Mayu kembali ke kamar dengan perasaan berkecamuk. Otaknya mengilas balik adegan yang baru saja dilihatnya, yaitu ketika Haru memeluk Rai dan mencium bibirnya. Apakah dia benar-benar tidak salah lihat? Tidak, Tidak! Itu nyata. Dia tidak berhalusinasi.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Haru tega melakukan itu ketika ia baru saja mengatakan menyukai Rai? Bagaimana bisa Haru menikamnya dari belakang ketika ia menjadikannya tempat mencurahkan isi hati?
"Kenapa kau belum keluar kamar juga?" Suara Rai membuatnya tersentak.
Kehadiran Rai yang mendadak membuatnya terlongong-longong. Tanpa berkata, ia segera berdiri dan menyusul Rai untuk bersiap ke pesta ulang tahun Yamada Grup. Sepanjang jalan, ia sibuk bermonolog dalam hati sambil memerhatikan ekspresi Rai yang santai seperti biasa.
Kenapa Rai biasa saja setelah dicium Haru? Apakah semua pria bersikap seperti itu setelah dicium seorang wanita, meskipun mereka tak memiliki rasa?
Dengan sikap Rai yang terlihat biasa saja, tentu membuatnya sakit hati. Lucu, mereka tidak menjalin hubungan apa pun selain rekan sesama penipu. Namun, dirinya seakan tersulut api setiap teringat hal itu. Ia makin bertambah kesal puluhan kali lipat pada Haru karena dianggap berusaha merebut Rai darinya. Bahkan, ia sama sekali tak mendengar ketika Rai dan Yuta tengah menjelaskan apa saja yang harus ia lakukan di pesta itu.
Mereka telah sampai di sebuah hotel tempat dilaksanakan pesta anak perusahaan Yamada Grup. Pesta itu begitu meriah dan berkelas. Tak hanya dihadiri para pebisnis, tapi juga dari kalangan, pejabat, sosialita, dan artis. Banyak jamuan makan malam ala menu internasional yang melimpah ruah. Suara alunan musik klasik yang ditampilkan secara langsung menggema di tempat itu, seakan menambah kesan kemewahan pesta tersebut.
Yuta dan Rai menyamar sebagai pebisnis muda, sedangkan Mayu menyamar sebagai sosialita. Mereka membuat kartu undangan tiruan agar bisa masuk. Sampai di ballroom, mereka berpencar dengan misi masing-masing.
Tuan Yamada sibuk menyambut tamu dan terlihat beberapa kali sedang berbicara dengan rekan bisnisnya. Sementara, Rinko Sekai tampak setia menemaninya. Dari pintu masuk, terlihat Chiba baru saja hadir di acara tersebut. Kehadirannya tentu saja menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar dan para wartawan yang sibuk mencari bahan berita. Apalagi, hari ini dia tampil sangat sempurna dengan memakai tuksedo hitam putih yang dipadukan dengan dasi kupu-kupu.
"Yamada Chiba-san." Para wartawan meneriakinya.
Chiba melempar senyum ramah ke arah para kuli tinta. Namun, ketika mereka hendak mendekat untuk mewawancarainya, ia segera mengangkat tangan kanannya yang mengisyaratkan bahwa ia enggan diganggu. Ia lalu menghampiri ayahnya yang sedang bersama Rinko.
Saling berhadapan dengan kekasih ayahnya, Chiba menunduk sopan ke arah Rinko, lalu berkata pada ayahnya, "Papa, Ken baru saja menghubungiku. Dia tidak bisa hadir ke sini karena masih berada di Fukuoka. Ada proyek pemotretan dadakan yang tidak bisa ditunda."
"Tidak masalah," jawab Tuan Yamada. Ia lalu menoleh ke arah Rinko sambil berkata, "Ken adalah anakku yang telah menikah dan memberiku cucu yang tampan."
"Ah, dia seorang fotografer profesional, kan? Tapi, kenapa dia tidak memakai nama belakang Yamada?" tanya Rinko yang pura-pura tidak tahu-menahu soal latar belakang keluarga mereka.
"Dia senang memakai nama belakang ibunya. Lagi pula dia ingin membuktikan bisa sukses tanpa membawa nama besar keluarga," jawab tuan Yamada yang terlihat bangga.
"Papa, aku ke sana dulu," ucap Chiba pamit.
"Jangan lupa, kau harus menjauhi segala jenis anggur." Tuan Yamada memperingatinya sesuai dengan ramalan peramal China saat di peternakan kuda.
Chiba mengabaikan ucapan ayahnya. Ia langsung melangkah pergi ke tempat sepi menghindari keramaian orang-orang.
Mata Rinko memantau keadaan sekitar. Tanpa sengaja, ia menangkap kehadiran sosok Rai yang juga melihatnya. Keduanya saling melempar tatapan lalu tampak berjalan saling menemui. Mereka menepi untuk berbicara empat mata.
"Sugoi! Kau telah menjadi kekasih konglomerat sekarang. Omong-omong, kapan hubungan kalian diresmikan? Jangan lupa mengundangku," ucap Rai mengawali obrolan mereka.
Rinko tersenyum sinis. Dengan ujung alis yang terangkat, ia berkata, "Berhentilah mencemoohku karena kali ini aku tidak akan kalah dari kalian!"
"Mencemooh?" Rai bersikap seolah tak mengerti.
"Bukankah kita ke sini karena misi yang sama? Red Diamond!" Rinko berucap tanpa basa-basi.
Rai tersenyum miring. "Kau seharusnya tidak membocorkan misimu pada lawan."
"Tanpa aku bocorkan, kau juga bisa menebaknya, kan? Sama seperti aku yang bisa menebak taktikmu di peternakan kuda waktu itu," sindir Rinko sambil hendak meninggalnya. Namun, Rai berusaha menahan tangan Rinko. "Ada apa lagi?" tanya Rinko?"
Rai bergeming. Ia menoleh ke arah Tuan Yamada. Pria itu masih sendiri tanpa ada siapapun di sisinya. Seharusnya, ini saatnya Mayu bergerak. Ya, bukan tanpa alasan Rai mengajak Rinko bicara empat mata. Selain untuk membuat wanita itu menjauhi Tuan Yamada, ini juga bertujuan agar Mayu dapat mendekati pria itu. Anehnya, hingga kini Mayu tak terlihat.
Tak jauh dari tempat Tuan Yamada berpijak, Yuta tampak sibuk menghubungi Mayu karena dia bingung mencari keberadaan perempuan itu. Dia takut kalau wanita itu justru tersesat atau salah orang. Sayangnya, teleponnya tak kunjung diterima oleh Mayu.
"Ke mana dia?" Yuta masih berusaha menghubunginya, sambil sesekali menelisik keadaan sekitar. Sementara, Rai masih mencoba mengajak Rinko berdebat sambil menunggu Mayu menjalankan aksinya.
Kekesalan Mayu rupanya terbawa sampai di pesta itu. Terbukti, ia tidak menjalani misi yang telah disusun oleh Rai dan Yuta. Sebaliknya, wanita itu justru menuju ke meja
tempat disajikan berbagai jenis minuman anggur dari yang memiliki kadar alkohol rendah sampai yang tertinggi.
Kehadirannya malam ini cukup mencuri perhatian beberapa pria. Apalagi penampilannya cukup berani. Ia menjadi satu-satunya wanita yang memakai gaun merah di acara tersebut. Gaun yang dipakainya itu tidak hanya membentuk lekukan tubuh, tapi juga mengekspose punggung mulusnya.
Tanpa ragu, Mayu mulai menuang anggur di gelas kristal dan menyesapnya dengan sekali tegukan. Semua jenis anggur dicobanya. Tak membutuhkan waktu lama, ia pun mulai merasakan sensasi mabuk. Di tengah keadaan mabuk, ia terus membayangkan saat Haru mencium Rai.
Chiba tengah menikmati alunan musik klasik sambil sesekali menyesap anggur merah.
"Dasar munafik!"
Suara umpatan wanita yang terdengar keras di telinganya, membuat Chiba terhenyak. Ia segera memalingkan wajahnya ke kiri dan kanan mencoba mengetahui sumber suara tersebut. Sepertinya ia tak menemukan siapapun.
"Dasar serigala berbulu domba! Tunggu saja, setelah pulang dari pesta ini, aku akan menjambak-jambak rambutmu dan mencakar-cakar mukamu yang polos itu!"
Chiba menoleh ke belakang dan melihat sesosok wanita bergaun merah yang berdiri membelakanginya sambil mengangkat tinggi-tinggi gelas yang berisi anggur. Akhirnya dia mengetahui wanita itulah yang sedari tadi tampak mengumpat kesal.
Chiba kembali menghadap ke depan, berusaha mengabaikan hardikan wanita yang tak dikenalinya. Namun, tampaknya wanita itu terus meracau tak jelas, sehingga mau tak mau telinganya terus menangkap apa yang dia ucapkan. Jujur, racauan wanita itu justru membuatkan tertawa geli sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dari ucapannya, ia bisa menyimpulkan jika wanita itu tengah patah hati dan terkhianati.
Tak sanggup melawan rasa penasaran, Chiba pun kembali berbalik. Baru saja menoleh ke belakang, ia langsung disambut oleh semburan anggur dari mulut wanita itu. Terlalu banyak minum, membuatnya tersedak hingga anggur yang telah berada dalam mulutnya harus menyembur kembali. Dan sialnya, mengenai wajah Chiba.
Wajah Chiba basah kuyup seketika. Sementara, wanita tadi berjalan sempoyongan meninggalkannya tanpa rasa bersalah.
"Chiba, kau dari mana saja? Aku mencarimu ke mana-mana!" Manajer Thao datang menghampiri Chiba dan langsung tercengang melihat wajahnya yang basah. "Kenapa dengan wajahmu?"
Chiba bergeming tenang. Untung saja wanita itu sedang mabuk, jadi dia memakluminya. Ia mengambil sapu tangan dari saku jasnya, lalu mengelap wajahnya dengan cepat.
Manajer Thao mencium aroma anggur yang kuat di sekitar wajah Chiba. "Si–siapa yang menyirammu?"
Di sisi lain, Rai datang menemui Yuta yang masih sibuk menghubungi Mayu.
"Ke mana Mayu?" tanya Rai cepat.
"Aku tidak tahu, dari tadi dia susah dihubungi."
PRAAANNGGG!
Gelagar gelas-gelas pecah memekakkan telinga para tamu yang hadir. Seorang wanita jatuh tersungkur di lantai bersamaan dengan serpihan kaca dari gelas-gelas yang jatuh berhamburan. Semua mata orang-orang terarah pada wanita tersebut. Termasuk Chiba dan manajer Thao yang berdiri tak jauh dari tempat jatuhnya wanita bergaun merah tersebut.
Orang-orang berkumpul mengerumuni wanita itu sambil melempar berbagai macam ekspresi. Ada yang tertawa, ada menggeleng-geleng heran, ada pula yang melempar tatapan sinis penuh ejekan. Wanita itu berusaha berdiri dengan tubuh yang tak stabil karena mabuk berat.
"Kenapa kalian menertawakanku? Apa melihat orang jatuh kalian anggap lucu?!" teriak wanita itu dengan suara yang tidak stabil karena kesadaran yang tidak penuh.
Melihat wajah wanita yang sempat menyemprotkan anggur di wajahnya, Chiba lantas tersentak. "Bukankah dia ... gadis sepatu terbang?"
"Kau mengenalnya?" tanya manajer Thao dengan cepat.
Chiba mengangguk sambil mengingat kejadian beberapa hari lalu, tepatnya saat kuda yang ditungganginya hampir menabrak wanita itu.
Kini, beberapa petugas datang menghampiri wanita itu, kemudian hendak membawanya keluar karena dianggap membuat keributan.
"Hei, lepaskan aku! Aku bisa keluar sendiri tanpa kalian suruh! Aku juga tidak mau berada di tempat ini!" teriaknya sambil berusaha melepaskan tangannya. Ia bahkan tak segan menendang petugas keamanan.
Melihat tingkah konyol wanita itu, membuat Chiba tersenyum lebar. Entah kenapa, kelakuan wanita bergaun merah yang tak biasa dengan wanita-wanita kelas atas pada umumnya justru menarik perhatiannya, hingga beberapa kali ia harus menutup mulutnya karena menahan tawa.
Kejadian itu juga mengalihkan perhatian Rai dan Yuta yang sibuk mencari Mayu. Pandangan mereka sama-sama terpaku pada wanita yang tengah membuat keributan.
"Mayu?" Rai melebarkan matanya.
"Apa yang dilakukan wanita gila itu? Apa dia ingin membuat lelucon di tempat ini?" Yuta menepuk dahinya seraya bernapas gusar. Ia segera melangkah menghampiri Mayu yang telah berjalan meninggalkan tempat itu. Namun, Rai segera menahan tangannya.
"Jangan mengejarnya. Biarkan saja!" pinta Rai sambil mengedikkan dagu ke samping kanan.
Yuta segera menoleh ke arah yang ditunjuk Rai. Rupanya, Chiba Yamada tampak menyusul Mayu dari arah belakang. Ia bahkan turut meninggalkan tempat pesta.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Hearty💕💕
Ada harapan ya Rai dan Yuta
2024-09-24
0
sakura🇵🇸
yang natural lebih mempesona chiba ternyata😅
2023-02-21
1
Kᵝ⃟ᴸуυℓ∂єρ
ayo chiba
bikin Rai jealous 😁
2022-05-29
0