Mayu bergegas ke toilet untuk menerima panggilan video dari Rai. Saat terhubung, rupanya dalam panggilan itu tidak hanya ada Rai, tapi juga ada Yuta dan Rio.
"Bagaimana kabarmu di sana?" tanya Rai dengan tatapan dalam.
"Apa Chiba Yamada memperlakukan kau dengan baik seperti diriku?" Rio tak mau kalah bersuara.
"Bagaimana dengan berliannya? Sudah ditemukan, belum?" Yuta pun turut melayangkan pertanyaan.
"Bisakah kalian melempar pertanyaan satu per satu? Aku jadi bingung mau jawab yang mana!" ucap Mayu dengan suara setengah berbisik.
"Intinya kita ingin tahu perkembangan selama kau berada di sana," balas Yuta tak sabaran.
"Aku belum bisa berbuat banyak. Dia sangat waspada, dan sepertinya dia memiliki masalah dengan tidurnya sehingga mudah terbangun. Semalam, aku hampir ketahuan dan jadi takut untuk mengulangnya," ujar Mayu.
"Begitu saja kau menyerah?" cibir Yuta.
"Bukan menyerah, tapi aku harus membuatnya merasa percaya dulu padaku. Walau bagaimanapun aku adalah orang asing yang tiba-tiba ada di apartemennya," balas Mayu.
"Lalu, apa yang kau lakukan selama berada di sana?" tanya Rio.
"Dia memintaku menjadi tukang masak selama seminggu," ucap Mayu pelan.
"Tukang masak?" Yuta dan Rio kompak berkata.
Mayu mengangguk pelan.
"Ah, seorang pria dan wanita berada dalam satu atap selama seminggu. Kira-kira apa saja yang terjadi?" ucap Yuta menyeringai.
"Mayu-chan, hubungi aku jika dia berani macam-macam padamu. Aku akan menunjukkan keahlianku dalam teleportasi," sahut Rio yang wajahnya kini memenuhi layar ponsel.
Rai merampas ponsel tersebut, kemudian menatap wajah Mayu dari layar sambil berkata, "Lakukan yang menurutmu terbaik. Aku percaya padamu."
Rai memercayaiku?
Wajah Mayu bersemu seketika. "Kalian jangan khawatirkan aku. Lagi pula Chiba Yamada benar-benar tidak tertarik dengan—" Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, panggilan itu telah terputus.
Yuta menahan tangan Rai setelah selesai menelepon Mayu. "Apa tidak menjadi masalah membiarkan dia berada di sisi Chiba Yamada? Gadis itu sering tidak fokus, aku takut dia malah melupakan misi utama."
Rai terdiam sebentar, senyum tipis bertengger di bibirnya diikuti dengan segaris alis yang terangkat. "Jangan khawatir. Mayu akan terus mengikuti perintahku. Aku akan membuatnya menjadi gadis penurut."
Mayu mulai memotong-motong bahan makanan setelah selesai mengobrol dengan Rai, Rio dan Yuta. Seperti biasa, wanita berwajah imut itu melakukannya dengan penuh semangat.
"Hei!" tegur Chiba.
Mayu tersentak dan segera menoleh ke arah Chiba yang baru saja selesai berolahraga.
"Kuncir rambutmu jika sedang memasak! Aku membenci masakan yang terselip helaian rambut."
Mayu memegang rambutnya yang terurai. "Em ... aku tidak punya ikat rambut."
Chiba berjalan cepat menuju kamarnya, tak lama kemudian ia datang kembali dan melempar sesuatu ke arah Mayu. Untungnya, wanita itu dapat menangkap dengan baik. Mayu melihat benda yang baru saja dilempar oleh Chiba. Ternyata itu adalah sebuah ikat rambut bertuliskan inisial CY.
"Pakai itu kalau sedang memasak!" perintah pria itu sambil berbalik.
"Ano ...." Mayu bersuara.
Chiba kembali menoleh ke arah Mayu.
"Apa aku harus mengembalikan ikat rambut ini setelah keluar dari apartemen?"
"Ambil saja! Aku masih punya satu."
Mayu tertegun sambil melihat kembali ikat rambut dengan inisial nama berwarna silver. Sungguh tampak elegan.
Apa ini artinya aku mempunyai barang yang berpasangan dengannya?
Ia buru-buru menguncir rambutnya ke belakang. Tak jauh dari sana, Chiba memerhatikan bagaimana Mayu mengikat seluruh rambutnya hingga mengekspos leher jenjangnya yang mulus. Pria itu buru-buru memalingkan pandangannya, saat Mayu menoleh padanya.
Chiba kini tengah duduk di kursi pijat sambil memasang earphone di telinganya. Di hadapannya, robot pembersih sedang sibuk mengepel lantai. Sementara sebuah mesin penyedot debu bekerja otomatis membersihkan kursi sofa.
Masih memerhatikan aktivitas pria itu, Mayu malah bergumam dalam hati. "Inikah kehidupan orang kaya? Pantas saja dia tidak membutuhkan asisten, karena semua bisa dilakukan oleh mesin. Sepertinya aku harus mulai memikirkan apa saja yang akan kubeli dengan uang 50% agar kehidupanku bisa seperti ini ke depannya."
Tiga puluh menit kemudian, Mayu meletakkan menu sarapan yang baru saja selesai dibuatnya di meja makan.
"Yamada-kun, sarapan sudah siap."
Chiba bergegas ke meja makan. Ia menarik kursi, lalu mendudukinya.
"Hari ini aku memasak bento. Menu yang sering dibawa orang-orang untuk bekal di kantor atau sekolahan. Gomennasai, bentuknya tidak sebagus bento umumnya."
Chiba tak merespon. Ia malah segera mengambil sumpit dan mencoba aneka bento buatan Mayu. Ia menyantapnya sambil memejamkan mata.
"Bagaimana? Apa yang kurang?" tanya Mayu cemas.
Hening beberapa detik. Chiba membuka mata, menarik segaris senyum lalu berkata, "Oishi! (Enak). Seperti masakan seorang ibu."
Lagi-lagi dia memuji masakanku mirip masakan seorang ibu. Apa itu artinya dia merindukan ibunya?
Mayu memerhatikan mimik wajah pria itu setiap memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Hei, cepat habiskan makananmu!" tegur Chiba yang sadar jika Mayu memerhatikannya sedari tadi.
"Aku suka melihatmu ketika sedang duduk di meja makan. Menurutku, ekspresi terbaikmu adalah saat kau sedang menyantap hidangan. Karena di saat itu hati dan wajahmu selaras," ucap Mayu sambil menatap Chiba dengan sepasang mata yang berkilau cerah.
Chiba tertegun selama beberapa detik. Ia menoleh ke dapur seraya berkata, "Hei, malam nanti ... mari kita masak bersama!"
"Eh?" Mayu hampir saja tersedak mendengar permintaan pria itu.
"Kau hanya seminggu di sini. Untuk tetap menyantap menu rumahan, aku harus mempelajarinya. Jadi, tolong ajarkan aku!"
"Tentu saja aku akan mengajarimu dengan senang hati!"
"Arigatou," ucap Chiba seraya menyunggingkan senyum lebar hingga kedua matanya menyipit.
Mayu tersentak mendengar pria itu mengucapkan terima kasih padanya sambil tersenyum lebar.
Aku tidak salah, 'kan, mengatakan jika ekspresi terbaikmu terletak saat kau duduk di meja makan. Ternyata dia memang tak seburuk yang media katakan.
Malam pun datang. Chiba dan Mayu memasang celemek di tubuh masing-masing. Chiba mengikat rambut depannya, sementara Mayu menguncir seluruh rambutnya. Mayu membuka kulkas untuk mengambil bahan makanan.
"Astaga, aku lupa kalau persediaan bahan makanan telah habis!" sahut Mayu sambil membongkar isi kulkas, lalu mengambil sebungkus mie instan, "yang tersisa tinggal ini!"
Tak yakin, Chiba memeriksa sendiri isi kulkasnya. Benar, sudah tak ada bahan makanan lagi yang tersisa.
"Huffttt!" Chiba mengembuskan napas kasar.
"Aku akan membeli bahan makanan di supermarket."
"Apa kau gila? Wartawan masih menunggu di luar sana."
"Lalu bagaimana? Kita bukan hanya tak bisa makan malam ini, tapi juga besok dan seterusnya!" ucap Mayu cemas.
"Besok pagi kita ke supermarket terdekat."
"Besok? Apa tidak masalah kita keluar bersama?"
"Kita akan pergi pagi-pagi sekali supaya tidak ketahuan. Mie instan itu untuk kau saja. Aku masih kenyang," ucap Chiba sambil membuka kembali celemeknya.
Malam telah tergelincir seiring pagi menyingsing. Tampaknya, sang Surya masih enggan memancarkan sinarnya. Mayu mengerjapkan mata perlahan, saat suara alarm memekakkan telinganya.
Waktu menunjukkan pukul lima lebih empat puluh lima menit. Ia menoleh ke samping dan mendapati Chiba bersandar di dinding sambil mengantongi sebelah tangan. Pria itu berpakaian serba hitam, lengkap dengan topi dan masker yang menutupi wajahnya.
"Ohayou!" sapa Mayu malu-malu.
"Itu pakaianmu. Cepatlah bangun dan kita akan pergi sebelum para wartawan memenuhi koridor," ucap Chiba sambil menunjuk pakaian yang ia letakkan di atas ranjang.
Mayu segera bangun dan mengganti pakaian milik pria itu yang tampak kebesaran di badannya. Mereka keluar dari apartemen dan mulai berjalan menuju supermarket yang terbuka 24 jam.
Segarnya udara pagi, harum bunga sakura yang merebak, dan jalanan yang sepi seakan menemani langkah mereka. Chiba berjalan cepat tanpa menoleh ke kiri dan kanan, sementara Mayu berada cukup jauh di belakangnya.
"Dia manusia atau robot? Jalannya cepat sekali!" gerutu Mayu yang berusaha menyesuaikan langkah pria itu agar tak ketinggalan jauh.
Kini, mereka melewati deretan pertokoan yang masih tertutup. Sambil menatap punggung pria itu, Mayu tampak berpikir. Waktu yang tersisa untuk mencari berlian itu tinggal lima hari lagi. Sementara, memasuki hari ketiga, tampaknya ia sudah mulai beradaptasi dengan pria itu. Bahkan, mereka mulai akrab dan tidak secanggung hari pertama.
Di tengah pikirannya yang sedang berkelana, tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan membawanya masuk ke gang sempit antar pertokoan.
Mayu tersandar di dinding. Ia meronta dan berusaha menghindar saat pria yang memakai hoodie cokelat itu membuka paksa maskernya.
"Rai!" Mayu terperanjat saat mengetahui pria di hadapannya saat ini adalah Rai.
"Sssttt ...." Rai meletakkan jari telunjuknya di bibir Mayu.
"Ke–kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Mayu sambil menatap lekat wajah Rai.
"Aku mengikuti kalian," ucapnya pelan dengan mata yang sayu.
"Sepagi ini?"
"Ya. Karena aku merindukanmu," bisik Rai di telinga Mayu. Suara memesona itu terdengar begitu memikat hingga membuat jantung Mayu berdetak tak karuan.
"Merindukan aku?" Mayu tertunduk, wajahnya memerah seperti tomat.
"Ya." Jempol Rai bergerak perlahan di bibir Mayu. "Aku hampir gila selama kau tak ada di sisiku. Mayu, Daisuki dayo (aku menyukaimu). Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mengungkapkan perasaanku. Kuharap kau memiliki perasaan yang sama denganku, dan kita bisa menjalin hubungan."
"Rai ...."
Rai tersenyum tipis. Ia mengangkat dagu Mayu dengan lembut. Mayu menutup matanya dalam-dalam saat wajah Rai mulai bergerak perlahan ke wajahnya. Di sisi lain, Chiba berhenti melangkah saat menyadari wanita itu sudah tak berada di belakangnya.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
sakura🇵🇸
mulai halu lagi deh ni anak.....😄
2023-02-22
1
sakura🇵🇸
ishhhhh jahatnya ini laki...tau banget kelemahan mayu😡😡😡
2023-02-22
1
Kᵝ⃟ᴸуυℓ∂єρ
Rai cba buat mayu terpesona ya. takutnya nanti malah chiba yg terpesona ke mayu.
Apa tanggapanmu Rai.
2022-06-03
1