Apa? Dia merindukanku? Padahal baru sehari aku tidak bersamanya, bagaimana kalau seminggu?
Mayu menahan senyum menatap isi pesan Rai. Ia menopang dagunya, sambil mengetik balasan pesan yang mengatakan jika dia akan berada di sini selama seminggu. Namun, sedetik kemudian ekspresinya kembali berubah.
Tunggu, tunggu! Jika aku meninggalkannya selama seminggu, maka wanita ular itu akan kembali menggodanya!
Mayu malah membayangkan saat ia kembali, Rai telah direbut oleh Haru. Bahkan, dalam khayalannya pria itu mengatakan akan segera menikahi Haru.
Membayangkan hal tersebut membuat kakinya menendang secara spontan. Sialnya, tendangan itu justru mengenai lutut Chiba. Tak pelak, Chiba yang tengah menikmati makan malam, langsung tersentak dan berdiri.
"Argh! Apa yang kau lakukan?!"
Mayu tampak kelabakan, ia berdiri sambil membungkuk berulang kali. "Gomen, honto ni gomennasai (aku benar-benar minta maaf)."
Chiba masih menunjukkan wajah menahan kesakitan sambil memegang area lututnya. Sementara Mayu menjadi salah tingkah dan hanya terus meminta maaf.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Mayu dengan raut sungkan.
"Untung saja aku sudah selesai makan!" Chiba menatap kesal ke arahnya seraya menggertakkan gigi. Pria itu lantas beranjak pergi meninggalkan meja makan.
"Apa? Dia sudah selesai makan?" Mayu menoleh ke arah meja, matanya terbelalak seketika saat melihat menu yang dimasaknya telah habis dan hanya menyisakan semangkok nasi putih. "Dia tidak menyisakan sedikit pun untukku?" Mayu kembali duduk dan hanya bisa menunjukkan wajah menggerutu sambil menghabiskan nasinya.
Malam kian larut, Mayu mengatur tempat tidurnya di sofa depan televisi. Ketika ia hendak merebahkan badannya di sofa, tiba-tiba Chiba keluar dari kamarnya.
"Masuk dan tidurlah di dalam!" pinta pria itu.
"Eh?" Mayu tercungap.
"Aku tidak akan menawarkan kembali jika kau tidak mau."
"Aku mau. Tentu saja aku mau! Di sini terlalu dingin." Mayu bergegas berdiri lalu berjalan masuk ke kamar. Ia menatap ranjang besar yang membentang di hadapannya dengan mata berbinar. Sambil merentangkan tangan, ia bersiap menjatuhkan tubuhnya ke ranjang tersebut.
"Tempat tidurmu bukan di situ!" celetuk Chiba tiba-tiba.
Mayu menoleh ke arah pria itu dengan wajah kebingungan.
"Tidurlah di situ!" perintah Chiba sambil mengedikkan dagunya ke samping ranjang. Rupanya, ia telah menyiapkan tempat tidur yang diletakkan di lantai dengan hanya beralaskan selimut tebal.
Sialan! Kenapa bukan dia saja yang tidur di bawah. Bukankah seharusnya seorang pria mengalah pada wanita?
Mayu menyeret langkahnya ke tempat tidur yang telah disediakan, sementara Chiba telah membaringkan tubuhnya seraya menarik selimut. Ia mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur yang remang sebelum memejamkan mata.
"Oyasuminasai (selamat tidur)," ucap Mayu dengan lembut.
Mata Chiba kembali terbuka. Ini pertama kalinya seseorang mengucapkan kalimat pengantar tidur padanya. Ia menoleh ke samping dengan pandangan ke bawah untuk menatap wanita itu sambil tertegun.
Satu jam berlalu, dan Mayu masih belum tertidur. Ia sengaja menunggu Chiba tidur dengan lelap agar bisa memulai aksi mencari berlian. Di tengah kesunyian malam, wanita itu malah termenung sambil mengingat satu hari yang telah ia lewati bersama penyanyi terkenal itu.
Menurutnya, Chiba Yamada tidak seburuk yang digosipkan. Dia memang tak memedulikan hal yang dianggap tidak penting, seperti wartawan yang hendak mencari tahu kehidupan privasinya, dia juga memiliki sikap yang gampang berubah-berubah. Kadang ketus, kadang dingin, dan tanpa ekspresi. Namun, lelaki itu juga bisa menunjukkan sikap antusias dan tersenyum hangat. Itu bisa ia lihat saat Chiba menyantap hidangannya sambil memuji masakannya yang mirip masakan seorang ibu.
Apa dia tidak merasa kesepian tinggal di apartemen mewah ini sendirian? Kudengar dia juga tidak akrab dengan rekan sesama artis. Tapi, dia punya harta yang berlimpah, mungkin itu yang membuatnya tidak bosan.
Mayu menatap punggung Chiba yang membelakanginya.
Dan ... tentang dia seorang gay, apakah itu benar?
Mayu teringat saat dibawa ke sini, bukankah dia dalam kondisi mabuk dan berpakaian cukup terbuka? Namun, sepertinya pria itu sama sekali tak menyentuhnya. Chiba juga tak menunjukkan ekspresi apa pun saat ia hanya memakai kaos tanpa bra dan bawahan. Apakah ini membuktikan bahwa dia memang bukan seorang heteroseksual?
Memikirkan hal tersebut membuat pikiran Mayu melambung jauh. Dalam bayangannya saat ini, Chiba tengah memeluk seorang pria dari belakang. Tak hanya itu, Chiba bahkan membelai wajah dan leher pria itu dengan mesra. Lucunya, Mayu malah berfantasi jika lelaki yang dipeluk Chiba adalah Rai. Sontak, ia pun merasa geli dan merinding seketika.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak terima kalau dia juga tidak normal!" teriak Mayu sambil memejamkan mata dan menutup sepasang kupingnya.
Lampu kamar yang tiba-tiba menyala, membuat Mayu tersadar dari lamunannya yang sudah terlalu jauh. Saat membuka mata, ia tersentak melihat Chiba berdiri di hadapannya sambil bersedekap dengan sepasang alis yang mengeriting.
"Kenapa kau berteriak tengah malam begini?"
Mayu menggigit ujung selimutnya. "Aku ... aku mimpi buruk!"
"Mimpi apa?"
"Aku mimpi ...." Mayu tampak berpikir. "Ah, aku mimpi tentang dua anak manusia yang menjalin cinta terlarang."
"Kurasa kau terlalu banyak menonton dorama!" ketus Chiba sambil menyeringai.
Lampu kamar kembali dipadamkan. Mayu menghela napas seraya mengetuk-ngetuk kepalanya. Bagaimana bisa ia berteriak hingga membangunkan pria itu? Bukankah ia sengaja menunggunya benar-benar lelap sebelum mencari Red Diamond? Sekarang, mau tak mau ia harus menunggu Chiba tertidur kembali.
Tak terasa, jarum jam telah menunjukkan pukul dua dini hari. Mayu mengangkat sedikit kepalanya untuk mengintip apakah pria itu telah benar-benar terlelap. Merasa keadaan aman, ia pun berdiri dan mulai berjalan mengendap-endap menuju sebuah ruangan tertutup dalam kamar. Ia menduga pria itu menyimpan Red Diamond dalam ruangan tersebut.
Mayu masih beringsut. Pelan. Mengabaikan jantungnya yang berdentam kencang. Ia berusaha tidak menciptakan suara yang membuat pria itu terbangun. Kini, ia telah berada tepat di depan pintu ruangan itu. Tangannya memegang gagang pintu, bersiap untuk membukanya.
"Kau mau ke mana?"
Suara berupa belati dingin itu sukses membuat bahunya terangkat. Mendadak, seluruh tubuhnya kaku, telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin dan jantungnya terasa berhenti berdetak. Kakinya seakan terpaku di lantai, sehingga membuatnya tak bisa bergerak. Bagaimana tidak, lelaki itu terbangun dan mendapati dirinya tengah berdiri di depan pintu ruang privasinya.
Tanpa menoleh ke arah Chiba, ia berusaha menjawab dengan suara yang sengaja dibuat seperti orang menahan kantuk. "Aku ... aku ingin ke toilet dan sedang mencari-cari letak toilet di kamar ini. Kamarnya terlalu luas dan lampunya padam jadi aku kebingungan."
"Kalau begitu, kau seharusnya tidak ke situ. Karena kalau ke situ kau bukan mencari toilet, tapi cari mati!" Ucapan pria itu terdengar horor di telinganya.
Ia menoleh ke samping, lalu bertanya dengan polos. "Bisakah kau tunjukkan di mana letak toilet?"
Tanpa berkata, Chiba mengarahkan jempol kanannya ke belakang.
Mayu cepat-cepat berjalan ke sana. Di balik pintu kamar toilet, ia mengembuskan napas kasar. Chiba benar-benar memiliki tingkat waspada tinggi seperti yang pernah dikatakan oleh Yuta. Tampaknya, satu malam harus ia lewati tanpa melakukan pencarian berlian.
Masih ada waktu enam hari lagi, sebaiknya aku tidak melakukan pencarian malam ini agar dia tidak mencurigaiku. Aku harus membuatnya percaya sepenuhnya padaku terlebih dahulu.
Langit gelap perlahan memudar dan berganti menjadi cerah. Pagi-pagi sekali, rupanya wartawan sudah berkumpul di depan apartemen Chiba, berharap pria itu akan keluar dan mau memberi klarifikasi.
Sayangnya, hingga detik ini Chiba masih santai dan enggan menanggapi para pemburu berita. Ia malah menyodorkan sebuah kertas di atas meja samping Mayu berdiri.
"Apa ini?" Mayu mengambil kertas tersebut. Matanya terbelalak diikuti mulut yang ternganga saat mengetahui itu adalah cek berisi lima ratus ribu Yen.
"Mulai hari ini aku ingin kau memasak makanan rumahan untukku. Dan itu adalah bayaranmu selama seminggu. Apa itu cukup?"
"Ini ... ini banyak sekali!"
Chiba mengambil kembali cek tersebut dari tangan Mayu dengan menggunakan penjepit gorengan. "Kalau begitu aku akan menguranginya setengah."
"Jangan!" Mayu merampas cek tersebut dari tangan Chiba. "Maksudku ... sebanyak ini juga tidak masalah bagiku. Arigatou gozaimasu," sambungnya dengan penuh semangat.
Mayu buru-buru menyimpan cek tersebut dalam saku celemeknya. Ia bergegas ke dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan yang siap untuk diolah. Saat hendak memotong, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengecek panggilan, dan tersentak begitu mengetahui Rai melakukan panggilan telepon dan video.
Rai pasti ingin mencari tahu apakah aku sudah berhasil menemukan berlian itu.
.
.
.
Catatan kaki 🦶🦶
Heteroseksual adalah orientasi yang membuat seseorang tertarik pada lawan jenis gendernya. Ini orientasi seksual mayoritas dan dianggap orientasi normal.
500.000 ribu Yen jika dikonversikan ke rupiah, sekitar hampir tujuh puluh juta lah. ya, tiga kali lipat dari UMR di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
🇮🇩 SaNTy 🇵🇸
Kehidupan Privasinya...? Hrsnya kehidupan Pribadinya ya. Privasi & Pribadi beda artinya lho. Itu kalimatnya hrsnya Kehidupan Pribadinya yg penuh privasi.
2024-08-29
0
sakura🇵🇸
udah ngakak g karuan gara2 kehaluanmu,tiba2 ikutan tegang pas ketahuan chiba 🤣🤣🤣🤣
2023-02-22
0
sakura🇵🇸
ya kan malah dapet yg lebih baik🙊🙈🙉😅😜 ni cewek polos bettt...kayak anak sma disini🤭 gampang dikibulin
2023-02-22
1