Tak terasa seminggu telah berlalu dan mereka masih belum menemukan ide apa pun untuk mendekati Chiba Yamada. Ini pertama kali dalam sejarah penipuan yang mereka lakukan si target tidak termakan jebakan mereka. Padahal, pada target-target sebelumnya hanya dengan satu rencana, mereka sudah bisa memuluskan aksi dan mendapatkan uang atau barang incaran.
Saat ini mereka tengah menonton wawancara eksklusif Chiba Yamada yang membahas tentang tipe wanita idamannya.
"Sudah sekitar enam tahun sejak pernikahan palsu Anda terkuak, Anda tidak terlihat menjalin hubungan dengan wanita manapun sehingga gosip tentang Anda seorang gay kembali terangkat. Bagaimana tanggapan Anda?" tanya pewawancara di acara tersebut.
Chiba tersenyum tipis, lalu berkata, "Itu karena jadwalku selama lima tahun terakhir sangat padat. Menjalin hubungan di masa itu kurasa kurang tepat, karena pada akhirnya aku hanya akan menelantarkan kekasihku."
"Oh, sungguh pemikiran yang bijak," puji pewawancara tersebut, "lalu, apakah di tahun ini Anda akan siap menjalin hubungan?"
"Tergantung," jawabnya cepat, "tergantung apakah aku menemukan wanita yang cocok denganku," lanjutnya memperjelas.
"Kalau begitu, seperti apa tipe wanita ideal Yamada Chiba-san?"
Chiba tampak mengerutkan bibirnya sambil berpikir. "Wanita yang akan mendampingiku ... haruslah wanita yang mandiri karena aku tak selalu bisa berada di sampingnya. Wanita yang pandai bergaya dan bisa menyeimbangkan penampilanku. Wanita terhormat yang datang dari golongan atas, dia yang pantas memakai kalung Red Diamond peninggalan mendiang ibu sambungku."
"Anda akan memakaikan kalung Red Diamond yang viral itu pada wanita tersebut?" Mata pewawancara itu tampak membeliak.
"Ya, tentu saja. Itu bentuk penghargaan ku terhadap wanita yang nantinya akan kucintai," jawab Chiba tanpa keraguan.
"Woah, dia menetapkan standar yang sangat tinggi untuk kriteria wanita!" kata Rio setelah menonton wawancara tersebut.
"Wajar saja! Dia superstar dan anak seorang konglomerat yang hartanya tak akan habis," bela Haru.
"Wanita mandiri, modis, dan terhormat!" Rai menyimpulkan kriteria wanita idaman Chiba. "Intinya jika kita ingin mendapatkan Red Diamond maka kita harus menciptakan kriteria wanita yang sesuai dengan keinginannya," ucap Rai sambil memetik jari.
Di saat bersamaan, tiba-tiba Yuta datang membawa sebuah berita.
"Aku mendapat kabar lima hari ke depan Yamada grup akan mengadakan pameran kuda di peternakan milik mereka," tutur Yuta sambil menunjukkan koran yang memuat berita tersebut.
"Kalau begitu di sana pasti ada Tuan Yamada dan beberapa pengusaha penting," ucap Rai setelah membaca koran tersebut.
"Ya, aku yakin ada banyak sosialita dan wanita-wanita cantik yang berlomba mendekati Chiba Yamada," sambung Haru.
Mendengar ucapan Haru, Rai langsung menoleh ke arah Mayu. Ia bahkan mendekat sambil memerhatikan Mayu dari atas ke bawah.
"Yuta, menurutmu apa yang kurang dari gadis ini?"
Yuta ikut melirik Mayu dari atas ke bawah, memerhatikan secara detail. Sambil mengelus dagu ia berkata, "Menurutku kekurangannya ... dari rambut yang tidak terurus terkesan seperti wanita pemalas, wajahnya masih ada sedikit bekas jerawat, dadanya rata, bokongnya tidak berisi, betisnya sedikit besar, tubuhnya pendek dan tidak ada lekukan tubuh."
"Yuta, penjelasanmu terlalu panjang lebar. Padahal intinya adalah kau mau bilang kalau dia tidak punya kelebihan. Iya, 'kan?" tebak Rio mengangkat kedua keningnya sebanyak dua kali.
"Cerdas! Otakmu bereaksi juga rupanya!" ucap Yuta.
Ucapan Yuta sontak membuat telinga Mayu terasa panas seperti mengeluarkan asap.
"Apa katamu? Aku tidak punya kelebihan?" Mayu membengis dengan wajah yang memerah, dan hidungnya mengembang.
"Maafkan aku, tapi aku memang tidak pandai berbohong untuk menyenangkan hati orang," ujar Yuta sambil bersedekap.
"Jangan khawatir, di mataku kau sangat sempurna," ucap Rio sambil memosisikan wajahnya di samping Mayu.
Mayu yang telah tersulut emosi malah mendorong wajah Rio dengan telapak tangannya. Ia hendak melabrak Yuta. Namun, baru saja melangkah, Rai langsung bersuara dari arah belakang.
"Menurutku dia mempunyai mata indah yang tidak dimiliki gadis lain, dan senyumnya juga sangat menawan karena keluar dari hatinya tulus."
Pujian yang dilayangkan Rai tentu saja membuat Mayu tersanjung. Ia menoleh ke arah Rai, menunjukkan wajah tersipu malu dengan mata berbinar dan pipi yang memerah seperti tomat.
Jadi seperti itu penilaiannya terhadapku? Ah, aku benar-benar merasa ingin terbang ....
"Jangan khawatir, aku akan mengubah penampilannya menjadi wanita berkelas dan menarik," ucap Haru sambil tersenyum.
"Benarkah?" Mayu memegang tangan Haru.
Haru mengangguk penuh pasti.
"Ah, Arigatou. Kau benar-benar baik sekali," ucap Mayu dengan gayanya yang berlebihan. Dia menengok ke arah Yuta lalu berkata, "Hei, akan kubuktikan kalau Chiba Yamada akan jatuh ke pelukanku!"
Perkataan pedas Yuta tentu menjadi cambukan Mayu untuk menggaet Chiba Yamada.
"Ya, itu yang kuharapkan. Semoga kau berhasil membuat keajaiban dunia ke delapan!" tandas Yuta dengan sikapnya yang ketus.
Hari yang dinanti pun tiba. Selama lima hari ini Mayu berusaha keras untuk menjadi wanita kalangan atas yang elegan. Dibantu oleh Haru, dia belajar cara berjalan yang baik, cara bicara yang sopan, cara duduk yang feminim, hingga cara makan dan minum ala golongan atas.
Rai, Rio dan Yuta sekarang tengah berdiri di depan pintu kamar Mayu. Mereka yang telah bersiap ke peternakan kuda milik keluarga Yamada itu, tampak tak sabar menunggu Mayu yang sedang didandani oleh Haru. Seketika, pintu kamar terbuka.
"Kenapa lama sekali—" Suara Rai terputus saat Mayu keluar dari kamar tersebut. Lelaki bertubuh jangkung itu seakan terpana dengan penampilan Mayu saat ini.
Bagaimana tidak, penampilan wanita itu berubah total. Memakai turtleneck hitam, yang dipadukan dengan rompi merah dan celana pendek di atas lutut. Tak lupa pula memakai sepatu boot. Make-upnya dibuat seminimalis mungkin, dan rambutnya tergerai lurus tanpa penambahan aksesoris apa pun, sehingga membuatnya tetap terlihat elegan meski stylish.
"Sugoi! Kau sangat cantik!" puji Rio yang matanya seakan hendak loncat keluar dari rongganya.
"Setelah kuperhatikan ternyata dia memiliki kecantikan alami, hanya saja dia kurang bisa merawat dirinya," ucap Haru sambil memegang kedua pundak Mayu dari belakang.
"Yuta bagaimana menurutmu?" tanya Rio.
"Aku tergantung pada Chiba. Jika Chiba tertarik padanya, berarti dia benar-benar cantik," jawab Yuta.
"Ah, kau hanya malu mengatakan dia cantik setelah mencibirnya, 'kan?" tandas Rio. Ia lalu menoleh ke arah Rai yang masih bergeming dengan tatapan tak berkedip. "Oniichan, bagaimana pendapatmu?"
"Tolong tinggalkan aku dan dia!" pinta Rai dengan pandangan yang masih terpaku pada Mayu.
Ketiga orang itu pergi sesuai instruksi Rai. Kini, hanya ada mereka berdua di sana. Mendapat tatapan Rai yang tak biasa, membuat jantung Mayu terpompa cepat. Ia menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya. Dari bawah, ia bisa melihat kaki pria itu melangkah mendekat ke arahnya. Mayu spontan mundur hingga keduanya kembali masuk ke kamar.
"Sudah secantik ini, sayang sekali kalau harus merusaknya!" ucap Rai dengan raut tak berdaya.
"Eh?" Mayu mengangkat wajahnya di saat Rai berbalik dan pergi meninggalkannya.
Mayu tertegun. "Apakah maksud dari ucapannya ... dia ingin menciumku?" gumamnya sambil memegang bibirnya. Membayangkan hal tersebut, membuatnya senyam-senyum seraya memeluk tubuhnya sendiri.
"Hei, kita sudah mau berangkat. Sampai kapan kau berada di kamarmu?"
Suara Yuta yang datang tiba-tiba mengejutkan dirinya. Dia pun bergegas keluar kamar dan masuk ke mobil.
Mereka berangkat menuju peternakan kuda Yamada grup yang kini dimiliki sepenuhnya oleh Chiba. Peternakan kuda itu terletak sekitar dua jam dari kota Tokyo. Pemandangan di sekitar tempat ini sungguh memanjakan mata. Begitu sampai, padang rumput dan pegunungan langsung menyapa sejuk mata mereka. Sekeliling tempat juga terdapat padang bunga yang bermekaran di musim semi.
Rupanya di sana telah lumayan ramai. Beberapa orang tampak menunggang kuda, beberapa lagi sedang sibuk melihat-lihat koleksi kuda terbaik di dunia.
Kelompok penipu itu memutuskan berpencar. Mayu menyamar sebagai wanita sosialita yang didampingi Yuta sebagai bodyguard-nya. Sementara Rai, Rio, dan Haru menjalankan misi lainnya.
Mayu dan Yuta menuju tempat semacam vila di mana dari balkonnya, orang-orang bisa melihat lomba pacuan kuda. Saat melewati Padang rumput yang hijau, Mayu tak bisa menghentikan kekagumannya terhadap alam sekitar.
"Woh ... pemandangannya indah sekali! Aku tidak percaya kalau tempat ini hanya dimiliki satu orang," decak Mayu dengan mata yang berkeliling.
Tiba-tiba terdengar suara kaki kuda yang berlari kencang dari arah belakang. Mayu dan Yuta refleks berbalik ke belakang. Embusan angin datang beriringan dengan seekor kuda putih yang melaju ke arah mereka. Mayu hampir terjatuh kalau saja Yuta tak menahannya dari belakang. Sang penunggang kuda putih itu menarik tali kekang agar kudanya berhenti, lalu mengarahkan kudanya berbalik dan mendekat ke arah Mayu yang masih tampak terkejut.
"Kau tidak apa-apa, Nona?" tanya pria itu.
Mayu yang masih dipegang oleh Yuta, lantas menoleh ke arah pria itu dengan raut berang. Namun, detik kemudian ia tampak terkesima melihat sosok penunggang kuda yang baru saja hampir menabraknya. Seorang pria tampan dengan rambut hitam keemasan, hidung mancung bagai paruh burung, bibir merah alami, dan kulit seputih salju. Gayanya yang memakai atribut berkuda serba putih, membuatnya terlihat seperti cahaya bulan purnama.
Ya, dia adalah Chiba Yamada. Ini bukan pertama kalinya Mayu melihat pria tersebut, tapi ini pertama kalinya sosok superstar itu terlihat jelas di matanya.
Apa ini mimpi, pangeran berkuda putih datang menghampiriku ....
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Yoseva
iiih gengsi ya mo mengakui klo Mayu emng cantik setelah dipermak🤭🤭
2025-02-20
0
Yoseva
Yuta...kenapa jujur skali dirimu...kesian bener ini Mayu🤣🤣🤣🤣
2025-02-20
0
Hearty💕💕
Jangan... itu tipuan
2024-09-21
0