Sebuah surat undangan berada di atas meja kerja Vivian, entah dari siapa tapi surat itu sudah berada di atas meja Vivian dari beberapa hari yang lalu.
Pagi itu Vivian berangkat bekerja seperti biasanya, setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, Vivian sudah bisa kembali bekerja tapi tidak dengan rekannya Felicia yang masih berada di rumah sakit akibat kakinya yang tertimpa puing bangunan.
Sebenarnya keadaannya tidak apa-apa tapi ayah dan kakeknya tidak mengijinkan Vivian bertugas dengan cepat.
Mereka meminta Vivian untuk beristirahat sebelum kembali melakukan pekerjaannya kembali, Jangan sampai Vivian melakukan pekerjaannya yang berbahaya dalam kondisi tidak baik.
"Good morning," Vivian menyapa setiap rekan yang dia jumpai.
"Morning Angel, bagaimana dengan keadaanmu?" tanya salah seorang rekan kerjanya.
"Sangat baik, terima kasih," jawab Vivian dengan senyum diwajahnya.
"Seseorang mengirimkan undangan untukmu, lihatlah di atas meja!" ucap rekan kerjanya.
"Thanks," jawab Vivian dan dia segera menuju mejanya.
Diatas meja memang tersimpan sebuah amplop berwarna coklat, Vivian mengambil amplop itu tapi pada saat itu Mioko memanggilnya dan menyentuh bahunya.
"Angel."
Vivian memalingkan wajahnya dan melihat Mioko dengan senyum diwajahnya, dia juga menghentikan niatnya untuk membuka amplop yang dia ambil dan menyimpannya lagi di atas meja.
"Mioko, kau belum berangkat?" tanyanya.
"Dua hari lagi, aku kemari untuk membereskan barang-barangku," jawab Mioko.
"Sepertinya kita tidak akan bertemu untuk waktu yang lama," ucap Vivian.
"Kau benar, ini sangat menyebalkan! Aku sangat tidak mau pergi ke Venezuela tapi ini tugas yang tidak bisa aku tolak."
Mioko menghembuskan nafasnya dan menarik sebuah kursi untuk duduk disamping Vivian.
"Hei jangan begitu, ini tugas yang harus kita jalani."
"Kau benar, saat aku mengatakan pada kedua orang tuaku jika aku mendapat tugas ke Venezuela mereka sangat bangga padaku tapi aku khawatir tidak bisa kembali dengan kondisi utuh," ucap Mioko sambil tersenyum.
"Apa yang kau katakan Mioko, kau punya kemampuan dan percayalah kau pasti bisa menyelesaikan tugas yang kau dapatkan."
"Thanks Angel, perasaanku tenang setelah berbicara denganmu."
"Jangan sungkan, kau harus bangga karena di utus ke Venezuela untuk menjalankan misi, itu berarti kau punya potensi sehingga kapten mempercayakan misi itu padamu," ucap Vivian lagi.
"Kau benar, aku pasti bisa menjalankan misi ini dan menyelesaikannya dengan cepat."
"Percayalah pada dirimu, Mioko."
"Terima kasih Angel, aku akan kembali membereskan barang-barangku."
Vivian tersenyum dan mengangguk, saat Mioko kembali kemejanya, entah kenapa dia juga jadi ingin ditugaskan ketempat yang jauh, pasti akan terasa menyenangkan apalagi jika mendapat tugas yang memacu adrenaline.
Entah kenapa dia jadi merasa sedikit iri dengan Mioko, dia sangat berharap dia diutus kesuatu tempat untuk menjalankan misi.
Vivian menghembuskan nafasnya dengan berat dan meraih amplop yang ada diatas meja. Dengan perlahan dia mulai membuka amplop itu dan mengelurkan selembar kertas dari dalam sana.
Vivian mengernyitkan dahinya dan membaca beberapa tulisan yang ada diatas kertas.
..."Jika kau ingin menangkapku maka datanglah ke Amerika, aku ingin tahu apa kau berani datang mencariku? Aku tunggu di California. Ngomong-ngomong apa kau suka bom-nya? Jika kau kurang suka maka aku akan memasang yang lebih bagus dan aku harap kau bisa menjinakkannya. Datanglah, aku tunggu, M."...
Setelah membaca kertas itu, Vivian langsung bangkit berdiri, M? Apa ini identitas buronan yang sedang dicari?
Vivian segera berjalan dengan cepat menuju lift, dia ingin mencari atasannya untuk menunjukkan surat yang baru saja dia dapat tapi yang jadi pertanyaan didalam hatinya, kenapa buronan yang dia cari mengirimkan surat itu untuknya? Entah mengapa dia seperti sedang ditantang saat ini.
Jika menurut egonya maka dia akan langsung berangkat tapi dia harus tetap mengikuti perintah atasannya.
Setelah tiba di depan ruangan atasannya, Vivian mengetuk pintu ruangan dengan pelan dan tidak lama kemudian terdengar suara seorang pria didalam sana memerintahkannya untuk masuk.
Vivian membuka pintu ruangan dan menutupnya dengan perlahan.
"Good morning sir," sapanya dengan sikap hormat.
"Morning, ada apa Angel?" Atasannya hanya melihatnya sekilas dan setelah itu, dia kembali melihat berkas-berkas yang ada di atas meja.
"Maaf mengganggu waktu anda sir, tapi baru saja aku membuka sebuah surat yang dikirimkan untukku dan aku rasa anda harus membacanya."
Vivian mendekati atasannya dan meletakkan surat yang dia bawa keatas meja.
Kapten Ston mengambil surat yang diberikan oleh vivian dan membacanya, setelah selesai membaca isi dari surat itu kapten Ston langsung bangkit berdiri. Mengapa buronan yang mereka cari mengirim surat seperti itu kepada agen terbaiknya?
"Siapa yang mengirimkan surat ini untukmu?" tanyanya seraya berjalan menuju jendela yang ada disana.
"Saya tidak tahu sir, surat itu sudah ada di atas mejaku ketika aku datang," jawab Vivian.
"Apa saat kau menjalankan misi kau tidak melihat siapa orang ini?" tanya sang kapten lagi.
"Tidak Sir, di dalam hanya ada pria tua itu bersama dengan anak buahnya."
Sang kapten tampak berpikir, apa ini sebuah tantangan dari target yang mereka cari?
Amerika adalah negara yang luas, kenapa orang ini menantang Vivian untuk menangkapnya disana?
Apa ini semacam jebakan saja atau ada maksud lain?
"Bagaimana menurutmu dengan surat ini Angel?" tanya sang kapten.
"Sir, bukankah buronan yang kita cari memang berasal dari sana dan bukankah pemerintah Amerika mengajak kita bekerja sama untuk menangkap orang ini? Aku rasa tidak ada salahnya kita menghubungi pemerintah Amerika dan mengutus agen terbaik yang kita miliki untuk menyelidiki dan menangkap orang ini?"
Sang kapten tampak berpikir sejenak, memang yang dikatakan oleh Vivian ada benarnya. Mungkin memang dia harus mengutus seseorang ke Amerika untuk menangkap buronan ini. Lagi pula, pemerintah disana pasti akan melindungi agen yang akan dia utus nanti.
"Baiklah Angel, usulmu sangat bagus dan aku akan segera menghubungi pemerintah Amerika. Aku akan mengatakan hal ini pada mereka bahwa aku mengutusmu untuk menjalankan misi ini."
"Apa? Aku kapten?" Vivian tidak percaya mendengarnya.
"Benar, orang ini menginginkanmu dan menantangmu dan kau agen terbaik disini. Aku percaya kau pasti bisa menguak identitas pria ini dan menangkapnya dengan kemampuan yang kau punya."
"Tapi kapten, banyak agen terbaik dan hebat yang ada di sini apa kau tidak akan salah mengirimku ke Amerika?"
Sebenarnya Vivian senang ditugaskan di tempat yang jauh tapi dia juga harus memastikan, apa pimpinannya tidak salah mengutusnya? Padahal banyak agen handal disana.
"Tidak Angel, tidak banyak agen yang bisa menjinakkan bom dan memecahkan beberapa kode sulit seperti dirimu dan aku tidak akan salah mengutusmu menjalankan misi ini. Percayalah dengan kemampuanmu dan tidak perlu khawatir karena akan ada yang membantumu selama kau ada disana."
"Yes sir!" jawab Vivian dengan sikap hormat.
"Bagus, persiapkan dirimu karena aku akan segera mempersiapkan semuanya. Aku yakin kau pasti bisa menyelesaikan misi ini."
"Thanks you sir," jawab Vivian lagi.
Vivian segera undur diri dengan wajah berseri, akhirnya keinginannya di utus menjalankan misi ketempat yang jauh jadi kenyataan.
"Amerika, aku datang," ucapnya dalam hati.
Apapun tugasnya dan siapapun targetnya pasti dapat dia selesaikan dan dia harap keluarganya mengijinkannya untuk pergi tapi dia tidak akan pernah menyangka, siapa sebenarnya penjahat yang harus dia hadapi nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
APA BENAR TU MATTHEW ATAU MICHAEL YG UNDANG VIVIAN. TTP CURIGA CINTA PRTAMA VIVIAN IBLISNYA
2024-05-28
0
🍁K3yk3y🍁
dua peracik bom handal
mattwehdan maikell
2023-02-10
2
Deo Dean
wah ini pasti Mathew,,anak si Jacob,,dari kecil dah pandai merakit bom,,
2023-01-19
0