Benar, saat ini Chiba Yamada tengah membuntuti Mayu dari belakang. Rupanya kehadiran wanita itu seperti sebuah magnet yang membawa dia tertarik untuk terus mengikutinya. Dia tidak pernah tertarik dengan wanita mabuk, bahkan membencinya. Namun, entah kenapa kali ini ia begitu gemas melihat tingkah aneh dari wanita itu. Seperti sebuah hiburan tersendiri baginya.
Berjalan sempoyongan di koridor yang sepi, Mayu beberapa kali menabrak dinding akibat penglihatan yang gamang. Ia membuka pengait sepatu tinggi yang dipakainya dan membiarkan kakinya berjalan tanpa alas kaki. Sementara, Chiba tetap setia mengekornya dari belakang. Berjalan pelan menyesuaikan gerak langkah Mayu, pria itu membuat senyum yang tertahan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Menyebalkan sekali harus memakai sepatu ini!" omelnya sambil menenteng sepasang sepatu tersebut.
Baru berjalan beberapa langkah, Mayu kembali menabrak dinding hingga membuatnya jatuh. Ia mencoba berdiri, tapi terlalu sulit baginya. Saat tak sengaja berbalik ke belakang, bayangan Chiba langsung tertangkap penglihatannya.
Chiba tersentak. Ia tampak kikuk karena ketahuan sedang mengikuti wanita itu. Ini cukup memalukan, karena seorang superstar seperti dia malah membuntuti wanita yang sedang mabuk.
"Kenapa kau terus mengikutiku? Aku, kan, sudah bilang aku bisa keluar sendiri. Tenang saja, sebentar lagi aku akan pulang dan keluar dari gedung ini. Pergi sana, kembalilah bertugas dan jangan mengurusiku!"
Mayu mengira Chiba adalah petugas keamanan yang sempat menarik paksa dirinya di tempat pesta tadi.
Chiba memilih diam walaupun dia kesal karena dianggap petugas keamanan. Mayu kembali mencoba bangkit dengan menopang tangannya di dinding. Gagal! Dia kembali terduduk.
"Apa kau butuh bantuanku?" tanya Chiba sedikit ragu.
Mayu terdiam. Cukup lama. Namun, tiba-tiba ia tertawa nyaring hingga membuat Chiba mengernyitkan sepasang alisnya.
"Ayo cepat kemari! Tunggu apalagi, bantu aku berdiri!"
Chiba mendekat pelan. Ia tampak ragu untuk menyentuh tangan Mayu. Siapa sangka, Mayu justru menarik tangan pria, membuatnya dalam posisi jongkok. Tak hanya itu, ia juga nekat naik di punggungnya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Chiba yang kelabakan karena kini posisi Mayu berada di atas punggungnya.
"Gendong aku sampai keluar gedung. Aku malas berjalan!" ucapnya sambil memukul kepala pria itu.
"Nona, turunlah segera! Jangan seperti ini, kita bisa dilihat orang!" ucap Chiba sambil melirik ke kiri dan kanan.
Tidak mau turun, Mayu malah melingkarkan kedua tangannya di leher Chiba. Kepalanya bahkan jatuh terantuk di pundak kiri pria itu.
"Nona, turunlah!" Chiba memelas kembali. Sayangnya, sepertinya Mayu sudah tak sadarkan diri.
Menghela napas kasar, Chiba pun berdiri dan mulai berjalan sambil menggendong wanita mabuk itu. Sepasang sepatu yang telah terlepas, ditinggalkan begitu saja. Langkah pria itu dibuat secepat mungkin, lalu berusaha menghindari tempat-tempat yang dilewati oleh orang-orang.
Chiba bersembunyi saat melihat beberapa wartawan berdiri di sekitar lobby hotel. Ia tampak was-was. Jangan sampai ada wartawan yang melihatnya seperti ini. Sebab, sudah pasti akan menjadi bahan berita yang menghebohkan. Sambil tetap mengawasi pergerakan wartawan, ia mencoba menoleh ke samping, melihat wanita yang tengah tak sadarkan diri itu.
"Nona, Nona! Bangunlah!" Chiba berbisik pelan di telinga Mayu.
Tak ada respon, ia pun hanya bisa mengembuskan napas. Rasanya ada sedikit penyesalan karena membuntuti wanita itu. Jika tidak, mana mungkin dia mengurus hal merepotkan seperti ini. Saat kekesalan melanda dirinya, pandangannya justru terarah pada telapak tangan Mayu yang terluka dan terus mengeluarkan darah. Darah itu juga mengalir di tuksedonya yang berkerah putih.
Chiba teringat, saat Mayu terjatuh beriringan dengan gelas-gelas yang pecah berserakan di lantai. Pantas saja Mayu tampak kesulitan berdiri saat menopang tangannya di dinding. Ia mencoba mendudukkan wanita itu, lalu membalut tangan yang luka dengan sapu tangan miliknya. Ia tertegun melihat begitu banyak darah yang berceceran di gaun wanita itu. Hanya saja tidak terlihat karena warnanya senada.
Selesai membalut luka di tangan Mayu, Chiba mengintip ke arah lobby. Para wartawan telah pergi, keadaan sekitar juga sepi. Ini kesempatannya membawa Mayu keluar. Tanpa pikir panjang, ia kembali menggendong wanita itu dan bergegas berjalan sambil menundukkan pandangan. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menopang beban tubuh wanita itu, sebelahnya lagi digunakan untuk menutupi wajahnya dari samping.
"Semoga tak ada yang melihat ... semoga tak ada yang melihat ...."
Chiba terus bergumam sambil berjalan keluar menuju parkiran. Ia menuju mobilnya, lalu mendudukkan wanita itu di jok samping pengemudi. Setelah itu, ia buru-buru masuk ke mobilnya.
Bernapas lega, Chiba menoleh ke arah Mayu. Ia mengulur tangan untuk membangunkan wanita itu.
"Nona, kita sudah di luar bangunlah!" ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi Mayu.
Chiba kembali mengembuskan napas. Sial, dia masih belum sadar. Apa yang harus kulakukan?
Chiba mengambil ponselnya, mencoba menghubungi manajer Thao untuk mengurus wanita itu, tetapi panggilannya tak kunjung terjawab. Sebanyak apa pun ia melakukan panggilan, tetap sia-sia.
Chiba menggertakkan giginya. Kesal! Tetapi, tiba-tiba Mayu membuat sedikit gerakan. Ia pun kembali bersemangat membangunkannya.
"Nona, apa kau dengar aku? Di mana kau tinggal? Biar kuantar sekarang!"
Tak ada balasan. Mayu tetap terlelap meskipun kepalanya miring ke kiri dan kanan.
"Ayolah! Jangan menghabiskan waktuku! Kau seharusnya senang karena aku berbaik hati mengantarmu! Di mana tempat tinggalmu?" Kali ini, Chiba berusaha keras membangunkannya sambil terus menanyakan alamat rumah.
Percuma! Lagi-lagi percuma! Mayu tetap terlelap. Chiba menghela napas kasar untuk kesekian kalinya. Ia meluruskan pandangan, dan mulai menghidupkan mesin mobil.
"Selamat, Anda beruntung!" ucapnya sambil mulai menjalankan mobil.
Tanpa ia sadari, sebuah mobil hitam membuntutinya dari belakang. Di dalam mobil tersebut, ada Rai dan Yuta yang tengah memantau pergerakan pria yang menjadi target mereka. Rai melihat hasil potretan Yuta yang mengambil foto-foto antara Mayu dan Chiba, terutama saat pria itu menggendongnya dan membawa masuk ke mobil.
"Bagus! Ini sangat bagus!" ujar Rai bersemangat, "tetap ikuti terus mereka. Kita cari foto yang lebih menghebohkan!" pintanya pada Yuta.
"Tak kusangka ternyata gadis itu pandai berakting juga," ucap Yuta sambil fokus menyetir.
"Sejak aku bertemu dengannya, aku sudah bisa melihat bakat akting alaminya."
Rai dan Yuta mengira apa yang dilakukan Mayu di pesta tadi hanya bagian dari trik dan akting untuk menjerat Chiba Yamada. Tanpa mereka tahu yang sebenarnya adalah wanita itu benar-benar mabuk karena cemburu.
Perputaran waktu sungguh singkat. Tak terasa matahari telah menyapa penghuni bumi. Pagi yang cerah, membawa berita menggemparkan bagi dunia hiburan. Ya, hari ini, foto-foto yang menunjukkan kedekatan antara Chiba Yamada dengan seorang wanita tersebar di berbagai media sosial. Sebuah akun anonim mengunggah foto di berbagai media sosial yang menampilkan Chiba tengah menggendong seorang wanita mabuk di sebuah hotel mewah. Bahkan, terdapat pula rekaman video yang menunjukkan ia membawa wanita itu ke apartemen pribadinya.
Para wartawan dari berbagai media telah berkumpul di depan kantor agensi yang menaungi penyanyi solo itu. Manajer Thao segera menemui awak media untuk mengonfirmasikan kebenaran tersebut. Begitu ia keluar, wartawan langsung mengerumuninya bagaikan semut yang melihat gula.
"Apa tanggapan agensi terkait beredarnya foto-foto Chiba Yamada dengan seorang wanita yang diduga tengah mabuk?"
"Apa hubungan antara Chiba dan wanita itu?"
"Di mana Chiba sekarang? Apa tanggapan atau pernyataannya tentang foto dan video itu?"
Satu per satu pertanyaan wartawan yang langsung menyerangnya, membuat kepala manajer Thao seakan seperti komedi putar. Ia tampak kebingungan menjawab. Pasalnya, ia pun tidak tahu menahu dengan sosok wanita yang dimaksud. Sialnya lagi, pihak agensi tak bisa mengelak foto tersebut karena wajah Chiba terpampang jelas tanpa penutup wajah.
"Benarkah gosip yang menyebutkan wanita itu adalah penggemar beratnya, dan Chiba sengaja membuatnya mabuk untuk diajak berkencan satu malam di apartemennya?"
"Itu tidak benar! Chiba tidak pernah melakukan itu terhadap penggemarnya!" tegas manajer Thao seketika.
"Lalu siapa wanita itu? Kenapa dia mabuk dan dibawa Chiba ke apartemennya?" Wartawan kompak melayangkan pertanyaan yang sama.
"Dia ... di–dia ...." Manajer Thao tampak memutar otaknya untuk mencari alasan yang tepat. "Dia ... kekasih baru Chiba Yamada. Mereka berpacaran dan telah tinggal bersama di apartemennya!" jawab manager Thao secara spontan.
.
.
.
catatan penulis ✍️✍️
oh, iya, bahas dikit ya tentang dunia hiburan Jepang. jadi artis, dan idola di Jepang itu mirip-miriplah sama negara Korea. mereka ga boleh sampe kena kasus/skandal. netizen dan agensi mereka sadis, dan mereka juga bakal langsung kehilangan popularitas. contohnya, tahun lalu visual Ken ryuu kena kasus tabrak orang, gara-gara itu dia dikeluarin di semua iklan yang memakainya dan drama yang diperankannya. sayang banget, padahal tahun kemarin tahun popularitas dia, tapi gara-gara kena kasus dia harus Hiatus dari dunia keartisan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
sakura🇵🇸
manager nya kepalang tanggung...drpd skandal kejahatan mending skandal cinta,berharap g kena bully warganet
2023-02-21
0
Kᵝ⃟ᴸᏒᎥҽ_ϒαη.POTEK.ѕͣυͣηͪηͪ💋💋
ooohh polosnya 🥲🥲🥲
2022-11-23
0
🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️
manajer jd anggota luar kelompok penipu..😄😄😄
2022-04-27
0