The Ministry of Sound terletak di Stasiun bus tua Selatan Waterloo, The Ministry of Sound adalah sebuah legenda di dunia clubbing yang dikenal di seluruh dunia sebagai Bait rumah musik dan elektronik
Klub berisi lima kamar, empat Bar dan memiliki salah satu sistem suara terbaik di dunia.
Disanalah malam ini Vivian dan dua rekannya akan beraksi. Supaya tidak dicurigai, mereka berpenampilan seperti tamu lainnya, walaupun mereka memakai baju yang minim tapi senjata mereka sudah bersembunyi dibalik baju mereka.
Pada saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ketiga wanita itu masuk ke dalam Club.
Target mereka adalah pria tua yang akan bertransaksi dengan orang yang menjadi target mereka yang sesungguhnya.
Ketiga wanita itu masuk kedalam Club dan sesuai dengan rencana, mereka berpencar untuk mencari keberadaan target mereka.
Charlie pergi kesebelah kanan, Felicia kesebelah kiri sedangkan Vivian mengecek ke depan.
Sebuah alat sudah terpasang di telinga mereka, jika salah satu dari mereka menemukan target yang mereka incar maka mereka harus segera melapor.
Musik yang memekakkan telinga memenuhi ruangan dan cahaya lampu warna warni menyinari tempat itu.
Vivian melewati kerumunan orang-orang yang sedang berjoget dan mengedarkan pandangannya.
Dia harus jeli melihat orang-orang yang ada disana dan tentunya jangan sampai penyamarannya terbongkar.
Cukup lama ketiga agen cantik itu memutari Club untuk mencari target mereka dan pada saat itu, Charlie melihat segerombolan orang berjalan dan didepan gerombolan itu berjalan seorang pria tua yang menjadi incaran mereka.
"Bersiaplah, target sudah terlihat dan berjalan kearah barat untuk menuju sebuah ruangan," ucapnya dengan pelan untuk memberi laporan kepada kedua sahabatnya.
"Roger!" jawab Vivian dan Felicia secara bersamaan.
Vivian segera keluar dari kerumunan dan berjalan kearah Barat seperti yang diucapkan oleh Charlie, disana tempat yang terpisah dengan lantai Club yang dipenuhi oleh para tamu. Orang yang mereka incar menuju ruangan exlusive yang disediakan oleh pihak club untuk tamu exlusive mereka pula.
Saat menuju kesana, dia bertemu dengan Felicia. Mereka mengangguk dan berjalan dengan cepat untuk mengikuti Charlie yang sudah mengikuti target mereka terlebih dahulu.
Dengan mengendap-endap Charlie melihat target yang masuk kedalam lift untuk naik kelantai atas dan pada saat itu, Vivian dan Felicia sudah berdiri dibelakangnya.
Charlie memberi isyarat dengan dua jari dan menunjuk kearah kamera Cctv dan pada saat melihatnya Vivian dan Felicia mengangguk.
Mereka harus melumpuhkan Cctv yang ada di lorong ruangan, jangan sampai pihak Club melihat aksi mereka sehingga mereka ketahuan.
Vivian dan Felicia mengangkat rok mereka untuk mengambil senjata yang tersembunyi dibalik rok mini mereka dan dari persembunyian, mereka menembak kamera cctv hingga rusak menggunakan senjata kedap suara yang mereka bawa.
Tugas Charlie melihat sekeliling mereka, jangan sampai mereka ketahuan yang mengakibatkan misi mereka gagal.
Setelah kamera cctv dilumpuhkan, ketiga agen cantik mulai bergerak maju. Senjata mereka simpan kembali dan mereka berdiri didepan pintu lift.
Angka diatas pintu menunjukkan angka 3 yang menunjukkan target mereka naik kelantai 3, mereka segera menekan tombol lift dan setelah beberapa menit menunggu, ketiga agen cantik langsung masuk kedalam lift.
Lantai tiga ternyata memiliki banyak ruangan, mereka mulai berpencar untuk mencari target mereka, ini akan sedikit memakan waktu karena mereka tidak tahu ruangan mana saat ini target berada.
Pada saat itu, dua pelayan berpakaian seksi lewat sambil membawa botol minuman. Ketiga agen cantik langsung bersikap normal.
"Nona, apa kalian para wanita yang akan masuk keruangan nomor tiga?" tanya salah seorang pelayan itu.
Dia mengira ketiga agen itu adalah wanita penghibur yang akan menghibur para tamu yang ada didalam ruangan nomor tiga.
Sontak saja Vivian dan kedua rekannya mengangguk, ini adalah kesempatan mereka untuk mengecek apakah tamu yang berada diruangan nomor tiga adalah target mereka?
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Charlie basa basi.
"Tidak, ikutlah dengan kami," ajak pelayan itu.
"Bagaimana jika kami saja yang bawa minuman itu?" tanya Vivian.
"Tidak jangan!"
"Tidak apa-apa, berikan."
Vivian dan Felicia mengambil minuman yang dibawa oleh dua pelayan Club yang hendak masuk keruangan nomor tiga.
"Tapi nona?"
"Serahkan pada kami!" ketiga agen cantik mengedipkan matanya dan melenggang pergi.
Kedua pelayan itu saling pandang dan kemudian mereka melenggang pergi, mereka tidak curiga sama sekali dan lagi pula, ketiga wanita itu yang mau.
Vivian dan ketiga rekannya berdiri di depan pintu ruangan nomor tiga, Charlie mengetuk pintu ruangan dengan pelan dan tidak lama kemudian pintu terbuka untuk mereka.
Ketiga Wanita cantik berpakaian seksi itu segera masuk tapi tiba-tiba mereka dicegat oleh dua orang pria yang menjadi penjaga disana.
"Siapa kalian?" tanya salah satu penjaga yang ada disana.
"Kami wanita penghibur yang dipanggil," jawab Vivian.
"Jika begitu kenapa kalian membawa minuman?" Mereka melihat ke tiga agen cantik dengan curiga.
"Ini diberikan oleh pelayan yang kami jumpai di depan," jawab Felicia.
"Baiklah, kami akan memeriksa tubuh kalian," ucap dua penjaga itu.
Vivian memandangi kedua rekannya dan memberikan kode dengan lirikan mata, jangan sampai mereka diperiksa karena dibalik pakaian seksi yang mereka pakai tersembunyi banyak senjata.
"Kau, kemari!" penjaga itu menunjuk ke arah Charlie.
Mereka tidak bergeming dan kedua penjaga itu mulai kesal.
"Hei, apa kau tuli!" teriak penjaga itu dan sontak saja teriakannya membuat para rekannya melihat kearah mereka.
Vivian dan Felicia melempar minuman yang mereka bawa dan segera menendang dagu kedua panjaga yang sedang mencegat mereka hingga terpental.
"Sial, siapa kalian?" orang-orang yang ada disana mulai mendekati mereka.
Vivian dan kedua rekannya segera berlutut di atas lantai dan menarik pistol yang tersembunyi di rok mini mereka.
"Dor...dor...dor!" mereka mulai menembaki orang-orang yang ada di sana.
"Lindungi bos!" salah seorang berteriak demikian sedangkan yang lainnya mulai menembaki ketiga agen cantik itu.
Vivian dan ketiga rekannya berguling kedepan dan kembali menembak setiap orang-orang yang ada disana.
Mereka bangkit berdiri dan terus menembak, terkadang mereka juga memukul lawan dengan tangan kosong.
Lagi pula, jumlah orang yang ada didalam ruangan hanya lima belas orang dan itu dapat mereka atasi dengan mudah.
Setelah melumpuhkan orang-orang yang ada disana, mereka bertiga berjalan kearah pria tua yang tidak juga bergeming dari duduknya sedari tadi. Pria itu diam saja walaupun baku tembak terjadi dan hal ini membuat Vivian dan ketiga rekannya sangat heran.
"Tuan Shane, sebaiknya menyerah!" mereka berdiri didepan pria itu dan menodongkan senjata mereka.
"Hei girl, ketahuilah, dari awal aku hanya umpan dan sayang sekali, begitu kalian masuk bomnya langsung aktif!" ucap pria tua itu dan ternyata dia tidak bergeming karena bom aktif yang ada ditubuhnya, bom sudah menunjukkan angka 15 yang berarti dalam lima belas menit lagi akan meledak. Bom itu bisa diaktifkan oleh pemasangnya dari jarak tertentu.
"F*ck! It's a bom!" umpat Felicia.
"Kemana dia pergi?" tanya Vivian dan dia menyimpan pistolnya.
"Dia orang yang cerdik jadi kalian tidak akan bisa menangkapnya," jawab pria tua itu.
Vivian melihat dua gelas bekas minum dan sebatang cerutu di atas meja yang masih menyala, sepertinya misi mereka bocor sehingga target mereka yang sesungguhnya telah pergi.
"Jika aku menyelamatkanmu apa kau bisa membawaku kepadanya?" tanya Vivian.
"Angel, ayo cepat pergi sebelum bomnya meledak!" ajak dua rekannya.
Angka di bom sudah menunjukkan angka 10 tapi Vivian masih diam saja dan mencoba bernegosiasi dengan pria tua itu.
"Jika kau bisa mengnonaktifkan bom ini maka aku akan membawamu kepadanya," ucap pria tua itu.
"Pegang ucapanmu!" Vivian mengangkat roknya sedikit dan menarik sebilah pisau dari sana.
Angka di bom terus bergerak, dari sepuluh terus bergerak ke sembilan, delapan dan tujuh.
Vivian membuka sebuah penutup yang terdapat pada bom dan mulai melihat serangkaian kabel yang tampak rumit.
"Angel!" teriak dua rekannya yang sudah berdiri didepan pintu keluar.
Vivian masih sibuk dengan kabelnya bahkan saat angka di bom sudah menunjuk keangka empat.
"Sebaiknya kau pergi nona," ucap pria tua itu.
Vivian tersenyum dan pada saat itu, dia langsung memotong salah satu kabel yang ada di bom. Angka di bom langsung berhenti saat itu juga dan pria tua itu langsung tampak lega.
"Ingat janjimu!" ucap Vivian.
Saat Vivian hendak mengambil bom yang ada ditubuh pria itu tiba-tiba saja sebuah pintu lemari terbuka secara otomatis.
Mata Vivian dan mata pria tua itu langsung melihat kaarah lemari, mereka sangat kaget karena disana terdapat sebuah bom aktif lainnnya dan angkanya sudah menunjuk keangka dua.
Bom itu terhubung dengan bom pertama dan memang sengaja sudah disiapkan oleh target mereka.
Vivian melangkah mundur dan berteriak pada kedua rekannya, "Lari!"
Felicia dan Charlie langsung lari sedangkan Vivian berlari kearah jendela karena dia tidak punya waktu berlari kearah pintu dan pada saat itu?
"Duar!!" Bom meledak dan menghancurkan segalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Ida Lailamajenun
seperti temen yg iri ke angel deh yg bocorin info hingga mrk kacau dalam misi nya nih.berasa nonton film charlie's angel ya gaees baca nya seru" sedep gmn gitu😀😀
2023-03-10
1
Ceuranispet Putripaseh
keren ❤️❤️❤️
2023-01-12
0
ariasa sinta
4552
2022-02-24
5