tapi diantarkan makan siangnya sama Bu Sum," jawab Disa.
Memang hari ini Pak Hanubi dan Tuan Irwan tidak makan siang di rumah, tetapi mereka diantarkan makan siang dari rumah.
Tuan mereka memang lebih suka masakan dari rumah sepertinya, karena mereka menyempatkan waktu untuk makan siang bersama setiap hari.
"Ya sudah, cepat sana makan, nanti kamu pingsan lagi di sini," canda Nyonya Mariska.
Disa pun menundukan diri bermaksud pamit dari sana, Disa senang menurutnya Nyonya Mariska sudah terlihat lebih baik.
.
.
Sesampainya di dapur ada Yanti yang sedang makan, dan Mbak Fatmah, yang sedang mengelap cangkir yang bentuk ukirannya sangat indah.
Disa pun mendekat meletakan nampan berisi piring kotor di sebelah bak cuci piring.
"Bagus banget mbak gelasnya," ucap Disa sambil mengangkat cangkir itu, memperhatikan dari dekat.
"Baguslah, mahal," jawab Mbak Fatmah.
Disa pun mengangguk setuju, cangkir keramik seperti itu pasti mahal harganya.
"Kamu tumben baru makan, Yan," tanya Disa sambil duduk dan mengambil nasi beserta lauk di sana.
"Iya tadi jagain Ndoro Putra dulu, gantian sama Mita," jawabnya, Yanti pun selesai makan, dan segera bangkit mencuci semua piring yang ada di bak cuci piring.
"Kenapa cangkirnya baru di keluarin Mbak?" tanya Disa di sela makannya.
"Biasalah kalo malam jum'at majikan kita akan ada acara menyapa sesepuh nenek moyang," jawab Mbak Fatmah ringan, sepertinya memang dia sudah sangat terbiasa dengan kegiatan majikan mereka.
Berbeda dengan Disa, dia yang masih tak mengerti kegiatan aneh yang majikannya lakukan tetap merasa janggal.
"Kamu kayanya udah sedikit tau, Dis," tukas mbak Fatmah sambil melihat kearahnya.
"Iya tadi udah dijelasin sedikit sama Yanti sama mas Yuda." Disa berusaha tenang, walau tak di pungkiri hatinya tetap merasa takut.
"Oh ... syukurlah, hormati saja kepercayaan majikan kita," saran fatmah sambil melanjutkan pekerjaannya.
Disa pun paham karena sudah diberitahu tentang hal itu, dan dia akan berusaha tak ikut campur urusan majikannya.
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-04-24
1
eMakPetiR
Marisa udh mulai sembuhkah?
2022-07-02
0
NADIRAH
sejauh ini cerita nya masih aman
masih penasaran semangat buat othor nya
2022-02-21
1