Sungkem di sini bukan seperti di acara pernikahan, ya? Tapi ya sama-sama seperti memanjatkan do'a-do'a, dengan duduk bersimpuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disa memeperhatikan dari jendela kamarnya yang sudah gelap, dia hanya membuka sedikit celah, menurutnya tak mungkin juga majikannya melakukan ritual yang aneh-aneh, yang Disa tau dari cerita yang sudah turun temurun jika seseorang melakukan pemujaan setan tak mungkin akan seterbuka itu.
Pasti mereka akan melakukan di tempat rahasia yang tak akan membuat orang lain curiga, bukan?
Mungkin benar kalo majikannya itu hanya mempertahankan warisan turun temurun, toh kakek Disa juga melakukan hal yang sama.
Disa memperhatikan Kanjeng Ibu seperti pemimpin acara, beliau berdiri paling depan di belakangnya berdiri pak Hanubi beserta Tuan Irwan.
Sedang Nyonya Mariska bersama Bu Sumarni di belakang mereka berdua.
Kanjeng Ibu menyiprat-nyipratkan air yang berisi kembang pada mangkuk tembaga yang tadi juga Yanti persiapkan.
Lalu beliau menaiki tangga dan mengusap satu persatu tiang di sana, dan terakhir beliau mengambil nampan di tangan Nyonya mariska yang tadi Yanti persiapkan dan meletakan di tengah gazebo.
Disa melihat sekarang di nampan itu bersisi seperti banyak makanan, tapi tak jelas bentuknya apa saja.
Lalu beliau juga mengambil seikat bunga mawar dari tangan suaminya. Itu pun mawar yang Yanti beli tadi.
Terakhir mereka semua duduk bersimpuh di tanah yang sudah di lapisi karpet, entah siapa yang mempersiapkannya.
Karena Disa belum melihat itu saat dia masuk ke kamarnya. Hanya Kanjeng ibu, suami beserta anaknya yang duduk bersimpuh, sedang Nyonya Mariska tak banyak bergerak, karena beliau masih duduk di kursi rodanya.
Sedang Bu Sumarni pun beliau masih berdiri, dengan memegang nampan yang berisi cangkir keramik yang tadi di bersihkan oleh mbak Fatmah.
Saat duduk bersimpu mereka pun meletakan kedua telapak tangan yang di katupkan menjadi satu di depan wajah mereka, benar-benar seperti jaman masa kerajaan di mana para ajudan memohon restu, tapi bedanya ini adalah gazebo.
Deg......
Tiba- tiba Disa seperti tersadar, bukan gazebonya yang mereka sembah, apa mungkin sesuatu yang sedang berada di sana yang sedang mereka sembah, saat sedang berfikir seperti itu, tiba-tiba semua majikannya menatap kearahnya.
Disa gemetar, telapak tangan yang sedang memegang hordeng basah oleh keringat, sekilas Disa bisa melihat jika ada sosok mahluk besar dengan warna hitam duduk di sana, pandangan mata Disa tiba-tiba kabur, dan dia tak merasakan apapun lagi.
.
.
Keesokan paginya Disa bangun dengan badan yang menggigil, dia sudah berada di atas tempat tidurnya.
Yanti yang baru selepas mandi pun hendak membangunkannya. Dan melihat Disa nampak meringkuk kedinginan.
"Kamu udah bangun Dis— kamu kenapa?" tanya Yanti.
"Aku apa semalem pingsan Yan?" tanya Disa yang sedang coba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.
Yang dia ingat saat melihat acara majikannya tiba-tiba pandangannya kabur dan gelap, di tambah dia merasa bermimpi buruk.
"Pingsan apa, orang kamu tidur duluan sebelum aku kok, cuma pas malam, kamu ngigo manggil-manggil orang tua kamu," jawab Yanti.
Disa pun bangkit duduk bersandar pada tembok. "Masa sih Yan, perasaan aku nonton acara mereka loh," elaknya.
"Iya tapi ngga lama kamu tidur di sebelah aku kok, aku belum tidur kamu dah ngorok duluan!" jawab Yanti heran.
Memang sesaat setelah kedatangan Bu Sumarni Disa masih kekeh ingin melihat kegiatan majikan mereka, tapi tak berangsur lama dia malah langsung tidur, mungkin membosankan fikirnya malam tadi.
"Kamu nampak pucat Dis? apa kamu sakit?" tanya Yanti beruntun, dia pun meletakan punggung tangannya ke dahi Disa.
"Aku ngerasa agak pusing Yan," jawab Disa, dan memang Disa merasa tidak enak badan.
Dia ingat jika semalam dia melihat acara majikannya itu, tapi dia lupa apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.
Apa dia hanya bermimpi ya semalam? fikirnya.
"Ya udah kamu istirahat aja, nanti aku yang bilang sama Bu Sum," ucap Yanti yang selesai menyisir rambutnya.
Disa pun mencekal tangannya. "Ngga usah ntar aku minum teh anget juga mendingan," jawabnya.
Disa tak mau jika baru 3 hari bekerja dia sudah ijin sakit, lagi pula ini tak seberapa, dia memutuskan untuk segera mandi agar badanya bisa terasa segar.
"Kamu itu kena tulah kali Dis, coba aku tanya, kamu udah telpon orang tua kamu belum? makanya semalem kamu ngigo manggil mereka terus," tanya Yanti sambil cekikikan.
"Ya ampun iya."
Disa pun langsung mengambil gawai di lemarinya, dan benar saja ada pesan masuk dari temannya sari.
*Dis kamu bisa angkat telpon ngga?*
Begitulah isi pesan Sari.
Disa pun langsung menelpon Sari, bersyukur ada sinyal hari ini, sebenarnya Disa ingin membawa gawainya keluar kamar, untuk mencari sinyal yang bagus, tapi dia belum berani.
"Halo Sar," ucapnya lega karena telponnya tersambung.
"Maaf kemarin aku sibuk kerja, jadi aku ngga enak mau nelpon kamu," ucapnya sendu.
Di seberang tampak Sari menjawab dengan gerutuan panjang lebar.
"Iya maaf, tolong sampaikan sama ibu bapak ya? Aku baik-baik aja, di sini sinyalnya susah, pesan kamu aja baru masuk ini."
"Iya," Disa menjawab pertanyaan Sari.
"Ya sudah aku mau kerja lagi, kalo nanti ada sinyal, nanti malam ya Sar? Aku mau telpon bapak ibu."
Entah apa yang Sari katakan terlihat jika Disa cekikikan, dan dia pun segera mematikan telponnya.
Yanti yang melihat Disa sudah nampak lebih baik pun bertanya, "Gimana kabar ibu bapakmu Dis?"
"Baik Yan—" sambil tertawa. "Bapak sampai mau berangkat kesini gara-gara udah 3 hari aku ngga ada kabar," sambil mendesah.
"Kamu sih, pasti kamu udah janji kan mau menghubungi mereka, trus kamu lupa sama janjimu, ya begitu jadinya di rep-rep saat tidur," ucap Yanti panjang lebar.
"Iya Yan, aku ngerasa bersalah, untunglah aku udah bisa ngabari mereka, biarpun ngga secara langsung, tapi aku yakin orang tuaku pasti lega tau aku baik-baik aja."
"Kamu beruntung punya hape, sedang gajiku pasti aku kirimi buat keluargaku di kampung." Yanti memang tulang punggung keluarganya, di samping harus menghidupi dan membiayai adik-adiknya sekolah dia pun harus mengobati ayahnya yang sudah lama sakit paru-paru.
"Nah kan aku ada hape, nanti kamu bisa pinjam tenang aja," jawab Disa menyemangati.
"Makasih ya Dis? Udah sana mandi, nanti bantu aku bersihin gazebo, soalnya majikan kita pasti mengobrol di sana abis sarapan," perintah Yanti.
Disa pun mengangguk dan mengambil pakaian ganti untuk segera membersihkan dirinya.
Dia memang penasaran dengan kegiatan majikannya semalam, dan penasaran dengan apa yang terjadi.
Saat Disa melewatinya, gazebo itu masih terikat kain merah di tiangnya.
Nampan berisi sesajen pun masih ada di sana, dan kelopak bunga mawar sepertinya banyak berceceran disana.
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ali B.U
next.
2024-04-24
1
nena nurhasanah28
cerita bagus, rinci bgt..
2022-09-03
0
eMakPetiR
sosok hitam besar...
hmmm... apakah itu Mr. G
???
2022-07-02
0