Mayu berdiri mematung seraya memerhatikan Chiba yang kembali menyantap sarapannya. Wanita itu tampak beberapa kali menelan ludah sambil memegang perutnya yang terus mengeluarkan bunyi keroncongan.
Bagaimana dia bisa makan dengan setenang itu sementara para wartawan di luar sana mengepung apartemennya? Dia bahkan sama sekali tidak menawariku makanan meskipun hanya sekadar berbasa-basi.
Lagi-lagi, perut Mayu seakan berteriak meminta makan. Sialnya, suara dari dalam perutnya itu begitu besar hingga menyapa pendengaran Chiba. Pria itu melirik ke arah Mayu yang tampak memerhatikan menu sarapan di meja makan.
"Kau mau makan?"
Mayu mengangguk cepat tanpa bersuara. Chiba mengarahkan garpu yang dipegangnya ke arah dapur dengan gerakan santai.
"Pergilah ke dapur, dan cari sesuatu yang bisa kau masak!"
"Arigatou." Mayu bergegas menuju ke dapur dengan wajah menggerutu.
Kupikir dia akan berbagi sarapannya denganku, ternyata dia malah menyuruhku memasak sendiri. Dasar pelit!
Karena sudah sangat lapar, Mayu memilih memasak mie instan, sedangkan Chiba yang baru saja selesai makan, langsung ke kamar mandi.
Setelah makan, Mayu terkejut melihat pria itu baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya, memperlihatkan dada telanjangnya yang masih belum kering sepenuhnya oleh air. Sontak, mata Mayu pun berbinar cerah menatap otot lengan dan perut pria itu.
"Waw, otot perutnya sangat bagus!" gumam Mayu dengan tatapan terkesima.
"Apa yang kau lihat?" tanya Chiba sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Mayu tersentak dan salah tingkah. "Ano, a ... aku ingin tanya, apakah semalam kita ... kita ...." Mayu tampak kesulitan mengolah kata-kata. Ia menautkan kedua jari telunjuknya sambil berkata dengan terbata-bata, "Maksudku ... apakah semalam ... kau dan aku ... telah—"
"Sebaiknya masalah semalam jangan diungkit!" potong Chiba dengan wajah yang memerah padam.
"Kenapa begitu? Aku harus memastikan apakah harga diriku telah terenggut tanpa sepengetahuanku!" ucap Mayu cepat sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Chiba bergeming. Sambil menggertakkan gigi, ingatannya terbang kembali saat ia membawa masuk Mayu ke kediamannya. Ya, entah apa yang ada di pikirannya saat itu, sehingga dia yang sebelumnya tak pernah membawa wanita manapun ke apartemennya, justru membawa wanita mabuk yang tak dikenalinya.
Semalam, ia menidurkan Mayu di atas sofa panjang yang terletak di kamarnya. Setelah itu, ia bergegas mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Baru saja hendak merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tiba-tiba Mayu terjatuh ke lantai. Hal tersebut tentu membuatnya harus kembali mengangkat tubuh wanita itu dan menidurkannya kembali ke sofa. Namun, baru tiga langkah berjalan menuju ranjangnya, Mayu yang tengah terlelap kembali terjatuh.
Chiba mendengus kesal. Keadaan tersebut membuatnya terpaksa bertukar posisi. Mayu ditidurkan di ranjangnya, sedangkan dia tidur di sofa. Sudah ditidurkan di ranjang pun, lagi-lagi wanita itu kembali mengusik tidurnya dengan suara dengkuran yang sangat berisik. Alhasil, ia tidak bisa tertidur semalaman meskipun telah menyumbat telinganya dengan earphone.
"Kenapa dia diam saja? Apa semalam aku terlalu mengesankan?" pikir Mayu dalam hati.
"Aku sampai lupa memikirkan di mana kau akan tidur nanti." Chiba memijat pelipisnya. Sebenarnya, apartemen mewah itu dulunya memiliki dua kamar. Hanya saja, ia merenovasi kamar tersebut dengan menggabungkan menjadi satu setelah berpisah dari mantan istrinya. Tidak pernah terpikir olehnya, akan ada wanita yang tinggal di apartemennya setelah kepergian Hana. Kalau sudah begini, apakah dia harus sekamar dengan wanita asing selama seminggu?
"Jangan terlalu dipikirkan. Tidak masalah bagiku kalau harus berbagi tempat tidur," ujarnya sambil tersenyum.
"Tapi itu masalah besar bagiku! Kau harus ingat peraturan satu dan dua!" ucap Chiba dengan nada meninggi.
"Kalau begitu, malam nanti aku akan tidur di sini saja! Sepertinya di sini cukup nyaman," ucap Mayu pelan setelah dibentak oleh pria itu.
"Terserah kau saja!" Chiba berbalik dan kembali masuk ke kamarnya.
Mayu berdiri di depan pintu kamar lalu bertanya dengan ragu-ragu. "Um ... apa aku juga boleh mandi?"
"Jika kau sudah sadar kalau bau tubuhmu tidak menyenangkan orang sekitar, seharusnya kau segera mandi!" ketus pria itu tanpa menoleh ke arahnya.
Mayu menggaruk-garuk kepalanya sambil menyengir. "Masalahnya aku tidak punya baju ganti."
Chiba tertegun. Tanpa bersuara, ia masuk ke ruang khusus tempat penyimpanan barang-barang pribadinya, termasuk pakaian. Tak lama kemudian, pria itu keluar membawa baju kaos miliknya lalu meletakkannya di atas meja.
"Pakai ini untuk sementara!"
"Bisakah kau mundur sedikit, aku mau ambil pakaian itu," ucap Mayu yang mengingat kalau ia harus menjaga jarak dengan pria itu.
Dengan dingin, pria itu langsung beranjak pergi. Mayu mengernyitkan alis. Bingung. Tampaknya, pria itu memiliki suasana hati yang tak tertebak. Dia bisa bersikap datar, santai, bahkan ketus hanya dalam beberapa waktu.
Di kamar mandi yang begitu luas, Mayu berendam dalam bath up sambil memikirkan cara mencari tempat penyimpanan Red Diamond. Pasalnya, apartemen itu dilengkapi kamera termal inframerah yang bisa mendeteksi hal-hal mencurigakan.
"Apakah dalam waktu seminggu aku bisa menemukan keberadaan Red Diamond?"
Mayu berpikir keras seraya menatap langit-langit ruangan. Ia mengingat pria itu masuk ke sebuah ruang dalam kamar untuk mengambil pakaian.
"Apakah dia menyimpan Red Diamond dalam ruangan itu?"
Hampir tiga puluh menit berendam, akhirnya Mayu memutuskan keluar. Dia memakai kaus berwarna abu-abu yang diberikan Chiba padanya. Tinggi badannya yang hanya 156 cm, membuat kaus itu terlihat seperti sebuah terusan panjang di atas lutut.
"Ini pertama kalinya aku tidak memakai bra, kira-kira terlihat tidak, ya?" Mayu menatap bayang dirinya di depan cermin besar. Entah kenapa dia menjadi sangat gugup. Apalagi akan tinggal seatap dengan pria itu selama seminggu.
Warna langit telah menggelap menandakan malam telah datang. Mayu duduk di kursi makan sambil menopang wajah dengan kedua tangan. Sesekali ia memerhatikan Chiba yang duduk tenang di sofa sambil membaca buku.
Apa dia tidak bosan telah membaca selama berjam-jam?
Mayu berdiri, memutuskan mengintip ke luar apartemen melalui monitor.
"Wartawan di luar masih sangat banyak. Apa mereka tidak makan dan minum?" ucapnya sambil melirik ke arah Chiba. Tak mendapat respon, wanita itu kembali berkata, "Apa sebaiknya kau keluar dan mengatakan sesuatu pada mereka?"
"Itu sudah pekerjaan mereka, biarkan saja!" ujar Chiba sambil tetap membaca.
Mayu menatap jam dinding seiring perutnya kembali berbunyi. Ternyata melihat wajah tampan selama seharian penuh tidak bisa membuatku kenyang!
"Chiba-kun ...."
"Siapa yang menyuruhmu memanggil nama depanku? Apakah kita sangat dekat?"
"A ... em ... maksudku Yamada-kun." Mayu segera meralat ucapannya. "Aku melihat bahan-bahan makanan yang cukup banyak di kulkasmu. Apa aku boleh—"
"Silakan ambil dan masak apa pun yang kau suka!" Chiba kembali memotong ucapannya.
Mayu tersenyum, lalu bergegas ke dapur untuk memasak makan malam. Ia memotong bahan-bahan makanan sambil bernyanyi. Suaranya yang sumbang, mampu membuat Chiba menoleh ke arahnya sambil tertawa kecil.
Sekitar satu jam kemudian, dia telah selesai membuat hidangan makan malam.
"Yamada-kun, makan malam telah siap. Ayo makan!" teriaknya dengan penuh suka cita.
"Kau saja yang makan. Aku akan memasak sendiri makan malamku," jawab pria itu dengan datar.
Mayu berjalan cepat ke arah Chiba. "Ayolah! Aku memasak menu yang cukup banyak untuk dimakan berdua. Ada ikan tuna panggang, sup rumput laut, dan dan tempura. Setidaknya biarkan aku sedikit berguna selama tinggal di sini," ucap Mayu memelas.
Chiba bergeming sambil tetap membaca buku. Mayu menunduk ke bawah dengan wajah cemberut, ia berbalik pelan dan kembali ke meja makan. Siapa sangka, Chiba berdiri dan menyusulnya dari belakang. Bahkan, pria itu lebih dulu duduk di meja makan.
Mayu menyunggingkan senyum lebar dan segera menarik kursinya. Ia memosisikan duduk di hadapan Chiba, lalu mengambil semangkok nasi panas untuk pria itu.
"Nasi putih?" Chiba tertegun seketika.
"Apa kau tidak suka?"
Chiba menggeleng pelan. "Bukan. Sudah lama aku tidak memakan nasi putih."
"Kalau begitu kau harus mencobanya." Mayu menyodorkan semangkok nasi pada pria itu.
"Itadakimasu," ucap mereka serempak seraya menangkupkan kedua tangan.
Chiba mengambil sumpit dan mulai mencoba menyantap makan malam buatan Mayu. Pria itu melebarkan matanya tatkala sesuap sup hangat masuk ke dalam mulutnya.
"Bagaimana? Apa kau suka?" tanya Mayu cepat.
"Ini ... seperti masakan seorang ibu. Sangat enak! Kau pandai memasak rupanya," puji Chiba sambil kembali melahap sup tersebut dan mencoba menu lainnya.
"Eh? Benarkah? Ini bukan kalimat pujian terpaksa, 'kan?"
Melihat pria itu makan masakannya dengan begitu lahap, membuat Mayu merasa sangat senang. Sepuluh detik dilaluinya dengan hanya menatap wajah artistik itu.
Cara makannya benar-benar elegan seperti seorang bangsawan.
Mayu mulai mengambil sumpit, tapi tiba-tiba terdengar bunyi pemberitahuan pesan masuk di ponselnya. Ia segera membuka pesan tersebut yang ternyata dikirim oleh Rai.
^^^Rai.^^^
^^^Jangan lupa segera cari Red Diamond malam nanti agar kau segera pulang. Aku merindukanmu ....^^^
Mata Mayu terbelalak diikuti dengan wajah yang merona seketika saat membaca pesan tersebut.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Hearty💕💕
Boong dia Mayu-can
2024-09-25
0
Kᵝ⃟ᴸуυℓ∂єρ
Makasih kak
terhibur aku lihat kelakuan mayu n Rio seketika mengurangi keteganganku saat ini😂🤣
Hmm chiba n Rai siap² kalian terjerat pesona mayu wkwk😎
2024-08-16
2
sakura🇵🇸
hadeeeeeh dasar bucin🙄 rai kurang ajar ya,dasar penipu ulung...
2023-02-21
1