Saat selesai makan malam, para majikannya sedang duduk di ruang tengah sambil berbincang.
Mita berada di kamar Ndoro Putra, menemaninya hingga anak majikan mereka tidur.
Sedang mbak Fatmah dan Yanti sedang membersihkan piring bekas makan mereka.
Hanya Disa yang ada di meja makan sendirian, dia sedang menikmati makan malamnya.
"Pelan-pelan Dis. Kamu kaya udah lama ngga makan aja," ucap Yanti sambil duduk di sebelahnya, sedang mengupas buah pepaya.
"Laper Yan—" jawab Disa dengan mulut terisi.
"Nyonya udah tidur, Dis?" ucap Fatmah yang juga bergabung dengan mereka di meja makan.
"Tadi sih belum, tapi aku udah izin, kok." Disa masih menikmati makan malamnya dengan lahap.
"Kamu udah ambilin makanan buat pak Wahyu, Yan?" tanya mba Fatmah.
Pak Wahyu adalah penjaga rumah majikan mereka. Tugas pak Wahyu hanya malam hari, jika pagi ada pak Jarwo yang bertugas membersihkan kebun sekaligus menjaga gerbang depan.
"Eh, iya lupa mbak," ucap Yanti sambil menggaruk kepalanya.
Dia pun bangkit segera mengisi piring dan lauk untuk penjaga rumah.
"Ya udah aku mau buat gorengan, nanti klo beliau kesini ngantar piring, bisa sekalian bawa gorengan." Mbak Fatmah pun menuju lemari pendingin, segera mengambil bahan-bahan untuk membuat kudapan bagi penjaga rumah majikannya.
Disa masih duduk memperhatikan pekerjaan mereka, dengan piring masih tergeletak di atas meja sedangkan isinya sudah habis.
Disa malu, jika tadi sore dia mengeluh kepada Nyonya mudanya, jika dia merasa lelah, padahal pekerjaannya masih termasuk ringan.
Jika di lihat, teman-temannya pun tak pernah berhenti melakukan tugas mereka, ada saja pekerjaan yang harus di kerjakan, dan saat harus meminta tolong rekannya pun dikarenakan mereka memang sedang melakukan pekerjaan lain.
Disa adalah anak seorang petani, dia juga biasa membantu orang tuanya di sawah, menanam, menyiram, ataupun memanen, bahkan urusan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah, semua Disa yang kerjakan, tapi sekarang dia malah mudah sekali merasa lelah.
Sepertinya bukan pekerjaan yang membuat tenaganya terkuras tapi yang membuat Disa lelah adalah karena hal mistis yang dia alami. Dia bingung, apa hanya perasaannya saja, atau kenyataan.
Disa dibesarkan dengan banyak mengetahui hal-hal mistis. Jelas saja dia merasa ada yang tak beres dengan rumah majikannya ini, tetapi Disa berusaha menepisnya.
Disa jadi ingat pesan Bu Retno yang dia temui di perjalanan kemarin, agar Disa bekerja saja dengan giat, tak perlu mempedulikan urusan majikannya, Disa berpikir apa itu hanya sebatas nasihat, atau memang ada peringatan.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00, Disa dan Yanti pun sudah istirahat di kamarnya, mereka merebahkan diri, Disa memang lelah, tapi dia ingin sedikit mengetahui tentang keluarga majikannya.
"Yan— kamu kan sudah tiga bulan di sini, nyonya Mariska apa sakit udah lama?" tanya Disa, dia memiringkan tubuhnya untuk menatap teman sekamarnya itu.
Yanti ragu-ragu saat akan menjawab pertanyaan Disa. "Mmm ... gimana, ya Dis. Kalo aku cerita, pasti kamu ngga bakal percaya."
Disa lantas bangkit duduk, saat mendengar nada keraguan dari ucapan Yanti. "Ngga percaya gimana maksudnya?"
"Shuuuut ... " tegur Yanti ikut bangkit, dia pun melirik pintu, takut jika mereka di tegur oleh Bu Sumarni.
"Udah malam Dis, kecilin suaramu. Kalo kamu mau aku lanjutin ceritanya." Yanti pun kembali merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar, berusaha mengingat kejadian yang pernah dia alami.
"Maaf Yan, aku penasaran soalnya," bisik Disa, dia pun ikut berbaring dan menatap Yanti.
"Dua bulan aku kerja, nyonya Mariska masih sehat Dis, beliau baru sakit itu sekitar satu bulanan ini. Setelah mereka pergi ke luar kota selama seminggu, tau-tau Nyonya Mariska pulang sudah seperti itu," kenangnya, dia pun melihat ke arah Disa.
"Jadi, beliau belum lama sakit?" tanya Disa, masih dengan suara berbisiknya, padahal Yanti bicara dengan nada biasa, hanya lebih pelan.
"Kalo kata mbak Fatmah, dia kan yang udah dua tahun di sini, ini udah yang kedua kalinya, tapi menurutnya nanti juga Nyonya Mariska sehat lagi," jelasnya.
Disa merasa aneh, sudah dua kali menurut Yanti, jika memang Nyonya Mariska sering sakit kenapa tak di rawat kerumah sakit? Pikirnya.
"Yang bikin serem Dis, waktu baru pulang itu, selama seminggu Nyonya di transfusi darah." Yanti pun bergidik, dia mengingat saat Nyonya Mariska itu harus di transfusi darah, dia pun penasaran apa yang terjadi, tapi Bu Sumarni pernah mengingatkan jika Nyonya Mariska hanya sakit, dan jangan banyak bertanya.
Seketika Disa terkejut, "Hah!" Hingga refleks dia kembali duduk, lantas Yanti menariknya kembali agar segera istirahat.
"Ishhh kamu ini, Dis. Biasa aja, sih! Masih banyak yang lebih serem, tau!" sungut Yanti.
Tak lama suara pintu pun terdengar diketuk, dan di susul oleh teguran oleh Bu Sumarni.
"Sudah malam, kalian harus tidur, jangan mengobrol saja!"
Disa dan Yanti pun cekikikan sambil menutup mulut mereka. "Ayo Yan, lanjutin ceritanya," pinta Disa.
"Ntar kamu teriak lagi, padahal masih banyak yang mau aku kasih tau," ucap Yanti.
"Oke, aku janji bakal tutup mulut, ngga teriak lagi deh," ucap Disa, mengacungkan huruf 'V' dengan jarinya.
"Awas kamu jerit lagi, aku tinggal tidur, biar kamu mati penasaran," ancam Yanti.
"Janji, ayo lanjutin."
"Seminggu itu Nyonya Mariska di infuskan ... ngga bangun dia selama itu Dis, tapi abis itu Dia sadar, kamu liat ada bercak biru ngga di tubuh Nyonya Dis waktu mandiin beliau?" lanjut Yanti bercerita.
Disa juga penasaran dengan bercak biru majikan mereka itu.
"Iya Yan, tapi cuma di bagian dada aja sih, kenapa emang Yan?"
Yanti pun menghela nafas dan melanjutkan, "berarti udah ilang Dis, waktu aku yang mandiin dulu, hampir seluruh badannya itu pada biru-biru, apa Nyonya Mariska itu punya penyakit keras ya Dis?" Yanti pun penasaran.
"Kaya itu loh Dis, kan ada tuh penyakit kanker darah gitu loh Dis." Yanti berusaha mengingat nama sejenis penyakit umum yang pernah dia dengar.
"Leukimia?" terka Disa.
"Nah itu bukan? apa anemia lah."
"Anemia kurang darah juga, bisa jadi sih, tapi apa ya sampe harus di transfusi," ucap Disa heran.
"Ya ngga tau Dis, tapi aku dulu ngeri banget kalo liat badan Nyonya, kaya abis jatoh apa di gebukin gitu. Sekarang berarti sudah ilang."
"Kalo masih penasaran, besok tanya Mbak Fatmah aja. Aku sama Mita juga baru tau soalnya, tapi Mbak Fatmah pasti ngomong, udah kerja aja ngga usah nanya-nanya, ntar juga sehat lagi Nyonya, gitu jawabnya." Yanti pun sebenarnya penasaran dengan sakit Nyonya Mariska, tapi tak ada yang bisa ia tanyakan, hingga akhirnya dia pun sama seperti Mita, memilih bersikap acuh saja.
"Aku tuh merasa wingit loh Yan di rumah ini, kalo kata nenekku dulu istilahnya anyep." Disa pun menceritakan perasaannya yang selalu merasa waswas tentang rumah majikannya ini.
Sebenarnya Yanti juga merasakan apa yang di katakan Disa, mereka juga merasa jika rumah majikannya terasa ganjil, namun mereka abaikan.
"Lah bukan kamu aja, aku waktu pertama dateng ngga bisa tidur Dis, untungnya aku tidur sama mbak Fatmah, kamu apa yang di rasa Dis?"
"Ya gitu lah, berasa ada yang merhatiin gitu," jawab Disa, dia belum mau menceritakan kejadian yang dia alami, takut jika nanti Yanti malah mengundurkan diri dari sini, dan dia akan tidur sendirian.
Mereka berdua pun menguap tak terasa waktu sudah sangat malam. Mereka masih menyimpan rapat kejadian yang masing-masing mereka alami.
"Tidur yuk Dis, besok lagi lanjutin," ajak Yanti, dia pun segera menarik selimut dan memejamkan matanya.
Disa pun menatap langit-langit kamarnya, ingin rasanya tau misteri tentang Nyonya Mariska, tapi tenaga dan pikirannya sudah sangat lelah, dia pun menyusul Yanti ke alam mimpi.
.
.
.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-04-23
1
eMakPetiR
ini emang disengaja diskip ma othor ato gimana..
banyak yg tanya soal ibadahnya Disa..
padahal ibunya sudah mewanti wanti soal ibadah ini
2022-07-02
0
Nuning Setiyani
makin kesini makin serem
2022-02-27
1