Hak Suami

Hari sudah siang, sudah waktunya untuk makan seperti biasa. Bu Sumarni lah yang akan memasak untuk makan majikan mereka, dan akan di bantu oleh Fatmah.

Sedang Disa dan Yanti yang akan memasak untuk mereka makan, Mita sekarang yang menjaga Ndoro Putra.

Disa melihat anak majikannya itu tampak murung setelah keluar dari kamar ibunya.

Saat ini Putra sedang bermain bersama Mita di ruang keluarga, tampak melamun tak ada semangat.

Saat waktunya makan siang, seperti sarapan tadi pagi, Disa akan datang ke kamar Mariska, Nyonya sekaligus teman masa kecilnya itu untuk dia rawat.

Kali ini Disa sendiri, karena Bu Sumarni bertugas melayani majikan mereka di meja makan.

Disa pun mengetuk sebelum memasuki kamar Nyonya Mariska.

Ternyata Nyonya Mariska sudah bangun, dia sedang melihat ke arah pintu masuk.

"Dis ... tolong antar saya ke toilet," pintanya.

Disa lantas segera meletakan nampan di nakas, dan memapah Nyonya Mariska menuju kamar mandi.

Disa menunggu di luar pintu, berjaga-jaga takut terjadi hal yang tak di inginkan. Tak lama pintu toilet terbuka, Disa pun kembali memapah Nyonya Mariska ke tempat tidur.

Disa menuntunnya dengan sangat hati-hati. Saat mereka sudah sampai, Nyonya Mariska meminta untuk duduk bersandar pada ranjangnya.

Disa duduk di kursi sebelahnya, akan mulai menyuapi majikannya itu, seperti biasa Disa akan memberikan air minum dulu sebelum makan.

"Tadi Putra kesini, ya Dis?" ucap Nyonya Mariska, yang melihat mereka keluar dari pintu saat itu.

"Iya Nyonya," jawab Disa sambil menyuapinya.

Raut wajah Nyonya Mariska tampak sedih, pemandangan yang sangat menyayat hati.

‘Kalian pasti sangat saling merindukan,’ batin Disa.

"Nyonya cepet sehat, ya. Biar nanti bisa main lagi dengan Ndoro Putra," ucapnya memberi semangat kepada majikannya.

"Makasih, ya Dis."

Tetapi, tak tampak raut wajah semangat di sana, menurut Disa. Dia melihat majikannya itu seperti sudah tak ada gairah hidup.

"Aku terlihat mengerikan, ya Dis?" ucapnya setelah berhasil menelan sisa makanannya.

Disa mengernyitkan dahi, bingung mendengar pertanyaan Mariska. "Maaf Nyonya, maksudnya gimana?"

 

Mariska tersenyum getir, mendengar kebingungan Disa seperti sebuah ejekan baginya. "Jangan pura-pura, Dis."

 

"Maafkan saya Nyonya ... saya memang tak paham maksud Nyonya." Disa menunduk mengalihkan tatapan tajam majikannya.

 

Disa berpikir salah bicara, sebab yang dia lihat Nyonya Mariska seperti kesal.

 

"Rupaku sekarang sangat mengerikan bukan? Wajah pucat, tubuh kurus kering. Benar-benar sudah tak menarik lagi," ucap Mariska sambil menghela napas.

"Bahkan, suamiku seperti tak menganggapku sebagai seorang istri." Masih dengan senyum getirnya.

Nyonya Mariska seperti sedang mencurahkan isi hatinya kepada Disa. Sebab dia memang temannya, dan itu sedikit membuat Mariska ingin sedikit berkeluh kesah.

Disa yang baru di sini, jelas tak mengetahui permasalahan keluarga majikannya itu.

Namun, Disa mengambil kesimpulan, jika majikannya itu sedang berkonflik dengan suaminya.

Tiba-tiba ....

Ceklek!

Pintu kamar terbuka, Disa dan Nyonya Mariska pun menoleh ke arah pintu. Memastikan siapa yang datang.

Ternyata Tuan Irwan. Disa berdiri, tak lupa tetap menundukkan pandangannya.

Tuan Irwan menghampiri mereka, bertanya kepada Disa tanpa melepas pandangannya kepada sang istri. "Apa Nyonya sudah makan?"

"Sudah Tuan, hanya belum minum obat saja."

Tuan Irwan lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang, di ujung dekat kaki istrinya. Mencoba memijat telapak kaki sang istri yang terasa dingin.

Nyonya Mariska membuang muka. Dia seperti enggan akan kedatangan suaminya itu dengan tidak sedikit pun menatapnya.

"Kamu keluar saja, biar nanti saya yang memberi obat untuk Nyonya," perintah Tuan Irwan.

Disa pun mengangguk lantas mengambil nampan dan meninggalkan air minum serta obat untuk majikannya.

.

.

.

Disa menuju dapur, ingin segera mengisi perutnya. Dia sendiri pun sangat kelaparan, setelah tenaganya habis terkuras oleh hal aneh yang ia rasakan, ditambah dengan anak majikannya yang selalu membuatnya lelah.

Setelah Disa meletakan bekas makan majikannya ke bak cuci piring, Dia pun segera mengambil nasi dan bergabung dengan yang lainnya. Walaupun mereka semua sudah selesai makan, tetapi mereka masih berkumpul di meja.

Fatma lantas menuju bak cuci piring untuk membersihkan piring kotornya. Dia heran, melihat nampan bekas majikan mereka yang di bawa Disa. "Kok, ngga ada gelas Nyonya, Dis?"

Disa menjawab sesaat sebelum menyendok nasi ke mulutnya. "Nyonya belum minum obat Mbak."

"Loh, kenapa?"

Fatma heran, dia sendiri pernah merawat Mariska, dan memang majikan mereka itu sakit sudah lama, dia tak pernah sekalipun lepas dari obat-obatan itu.

"Ada tuan Irwan di kamar Nyonya—" Disa bermaksud menjelaskan, tetapi dipotong oleh perkataan yang lainnya.

"Apa!" jawab mereka kompak, dan semua tampak kaget.

Disa tersedak dan ia segera minum, dia menatap aneh teman-temannya.

"Kenapa sih! Bikin kaget saja kalian ini," sungut Disa.

"Gimana, ya ...?" Yanti berusaha menjelaskan, tetapi seperti bingung. Dia malah menggigit bibir bawahnya, dan parahnya lagi terlihat seperti malu hendak melanjutkan kalimatnya.

"Tuan Irwan mau minta haknya sebagai seorang suami," ungkap Mita tanpa basa-basi, dan mereka semua termasuk Disa tampak salah tingkah karena malu. Mau bagaimana pun itu pembicaraan yang tabu bagi mereka.

"Tapi kasian nyonya," sergah Yanti.

Dia merutuk dalam pikirannya, ‘Bagaimana bisa tuannya itu meminta hak saat keadaan istrinya seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, dia kan lelaki normal.’

"Ya, mau gimana lagi. Tuan Irwan kan suaminya, lelaki normal pulak," ucap Mita seolah mewakili pikiran mereka.

"Sudah ... jangan di lanjutkan, nanti ada bu Sum bisa kena masalah, kalian."

Fatmah pun mengingatkan mereka untuk segera menghentikan obrolan. Peraturan utama di rumah ini adalah, tak ikut campur urusan majikan mereka.

Lagi pula mereka di bayar untuk bekerja, bukan berghibah.

.

.

.

Tuan Irwan menghampiri para pembantu rumah tangganya yang sedang bekerja di dapur kedua.

Terlihat, jika mereka semua tengah sibuk mengerjakan pekerjaan di dapur. Ada yang membersihkan piring kotor, ada pula yang sedang menyiapkan menu untuk makan malam majikan mereka.

Tugas mereka hanya menyiapkan bahan, seperti mengiris sayur dan membersihkan daging-dagingan, bukan memasak. Tugas memasak untuk majikan mereka, tetap akan dikerjakan oleh bu Sumarni.

Tuan Irwan berdiri di sana sambil berkata, "Tadi siapa yang mengurus istri saya?"

Mereka semua pun berdiri menundukkan kepala, tampak menahan malu. Tuan Irwan datang dengan pakaian yang berbeda, dan terlihat segar seperti habis mandi.

Disa mengangkat tangannya, "Saya Tuan."

"Siapa namamu?"

"Disa ... Tuan."

"Kamu kembali ke kamar istri saya, bantu dia membersihkan diri," perintahnya dan segera berlalu pergi.

Mereka semua pun saling berpandangan-pandangan dengan tersenyum kecil, dan pikiran mereka pun berkelana ke mana-mana.

Jelas jika Tuan Irwan masih memiliki gairah, dia masih muda dan perkasa, sudah pasti hasrat biologisnya masih menggebu-gebu.

Hanya saja, jika melihat keadaan istrinya seperti itu, tentu mereka semua miris. Namun, itu bukan urusan mereka. Toh bukan sekali dua kali ini saja, menyaksikan kejadian seperti ini. Mungkin hanya Disa yang baru mengetahuinya.

Disa pun menghela napas. Dia sudah dewasa, jadi tau makna 'membersihkan’ yang dimaksud tuannya.

Mungkin Disa belum habis pikir saja, ternyata tuannya mendatangi kamarnya tadi hanya untuk meminta haknya. Pantas wajah Nyonya Mariska tampak enggan.

Disa segera berlalu dari sana dan berjalan menuju kamar Nyonya Mariska. Mendadak ia merasa horor, bukan dalam artian menyeramkan, tetapi untuk seorang gadis yang masih suci dia agak sungkan melakukannya.

.

.

.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Ass Yfa

Ass Yfa

sakit lo... kok tegel minta haknya

2024-05-16

0

Ali B.U

Ali B.U

next.

2024-04-22

1

❤️‍🔥ℝ❤️‍🔥

❤️‍🔥ℝ❤️‍🔥

masih penasaran

2023-11-28

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Rumah Majikan
3 Hari Pertama Kerja
4 Mariska
5 Ndoro Putra
6 Hak Suami
7 Membersihkan Diri
8 Perkenalan Diri
9 Kalut
10 Obrolan Malam
11 Berbelanja
12 Malam Jum'at Part 1
13 Malam Jum'at Part 2
14 Sesajen
15 Sungkem
16 Gazebo
17 POV Mariska
18 Rencana
19 Perpisahan
20 Amung
21 Ilmu Gaib
22 Tanda Pengikut
23 Pertarungan
24 Halusinasi atau Nyata
25 Pamit
26 Menyembuhkan Diri
27 Tempat Kerja
28 Rumah Kontrakan
29 Malam Mencekam
30 Rencana Mariska
31 Setan??
32 Di Hantui
33 Kembalinya Bu Sumarni
34 Peramal
35 Rumah Hantu.
36 Terungkap Kebenaran
37 Risau
38 Nona Wulan
39 Kehilangan
40 Berita mengejutkan
41 Lamaran
42 Acara lamaran
43 Putus Asa
44 Pesan misterius.
45 Perewangan Bu Sumarni
46 Kembalinya Nona Wulan
47 Keangkuhan Mita
48 Siraman
49 Janji Suci
50 Gagal
51 Pasca Pernikahan
52 Kebahagiaan Mita
53 Sungkem Pertama
54 Penerus Perjanjian
55 Penangkal
56 Ruwatan
57 Mutih
58 Misi pencarian Wiwit
59 Sulit dijangkau
60 Derita Wulan
61 Pengumuman
62 Kecurigaan
63 Asa Binasa
64 Penyatuan
65 Rasa Sakit Dua Sisi, Satu Waktu & Dua Dimensi
66 Perasaan Keluarga
67 Arti Sebuah Penyesalan
68 Tuhan?
69 Berita Duka
70 Tekad Kuat
71 Tugas Ayah Telah Usai
72 Pencarian Kedua Part 1
73 Pencarian Kedua Part 2
74 Peramal dan Wiwit
75 Akhir Pencarian
76 Menyembuhkan Luka Dalam
77 Petuah Ki Wiryo
78 Isi Petuah
79 Naluri Alamiah
80 Misteri Mulai Terungkap
81 Terungkapnya Misteri
82 Kubah
83 Kelemahan Bu Sumarni
84 Turun Gunung
85 Keluarga Disa
86 Batu Sudojiwo
87 Menuju Penobatan
88 Para Penjaga
89 Ide Gila
90 Murka Sumarni
91 Lawan Dan Kawan
92 Perang Bayanaka
93 Berakhirnya Perjanjian
94 Semoga Tercapai ... Amien
95 Tongkat Iblis Pencabut Nyawa
96 Akhirnya Lenyap
97 Hancurnya Kekuasaan
98 Akhir Cerita, Awal Kisah Baru
99 Extra Part
100 Epilog
101 Kesan dan Pesan Author
102 'The Soul (Seed of Life)'
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Prolog
2
Rumah Majikan
3
Hari Pertama Kerja
4
Mariska
5
Ndoro Putra
6
Hak Suami
7
Membersihkan Diri
8
Perkenalan Diri
9
Kalut
10
Obrolan Malam
11
Berbelanja
12
Malam Jum'at Part 1
13
Malam Jum'at Part 2
14
Sesajen
15
Sungkem
16
Gazebo
17
POV Mariska
18
Rencana
19
Perpisahan
20
Amung
21
Ilmu Gaib
22
Tanda Pengikut
23
Pertarungan
24
Halusinasi atau Nyata
25
Pamit
26
Menyembuhkan Diri
27
Tempat Kerja
28
Rumah Kontrakan
29
Malam Mencekam
30
Rencana Mariska
31
Setan??
32
Di Hantui
33
Kembalinya Bu Sumarni
34
Peramal
35
Rumah Hantu.
36
Terungkap Kebenaran
37
Risau
38
Nona Wulan
39
Kehilangan
40
Berita mengejutkan
41
Lamaran
42
Acara lamaran
43
Putus Asa
44
Pesan misterius.
45
Perewangan Bu Sumarni
46
Kembalinya Nona Wulan
47
Keangkuhan Mita
48
Siraman
49
Janji Suci
50
Gagal
51
Pasca Pernikahan
52
Kebahagiaan Mita
53
Sungkem Pertama
54
Penerus Perjanjian
55
Penangkal
56
Ruwatan
57
Mutih
58
Misi pencarian Wiwit
59
Sulit dijangkau
60
Derita Wulan
61
Pengumuman
62
Kecurigaan
63
Asa Binasa
64
Penyatuan
65
Rasa Sakit Dua Sisi, Satu Waktu & Dua Dimensi
66
Perasaan Keluarga
67
Arti Sebuah Penyesalan
68
Tuhan?
69
Berita Duka
70
Tekad Kuat
71
Tugas Ayah Telah Usai
72
Pencarian Kedua Part 1
73
Pencarian Kedua Part 2
74
Peramal dan Wiwit
75
Akhir Pencarian
76
Menyembuhkan Luka Dalam
77
Petuah Ki Wiryo
78
Isi Petuah
79
Naluri Alamiah
80
Misteri Mulai Terungkap
81
Terungkapnya Misteri
82
Kubah
83
Kelemahan Bu Sumarni
84
Turun Gunung
85
Keluarga Disa
86
Batu Sudojiwo
87
Menuju Penobatan
88
Para Penjaga
89
Ide Gila
90
Murka Sumarni
91
Lawan Dan Kawan
92
Perang Bayanaka
93
Berakhirnya Perjanjian
94
Semoga Tercapai ... Amien
95
Tongkat Iblis Pencabut Nyawa
96
Akhirnya Lenyap
97
Hancurnya Kekuasaan
98
Akhir Cerita, Awal Kisah Baru
99
Extra Part
100
Epilog
101
Kesan dan Pesan Author
102
'The Soul (Seed of Life)'

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!