Pagi itu, terdengar suara gesekan pedang dikediaman rumah Adison karena saat itu, Vivian sedang bermain Anggar dengan kakeknya.
Mereka memang suka melakukan olahraga itu jika ada waktu senggang. Tidak hanya itu, sebenarnya hari ini Vivian akan berangkat ke Amerika untuk menjalankan misinya disana.
Setelah membujuk ibu dan ayah juga kekeknya, akhirnya Vivian di ijinkan berangkat ke Amerika untuk melakukan tugasnya walaupun semula ibunya tidak mengijinkannya Karena Amerika sangat jauh tapi Vivian membujuk ibunya hingga dengan berat hati Marta menginjinkannya untuk pergi bertugas.
Walaupun Vivian tidak dilahirkan olehnya tapi bagi Marta, Vivian sudah seperti putri kandungnya sendiri dan dia merasa berat untuk melepaskan Vivian pergi jauh.
Vivian mengarahkan pedangnya kearah kakeknya dengan sikap kuda-kuda begitu juga yang dilakukan oleh kakeknya, walaupun dia sudah tua tapi dia suka melakukan olahraga itu dengan cucunya.
Cucu pertamanya yaitu putri dari putranya tidak suka dengan profesi kakeknya yang seorang Tentara, dia lebih suka dengan profesi ayahnya bahkan cucunya menikah dengan seorang pejabat.
Berbeda dengan Vivian, karena tragedi yang dia alami, membuat Vivian ingin seperti kakeknya. Dia ingin menjadi wanita kuat dan hebat agar tidak mudah ditindas. Semua pencapaian yang dia dapat hari ini, adalah berkat usaha dan didikan kakeknya.
Vivian memajukan langkahnya dan mengarahkan pedang Anggar yang lentur ketubuh kakeknya tapi pada saat itu, David Adison menangkis pedang Vivian dan memajukan langkahnya untuk melakukan serangan tapi Vivian memundurkan langkahnya untuk menghindari serangan pedang yang diberikan oleh kakeknya.
"Kakek kurang cepat," ucapnya.
"Kakek sudah tua seharusnya kau tahu!" jawab David.
Vivian terkekeh dan mengarahkan pedangnya kembali.
"Kakek, menurutmu berapa lama aku bisa menyelesaikan misi ini?" tanya Vivian sambil menyerang kakeknya kembali.
"Tiga bulan, kakek tebak kau akan menjalankan misi ini dalam waktu tiga bulan," jawab kakeknya sambil menghindar serangan Vivian.
"Kakek mau taruhan denganku?" tanya Vivian lagi sambil menyerang kakeknya.
"Mau bertaruh apa?" tanya David pula. Dia terus menghindari serangan pedang Vivian yang diarahkan kearahnya.
"Jika dalam waktu tiga bulan?" Vivian kembali menyerang kakeknya dengan pedangnya saat ada celah dan pada saat itu, pedang Vivian mengenai kakeknya.
"Aku menang kakek," ucapnya seraya melangkah mundur.
"Oh aku sudah tua, jadi apa yang kau mau?" tanya David seraya membuka penutup wajahnya.
Vivian juga membuka penutup wajahnya dan mengibaskan rambutnya yang panjang dan tampak basah karena keringat.
"Jika misiku dapat selesai sebelum tiga bulan maka kakek tidak boleh memintaku menikah dan aku ingin berhenti dari Agensi."
"Kau masih muda Vivian kenapa kau ingin berhenti? Karirmu sedang bagus sebaiknya kau berpikir ulang jika ingin berhenti," saran kakeknya.
"Kakek, sudah beberapa tahun ini aku bergelud dengan bahaya dan sekarang aku ingin hidup normal. Cita-citaku tidak saja punya panti asuhan tapi aku juga ingin punya toko kue jadi aku ingin berhenti jadi Agen dan membuka toko kue."
"Tapi Vivian?"
"Kakek terima taruhannya apa tidak?"
"Baiklah, jika dalam waktu tiga bulan kau belum juga kembali maka bersiaplah mencari seorang pria yang harus kau nikahi dan lupakan dia!" jawab kakeknya.
"Kakek jangan khawatir, aku akan meminta seseorang berpura-pura jadi pacarku nanti," jawab Vivian sambil tertawa.
"Hei, tidak boleh curang!"
Vivian kembali tertawa dan membuka baju pelindung yang dia gunakan untuk bermain Anggar.
"Kakek, aku mau mandi karena sebentar lagi aku harus berangkat."
David mengangguk dan memandangi kepergian cucunya sambil menggeleng, bayi yang dia temukan saat sedang bentrok dengan sebuah kelompok kini sudah besar dan dia harap, Vivian selalu bahagia apalagi akibat pelecehan seksual yang dia dapat, David berharap seorang pria bisa mengambil hati cucunya selain pria itu yang tidak jelas entah kemana dan masih ditunggu oleh cucunya.
Didalam kamarnya, Vivian memasukkan barang-barangnya yang tersisa kedalam koper. Dia tidak akan membawa banyak barang karena dia yakin dia dapat menyelesaikan misinya dengan cepat dan segera kembali ke Inggris tapi siapa yang tahu apa yang akan dia alami selama disana?
Setelah merasa cukup, Vivian segera masuk kedalam kamar mandi. Dia harus bergegas karena penerbangannya tinggal dua jam lagi.
Vivian segera menarik kopernya keluar setelah selesai bersiap-siap, sedangkan diluar sana keluarganya sudah menunggu. Marta menangis dan memeluk putrinya, ini pertama kalinya mereka harus berjauhan cukup lama.
"Jaga dirimu baik-baik disana Vivian, jangan lupa makan dan ingat kau harus selalu menjaga kesehatan. Mommy tidak ada disana jadi kau harus banyak makan makanan bergizi," saran ibunya sambil menangis.
"Tentu mom, jangan khawatirkan aku. Aku pasti akan menjaga diri baik-baik disana dan aku akan selalu menghubungi mommy," jawab Vivian sambil membalas pelukan ibunya.
"Mommy pasti akan selalu merindukanmu," ucap Martha lagi.
"Sudahlah dia hanya pergi bertugas saja dan akan segera kembali jadi jangan menangis!" ucap David.
"Daddy tidak mengerti!" Martha mengusap air matanya. Walau Vivian bukan putri kandungnya tapi dia sangat menyayanginya.
"Mommy jangan khawatir, aku akan segera kembali dan akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat," ucap Vivian.
"Mommy harap begitu sayang, jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu."
"Pasti mom," jawab Vivian dan dia memeluk ibunya dengan erat.
Setelah selesai dengan ibunya, Vivian mendekati ayahnya dan memeluknya.
"Jaga dirimu disana baik-baik Vivian," pinta ayahnya sambil mendekap putrinya dengan erat.
"Pasti dad," jawab Vivian dan dia juga memeluk ayahnya.
"Jangan lupa dengan taruhan kita Vivian," ucap kakeknya pula.
"Tentu saja kakek, aku pasti akan akan menang taruhan," Vivian segera memeluk kakeknya.
Sebelum melepas kepergian Vivian, ibu dan ayahnya memeluknya lagi begitu juga dengan kakeknya. Setelah berpamitan dengan keluarganya, barang-barang Vivian dimasukkan kedalam mobil oleh seorang supir yang sudah menunggunya.
"Jaga diri baik-baik sayang," pinta ibunya lagi sebelum mobil yang membawa Vivian bergerak.
"Tentu mom, aku akan menghubungi kakak dan memintanya pulang untuk menjenguk kalian saat aku pergi."
"Tidak perlu, jangan merepotkannya. Kami tidak apa-apa jadi jangan mengganggu kakakmu karena suaminya sedang sibuk," jawab ibunya.
"Baiklah, aku pergi dulu."
"Jaga kesehatan dan hati-hati," ucap Marta sambil melambaikan tangannya.
Vivian juga melambaikan tangan kearah ibu dan ayahnya juga kakeknya. Dia melihat wajah mereka satu persatu dan entah kenapa sebuah perasaan aneh mengalir dari dalam hatinya saat meninggalkan keluarganya.
Setelah mobil yang membawanya sudah menjauh, Vivian menaikkan kaca jendela mobilnya dan menutupnya.
"M, siapapun kau, tunggu saja!" ucap Vivian dalam hati.
Siapapun yang menunggunya di Amerika pasti akan dia temukan dan dia tangkap, dan dia harap bisa menangkap orang itu dengan cepat sehingga dia bisa cepat pulang untuk berkumpul bersama dengan keluarganya lagi tapi Vivian tidak akan pernah menyangka jika hari itu adalah hari terakhirnya bersama dengan kakeknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
🍁K3yk3y🍁
ada sedihnya ada apa dgn kakeknya
2023-02-10
2
Yulianti Yanti
ternyata kisah anak angkat dikeluarga smitt sudah mendarah daging y😆😆😆
2022-12-12
0
Ogi Galuh Anjani Ni Luh
hanya tuhan dan author yang tau
2022-11-23
0