Berbelanja

Pagi harinya Disa dan Yanti ditugaskan untuk pergi ke pasar, membeli sayur-sayuran, dan kebutuhan lainnya. Sedang urusan merawat Nyonya Mariska akan di kerjakan oleh Bu Sumarni.

Disa pun senang baru sehari bekerja, sudah di izinkan untuk keluar rumah. Dia juga ingin tahu seluk beluk kota ini.

Bu Sumarni memberikan kertas berisi catatan kepada Yanti dan uang untuk berbelanja.

Mereka akan diantar oleh sopir keluarga, mas Yuda. Padahal hanya keluar ke pasar, tapi Disa sangat bersemangat.

Saat di dalam mobil Disa memperhatikan sekitar rumah majikannya yang tampak sepi. Hanya ada seorang penyapu jalan di sana.

"Kok. Gang perumahan ini sepi banget, ya Yan?" tanya Disa.

"Lah, ini satu gang rumah milik Kanjeng Ibu, Dis," jawab mas Yuda.

"Pantes sepi. Kenapa ngga di kontrakin aja, ya mas? Kan bisa menghasilkan uang."

"Kanjeng Ibu malah sengaja supaya kawasan rumahnya itu ngga rame, Dis. Jadi dia beli rumah-rumah itu," jawab mas Yuda.

Disa bingung dengan pemikiran majikannya itu, apa enaknya tinggal di rumah yang jauh dari orang-orang sekitar.

Disa yang biasa memiliki tetangga yang saling berdekatan, merasa jika majikannya itu tak suka bersosialisasi, dan memilih menutup diri dari dunia luar.

Mereka sudah sampai di Pasar tradisional, tak berbeda jauh dengan pasar yang ada di kampungnya, hanya lebih besar saja.

Mas yuda memilih menunggu mereka di warung kopi langganannya saat mengantar pembantu majikannya berbelanja di pasar.

"Yan kamu biasa yang belanja, ya?" ucap Disa saat melihat Yanti memanggil seorang kuli panggul untuk mengikutinya.

"Ganti-gantian sih, Dis. Cuma emang seringnya aku sama mbak Fatmah."

Mereka segera membeli apa saja yang ada di catatan Bu Sum.

"Kamu ngga mau beli apa-apa  Dis? Pembalut atau apa?"

"Eh iya buat jaga-jaga, ya? Ya udah aku beli itu, yuk!" ajak Disa.

Disa dan Yanti lantas mendekati toko sembako yang ada di sana, dan membeli keperluan mereka.

Saat Yanti akan membayar Disa menahannya, merasa jika itu adalah keperluannya tak perlu Yanti yang membayar.

"Ngga usah Yan, aku bawa uang, kok."

"Biar pake uang ini aja, Dis. Itu kan keperluan kita, sudah di izinkan sama Bu Sum kok, udah tenang aja," jawab Yanti dan membayar.

"Yakin kamu cuma butuh itu, ngga mau beli yang lainnya, Dis?" ucap Yanti memastikan.

Karena Yanti tahu, jika keperluan para pekerja di rumah kanjeng ibu itu di perbolehkan membeli barang yang mereka butuhkan seperti make up, karena mereka kan perempuan.

Bukan barang-barang seperti pakaian atau barang mewah lainnya, itu harus menggunakan uang dari gaji mereka sendiri.

"Ngga usah Yan, nanti saja," tolak Disa. Karena memang dia tak memerlukan barang-barang itu.

"Ya udah, yuk? Ngga enak lama-lama," ajak Yanti segera meninggalkan pasar di ikuti tukang panggul yang membawa karung beras di punggungnya.

"Bukannya kanjeng ibu punya toko sembako, ya Yan? Kok malah beli beras di pasar?" tanya Disa saat mereka berjalan menuju mobil majikannya.

"Iya, soalnya udah habis, kan tuan Irwan sama pak Hanubi pulang dari toko sore, nanti ngga keburu," jawab Yanti.

Di perjalanan Yanti meminta mas Yuda untuk berhenti di toko bunga.

Disa dan Yanti pun turun dan masuk ke toko tersebut. "Yan mau beli bunga buat apa?" tanya Disa heran.

"Pesenan kanjeng ibu Dis, lagian ini kan malam jum'at buat sesajen di gazebo," jawab Yanti berbisik.

Dan itu membuat Disa terkejut mendengar kata sesajen, pun dengan gazebo, otaknya sedang mencerna, apa hubungannya antara gazebo dengan sesajen, tiba-tiba Disa merasa takut di rumah majikannya itu 

"Ma ... maksudnya apa, Yan?" ucap Disa tergagap.

"Nanti aku jelasin di mobil," jelas Yanti.

Yanti membawa seikat bunga mawar, yang berisi kira-kira 20-an lebih, terka Disa. Dan sekantung bunga melati beserta bunga-bunga lainnya ciri khas untuk sesajen.

Saat di mobil, Disa langsung mencerca Yanti dengan pertanyaan.

"Ayo lanjutin yang tadi," paksa Disa.

"Bentar dong Dis, nanti bunganya rusak ini," sungut Yanti, karena itu adalah pesanan kanjeng ibu, dia tak mau di marahi Bu Sumarni karena lalai menjaga bunganya.

"Maaf, lagi pula ngga ada yang rontok." Disa lantas mengangkat bunga mawar itu hati-hati, bermaksud mengeceknya.

"Kanjeng ibu masih suka naro sesajen, Yan?" ucap Disa.

"Itu sebagian dari menghormati leluhur, sesepuhnya kanjeng ibu," jawab mas Yuda.

"Nah itu." Yanti membenarkan ucapan sopir majikannya itu.

"Lalu apa hubungannya sesajen sama gazebo?"

"Gazebo itu di ambil dari rumah jaman nenek moyangnya kanjeng ibu, itu kayu yang udah sangat tua loh, katanya sih dulu kakek buyut kanjeng ibu suka sekali duduk di gazebo itu, bener kan Yud?" ucap Yanti yang mencoba mencari pembenaran dari pernyataannya itu.

"Iya, bahkan kakek nenek sebelumnya sepertinya memang sudah ada, kayu jati yang sangat kokoh," jawab Yuda.

"Besok juga mereka kumpul di sana," lanjut Yuda, dan itu disalah artikan oleh Disa.

Disa yang berpikir jika yang di maksud berkumpul adalah arwah nenek moyang majikannya, langsung memeluk erat lengan Yanti.

"Kumpul gimana maksudnya? Jangan nakut-nakutin, kamu mas Yud."

Yanti dan Yuda pun tertawa berbarengan, melihat wajah pucat Disa yang salah paham maksud Yuda tadi.

"Maksud Yuda itu, kanjeng ibu beserta keluarganya bakal duduk bercengkerama di sana, Disa," Yanti menjelaskan.

Disa pun menghembuskan napas lega, mendengar penuturan Yanti.

"Lagian mas Yuda kata-katanya ambigu gitu, loh! gimana aku ngga takut," sungut Disa.

"Kita hormati saja kepercayaan mereka Dis, mereka kan masih menjaga ajaran dari nenek moyang mereka, iya kan?" ucap Yuda.

"Iya mas, menghargai peninggalan leluhur juga kewajiban kita juga kok," jawab Disa.

Walau Disa tak tahu makna di balik menjaga ajaran nenek moyang majikannya itu.

"Pantas aku ngga boleh duduk di sana. Tempat keramat, ya mas?" tanya Disa.

"Ya begitulah, menurut kanjeng ibu. Arwah leluhurnya masih di sana menjaga keluarganya, gitu sih," jawab Yuda.

"Mungkin iya, soalnya aku juga sering merinding kalo habis membersihkan gazebo," ucap Yanti.

"Aku juga. Aku malah ngerasa ada yang merhatiin, pas mau duduk di sana. Kenapa kanjeng ibu naronya di sana, ya? Kan padahal pemandangan taman bunga itu sejuk banget, jadi pas, kalo kita pengen duduk di sana," keluhnya.

"Suka-suka majikan kita, lah Dis. Kan memang kanjeng ibu suka duduk di sana. Nanti kamu jangan kaget, ya Dis? Ada kalanya Kanjeng ibu itu ngomong sama tiang kayu di sana, asli Dis aneh, tapi aku sudah biasa," ucap Yanti.

"Masa Yan? Apa kanjeng ibu kangen sama mendiang ibu bapaknya atau nenek moyangnya, ya?" Disa malah bergumam sendiri.

"Entah, Dis," jawab Yanti.

Suasana seketika hening, dengan pikiran masing-masing, sedang Yuda hanya fokus menyetir.

.

 

.

.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Ali B.U

Ali B.U

next.

2024-04-23

1

Kumiyati

Kumiyati

dista terlalu kepo

2023-12-25

0

eMakPetiR

eMakPetiR

ok,, cek..gazebo jd area terlarang .. bahkan jadi tempat naroh sesajen..

2022-07-02

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Rumah Majikan
3 Hari Pertama Kerja
4 Mariska
5 Ndoro Putra
6 Hak Suami
7 Membersihkan Diri
8 Perkenalan Diri
9 Kalut
10 Obrolan Malam
11 Berbelanja
12 Malam Jum'at Part 1
13 Malam Jum'at Part 2
14 Sesajen
15 Sungkem
16 Gazebo
17 POV Mariska
18 Rencana
19 Perpisahan
20 Amung
21 Ilmu Gaib
22 Tanda Pengikut
23 Pertarungan
24 Halusinasi atau Nyata
25 Pamit
26 Menyembuhkan Diri
27 Tempat Kerja
28 Rumah Kontrakan
29 Malam Mencekam
30 Rencana Mariska
31 Setan??
32 Di Hantui
33 Kembalinya Bu Sumarni
34 Peramal
35 Rumah Hantu.
36 Terungkap Kebenaran
37 Risau
38 Nona Wulan
39 Kehilangan
40 Berita mengejutkan
41 Lamaran
42 Acara lamaran
43 Putus Asa
44 Pesan misterius.
45 Perewangan Bu Sumarni
46 Kembalinya Nona Wulan
47 Keangkuhan Mita
48 Siraman
49 Janji Suci
50 Gagal
51 Pasca Pernikahan
52 Kebahagiaan Mita
53 Sungkem Pertama
54 Penerus Perjanjian
55 Penangkal
56 Ruwatan
57 Mutih
58 Misi pencarian Wiwit
59 Sulit dijangkau
60 Derita Wulan
61 Pengumuman
62 Kecurigaan
63 Asa Binasa
64 Penyatuan
65 Rasa Sakit Dua Sisi, Satu Waktu & Dua Dimensi
66 Perasaan Keluarga
67 Arti Sebuah Penyesalan
68 Tuhan?
69 Berita Duka
70 Tekad Kuat
71 Tugas Ayah Telah Usai
72 Pencarian Kedua Part 1
73 Pencarian Kedua Part 2
74 Peramal dan Wiwit
75 Akhir Pencarian
76 Menyembuhkan Luka Dalam
77 Petuah Ki Wiryo
78 Isi Petuah
79 Naluri Alamiah
80 Misteri Mulai Terungkap
81 Terungkapnya Misteri
82 Kubah
83 Kelemahan Bu Sumarni
84 Turun Gunung
85 Keluarga Disa
86 Batu Sudojiwo
87 Menuju Penobatan
88 Para Penjaga
89 Ide Gila
90 Murka Sumarni
91 Lawan Dan Kawan
92 Perang Bayanaka
93 Berakhirnya Perjanjian
94 Semoga Tercapai ... Amien
95 Tongkat Iblis Pencabut Nyawa
96 Akhirnya Lenyap
97 Hancurnya Kekuasaan
98 Akhir Cerita, Awal Kisah Baru
99 Extra Part
100 Epilog
101 Kesan dan Pesan Author
102 'The Soul (Seed of Life)'
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Prolog
2
Rumah Majikan
3
Hari Pertama Kerja
4
Mariska
5
Ndoro Putra
6
Hak Suami
7
Membersihkan Diri
8
Perkenalan Diri
9
Kalut
10
Obrolan Malam
11
Berbelanja
12
Malam Jum'at Part 1
13
Malam Jum'at Part 2
14
Sesajen
15
Sungkem
16
Gazebo
17
POV Mariska
18
Rencana
19
Perpisahan
20
Amung
21
Ilmu Gaib
22
Tanda Pengikut
23
Pertarungan
24
Halusinasi atau Nyata
25
Pamit
26
Menyembuhkan Diri
27
Tempat Kerja
28
Rumah Kontrakan
29
Malam Mencekam
30
Rencana Mariska
31
Setan??
32
Di Hantui
33
Kembalinya Bu Sumarni
34
Peramal
35
Rumah Hantu.
36
Terungkap Kebenaran
37
Risau
38
Nona Wulan
39
Kehilangan
40
Berita mengejutkan
41
Lamaran
42
Acara lamaran
43
Putus Asa
44
Pesan misterius.
45
Perewangan Bu Sumarni
46
Kembalinya Nona Wulan
47
Keangkuhan Mita
48
Siraman
49
Janji Suci
50
Gagal
51
Pasca Pernikahan
52
Kebahagiaan Mita
53
Sungkem Pertama
54
Penerus Perjanjian
55
Penangkal
56
Ruwatan
57
Mutih
58
Misi pencarian Wiwit
59
Sulit dijangkau
60
Derita Wulan
61
Pengumuman
62
Kecurigaan
63
Asa Binasa
64
Penyatuan
65
Rasa Sakit Dua Sisi, Satu Waktu & Dua Dimensi
66
Perasaan Keluarga
67
Arti Sebuah Penyesalan
68
Tuhan?
69
Berita Duka
70
Tekad Kuat
71
Tugas Ayah Telah Usai
72
Pencarian Kedua Part 1
73
Pencarian Kedua Part 2
74
Peramal dan Wiwit
75
Akhir Pencarian
76
Menyembuhkan Luka Dalam
77
Petuah Ki Wiryo
78
Isi Petuah
79
Naluri Alamiah
80
Misteri Mulai Terungkap
81
Terungkapnya Misteri
82
Kubah
83
Kelemahan Bu Sumarni
84
Turun Gunung
85
Keluarga Disa
86
Batu Sudojiwo
87
Menuju Penobatan
88
Para Penjaga
89
Ide Gila
90
Murka Sumarni
91
Lawan Dan Kawan
92
Perang Bayanaka
93
Berakhirnya Perjanjian
94
Semoga Tercapai ... Amien
95
Tongkat Iblis Pencabut Nyawa
96
Akhirnya Lenyap
97
Hancurnya Kekuasaan
98
Akhir Cerita, Awal Kisah Baru
99
Extra Part
100
Epilog
101
Kesan dan Pesan Author
102
'The Soul (Seed of Life)'

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!