Para penjahat yang menyamar menjadi pelayan mulai berkumpul didapur saat para tamu undangan mulai menikmati hidangan.
Mereka mendapat perintah untuk segera melancarkan aksi mereka untuk mengalihkan perhatian para polisi dan agen yang berjaga jaga ditempat itu.
Pertama mereka akan menangkap salah satu anggota dewan yang diinginkan oleh bos mereka dan menyanderanya dan setelah itu mereka akan mematikan lampu dan tidak lama kemudian, mereka akan muncul saat lampu dinyalakan sambil membawa sandera.
Mereka mulai berpencar, salah satu dari mereka bertugas mematikan lampu, dua orang dari mereka bertugas menangkap sandera dan sisanya bersiap-siap menyergap.
Dengan kaca mata khusus yang bisa melihat dalam gelap mereka tidak akan kesulitan untuk melihat saat lampu sudah dimatikan.
Kelompok itu berjumlah lima orang, itu sudah cukup untuk menarik perhatian dan membawa sandera. Waktunya sudah tiba dan sandera sudah didapatkan, mereka segera melancarkan aksi dan mematikan lampu.
Saat lampu mati, Vivian mendorong tubuh Matthew sedangkan Matthew melepaskannya. Vivian memutar langkahnya dan menarik pistol yang tersembunyi digaunnya, ini sungguh diluar rencana.
Matthew juga memutar langkahnya dan pada saat itu, dia merasa punggung seseorang menempel pada punggungnya.
"Angel, itukah kau?" tanyanya.
"Sttt!" jawab Vivian dan Matthew tersenyum.
"Apa ada orang yang kau incar disini babe?"
"Bisa kau diam!" jawab Vivian kesal, ini pasti ulah Matthew Smith orang yang dia curigai sebagai orang berinisial M yang menantangnya.
Tidak lama kemudian lampu dinyalakan, teriakan seorang wanita memenuhi ruangan. Semua mata langsung tertuju kearah teriakan dan disana lima orang pria berdiri dengan pakaian serba hitam sambil memegang senjata laras panjang dan seseorang menodongkan senjata api dibawah dagu seorang anggota dewan yang menjadi sanderanya.
"Semua angkat tangan!" teriak salah satu dari orang itu sedangkan para petugas yang sedang berjaga didalam menodongkan senjata mereka kearah lima orang itu.
"Jika tidak ingin dia mati buang senjata kalian!" mereka mengancam petugas yang ada disana dan hendak menembak anggota dewan yang menjadi sandera. Para petugas tidak punya pilihan dan membuang senjata mereka.
Vivian juga ingin mengarahkan pistolnya tapi Matthew menahan tangannya.
"Simpan senjatamu babe dan keluarkan disaat yang tepat."
Vivian memandangi Matthew sejenak dan mengangguk, memang ini bukan saat yang tepat karena ada seorang sandera yang bisa ditembak kapan saja. Dari pada senjatanya dilucuti lebih baik dia menyembunyikan benda itu terlebih dahulu jadi Vivian langsung menyimpan pistolnya dibalik gaun sebelum kelima orang itu menyadari jika dia membawa senjata.
"Angel, apa yang terjadi didalam?" tanya rekannya dari earphone yang masih terpasang ditelinga tapi salah satu dari penjahat itu mulai berteriak.
"Letakkan tangan kalian dibelakang kepala dan berjongkok!"
Semua tamu tampak ketakutan dan mulai meletakkan kedua tangan mereka dibelakang kepala, mereka juga berjongkok sesuai perintah. Vivian juga melakukan hal yang sama begitu juga dengan Matthew, mengikuti perintah mereka lebih baik saat ini dan jika ada kesempatan mereka bisa langsung bertindak.
Tidak jauh dari mereka, Clarina juga tampak ketakutan bersama dengan kedua orang tuanya. Mata Clarina mencari Matthew karena hanya dia yang bisa menghentikan semua itu.
"Kalian semua cepat lucuti perhiasan kalian jika tidak kalian akan mati!" salah seorang dari penjahat melemparkan sebuah kantong kain berwarna hitam didepan seorang tamu.
"Kau, cepat kumpulkan dan setelah selesai berikan padaku!" perintahnya.
Tamu itu mengangguk dan dengan tubuh bergetar, dia mulai mendekati tamu lain untuk mengumpulkan barang berharga mereka.
"Angel," rekannya kembali memanggil.
"Diluar rencana, lima perampok menyerang," ucap Vivian dengan pelan.
Matthew dapat mendengarnya dan melihat Vivian, sekarang dia sangat yakin jika Vivian adalah salah satu anggota penegak hukum.
"Lalu bagaimana dengan suasana didalam?" tanya rekannya lagi.
"Aku akan membereskannya dan kalian tetap waspada."
"Baiklah, hati-hati."
Vivian melihat kelima perampok itu lagi dan mencoba menyusun rencana, menembak mereka adalah hal mudah tapi yang jadi masalah adalah sandera.
Para polisi yang ada diluar sana mulai menyergap masuk menggunakan tameng anti peluru, mereka siap menembak para penjahat tapi penjahat itu sudah tahu semua rencana mereka.
"Mundur kalian semua jika tidak aku akan menembak para sandera tanpa ragu!" ancam salah seorang yang menjadi pemimpin kelompok.
"Menyerahlah dan lepaskan sandera!" ucap salah satu pemimpin polisi yang ada diluar menggunakan sebuah pengeras suara.
"Mundur dan biarkan kami lewat setelah kami mendapatkan apa yang kami mau jika tidak semua yang ada disini mati!" teriak pemimpin kelompok itu lagi.
Sebuah remot dikeluarkan dan tombolpun mulai ditekan. Semua mata tertuju pada meja dimana kue ulang tahun tadi diletakkan karena meja itu berbunyi dan terbuka, dari bawah meja muncul sebuah bom dengan daya ledak tinggi dan berbahaya.
Bom diletakkan dibawah kue dengan meja yang sudah dimodifikasi dan tidak ada satu petugaspun yang menyadarinya.
Tidak hanya bom itu saja, dari meja lainnya muncul empat buah bom lainnya dan pada saat melihat benda-benda berbahaya itu, para tamu undangan langsung panik.
Sebagian hendak melarikan diri tapi suara tembakan langsung terdengar bahkan beberapa dari mereka ditembak karena pemimpin kelompok itu marah.
"Diam semua jika tidak aku bunuh dan kalian biarkan kami pergi jika tidak semua sandera akan mati!"
Para tamu undangan langsung diam dan para wanita menangis ketakutan begitu juga dengan anggota dewan yang sedang disandera, dia juga ketakutan.
"Babe, bagaimana jika aku membantumu," bisik Matthew.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?"
"Kita bisa bekerja sama menghabisi mereka dan bom itu, jangan sampai mereka mengaktifkannya!" Matthew melirik kearah bom yang ada dimeja kue.
"Tapi Ingat, ada imbalannya," ucapnya lagi.
"Baiklah," jawab Vivian setuju.
"Jika begitu, perintahkan rekanmu untuk menarik pasukan yang ada diluar!" perintah Matthew.
Vivian melihat Matthew dengan penuh selidik, siapa sebenarnya pria itu? Tidak mungkin dia hanya seorang supir saja.
"Patrik, tarik pasukan," Vivian berbicara dengan rekannya.
"Tapi Angel?"
"Trust me, tarik pasukan dan biarkan mereka pergi dan setelah itu aku akan membereskan mereka."
"Baiklah," sesuai permintaan Vivian, pasukan ditarik dan menjauh dari gedung.
Para penjahat sudah mendapatkan apa yang mereka mau dan mereka mulai menarik pejabat yang mereka sandera untuk dibawa keluar dan perhatian mereka sedikit teralihkan kearah pintu keluar, sesuai perintah yang mereka dapat, mereka sudah harus pergi apalagi tugas mereka untuk mengeluarkan bom sudah selesai.
Itulah tujuan orang yang berinisial M, dia ingin menguji kemampuan Vivian dalam menjinakkan bom apalagi bom yang ada dimeja kue, itu bukanlah bom biasa.
"Sekarang babe!" ucap Matthew seraya menarik dua senjata apinya dari belakang dan begitu mendapat aba-aba, Vivian menarik gaunnya keatas untuk menarik dua pistol yang dia simpan di kedua pahanya.
"Wow, inilah kegunaan lain dari paha wanita!" gumam Matthew dan mereka bangkit berdiri. Mereka mulai menembaki penjahat yang sedang berjalan menuju pintu keluar.
Kelima penjahat itu sangat kaget karena mendapat serangan tiba-tiba dan yang pertama kali Vivian tembak adalah pria yang memegangi sandera sedangkan Matthew menembak dua yang lainnya.
Para tamu undangan berteriak saat tembakan terjadi dan mereka menunduk di atas lantai karena takut tertembak.
Dua orang yang tersisa hendak melarikan diri dan pada saat itu, Vivian dan Matthew sudah menembak mereka.
"Tidak sulit!" ucap Matthew seraya menyimpan pistolnya.
Vivian diam saja dan bertanya dalam hati, semua tamu diperiksa lalu bagaimana pria itu bisa masuk sambil membawa senjata?
Para petugas mulai masuk setelah mendapat laporan dari Vivian untuk mengevakuasi para tamu undangan.
Para tamu tampak lega tapi sayang belum berakhir dan pada saat mereka sedang sibuk menenangkan diri atas apa yang baru saja terjadi, perhatian mereka langsung teralihkan dengan suara dari meja.
"Bip!" semua bom langsung aktif.
Mereka kembali panik dan berusaha berlari keluar secara berbondong-bondong sedangkan Matthew menarik Vivian dan membawanya menjauh agar dia tidak ditabrak dan diinjak oleh para tamu yang panik.
"It's bad!" ucap Matthew saat melihat bom yang ada di atas meja kue sudah aktif sedangkan Vivian hanya menghembuskan nafasnya karena dia belum tahu begitu berbahayanya bom itu. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang melelahkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Ida Lailamajenun
tenang babe angel khn ada Abang Matt menyelesaikan masalah tanpa masalah 😂😂
2023-03-14
1
Ceuranispet Putripaseh
pertemuan yang menegangangkan 😁
2023-01-12
0
Lusy Rosyalina
mirip kisah kakek nya ya, si Jacob
2022-12-22
0