Senyum Rai berangsur-angsur menghilang, berganti dengan lemparan mata tajam yang menusuk. Ia kembali menoleh ke arah Haru yang terkejut mendengar jawaban yang baru saja dilontarkannya.
"Sudah berapa lama kau bersamaku?" tanya Rai.
Haru memalingkan wajah. Rai mendekat, mengangkat dagu perempuan blasteran itu dengan ujung jari, memaksanya untuk saling berhadapan.
"Dia hanya kelinci percobaan kita. Menipu Chiba Yamada sangat berisiko besar karena di belakangnya ada Ken Ryuu dan mantan anggota geng Akiko. Kita harus main aman dengan memasang wanita itu. Dengan begitu, bukan kita yang mengusik Chiba Yamada, tapi dia. Setidaknya jika ketahuan, nama kita tetap aman." Rai membuktikan dirinya bukan sekadar licik, tapi juga pintar berstrategi.
"Benarkah?"
"Apa aku pernah membohongimu?"
Saat Haru hendak mengatakan sesuatu, Rai mengunci bibirnya dengan sebuah pagutan hangat yang singkat. Mata pria itu memandang kosong ke arah jendela, tapi otaknya mengilas balik pembicaraan yang terjadi antara dirinya dan Mayu beberapa menit lalu, saat ia tengah mengobati luka memar di wajah gadis itu.
"Masalah pembagian 50 persen, apakah itu benar? Kau tidak sedang berbohong, 'kan?" tanya Mayu yang kurang yakin.
"Jadi kau tidak percaya?"
"Bukan begitu ... tapi, aku ini bukan bagian dari kalian. Bisa saja kalian menipuku, atau aku yang menipu kalian. Bagaimana kalau kita buat surat perjanjian saja?"
"Baik. Tunggu sebentar!"
Rai berdiri lalu pergi. Namun, tak memakan waktu lama pria itu datang kembali dengan membawa kertas kosong. Ia menuliskan beberapa poin perjanjian yang salah satunya mengharuskan mengikuti apa pun rencananya sampai berlian itu berada di tangan mereka.
"Tanda tangan di sini, dan cap jari!" pinta Rai.
Mayu mengambil bolpoin, lalu tanpa ragu membubuhkan tanda tangan di perjanjian tersebut.
Di kamar, Mayu berbaring terlentang sambil kembali mengingat pembicaraan antara Rai dan Haru beberapa saat lalu.
Benarkah dia menyukaiku?
Mayu masih kurang yakin. Bahkan ia merasa telinganya sedang bermasalah. Ia memundurkan ingatannya dari sejak bertemu dengan Rai hingga perhatian yang diberikan pria itu padanya. Mengingat hal itu, membuat pipi Mayu merona cerah.
Ternyata dia menyukaiku. Bagaimana ini? Aku tak bisa membiarkan cintanya bertepuk sebelah tangan. Apalagi dia sangat tampan!
Mayu memegang kedua pipinya. Ia sedang merasakan sensasi yang berbeda di dalam dirinya. Bayangan wajah Rai seolah-olah berseliweran di benaknya. Ia menutup mata sambil tersenyum sumringah. Tangannya merambat ke jantung, hanya untuk merasakan debaran yang kian tak menentu. Sedangkan kakinya berayun-ayun seperti anak kecil.
Malam larut telah menyapa. Chiba keluar dari kamar setelah selesai menidurkan keponakannya. Ia mengambil sebotol anggur dari lemari koleksinya, membuka tutup botol yang masih tersegel dan langsung menenggaknya. Ia masih belum berani melihat Instagram pribadi, apalagi berita terbaru. Yang pasti, sudah bisa ditebak kalau kerusuhan yang terjadi di tempat jumpa penggemar tadi telah tersebar di berbagai sosial media.
Dari dapur, Chiba menuju tempat favoritnya yaitu sebuah ruangan besar dengan dinding full kaca, yang menampilkan pemandangan kota Tokyo dari ketinggian 50 lantai. Apartemen miliknya itu berjenis penthouse sehingga lebih besar dari apartemen pada umumnya. Di tengah ruangan tersebut, terdapat grand piano yang menghadap langsung ke jendela.
Lelaki berwajah sendu itu memegang deretan tuts piano. Hanya menyentuh, tak berani memainkannya. Sudah hampir dua tahun ia kehilangan inspirasi menulis lagu dan hanya menyanyikan karya milik orang lain. Entah kenapa, dia pun tak tahu.
Warna langit telah terang, pertanda pergantian hari telah terjadi. Hari ini, kerusuhan yang terjadi saat acara fans meeting Chiba Yamada menduduki trending topik sejumlah sosial media. Banyak hujatan yang mengarah pada sang Idola tersebut, karena dianggap tak cukup matang mengadakan acara itu. Pihak Chiba Yamada sendiri melalui agensi merilis pernyataan di situs resminya. Dalam pernyataan tersebut, ia meminta maaf pada para penggemar dan berjanji akan menanggung seluruh biaya pengobatan bagi beberapa penggemar yang terluka akibat acara kemarin.
Di kediaman para penipu ulung, Rai, Yuta, Rio dan Haru kembali memikirkan strategi baru yang akan mereka jalankan untuk mendekati Chiba Yamada. Mereka duduk terpisah dengan pemikiran masing-masing yang sibuk berkelana. Sementara Mayu duduk di anak tangga sambil menatap bingung ke arah mereka yang terlihat seperti patung manekin. Tak bergerak.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" gumamnya sambil mengisap permen lollipop.
"Aku punya ide!" Rio memecahkan keheningan di ruangan tersebut.
Ketiga rekannya langsung menoleh ke arahnya.
"Bagaimana kalau kita gunakan modus jasa asisten rumah tangga profesional. Bukankah dia hidup sendiri di apartemennya? Pasti dia butuh seseorang untuk membereskan apartemennya yang mewah," jelas Rio dengan penuh semangat.
Yuta menghela napas. "Seperti yang pernah kubilang, Chiba Yamada memiliki tingkat waspada yang tinggi. Dia tidak suka barang-barangnya disentuh. Dengan seperti itu, hampir bisa dipastikan dia tidak memakai jasa asisten rumah tangga."
"Kalau begitu kita coba saja tawarkan jasa asisten rumah tangga sekali panggil. Meskipun dia tak menggunakan asisten, tapi bukan berarti urusan beres-beres rumah dikerjakan dia sendiri, 'kan?" Mayu menimpali ucapan Rio yang membuat ketiga orang itu mengalihkan pandangan mereka ke arahnya.
Rio mengangkat jari telunjuknya ke atas seraya melebarkan senyum. Dia melangkah cepat ke arah Mayu sambil berkata, "Kita selalu cocok dari segi ide dan pikiran, kenapa kita tidak pacaran saja?"
"Kau benar! Kita cocok dari segi pikiran dan ide. Sayangnya, kita tak cocok dari segi selera. Selera lelaki idolaku bukan padamu!" tegas Mayu yang sedetik kemudian memandang ke arah Rai.
Tentu saja seleraku ada padanya. Oh my prince ....
"Sepertinya kita harus mencobanya, Rai." Haru mendekati Rai lalu meletakkan tangannya di pundak kiri pria itu.
Tak mau menghabiskan banyak waktu, mereka pun kembali mempersiapkan rencana kedua. Yuta diberi tugas mendesain iklan berupa brosur yang menawarkan jasa asisten profesional. Brosur tersebut dibuat semenarik mungkin. Berharap, Chiba akan menggunakan jasa itu sehingga memudahkan langkah awal mereka untuk masuk ke dalam apartemennya.
Setelah selesai mencetak, brosur itu Rio letakkan di depan pintu apartemen Chiba Yamada dengan menyamar sebagai petugas apartemen. Ia juga menempelkan kamera pengintai yang berhadapan langsung dengan pintu apartemen sang target. Ini memudahkan mereka untuk mengetahui apakah brosur itu dilihat oleh Chiba Yamada.
Malam telah tiba. Mereka semua duduk di depan layar monitor yang menampilkan lokasi area apartemen Chiba. Entah sudah berapa lama mereka memantau monitor itu.
"Jangan-jangan dia malah pulang ke rumah ayahnya," duga Yuta seraya menopang dagu.
"Atau jangan-jangan malah pulang larut karena sibuk syuting," sambung Rio dengan mata yang hampir meredup. "Ah, itu dia!" Rio menunjuk ke arah monitor.
Benar saja, di layar tersebut menampilkan kehadiran Chiba yang baru tiba di apartemennya. Melihat pria itu, membuat Rai bersemangat sambil berdiri dari duduknya. Mereka tampak cemas dan berharap Chiba akan melihat brosur yang mereka letakkan di bawah pintu. Sayangnya, pria itu langsung masuk ke kediamannya tanpa menoleh ke bawah.
Pintu apartemen tertutup kembali dan Chiba telah hilang dari layar monitor. Rai menjatuhkan kembali tubuhnya di kursi. Dia tampak lemas karena melihat brosur itu hanya diinjak.
"Jangan patah semangat! Mungkin saja dia sedang kelelahan sehingga tidak memedulikan keadaan sekitar. Masih ada hari esok, siapa tahu dia akan melihat brosur itu dan tertarik." Mayu memberi semangat pada Rai.
"Ya, benar. Masih ada hari esok. Selama brosur itu aman di bawah sana, masih ada kemungkinan untuk dia melihatnya dan termakan jebakan kita," sambung Yuta yang sebenarnya kurang yakin dengan ide ini.
"Aku jadi tidak sabar menunggu besok!" ucap Rio yang masih menancapkan pandangannya ke layar monitor.
Jarum jam terus berputar hingga tak terasa malam telah tenggelam. Sinar mentari membawa kehangatan bagi orang-orang sekitar. Masih berpakaian piyama, kelima orang itu telah berada di depan layar monitor. Seakan sudah tak sabar untuk melihat nasib brosur yang mereka buat.
Dari layar tersebut, kini terlihat pintu apartemen mendadak terbuka diikuti sosok pemilik Red Diamond yang telah berpakaian rapi dan bersiap keluar. Kelima orang itu kini membungkukkan tubuh mereka, dengan tatapan tajam ke arah monitor.
"Lihatlah ke bawah! Lihatlah ke bawah! Lihatlah ke bawah!" Rio terus mengucapkan kalimat yang sama seperti sebuah mantra.
Saat kaki kanan Chiba melangkah ke depan, pandangannya tertunduk ke bawah. Ya, dia melihat brosur tersebut.
"Dia melihatnya! Dia melihatnya!" seru Rio dan Mayu secara bersamaan sambil mengepalkan tangan ke atas.
Kini, terlihat dalam layar, jika Chiba tengah membungkuk untuk mengambil brosur tersebut.
"Dia mengambilnya! Dia mengambilnya!" Rio dan Mayu kembali berseru.
Kedua orang itu saling menggenggam tangan dengan penuh riang, bagaikan baru saja menang lotre. Sementara Rai, Yuta, dan Haru menunjukkan senyum simpul karena target mereka mulai termakan umpan. Namun, kesenangan itu tak bertahan lama tatkala pria bernama Chiba Yamada itu menggumpal kertas brosur tersebut lalu membuangnya di tempat sampah yang ada di samping pintu apartemen, tanpa lebih dulu membacanya.
"Aarrgghhhtt!" Rai memijat pelipisnya seraya mendengus kesal.
Yuta berbalik, menatap ke arah mereka semua. "Rencana kedua masih gagal."
.
.
.
bagaimana dengan rencana selanjutnya, apakah berhasil?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
🐥Yay
🤣🤣🤣
2024-08-31
0
Kᵝ⃟ᴸуυℓ∂єρ
Astoge mayu🤣🤣
bisa banget nyiptain karakter mayu n rio yg kocak gini sih 🤣🤣
2024-08-15
1
sakura🇵🇸
g heran sih ada cewek modelan mayu😄 emang kadang orang klo udah bucin dah g akan bisa bedain mana yg baik atau mencari mangsa...
2023-02-20
1