para tamu undangan berlari kearah pintu keluar dan berdesak-desakan untuk menyelamatkan diri.
Team evakuasi sudah siap mengevakuasi dan begitu mendapat laporan dari Vivian jika ada lima bom yang sedang aktif, team penjinak bom juga sudah siap dengan alat-alat mereka.
Alarm yang ada digedung terus berbunyi, sebagian petugas yang ada didalam gedung menertipkan tamu agar tidak ada yang terjatuh dan terinjak.
Korban yang terkena tembakan juga dievakuasi dan dibawa keluar oleh petugas, mobil Ambulance dan mobil kebakaran sudah dipanggil, mereka harus waspada dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Clarina masih mencari Matthew karena dia mau mengajak Matthew pergi dari sana, setelah tamu undangan sudah banyak keluar, Clarina melihat Matthew bersama dengan gadis yang berdansa dengannya tadi dan segera berlari kearahnya.
Vivian mengangkat rambutnya keatas dan mengikatnya, dia harus bergegas melihat bom-bom itu tapi pada saat dia hendak melangkah pergi, Matthew menahan tangannya.
"Babe, ikut aku keluar!" ajaknya.
"Kenapa kau belum keluar? Disini sangat berbahaya jadi keluar!" perintah Vivian.
"Tidak, aku akan keluar denganmu!" Matthew tidak mau melepaskan tangannya.
"Jangan membuang waktuku, waktu terbuang banyak dan benda-benda itu bisa meledak kapan saja!"
"Tapi benda itu sangat berbahaya!" Matthew masih tidak mau melepaskan tangan Vivian, apa dia tidak tahu betapa berbahayanya benda yang ada di atas meja kue? Dia tidak akan membiarkan gadis incarannya mati meledak.
"Lepaskan Fredd, menjinakkan bom adalah keahlianku!" jawab Vivian dan sebelum Matthew mengucapkan sesuatu Clarina sudah berlari kearahnya dan masuk kedalam pelukannya. Saat pegangan tangan Matthew terlepas, Vivian segera berlari kearah bom untuk melihat benda itu.
"Matt, ayo kita keluar," ajak Clarina.
Matthew mendorong bahu Clarina hingga pelukannya terlepas, dia juga memandang Vivian yang sudah berdiri didepan bom yang ada dimeja kue.
"Clarina segera ajak kedua orang tuamu pergi sejauh mungkin! Pergi yang jauh dan jauhi gedung ini sejauh mungkin. Jangan berada didekat gedung dalam jarak sepuluh meter!"
"Kenapa?" tanya Clarina tidak mengerti.
"Pergi!"
"Bagaimana denganmu?" tanya Clarina lagi.
"Aku akan membantunya jadi segera pergi!"
Clarina mengangguk dan segera berlari keluar, saat itu team penjinak bom sudah masuk kedalam Karena para tamu sudah keluar. Matthew ingin menghampiri Vivian tapi seorang petugas menahannya.
"Tuan anda tidak boleh ada disini!" ucap petugas itu.
"Apa? Aku akan membantunya!" ucap Matthew sambil menunjuk kearah Vivian.
"Tuan tolong ini perintah, warga sipil tidak boleh ada disini karena berbahaya."
Matthew sangat kesal dan melihat Vivian kembali, itu bom yang sangat berbahaya, apa Vivian tahu tentang benda itu?
Karena dia terus didesak untuk pergi, dengan terpaksa Matthew keluar dari gedung dan setelah lokasi steril dari warga sipil, seorang petugas menutup pintu gedung karena mereka akan melakukan pekerjaan mereka.
Vivian masih mempelajari bom yang belum pernah dia lihat dimana ditengah-tengah benda berbahaya itu terdapat dua bola seperti kelereng yang berputar berlawanan arah.
Beberapa orang petugas menghampirinya dan memberi alat yang dia butuhkan, Vivian segera mengambil obeng dan mulai membuka sebuah penutup yang ada dibom sedangkan petugas yang lain sedang menjinakkan empat bom lainnya.
"Angel bagaimana?" tanya rekannya dari earphone yang terpasang ditelinganya.
"Aku sedang mempelajarinya," jawab Vivian sambil melihat puluhan kabel berwarna warni bagaikan benang kusut yang ada dibom.
"Berapa waktu yang kita punya?" tanya rekannya lagi.
"Tidak banyak, kurang lebih tiga puluh menit!" jawab Vivian lagi karena angka yang ada dibom sudah menunjukkan angka 25:15.
Diluar sana Matthew sungguh kesal, jika saja dia boleh masuk? Dia segera menghubungi Michael karena dia ingin adiknya meretas cctv yang terdapat didalam gedung untuk melihat situasi didalam.
Begitu mendapat perintah dari Kakaknya, Michael segera meretas cctv yang ada didalam gedung. Michael melihat para petugas juga seorang wanita sedang berusaha menjinakkan sebuah bom yang sangat dia kenal.
"Kak, sebaiknya kau masuk dan bawa dia pergi, kau tahu bom itu tidak bisa dijinakkan," ucap Michael.
"Mich, sambungkan telephoneku ketelephonenya. Aku akan berbicara dengannya!"
"Sebentar!" Michael kembali meretas dan tidak lama kemudian, sambungan telephone Vivian sudah berubah.
"Patrik, patrik!" panggil Vivian karena sambungan telephonenya mengalami gangguan.
"Babe, ini aku!" tiba-tiba saja terdengar suara Matthew.
"Apa? Kenapa bisa kau?!" Vivian sungguh tidak percaya mendengarnya.
"Babe, biarkan aku masuk. Aku akan membantumu!"
"Tidak, kau warga sipil dan kami tidak bisa membahayakan warga sipil."
"Percayalah Babe, aku bisa membantumu!" Matthew meyakinkan.
"Tidak Fredd, ini berbahaya!" tolaknya.
"Trust me babe!"
Vivian berpikir sejenak, mungkin pria itu memang bisa membantu apalagi tidak ada orang yang mau membahayakan dirinya sendiri.
"Baiklah, aku akan meminta mereka membiarkan kau masuk!"
"Segera babe Karena kau tidak punya banyak waktu dan perintahkan orang-orang yang ada didalam untuk pergi dan perintahkan semua orang untuk menjauhi gedung dan jangan ada yang mendekat dalam jarak radius 10 meter!" perintah Matthew.
Setelah berkata demikian, sambungan telephone Vivian kembali normal dan terdengar suara patrik memanggil-manggil namanya.
"Angel, Angel, apa kau dengar? Seseorang meretas dan menyusup diantara pembicaraan kita!" ucapnya.
"Patrik tarik pasukan dan perintahkan team yang ada didalam untuk pergi, jauhi gedung dan jangan ada yang mendekat dalam jarak radius 10 Meter. Seorang pria yang ada dipintu, biarkan dia masuk!" pinta Vivian.
"Tapi Angel?"
"Patrik lakukan, kita tidak punya banyak waktu!"
Sesuai permintaan Vivian, pasukan ditarik dan para petugas yang sedang menjinakkan bom diperintahkan keluar. Mereka diminta untuk menjauhi gedung, area gedung disterilkan dan tidak ada yang boleh mendekat dalam jarak 10 meter.
Matthew diperbolehkan masuk dan dia segera berlari mendekati Vivian yang masih melihat serangkain kabel yang rumit.
"Bagaimana babe?" tanya Matthew sambil membuka jasnya.
"Aku sudah memotong dua kabel ini tapi bolanya masih tetap berputar," jawab Vivian.
"Sisanya serahkan padaku!" ucap Matthew.
"Kau yakin?"
"Babe, waktu tinggal sepuluh menit lagi."
Vivian segera bangkit berdiri sedangkan Matthew mengambil kendali.
Vivian melihat Matthew dengan penuh selidik, pria itu pasti bukan orang sembarangan. Dia bahkan tampak ahli dan tidak ragu sama sekali saat memotong beberapa kabel dan menyambungkan kabel yang satu kekabel yang lain.
Tidak lama kemudian, Matthew telah selesai. Angka di bom sudah berhenti begitu juga dengan dua bola yang berputar sedari tadi. Vivian tampak lega tapi Matthew segera bangkit berdiri dan meraih tangan Vivian.
"Ayo segera pergi!" ajaknya.
"Kenapa? Bukankah kau sudah menjinakkan benda itu?"
"Babe, tidak semua bom bisa dijinakkan. Aku hanya mengurangi daya ledaknya saja jadi ayo kita pergi."
Vivian benar-benar heran tapi pada saat itu, muncul sebuah angka dari layar yang terdapat dibadan bom dan angka sudah menunjukkan angka lima.
"Oh My God!" ucap Vivian.
"Go!" Matthew segera menarik tangannya dan mereka segera berlari keluar untuk menjauhi gedung sejauh mungkin dan lima menit kemudian?
"Dhuaaar!" terdengar ledakan dari gedung.
Gedung langsung hancur dan karena mereka belum terlalu jauh dari gedung Matthew menarik Vivian kedalam pelukannya dan beberapa detik kemudian, tubuh mereka terhempas akibat terkena gelombang ledakan.
Matthew mengumpat saat tubuh mereka terhempas keatas aspal jalan. Beruntungnya dia sudah melakukan sesuatu pada bom itu jika tidak mungkin mereka akan ikut meledak dan gedung berlantai sepuluh itu sudah pasti rata dengan tanah tapi walau begitu, dampak dari ledakan tetap dahsyat dan menghancurkan benda yang ada didekat gedung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
soso
Wong Twins yg menciptakan bomnya jd lbh tau daya ledaknya sebesar apa
2023-03-30
3
Ida Lailamajenun
ini bom emg sengaja dipasang Matt kali ya buat nguji si angel..
2023-03-14
0
Alexandra Juliana
Mainan si kembar sejak kecil, jd setidaknya dia paham..
2022-09-05
2