Mayu menyadari keempat orang itu menoleh ke arahnya secara serempak dengan tatapan penuh arti.
"Ke–kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Mayu terbata-bata. Firasatnya mengatakan sesuatu buruk akan kembali menimpanya.
"Coba kau berdiri!" perintah Rai.
Mayu pun berdiri sesuai perintah.
"Berapa usiamu?" tanya Rai kembali.
"Dua puluh lima tahun," jawab Mayu cepat.
"Woah, meskipun sudah lumayan dewasa, tapi dengan tubuhnya yang mungil ia masih terlihat seperti remaja!" seru Yuta memerhatikan Mayu dari atas ke bawah.
"Ya, jika diperhatikan dia cocok menjadi fangirl. Lagi pula, untuk misi kali ini aku tidak bisa terlibat lagi. Sebelumnya, aku sudah pernah mencoba dekati pria itu, tapi dia sama sekali tak acuh padaku," timpal Haru masih kesal.
"Aku tidak mengerti maksud kalian," ucap Mayu menggaruk-garuk kepalanya.
"Kami memang tidak memintamu untuk mengerti. Cukup dengan mengikuti perintah kami, kau akan mengerti sendiri tugasmu."
"Aku tidak mau bekerja sama kalau kalian tidak menjelaskan padaku." Mayu memalingkan wajah seraya bersedekap.
"Kami tidak mengajakmu kerja sama. Justru kau yang bekerja pada kami!" tegas Rai dengan gaya santai.
"A-apa? Enak saja! Kalau begitu lebih baik aku keluar dari sini!" Mayu kembali berdiri dan bergegas beranjak.
Rio langsung menghadangnya. "Kau mau ke mana?"
"Tentu saja pulang!" ketusnya.
"Memangnya kau punya tempat untuk pulang?" sindir Rai dari arah belakang.
Mayu terdiam, dia baru ingat jika sekarang hidupnya seperti gelandangan. Bahkan koper dan dompetnya tertinggal begitu saja di jalanan.
"Kalau begitu aku minta pembagian yang adil untuk misi ini. Kalian 50 persen, aku juga 50 persen," ucap Mayu tanpa ragu.
Rio, Yuta dan Haru kompak melongo. Bahkan Rai turut membelalakkan matanya.
"Sialan! Ternyata wanita ini hanya pura-pura tak paham, padahal dia mendengar dengan baik pembicaraan kami," gumam Rai kesal. Namun, detik berikutnya sudut bibir pria itu menyungging tipis, "menarik juga! Wanita licik, penuh taktik seperti ini yang kubutuhkan!"
Mayu menaikkan dagunya seraya menatap langit-langit ruangan. Ia masih bersikap jual mahal kepada mereka.
"Baik. Kau 50 persen, kami 50 persen," ujar Rai secara tiba-tiba.
Kali ini, giliran Mayu, Yuta, Rio, dan Haru yang terkejut sembari menatap ke arah Rai. Yuta, Rio, dan Haru tak habis pikir kenapa bisa Rai mengabulkan permintaan tak masuk akal wanita itu. Sedangkan bagi Mayu sendiri, sama sekali tak menyangka kalau Rai akan semudah itu menyetujuinya.
"Rai, apa kau gila? 50 persen itu sangat banyak untuknya! 10 persen saja sudah banyak. Bahkan kita belum tahu siapa dia sebenarnya, jangan-jangan dia adalah mata-mata." Yuta berjalan ke arah Rai sambil menunjukkan ketidaksetujuannya.
"Asalkan kau bisa mengikuti segala taktik kami untuk mengambil berlian itu, maka kami akan memberimu 50 persen jika kau berhasil," lanjut Rai pada Mayu tanpa memedulikan celotehan Yuta.
"Baik. Aku akan pastikan berlian itu berada dalam genggamanku!" Mayu mengepalkan jari-jemarinya ke atas dengan penuh keyakinan. Ia tersenyum miring dan mengkhayalkan sedang bermandikan uang yang banyak.
Malam hari, setelah menyusun strategi untuk besok, Rai menunjukkan kamar yang akan ditempati Mayu.
"Apa kau suka?" tanya Rai sambil bersandar di tiang pintu kamar.
"Tentu saja suka karena ini gratis!" ujar Mayu riang.
Sudut bibir Rai tertarik ke atas. Ia melangkah pelan ke arah Mayu, semakin dekat, sangat dekat, hingga membuat membuat kaki wanita itu reflek mundur ke belakang. Ketika punggungnya membentur dinding, dan wajah mereka hanya berjarak beberapa inci, Mayu tak kuasa menelan ludah melihat wajah tampan Rai.
"Kuharap besok kau sukses. Oyasuminasai (selamat tidur)." Rai mengelus rambut depan Mayu dengan lembut. Ia melangkah mundur, sebelum akhirnya berbalik dan pergi.
Saat pintu kamar tertutup, Mayu segera menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang empuk.
"Ah ... kenapa aku lemah sekali kalau berhadapan dengan pria tampan," gumamnya sambil memegang kedua pipinya. Otaknya mengilas kembali adegan saat bola mata Rai memandang lekat ke arahnya. Ya, dia menyadari, dirinya sangat mudah terlena oleh ketampanan seseorang. Hal itu pula yang membuatnya gampang ditipu oleh mantan kekasih.
Sementara, Rai berdiri di depan pintu kamar Mayu sembari tersenyum licik.
"50 persen? Kau tidak akan mendapatkan sepersen pun, Baka!" gumamnya seraya mengangkat sudut alis.
Hari baru di musim semi telah menyambut. Matahari semakin terik. Chiba Yamada memasuki sebuah ruang ganti. Di sana, ia disambut hangat oleh asisten, penata rambut dan makeup artist yang telah menunggunya.
"Konnichiwa!" sapa Chiba saat memasuki ruangan tersebut. Ia langsung duduk di hadapan cermin, bersiap untuk memodeli rambutnya. Sebentar lagi akan ada pertemuan antara dirinya dan penggemar fanatik. Tentu saja dia harus tampil sempurna.
"Waktunya hanya tinggal tiga puluh menit," ucap manajer Tao kepada hair style yang tengah mengerjakan rambut sang penyanyi itu. Tao adalah manajer pribadi Chiba Yamada, satu-satunya orang kepercayaan yang telah bekerja selama enam tahun. Dia jugalah yang membawa karir Chiba melesat hingga menjadi penyanyi bayaran tertinggi.
Chiba menoleh ke arah asistennya sembari memberi kode dengan jari telunjuk agar mendekat. Asisten yang baru masuk bekerja selama dua hari itu bergegas menghampirinya.
"Manajer Tao baru saja mengunggah fotoku ke Instagram. Tolong bacakan komentar-komentar yang masuk."
"Siap!"
Ketika asisten hendak mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, Chiba langsung menepisnya. "Jangan sekali-sekali pegang ponselku! Baca melalui ponselmu!"
"Baik. Maaf atas sikap lancang saya." Asisten itu membungkuk, lalu terburu-buru mengambil ponsel dalam sakunya. Ia mulai membaca satu per satu komentar yang masuk. Komentar didominasi pujian sehingga membuat pria itu tersenyum simpul di depan cermin.
"Lihat, hidungnya makin mancung. Itu pasti operasi plastik. Dia baru saja pulang dari Korea, 'kan?" Asisten tersebut membacakan salah satu komentar haters.
Mata Chiba membeliak dan tangannya refleks memegang cuping hidung. Bagaimana bisa mereka mengatakan hidung aslinya adalah hasil operasi plastik?
"Sepertinya dia mengedit tinggi badannya. Pintu yang berada di belakangnya tampak aneh." Asisten tersebut kembali membacakan komentar haters yang membuat wajah pria itu meradang.
Saat asisten itu kembali membaca komentar berikutnya, Chiba langsung menghentikannya. "Stop! Kau boleh keluar dari sini!"
Asisten tersebut berdiri dan membungkuk. Ketika ia keluar dari ruangan, manajer Tao menghampirinya dengan memasang wajah penuh kekhawatiran. "Kenapa kau membaca komentar-komentar dari haters? Seharusnya kau hanya perlu membaca komentar dari fans setianya. Kau akan segera dipecat."
"Benarkah?" Mata asisten itu membulat ketakutan.
Tak lama kemudian terdengar bunyi pemberitahuan pesan masuk di ponsel manajer Tao. Ia segera membuka pesan tersebut, menghela napas panjang, lalu mengarahkan layar ponselnya ke arah asisten baru Chiba.
"Selamat, kau baru saja dipecat!" ucapnya sambil menunjukkan pesan singkat Chiba Yamada yang memintanya untuk memecat asisten terbaru.
"Apa? Mana mungkin aku dipecat hanya karena kesalahan sepele."
"Begitulah seorang Chiba Yamada. Dia tidak menyukai hal-hal yang bisa mengubah suasana hatinya. Tenang, kau bukan satu-satunya asisten yang dipecat karena kesalahan kecil!" ucap manajer Tao.
Di kediaman para penipu handal, Mayu keluar dari kamarnya dengan penuh percaya diri. Ia telah siap melaksanakan tugas pertamanya sebagai anggota geng tersebut. Penampilannya saat ini, memakai dress hitam yang panjang selutut dengan sepatu yang berwarna senada. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai tanpa penambahan aksesoris.
"Bagaimana?" tanya Mayu sambil memutar badannya.
"Kawai! Kau terlihat mirip boneka!" puji Rio dengan mata membulat, "benar, 'kan?" Dia menoleh ke arah Rai seakan meminta pendapat kakaknya.
"Ya, seperti boneka Okiku (boneka hantu)," jawab Rai datar, "kau akan menghadiri fans meeting, bukan upacara kematian!" timpalnya sambil menggertakkan gigi.
Mendapat celaan pria itu, bibir Mayu yang sempat mengembang, raib seketika. Bagaimana mungkin dirinya disamakan dengan boneka hantu?
Mayu pun bersungut-sungut kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Tiga puluh menit kemudian, ia keluar lagi dengan penampilan yang baru: memakai rambut palsu pendek berwarna merah menyala, kacamata bulat transparan yang besar, sweater panjang berwarna kuning, serta celana legging motif garis warna-warni.
"Bagaimana?" tanya Mayu kembali pada Rai yang menatap tak mengerjap ke arahnya.
"Ini lebih buruk dari sebelumnya!" ketus Rai dengan hidung yang mengembang.
Sayangnya, Yuta datang menghampiri mereka untuk mengingatkan bahwa acara akan segera dimulai. Sehingga tak ada waktu untuk Mayu memperbaiki penampilannya lagi. Bersama Rio dan Yuta, ia pun berangkat ke lokasi diselenggarakan fans meeting itu.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul empat sore hari. Para klub penggemar yang tergabung resmi dalam fanbase penyanyi pop Chiba Yamada, telah berkumpul di hotel tempat dilaksanakan pertemuan antara penggemar dan penyanyi itu.
Mayu bergabung dalam perkumpulan fans. Tak lupa ia memegang atribut yang bergambar wajah idola tersebut. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah keluaran terbaru berhenti tepat di depan red carpet. Seorang panitia acara bergegas membuka pintu mobil. Diiringi suara teriakan histeris dari para penggemar, Chiba Yamada pun keluar.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Hearty💕💕
Kemana hati Mayu mengarah?
2024-09-18
0
Hearty💕💕
Kasian banget yaaa assitennya...
2024-09-18
0
⸙ᵍᵏ͢⍣Mode siderッ❥⃝❁Kᵝ⃟ᴸ
astaga Rai cuman manfaatin si Mayu doang kirain bnran mau ngasih 50%😒
wow gara2 Baca komentar dipecat😯 bnr2 killer di Chiba
astaga bengek kaya Boneka hantu, Anabel dong🤣 aws loo jatuh cinta
2023-09-17
2