"Maksudku ... aku sedang ingin belajar tata cara pelaksanaan janji suci pernikahan, tapi kurasa aku memerlukan partner wanita. Bisakah kau yang bertindak sebagai mempelai wanitanya?" ucap pria itu memperjelas ucapannya.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa. Sekali pun hanya akting atau main-main, saya tidak bisa. Saya hanya ingin mengucapkan perjanjian suci bersama pendamping hidup saya yang sebenarnya. Tentunya orang yang saya cintai," ucap wanita itu penunduk sopan.
Pria berperawakan tinggi itu tertegun. Ia tampak menunduk seraya mendekih.
"Begitukah?" desisnya sinis.
Tak menunggu respon, pria itu segera berbalik dan melangkah pelan melewati pegawai wanita tersebut tanpa menoleh. Ia terus berjalan lurus hingga keluar dari aula pemberkatan.
Pegawai wanita itu mengernyit, seperti mengingat-ingat sesuatu. "Kenapa wajah pria itu tak asing, ya? Aku seperti mengenalnya."
Lama memikirkan, akhirnya ia tersadar jika pria yang baru saja berbicara dengannya adalah seorang penyanyi papan atas. Sontak, ia pun berlari keluar berusaha untuk mengejar penyanyi itu. Sayangnya, penyanyi bernama Chiba Yamada itu telah pergi.
"Ya, ampun! Kenapa aku baru sadar? Padahal aku bisa mengajaknya berfoto bersama," dengusnya kesal pada diri sendiri sambil menghentak-hentakkan kaki.
Satu jam kemudian, wanita bernama lengkap Mayu Ichihara itu kembali ke kontrakannya. Saat baru saja menuju kediamannya, ia tercengang melihat koper dan barang-barang miliknya telah berada di depan kontrakan tersebut. Bahkan, seorang pria yang merupakan pemilik kontrakan pun ada di sana.
"Ada apa ini? Kenapa Bapak telah mengepak semua barang-barangku? Bukankah aku sudah membayar uang sewa untuk bulan ini?" protes Mayu pada pemilik kontrakan.
"Bayar sewa katamu?! Hei, pacarmu saja sudah menyerahkan kunci rumah ini padaku dan mengatakan tidak akan memperpanjang sewa rumahnya!" kata Tuan kontrakan dengan nada sengit.
"A–apa? Tidak ... tidak mungkin!" Mayu melebarkan matanya. Ia hendak melangkah masuk ke rumahnya berusaha menerobos Tuan kontrakan. Sayangnya, pria tua bertubuh gempal itu menahannya masuk.
"Apalagi yang mau kau lakukan?" ketus pria itu.
"Kemarin aku baru saja menitipkan uang sewanya pada pacarku!" ucapnya sambil menarik koper dan melangkah masuk ke rumahnya.
Tuan kontrakan yang berdiri di depan pintu, kembali menghadangnya. "Menitipkan uang sewa? Pacarmu hanya datang padaku untuk menyerahkan kunci. Apa masih kurang jelas?"
Tak percaya, wanita berusia dua puluh lima tahun itu mengambil ponselnya. Saat membuka pin ponsel, ia tersentak mendapatkan satu pesan masuk dari kekasihnya yang dikirim delapan jam lalu saat ia sedang sibuk bekerja.
...Sayang, maafkan aku, aku terpaksa harus memakai uang sewa kontrakan dan tabunganmu untuk membayar sebagian utang judiku. Sekarang, aku sedang bersembunyi dari kejaran para rentenir. Jika mereka melihatku, maka aku akan ditangkap polisi. Sebaiknya kau juga pergi dari situ, karena rentenir menemukan aku di sana pagi tadi, makanya aku terpaksa memakai seluruh uangmu....
Membaca pesan tersebut, membuat kelopak mata wanita itu terbuka lebar. Darahnya mendidih, urat-urat di lehernya bermunculan, bibirnya mengerut berkumpul menjadi satu. Tentu saja emosinya meledak seketika.
"Bagaimana?" tanya Tuan kontrakan dengan gaya berkacak pinggang.
Masih menatap layar ponsel sembari menggenggamnya erat-erat, Mayu menoleh ke arah Tuan kos dengan mata yang menyala.
"Dasar siluman kera!" teriaknya penuh emosional.
"Apa katamu? Kau bilang aku siluman kera?!"
"Bukan kau! Tapi yang mengirim pesan ini yang siluman kera. Dia sudah menipuku dengan mengambil semua tabungan yang sudah susah payah kukumpulkan selama bertahun-tahun. Tidak hanya itu, dia juga mengambil uang yang seharusnya kupakai untuk bayar sewa kontrakan ini. Huuuuaaaaaa ....." Tangis Mayu pecah seketika. Ia menyandarkan kepalanya ke lengan pria tua itu sambil terus meraung-raung seperti anak kecil.
Tak ayal, kelakuannya membuat Tuan kontrakan itu tampak blingsatan. Ia berusaha menepis kepala wanita berambut panjang itu. Namun, yang ada malah membuat tangisannya menjadi-jadi.
"Hei, hei, hentikan! Kenapa kau malah menangis seperti ini!"
"Bagaimana tidak menangis, aku baru saja ditipu kekasihku sendiri. Jika kau tak percaya, kau bisa baca pesan ini," ucapnya menunjukkan pesan dalam ponselnya, "aku sudah tidak punya uang sama sekali dan sekarang aku bingung harus tinggal di mana malam-malam begini," isaknya kembali tersedu-sedu.
"Ya, sudah. Untuk malam ini, kau kuizinkan menginap di sini. Tapi, besok pagi kau harus keluar dari kontrakan ini karena penghuni baru akan segera masuk," ucap sang pemilik kontrakan dengan wajah terpaksa.
Tangis Mayu berhenti seketika. Ia langsung memegang kedua tangan pria pemilik kontrakan. "Domo arigatou gozaimasu," ucapnya dengan mata berbinar-binar.
Tuan kontrakan bergegas melepas tangannya, lalu beranjak pergi. Begitu bayangannya menghilang dari pelupuk mata, Mayu langsung menyunggingkan senyum, seraya menghapus air mata palsu. Ya, ia hanya berakting menangis untuk mendapatkan belas kasihan dari pria paruh baya tersebut. Sebenarnya, wanita itu masih memiliki simpanan uang di dompetnya, hanya saja ia terlalu perhitungan menggunakan uangnya untuk bermalam di hotel.
Perputaran jarum jam sungguh cepat. Mentari telah mengintip jendela kehidupan. Pagi yang cerah, jalanan kota Tokyo dipadati pejalan kaki dengan aktivitasnya masing-masing. Di sebuah ruangan, Mayu menghadap manajer gedung tempatnya bekerja.
"Saya mohon, Pak. Pekerjakan kembali diriku di sini. Surat pengunduran diriku beberapa hari yang lalu, anggap saja batal. Saya membuat surat itu karena pacar saya mengiming-imingi kami pindah ke kota Hokaido dan bekerja di sana. Ternyata dia malah menipu dan menghabisi seluruh uang saya," ucap Mayu memelas sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Saya prihatin dengan cerita Anda. Tapi, surat pengunduran diri Anda telah sampai ke pusat. Lagi pula, hari ini kami telah memasukkan orang baru yang akan bekerja di sini menggantikan posisi Anda," ujar pak manajer tempatnya bekerja.
"Sial! Ini semua gara-gara Nonji!" umpatnya dalam hati.
Beberapa hari yang lalu, Nonji—kekasih Mayu—memintanya untuk berhenti dari pekerjaan dan menjanjikan pekerjaan baru di kota Hokaido. Ia juga meminjam sejumlah uang untuk membeli rumah di kota itu dan mengajaknya tinggal bersama. Karena ucapan Nonji sangat meyakinkan, membuatnya memercayainya. Ia menyerahkan tabungannya dan juga keluar dari pekerjaan. Tak disangka, pria itu justru menipunya. Uang yang ia pinjam, malah digunakan untuk berjudi, tak hanya itu uang titipan membayar sewa kontrakan dan sisa tabungannya pun dipakai pria itu untuk membayar hutang judi.
Nasib sial benar-benar menimpanya. Ia telah keluar dari pekerjaan dan terusir dari kontrakannya. Sekarang, uang di dompetnya pun tak akan cukup membiayai kehidupannya selama beberapa hari. Menemui teman atau keluarga sangat tidak mungkin, karena dia hanya seorang pendatang di kota Kosmopolitan ini.
Mayu berjalan bersungut-sungut keluar dari gedung sambil menarik koper. Ia mencoba menghubungi kembali kekasihnya. Sia-sia saja. Teleponnya tak kunjung terjawab. Wajah mulusnya tampak merah padam. Antara marah, menyesal dan frustrasi berkumpul menjadi satu.
Mayu berjalan lurus menyeberang jalan tanpa melihat rambu-rambu. Tanpa ia sadari, sebuah mobil sport mewah berwarna kuning melaju pesat dari arah kanan jalan.
Suara ban berdecit berbunyi. Mayu jatuh tersungkur tepat di depan mobil mewah itu. Ia sempat menjerit kesakitan dan mencoba bangkit. Namun, ia segera mengurungkan niatnya ketika seorang pria tampan bertubuh proposional yang menggunakan kacamata hitam, keluar dari mobil mewah itu. Tak ayal, dia pun berpura-pura pingsan dengan menutup kedua matanya.
"Kau baik-baik saja, 'kan? Apakah kau terluka? Apa yang lecet dari dirimu?" ucap pria itu dengan nada panik.
Mayu yang masih berpura-pura pingsan, lantas hanya bisa menahan senyum saat mendengar pria tampan berhidung mancung itu tampak peduli padanya. Dalam hatinya berkata, ini kesempatan yang bagus untuk memperalat pria itu. Ia bahkan sempat berkhayal tinggi kalau pria berkacamata hitam itu akan membawanya tinggal di rumah besar yang super mewah.
Penasaran, Mayu membuka sedikit matanya, mencoba mengintip ekspresi khawatir pria itu. Namun, ia malah tercengang ketika mengetahui ternyata pria itu sedang berbicara dengan mobil mewahnya, bukan dengan dirinya. Dengan kata lain, pria itu sama sekali tidak peduli padanya.
Kurang ajar! Kupikir dia sedang bertanya padaku! Ternyata dia malah berbicara dengan mobilnya sendiri!
Karena kesal, Mayu pun menyudahi aktingnya yang tak berguna. "Hei, apa kau tidak lihat aku terluka karena kau!" teriaknya mencoba membangunkan tubuhnya agar bisa duduk.
Pria yang tengah berjongkok membelakanginya itu, lantas menoleh. Ia membuka kacamata hitam, lalu berdiri dan berkata dengan santai, "Tolong cepat menyingkir dari sini! Kau menghalangi jalanku!"
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Hearty💕💕
😄😂😄😂
2024-09-18
0
Anonymous
asyemmmm/Facepalm//Facepalm/
2024-08-31
0
Ran Aulia
😂😂😂😂 ke GR an deh Mayu
2024-03-23
0