Bukannya merespon pertanyaan Chiba, Mayu malah tertegun selama beberapa detik. Ia bahkan mengkhayalkan dirinya tengah dikelilingi Rai, Rio, Yuta dan Chiba.
Kenapa akhir-akhir ini aku dikelilingi banyak pria-pria tampan. Aku, kan, jadi bingung harus pilih yang mana?
"Hei, sampai kapan kau seperti ini? Tanganku keram menahan berat badanmu!" Bisikan Yuta membuyarkan lamunan wanita tukang khayal itu.
Tersadar, Mayu meluruskan tubuhnya, memasang ekspresi biasa-biasa saja sambil berkata, "aku tidak apa-apa."
Setelah berkata, Mayu berbalik dan pergi bersama Yuta meninggalkan Chiba. Yuta lantas berbisik di telinga Mayu, "Bagus! Untuk langkah awal aktingmu sangat bagus. Seorang wanita terhormat tidak pernah mengejar laki-laki. Mereka misterius dan menjunjung harga diri yang tinggi. Wanita seperti itulah yang akan membuat pria penasaran."
Mayu memandang lurus ke depan dengan dagu yang terangkat sambil terus berjalan meninggalkan Chiba, meskipun jantungnya masih berdentam karena gugup.
"Nona ...."
Langkah Yuta dan Mayu sontak terhenti. Dia memanggilku? Apakah dia akan mengajakku berkenalan?
Memikirkan hal itu membuat Mayu tersenyum tipis. Dia berbalik perlahan, menoleh ke arah Chiba yang masih menunggang kuda.
"Ada apa?" tanya Mayu sok dingin.
"Sepatumu di sebelah kanan terlepas," ucap Chiba datar.
Mayu dan Yuta kompak menurunkan pandangan ke bawah. Ya, benar saja, Mayu tak menyadari jika sepatu yang berada di kaki kanannya terlepas, alias dia telah bertelanjang sebelah kaki sejak meninggalkan pria itu.
"Oh, sepatuku!" Mayu memegang kedua pipinya seraya mencari-cari keberadaan sepatunya.
Sementara, Yuta hanya bisa menutup mata dalam-dalam saat Chiba berlalu di hadapan mereka sambil memasang ekspresi datar. Alih-alih, menjadi seperti pangeran yang memasangkan sepatu kaca di kaki Cinderella, pria itu justru pergi bersama kudanya tanpa memedulikan Mayu dan Yuta yang sibuk mencari pasangan sepatu yang hilang.
"Itu sepatuku!" Mayu menunjuk sebuah pohon kering tak berdaun yang berada sedikit jauh dari hadapan mereka. Rupanya, sebelah sepatunya itu terlempar dan tersangkut di ranting pohon tersebut.
"Baka, kenapa kau tidak menyadari berjalan dengan hanya satu sepatu?" geram Yuta yang tak bisa menahan kekesalannya. Rasanya dia menyesal baru saja melontarkan pujian pada perempuan itu.
"Aku terlalu gugup sampai tak menyadari berjalan pincang. Lagi pula sepatu itu memang longgar di kakiku. Sudah, lebih baik kau ambil sepatuku itu sebelum lebih banyak yang melihat kita."
Yuta mengembuskan napas kasar. Ia terpaksa harus memanjat pohon untuk mengambil sepatu Mayu yang tersangkut.
Sekitar lima menit kemudian, mereka berjalan kembali menuju vila tempat menonton pertunjukan pacuan kuda. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil mewah berhenti tak jauh dari mereka. Beberapa bodyguard bergegas menghampiri untuk membuka pintu, dan memayungi seseorang yang baru saja turun dari mobil tersebut.
"Siapa orang itu?" tanya Mayu melihat sosok pria paruh bayah yang tampak parlente dengan pakaian yang sangat necis.
"Dia Tuan Yamada, ayah Chiba," jawab Yuta yang masih menancapkan pandangannya ke arah rombongan tuan Yamada.
"Oh, ternyata calon ayah mertua rupanya!" gumam Mayu cekikikan.
Terlihat dari kejauhan, Chiba Yamada mendatangi ayahnya lalu bersama-sama masuk ke dalam vila tersebut. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah kembali melintas di hadapan mereka.
"Eh, siapa lagi wanita yang baru datang? Cantik sekali!" tanya Mayu melihat sosok yang baru saja keluar dari mobil mewah itu. Wanita itu berperawakan tinggi langsing bak model. Ia memakai gaun cokelat dipadu dengan bolero hitam. Sangat elegan!
Mata Yuta terbelalak seketika saat melihat wanita yang dimaksud Mayu. Pasalnya, dia sangat mengenal wanita tersebut.
"Rinko Sekai!" ucap Yuta dengan ekspresi membeliak.
"Rinko Sekai? Siapa dia?"
"Dia adalah ketua kelompok penipu dari Sendai."
"Hah? Dia penipu juga? Berarti dia saingan kita!"
"Ya. Tahun lalu kelompok kami dan kelompoknya bersaing untuk menipu bos kasino di Macau, tapi persaingan itu dimenangkan oleh kami. Dan sekarang, pasti dia juga mengincar Red Diamond milik Chiba. Rai harus mengetahuinya sekarang!"
Di dalam vila yang cukup ramai, Chiba dan ayahnya terus berjalan memasuki balkon utama bersama para bodyguard yang setia mengawal mereka. Namun, langkah mereka terhenti tatkala dua pria misterius yang berpenampilan aneh menghadang jalan. Satu di antaranya berambut panjang, dan satunya lagi menutup sebelah matanya.
Tuan Yamada bertanya pada sekretarisnya. "Siapa mereka?"
"Sepertinya mereka peramal. Saya memang mendengar kabar bahwa hari ini kita kedatangan peramal tersohor dari Cina.
Pria misterius yang menutup matanya itu lalu berbicara pada Chiba dengan menggunakan bahasa China kuno.
"Apa yang orang ini katakan?" Tuan Yamada mengernyit bingung.
"Maafkan saya Tuan, jika boleh saya memberi peringatan, Anda harus berjalan dengan penuh hati-hati dan menghindari minuman anggur." Sekretaris Tuan Yamada menerjemahkan ucapan peramal tersebut.
Setelah berkata, dua orang peramal itu langsung pergi. Rupanya, kehadiran mereka cukup menarik perhatian ayah Chiba, itu terbukti dengan pandangannya yang masih terarah pada mereka. Sementara, Chiba yang tak sabar meyaksikan lomba balap kuda, memilih berjalan lebih dulu meninggalkan rombongan. Sialnya, baru beberapa langkah seorang pelayan wanita yang tengah membawa beberapa botol anggur, tak sengaja menabraknya hingga membuatnya terhuyung. Kesialan beruntun terjadi saat botol-botol anggur tersebut memuntahkan isinya dan mengenai pakaian pria itu.
"Saya minta maaf." Pelayan itu membungkuk berkali-kali dengan wajah ketakutan.
Melihat hal yang baru saja menimpa anaknya, tuan Yamada kembali teringat perkataan peramal tadi. Dia pun meminta sekretarisnya untuk mencari dua peramal tersebut.
Pelayan yang baru saja menabrak Chiba, lantas kembali bertugas. Saat berada di lantai satu, ia berpapasan dengan dua peramal pria yang sedang dicari oleh Tuan Yamada. Pelayan wanita dan dua peramal pria itu saling melempar senyum penuh arti. Rupanya, dua peramal itu adalah Rai dan Rio, sedangkan pelayan tadi adalah Haru. Ya, penyamaran ini adalah bagian dari misi mereka.
"Oniichan, kau tahu dari mana kalau Tuan Yamada sangat memercayai ramalan dari China?" tanya Rio.
Baru saja Rai hendak menjawab, tiba-tiba seseorang memanggil mereka dari belakang. Saling melirik penuh arti, Rai dan Rio kompak berbalik.
"Kalian dipanggil oleh Tuan Yamada. Sepertinya dia tertarik dengan ramalan kalian. Jika tak keberatan, kalian boleh ikuti saya untuk menemui Tuan Yamada," ucap sekretaris tersebut menggunakan bahasa China.
Rai dan Rio akhirnya mengikuti orang kepercayaan Tuan Yamada. Mereka dibawa menuju balkon utama. Tampak di sana Tuan Yamada duduk dengan tenang, bersama Chiba yang telah berganti pakaian. Kedua pria yang tengah menyamar itu kini kembali berada di hadapan Tuan Yamada.
"Aku ingin kau meramal masa depan anakku," pinta Tuan Yamada yang langsung diterjemahkan oleh sekretarisnya.
Chiba yang tersentak, lantas mengajukan protes ke ayahnya. "Kenapa di zaman modern yang serba canggih Papa masih percaya ramalan."
"Aku melihat sesosok wanita yang akan menyinari kehidupannya. Dia yang ceria, baik hati, keibuan dan dapat membuat anak Anda selalu tersenyum," ucap Rai dengan raut serius sambil memerhatikan wajah Chiba dengan saksama. Ucapannya lantas kembali diterjemahkan oleh sekretaris Tuan Yamada.
"Wanita?" Tuan yamada memiringkan sedikit kepala.
"Ya, dia yang memakai warna merah sebagai lambang keberuntungan, kesenangan, keberhasilan dan nasib baik," ucap Rai kembali.
Setelah berkata, Rai dan Rio membungkuk sopan lalu pergi. Di pintu, keduanya bertemu dengan Mayu dan Yuta yang baru saja akan memasuki balkon tersebut, kemudian keempat orang itu membuat gerakan isyarat yang hanya diketahui oleh mereka.
Sesampainya di balkon, Mayu mengambil segelas minuman tak beralkohol yang ditawarkan pelayan padanya. Ia menyesap minuman tersebut, lalu berakting seolah tersedak hingga membuat Tuan yamada menoleh ke arahnya.
"Wanita yang memakai warna merah," ucap Tuan Yamada sambil memerhatikan warna rompi yang dipakai oleh Mayu.
"Sayang!" Suara wanita manja terdengar dari arah belakang.
Tanpa sadar, Mayu dan Yuta menoleh ke belakang. Mata mereka seakan hendak meloncat saat melihat Rinko Sekai datang dan melewati mereka lalu berjalan ke arah Tuan Yamada. Pasalnya, wanita yang merupakan musuh dari kelompok mereka itu saat ini menggunakan gaun merah panjang.
"Apa? Dia mengganti gaunnya dengan gaun berwarna merah?" Mayu mengingat saat wanita itu keluar dari mobil, dia memakai gaun berwarna cokelat, bukan berwarna merah.
Sementara, Yuta hanya bisa menggertakkan giginya. Dia merasa Rinko telah membaca taktik mereka.
Rinko menghampiri tuan Yamada dan Chiba. Kehadirannya membuat pria berusia senja itu tampak sumringah.
"Wow, merah! Ternyata kaulah yang dimaksud peramal tadi. Wanita ceria, baik hati, dan keibuan. Dia cocok menjadi ibumu, Chiba!" ucap Tuan Yamada sambil merangkul mesra pinggang Rinko Sekai.
Mendengar hal tersebut, ditambah lagi gaya Rinko yang bergelut manja di pundak Tuan Yamada, membuat Yuta dan Mayu melongo seketika.
"A–apa? Ca–calon ibu?" kata Mayu terbata-bata, kali ini dia benar-benar tersedak.
Yuta yang tak kalah terkejut pun berkata, "Ternyata wanita sialan itu menjadi kekasih Tuan Yamada. Kali ini dia maju selangkah lebih cepat dari kita."
Rinko menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Yuta dan Mayu. Dia melempar tatapan sinis dengan ekspresi penuh ledekan. "Jangan harap kali ini kalian bisa menang dariku. Aku tidak akan membiarkan Red Diamond itu jatuh ke tangan kalian," ucap Rinko dalam hati.
.
.
.
Visual Rinko ada di chapter awal, yaa. ntar chapter-chapter ke depan bakal dimasukin visual lagi. Sampai bab ini konflik belum masuk karena masih pengembangan cerita dan pengenalan tokoh. Maaf kalo menurut kalian cerita ini kurang seru, yaa... hehe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
"ariani's eomoni"
🤣🤣🤣
2024-09-26
0
Yoseva
udah baca GA, DF, NN...swmuanya serius pake banget...baca yg ini malah dibikin ngakak...makasih kak Yu...maaf ye pembaca baru yg coba menyaluarakan isi hati...gk kuat nahan ketawa...wkwk😁😁🙈
2023-10-02
1
Sifa Fatimah
ampunnn mayuu kamu kocak bener 😆 cerita nya seru bahasanya juga enak untuk d baca. jdi kita bisa masuk ke ceritanya.
2023-08-26
0