Mayu menggerakkan tubuhnya di atas ranjang besar. Iris hitam itu perlahan berkedip menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke retina matanya.
Gelap, terang.
Gelap, terang.
Saat kesadarannya telah penuh, matanya terbelalak seketika mendapati dirinya berada di sebuah kamar asing yang cukup besar yang dibatasi dengan sekat serba kaca. Dari kaca tersebut, dapat terlihat jelas keadaan luar kamar. Menyadari ini bukan di kediaman Rai dan kawan-kawan, Mayu mencoba mendudukkan badannya yang terasa berat.
"Di mana ini?" Mayu memijat kepalanya seraya mencoba menggali ingatan tentang apa yang terjadi semalam. Otaknya mengilas balik kejadian runtut dimulai saat ia bersiap untuk ke pesta anak perusahaan Yamada grup, lalu melihat Haru mencium Rai yang membuat hatinya terbakar, dan berakhir di pesta mewah. Seingatnya, ia akan menjalankan misi mendekati Tuan Yamada, tapi karena kesal ia justru minum banyak anggur di pesta. Kini terasa fatal, karena ia sudah tidak mengingat apa pun setelah itu.
Aku lupa kalau semalam aku mabuk berat. Rai, pasti akan memarahiku.
Mayu tampak panik sambil menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya. Ia tersentak ketika melihat telapak tangannya terbungkus perban.
Tunggu! Ia berpikir keras sambil mencoba kembali mengingat-ingat kejadian saat ia mabuk. Yang terbesit di benaknya adalah seseorang menggendongnya lalu membawanya masuk ke mobil.
Menyadari hal itu, membuat mata Mayu membeliak seketika bersamaan dengan tarikan napas yang menunjukkan keterkejutan tak terkira.
"Jangan-jangan ... aku sedang diculik!" Mayu menyilangkan kedua tangannya di dada seiring ketakutan menyergap dirinya. Namun, tepat saat itu juga, tercium aroma sosis panggang yang begitu menggairahkan sehingga membuat rasa takutnya luntur berganti dengan nyanyian dari isi perutnya yang kosong.
Ia menatap jarum panjang di jam dinding yang terletak searah dengan pandangannya. Sudah hampir pukul sembilan pagi. Aroma sosis panggang kembali menyeruak masuk ke indera penciumannya, seakan memaksa dirinya untuk bangun dan segera beranjak.
Mayu berjalan mengendap-endap ke arah pintu. Dari sekat kaca ruangan tersebut, ia bisa melihat seorang pria tengah sibuk memasak.
Siapa dia? Dia tidak mungkin Rai, kan?
Pria itu berbalik tepat saat kepala Mayu mengintip keluar dari pintu kamar. Mata wanita itu melebar tatkala menyadari pria yang tengah memasak itu adalah Chiba Yamada.
Apa aku tidak salah lihat?
Mayu memegang dadanya. Jantungnya seakan hendak lepas. Ia mengintip sekali lagi untuk memastikan penglihatannya. Pria berkulit seputih salju itu benar-benar adalah penyanyi pop yang memiliki kalung Red Diamond. Meskipun penampilannya tampak berbeda dari biasanya, yang mana saat ini ia tengah memakai celemek dan rambut depannya dikuncir bagai pohon palem, tapi hal tersebut sama sekali tak mengurangi ketampanannya.
Ba–bagaimana bisa aku bersamanya? Apa ini apartemen miliknya?
Mayu masih tak percaya. Sampai-sampai ia menampar pipinya sendiri untuk memastikan ini bukan mimpi. Benar, ini nyata! Lalu, kenapa dia bisa berada di sini?
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Ia mengenali itu nada ponselnya. Wanita yang masih memakai gaun merah itu tampak kelabakan mencari ponsel. Rupanya benda itu terletak di nakas samping ranjang. Ia segera menerima panggilan telepon itu ketika melihat nama Rai tertera dalam layar ponsel.
"Moshi-moshi ...."
"Bagaimana semalam dan bagaimana hari ini?" tanya Rai begitu telepon tersambung.
"Apanya yang bagaimana?"
"Bukankah kau berada di apartemen artis itu dari semalam? Bahkan Rio dan Yuta melaporkan hingga kini kalian belum juga keluar dari apartemen!"
"Aku tidak tahu apa-apa. Aku sendiri baru saja bangun," ucap Mayu dengan suara seperti berbisik.
"Baru bangun? Ah, jangan-jangan, kalian semalam...."
"Tidak! Tidak Rai!" Mayu cepat-cepat menepis prasangka buruk Rai. Namun, tiba-tiba dia terdiam.
Jika aku tidur di kamarnya, lalu di mana dia tidur? Jangan-jangan ... semalam ... dia ... dan ... aku .....
"Hei!" Suara Rai dari saluran telepon membuyarkan lamunan Mayu yang tengah mengkhayalkan tidur seranjang dengan penyanyi itu.
"Aku ... aku ... tidak tahu Rai, semalam aku ma—"
Rai langsung memotong ucapan Mayu. "Berusahalah untuk menetap di apartemen Chiba Yamada."
"Apa?!"
"Ya, aku ingin kau menetap di sana."
"Bagaimana bisa?"
"Pikirkan sendiri. Pokoknya kau harus berusaha tinggal di sana lebih lama untuk mencari tahu di mana pria itu menyimpan Red Diamond."
"Ta–tapi, Rai ....."
Telepon langsung terputus saat Mayu masih ingin bicara. Ia hanya bisa mendengus kesal seraya meminggirkan anak rambutnya ke belakang. Ia pun memutuskan keluar kamar untuk menemui Chiba. Terlihat, pria itu tengah sarapan di meja makan.
Mayu berjalan mendekat sambil berdeham dan sukses membuat Chiba menoleh ke arahnya.
"Kau sudah bangun?" tanya pria itu sambil menikmati sarapan.
"Ohayou!" sapa Mayu sambil terus berjalan ke arahnya. Ia hanya bisa meneguk ludah melihat menu sarapan bergizi pria itu.
"Jika sudah bangun, kurasa kau tahu apa yang harus kau lakukan," ucap pria itu kembali tanpa melirik ke arahnya.
"Eh?" Mayu mengernyit tak paham.
Chiba menatap wajah kusut Mayu sambil berkata, "Kau boleh pulang!"
Apa? Apa aku diusir?
Melihat Mayu yang mematung, Chiba pun tersenyum kecil.
"Oh, Gomen, aku lupa kalau kau ke sini tanpa kendaraan. Chotto, aku akan menelepon supir ayahku." Chiba mengambil ponselnya lalu tampak hendak menghubungi seseorang.
"Ano ...." Mayu berusaha menghentikannya.
Chiba kembali melirik ke arahnya.
"Aku ... aku tidak bisa pulang."
Chiba meletakkan sendok dan pisau makannya di samping piring, lalu menautkan jari-jari tangan dengan pandangan lurus ke arah Mayu seolah menanti alasan wanita itu.
"Aku sudah tidak punya rumah lagi. Aku baru saja ditipu mantan kekasihku, uang dan hartaku terkuras habis. Sementara, dia seenaknya melarikan diri dan kabur bersama wanita lain." Mayu mulai berakting menceritakan kisah penipuan yang dialaminya dengan menunjukkan wajah sedih tak berdaya.
"Karena itulah kau mabuk berat semalam?"
Mayu mengangguk cepat. Ia merasa ceritanya berhasil menyentuh hati pria itu.
"Kalau begitu kau seharusnya ke kantor polisi."
"Aku sudah datang melapor. Tapi mereka tak percaya karena aku tidak memiliki bukti."
"Kalau begitu, mereka sama sepertiku. Aku juga tidak percaya."
Sialan! Dia pikir aku membual? Ini kan fakta yang sedikit kupelintir.
"Ya, ya, ya!" Mayu tersenyum getir, "tidak sepantasnya aku mengatakan ini padamu. Masalahku bukan urusanmu. Arigatou gozaimasu sudah menolongku. Tapi jika aku boleh meminta bantuan lagi, aku ingin kau memperkerjakan aku di sini. Paling tidak, aku butuh tempat tinggal dan pekerjaan sementara waktu."
"Bekerja? Sebagai apa?" tanya Chiba sambil memicingkan sebelah mata.
"Aku ... aku bisa menjadi asisten rumah tangga seperti membersihkan apartemen ini. Aku tahu, sebagai seorang idola kau pasti sangat sibuk dan tidak punya waktu membersihkan perabotan."
"Aku tidak pernah menghabiskan waktu untuk membersihkan apartemen ini."
"Ah ... tentu aku tahu! Mana mungkin seorang superstar seperti dirimu melakukan hal-hal tidak penting seperti itu, untuk itu kau pasti membutuhkan seseorang yang bisa merapikan apartemenmu," ucap Mayu menyengir bodoh.
Chiba tersenyum miring. Ia mengambil segelas susu yang berada di samping piring, lalu menumpahkannya ke lantai hingga membuat Mayu terkejut. Setelah itu, ia menekan sebuah remote kontrol, dan tak lama kemudian sebuah robot setinggi pundak orang dewasa datang dan membersihkan susu tersebut.
"Ini adalah robot ciptaan ilmuwan bernama Rui Nakajima. Robot ini didesain khusus untuk membereskan rumah. Harganya bisa untuk membayar jasa Asisten Rumah Tangga selama sepuluh tahun ke depan," jelas Chiba sambil menunjukkan senyum tipis.
Mayu melongo seketika. "Kalau begitu, aku jadi supirmu saja. Iya ... aku bisa menyetir mobil," ucap Mayu berusaha meyakinkan.
"Aku lebih suka menyetir sendiri, dan lagi pula ... aku tidak suka seseorang memegang barang kesukaanku, termasuk mobil."
"Bagaimana kalau aku menjadi asistenmu saja? Bu–bukankah seorang idola terkenal sepertimu membutuhkan asisten yang selalu siap sedia?" tawar Mayu dengan wajah memelas.
Chiba menggeleng pelan. "Aku tidak suka memakai jasa asisten pribadi. Sepanjang berkarir, sudah ada sekitar dua puluh sembilan asisten yang kupecat, apa kau mau menggenapkan menjadi tiga puluh?"
Mayu menahan napas. Ia sudah mulai kehilangan akal. Apa lagi yang harus ia katakan agar dia bisa tetap berada di apartemen ini?
Di saat ia sedang berpikir keras, Chiba justru menerima panggilan telepon dari manajer Thao.
"Apa? Skandal foto dan video?" ucap Chiba kaget saat mendengar kabar dari manajer Thao terkait foto-foto dirinya dan Mayu yang tersebar di berbagai sosial media. Dan juga gosip yang mengatakan jika dia mengencani wanita mabuk di apartemennya.
Chiba langsung menutup telepon tersebut dan berjalan cepat ke arah pintu utama. Mayu pun turut bergegas mengekornya dari belakang. Pria itu terperanjat saat monitor yang terletak di samping pintu menunjukkan para wartawan telah berkumpul di depan apartemennya.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Hearty💕💕
Ah ada hasil penemuan Rui...
2024-09-24
0
liesae
sempurna bgt ya chiba..
2023-12-08
0
sakura🇵🇸
rui kajima kesayanganku🤭
saat kena skandal sepertinya bakalan chiba yang nawarin kerjasama ke mayu😅😅
2023-02-21
0