Berdiri di antara para penggemar yang menantikan dirinya, Chiba Yamada berusaha tersenyum ramah, memamerkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi. Penampilannya hari ini sungguh memukau, memakai setelan tuksedo cokelat dari merek ternama yang membuatnya elegan, terlihat sempurna tanpa cela, dari ujung rambutnya yang bergaya curtains hair hingga ujung sepatunya yang mengilap.
"Chiba Yamada-san!" Suara teriakan para penggemar terdengar riuh, menandakan mereka sungguh antusias pada pria yang telah berumur dua puluh delapan tahun itu.
Mayu berusaha menerobos kepungan penggemar agar dirinya bisa berada di barisan terdepan. Beruntungnya, dia memiliki tubuh yang mungil sehingga mudah baginya menyisip di antara orang-orang yang terus berteriak. Saat telah mencapai barisan depan, ia turut melakukan apa yang dilakukan para penggemar, yaitu berteriak memanggil nama sang idola.
"Chiba Yamada, I love youuu!" teriak Mayu berkali-kali sambil mengulurkan tangannya ke depan seolah hendak menggapai sang idola.
Yuta dan Rio memantau dari kejauhan. Dengan menggunakan teropong, mereka melihat gerak-gerik yang terjadi di tempat pertemuan fans.
"Lihat, dia sombong sekali! Biasanya para idola akan mengulurkan tangan mereka, untuk sekadar berjabat tangan dengan fans. Tapi dia tidak melakukannya sama sekali. Bahkan, manajernya yang harus turun langsung mengambil buku kecil yang dipegang fans untuk ditandatanganinya," cela Rio sambil terus memantau.
"Ya, aku lupa mengatakan pada Rai kalau Chiba Yamada bukan sosok idola yang dekat dengan fans. Kudengar, ini adalah fans meeting pertama yang diselenggarakan pria itu."
"Apa kau merasa perempuan itu akan berhasil?"
Yuta mengembuskan napas, seraya mengangkat kedua bahunya. "Entahlah ... hanya kecil kemungkinan."
Saat Chiba Yamada melintas, Mayu membuat gerakan ekstrim dengan menarik tangannya hingga membuat tubuh idola tersebut tercondong ke arah Mayu. Siapa sangka, beberapa penggemar yang berada di dekat Mayu ikut membantunya hingga membuat tubuh Chiba semakin terdorong.
Para penggemar makin histeris, bahkan saling dorong-mendorong. Sialnya, saat wajah Chiba mendekat ke arahnya, ia malah terjatuh dan terinjak-injak oleh fans yang makin brutal. Sementara, Chiba pun tak luput dari sasaran empuk para penggemar fanatik. Mereka tak segan menjambak rambutnya karena ingin melihat wajah idolanya dari dekat.
Tindakan berbahaya tersebut, tentu mendapat perhatian dari manajer, pengawal, dan panitia acara. Mereka bergegas mengamankan penyanyi yang merupakan anak dari pemilik Yamada grup.
Masih memantau, Rio dan Yuta kebingungan saat mereka tidak melihat jejak Mayu di sana.
"Ke mana perempuan itu? Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Yuta setengah panik saat melihat kerusuhan yang terjadi di tempat itu.
"Aku juga tidak melihatnya." Rio memutuskan menyamarkan sebagai panitia, berbaur ke tempat itu untuk mencari keberadaan Mayu yang menghilang.
Sepuluh menit berlalu, Chiba telah berada di dalam mobil yang membawanya kembali ke kantor agensi. Ia mengambil sapu tangan dan mengelap peluh yang keluar dari pori-pori dahinya. Raut wajahnya sudah tak utuh sejak meninggalkan tempat fans meeting tadi. Bagaimana tidak, acara itu berakhir rusuh, dan harus segera dihentikan. Kejadian ini tentu akan menjadi bahan berita wartawan dan gunjingan para netizen.
"Sudah kubilang aku tidak mau adakan pertemuan seperti ini!" Chiba menyalahkan manajer Thao, karena ini adalah usulnya.
Manajer Thao hanya dapat bergeming dengan wajah penuh rasa bersalah.
Dari kantor agensi, Chiba memutuskan kembali ke apartemennya. Saat berada di lift, pria itu bersandar sembari memejamkan mata. Acara yang ia harapkan akan berjalan lancar, malah berakhir tragis. Banyak penggemarnya yang mengalami luka-luka karena saling dorong. Bahkan, beberapa mengaku kehilangan ponsel mereka.
Denting lift berbunyi disusul pintu terbuka, Chiba bergegas keluar. Saat melangkah menuju apartemennya, ia terkejut melihat Yuki bersama anaknya sedang berdiri di depan pintu.
"Papa!" Anak dari saudara kembarnya itu berlari ke arahnya.
"Apa kalian sudah lama menunggu?" tanya Chiba pada Yuki sambil menggendong bocah itu.
"Kami baru saja datang. Aku meneleponmu dari tadi, Arata merengek ingin tidur di sini. Apa tidak mengganggu?" tanya Yuki sungkan.
"Gomen, aku belum melihat ponselku seharian. Tentu saja tidak, dia adalah hiburanku," jawab Chiba sambil menoleh ke arah bocah bernama Arata Ryuu, "kalau aku tahu kau akan datang, aku pasti akan mampir membeli es krim. Tapi jangan khawatir, aku akan meminta seseorang membelinya.
"Arata-chan, jangan nakal, ya?" Yuki memperingati anaknya sebelum pergi.
Chiba masuk ke apartemen bersama Arata Ryuu. Bocah inilah yang selalu menjadi pelipur lara baginya. Sejak bayi, Arata sudah sangat dekat dengannya, bahkan lebih dekat dari ayah kandungnya sendiri.
Di kediaman para penipu handal, Rai berjalan cepat menuju ruang pertemuan mereka. Di sana, ia melihat Mayu yang telah melepas rambut palsu tengah duduk membelakanginya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian pulang secepat ini?" tanya Rai pada Rio yang duduk di samping Mayu.
Mayu menoleh cepat ke belakang. "Apa kau tidak tahu yang terjadi padaku?"
Rai tercengang seketika saat melihat wajah Mayu penuh memar dan bengkak di beberapa bagian. Bahkan area lingkaran matanya membiru.
"Ke–kenapa dengan wajahmu?"
"Aku terjatuh dan diinjak-injak fans pria itu! Bahkan di saat aku belum sempat menaruh surat di saku jasnya," ucap Mayu yang langsung menangis seketika.
"Lalu bagaimana dengan Chiba Yamada?" tanya Rai seolah tak memedulikan apa yang menimpa Mayu.
"Kau lihat sendiri, 'kan? Sudah sangat jelas rencana awal kita ... gagal!" jawab Yuta penuh penekanan.
"Tapi jangan khawatir Oniichan, aku berhasil mengambil beberapa ponsel mahal dari tangan para penggemarnya." Rio bersemangat sambil menunjukkan deretan ponsel pintar yang ia letakkan di meja.
"Aku tidak menyuruh kalian untuk datang mencuri di sana, Baka!" Rai memukul kepala adiknya. Ia tampak geram seakan mengeluarkan taring dari mulutnya.
"Aku hanya ingat pesanmu yang selalu memintaku untuk tidak pulang dengan tangan kosong," ujar Rio menyengir bodoh.
"Kenapa tidak ada yang peduli padaku?! Kalau seperti ini, aku memilih menyerah!" pekik Mayu sambil terisak.
Mendengar hal itu, Rai langsung memosisikan duduk di samping Mayu. "Ini baru awal dan kau akan menyerah? Apa kau tak ingat pembagian 50%?" ucapnya berusaha mengiming-imingi keuntungan yang akan perempuan itu dapatkan.
Mayu tertegun. Bukan karena diiming-imingi keuntungan 50%, melainkan karena ini kedua kalinya mereka bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Keadaan ini membuat jantungnya berdetak tak normal. Bagai terhipnotis, ia mengangguk lemah lalu berkata, "Tapi, kau harus mengobati luka di wajahku dulu."
"Tentu saja!" jawab Rai spontan, "Rio, tolong ambilkan kotak obat," pintanya pada adiknya.
Rio segera mengambil kotak obat, lalu menyerahkannya pada kakaknya. Rai mulai mengobati luka-luka di wajah Mayu. Perempuan itu meringis kesakitan saat Rai menyentuh bagian yang bengkak.
"Apa kau merasa sakit?"
"Apa perlu aku menjawab pertanyaan bodoh itu?" jawab Mayu setengah kesal sambil menahan rasa sakit.
Bibir Rai berkedut menahan tawa. Wajah Mayu yang memar dan bengkak-bengkak, bercampur ekspresi kesal sungguh menggemaskan di mata pria itu.
Setelah selesai mengobati luka wanita itu, Rai berjalan menuju dapur untuk mengembalikan kotak obat.
"Kau terlihat sangat peduli pada gadis itu. Kau juga memercayakan misi itu sepenuhnya pada dia dan rela membagikan 50%." Suara Haru datang dari arah belakang.
Rai menoleh ke belakang. Ia tersenyum tipis, tetapi segera menyadari jika Mayu tengah berdiri di balik dinding.
"Apa kau mau tahu alasannya?" tanya Rai.
"Tentu saja. Aku perlu tahu," jawab Haru sambil bersedekap.
"Itu karena ... dia menarik perhatianku. Sepertinya, aku menyukainya."
Mayu yang tengah menguping pembicaraan mereka, langsung terlonjak mendengar jawaban Rai. Matanya melebar, dadanya terasa berat seperti tertindih reruntuhan bangunan, dan jantungnya terpompa cepat. Ia salah tingkah, sampai-sampai bingung harus berbuat apa. Pada akhirnya, dia memutuskan berlari ke kamarnya.
Mengangkat sebelah alis, Rai tersenyum miring menatap punggung Mayu yang telah menjauh.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Lenni Namora
wkwkwk.. mau sedih tp koq lucu
2024-12-29
0
Hearty💕💕
Kena perangkap Mayu.....
2024-09-18
0
Hearty💕💕
Raut wajahnya sudah tak utuh itu kayak gimana ya
2024-09-18
0