Clarina sudah berdiri ditengah-tengah dimana kue ulang tahun bertingkat tiga ada dihadapannya. Acara ulang tahunnya akan segera dimulai dan para tamu undangan sudah berdiri dan akan menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.
Clarina tampak begitu senang karena banyak tamu yang datang untuk merayakan hari ulang tahunnya tapi dia tidak akan pernah tahu bahwa tragedi akan segera dimulai.
Para anak buah pria berinisial M yang menyamar menjadi pelayan, mulai mengawasi dan mereka berbicara dengan seseorang melalui earphone yang tersembunyi.
Waktu mereka beraksi sebentar lagi akan dimulai disaat waktunya sudah tepat tapi untuk saat ini, mereka akan membiarkan orang-orang yang ada disana menikmati pesta itu.
Matthew berdiri disamping Clarina karena Clarina menariknya, Clarina ingin saat dia meniup lilin dan membuat permohonan, Matthew ada disampingnya.
Satu permohonan yang dia inginkan, dia hanya ingin Matthew menganggapnya sebagai orang spesial bukan sebagai sahabat tapi sayang, mata Matthew hanya tertuju pada gadis bergaun merah yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
Sedari tadi matanya tidak bisa lepas dari sosok Vivian, tadinya dia ingin langsung menghampiri Vivian tapi Clarina menariknya dan meminta Matthew untuk berada disampingnya.
Dengan terpaksa, Matthew menemani Clarina tapi matanya terus mengawasi Vivian, jangan sampai gadis incarannya pergi.
Merasa ada yang mengawasinya, Vivian mengedarkan pandangannya untuk melihat apakah ada orang mencurigakan dari para tamu undangan?
Semua tamu tampak berkerumun dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Clarina jadi dia tidak melihat Matthew berada didepan karena tertutup dengan kerumunan.
Matthew benar-benar kesal karena para tamu undangan menghalangi pandangannya, jangan sampai target incarannya hilang.
Vivian mulai berjalan pergi untuk melihat situasi, jangan sampai dia lengah hingga orang yang berinisial M bisa melancarkan aksinya.
Saat melihat Vivian melangkah pergi, Matthew berdecak kesal dan dia ingin mengejar Vivian tapi Clarina menahan tanggannya.
"Matt, mau kemana?" bisiknya karena lagu ulang tahun masih sedang dinyanyikan.
"Sory Clarina, aku ada urusan penting."
"Urusan apa sih? Temani aku sampai selesai," pinta Clarina dengan mimik memohon.
"Ck, ini benar-benar penting!" ucap Matthew sedangkan Matanya masih mengekori langkah Vivian.
"Matt, please!" mohon Clarina.
"Oke baiklah, kau benar-benar menyebalkan!" jawab Matthew kesal.
Clarina tersenyum dan setelah lagu selesai dinyanyikan, dia langsung meniup lilin dan membuat permohonan.
Matthew benar-benar tidak sabar bahkan saat Clarina memberikannya sepotong kue, Matthew menyambarnya dan memakannya dengan cepat sampai membuat Clarina heran. Biasanya Matthew akan menolak jika diberi makanan manis, tapi kenapa hari ini tidak menolak bahkan Matthew memakan kue itu dalam tiga kali suapan.
"Matt, apa kau lapar?" tanya Clarina saat Matthew memberikan piring kuenya.
"Tidak!" jawab Matthew sambil meneguk segelas air dengan cepat.
"Lalu kenapa kau?"
"Aku sudah selesai!" ucap Matthew sambil menepuk pipi Clarina dan setelah itu dia berjalan pergi.
"Hei!" Clarina benar-benar heran, apa yang telah membuat Matthew bersikap seperti itu?
Matthew berjalan dengan cepat melewati tamu undangan dan menuju dimana Vivian pergi tadi. Disisi ruangan, Vivian sedang berdiri membelakanginya dan berbicara dengan seseorang melalui earphone yang terpasang ditelinganya dan pada saat melihatnya, Matthew ingin menghampirinya tapi dia langsung menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Vivian.
"Siap sir, aku akan mengawasi dan mencari sosok orang berinisial M yang menjadi target kita dari para tamu undangan!"
Matthew segera bersembunyi dibalik sebuah tiang yang menjadi penyanga bangunan untuk mendengar pembicaraan Vivian.
Apa maksudnya? Apa sebenarnya profesi gadis itu? Sungguh dia sangat penasaran.
"Yes sir, aku akan kembali mengawasi," ucap Vivian.
Setelah selesai berbicara dengan atasannya, Vivian segera kembali keruangan pesta sedangkan Matthew bersandar ditiang sambil melihat kepergiannya.
Matthew memainkan jari jemarinya didagu dan tampak berpikir, apa gadis itu seorang polisi? Atau FBI? Atau seorang mata-mata?
Sebuah senyuman menghiasi wajahnya, ini semakin menarik dan apapun profesinya, gadis yang sudah menjadi incarannya tidak akan mudah lepas.
Matthew berjalan kembali keruang pesta dengan santai, dia bahkan tidak ragu mendekati Vivian yang sedang meneguk segelas minuman sedangkan matanya seperti Elang yang sedang mengawasi mangsanya dari atas bukit.
"Hy, kita bertemu lagi!" sapanya dengan senyum menawannya dan Vivian langsung melihat kearahnya.
"Kau!" Vivian melihatnya tidak percaya.
"Ya, ini kebetulan. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Matthew basa basi.
"Menghadiri pesta, memangnya apa lagi?" jawab Vivian asal.
Matthew tersenyum dan berdiri disamping Vivian sedangkan Vivian cuek saja.
"Aku lihat kau tidak saja menghadiri pesta ini," Matthew mulai memancing karena dia ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan Vivian di sana.
"Apa maksudmu tuan? Aku hanya tamu disini. Bagaimana denganmu? Kenapa seorang supir sepertimu ada dipesta para pejabat?" Vivian melihat Matthew sejenak sedangkan Matthew Kembali tersenyum.
"Aku sedang mengantikan bosku yang tidak bisa hadir. Kita sudah bertemu dua kali, bolehkah aku tahu namamu?"
Vivian kembali memandangi Matthew dan tidak lama kemudian dia kembali melihat sekitarnya sambil menjawab, "Angel!"
"Angel, nama yang bagus!" puji Matthew.
"Thanks, kau sendiri, apa tidak mau menyebutkan namamu?"
"Oh, panggil aku Freddy!" jawab Matthew.
"Jika kau Freddy lalu dimana Jason?" tanya Vivian lagi.
"Hahahahaha! Jason ada di rumah!" jawab Matthew sambil tertawa.
"Baiklah, maaf aku harus pergi Fred," Vivian meletakkan gelasnya dan hendak pergi tapi Matthew menangkap tangan Vivian.
"Kenapa begitu terburu-buru? Bagaimana jika kita berdansa?"
"Tidak, aku tidak?"
Sebelum Vivian menyelesaikan ucapannya, Matthew telah menariknya munuju lantai dansa. Apapun yang terjadi, dia ingin mereka berdansa dan gadis itu tidak bisa menolak.
Vivian tampak gugup saat Matthew menggenggam tangannya dan memeluk pinggangnya setelah mereka sudah berada dilantai dansa. Matthew mendekatkan tubuh mereka hingga tidak memiliki jarak, jantung Vivian mulai berdebar karena ini pertama kalinya dia begitu dekat dengan seorang pria dan hal itu membuat kenangan buruk yang dia alami dimasa lalu kembali teringat.
Reaksi tubuh Vivian benar-benar sangat aneh dan Matthew melihatnya dengan heran, ada apa dengannya?
"Ada apa denganmu?" tanya Matthew.
"Ti...Tidak apa-apa," jawab Vivian dan dia berusaha tersenyum.
Dia sedang melawan ketakutan yang ada didalam dirinya dan jangan sampai ada yang tahu kelemahan terbesarnya.
Musik merdu mulai melantun dan mereka mulai menggerakkan tubuh mereka bersama dengan yang lainnya, dari kejauhan Clarina melihat Matthew sedang berdansa dengan seorang gadis. Tadinya dia ingin mengajak Matthew tapi sayang, tanpa sengaja Clarina melihat Matthew menarik seorang gadis menuju lantai dansa. Sungguh dia sangat penasaran, siapa gadis yang sedang bersama dengan Matthew?
Dia sangat kesal karena seseorang telah mengambil perannya, apakah gadis itu yang disukai oleh Matthew?
Dilantai dansa, Matthew dan Vivian masih berdansa. Vivian sangat ingin menyudahinya dan pergi untuk menjalankan tugasnya tapi Matthew menahannya dan mendekapnya dengan erat sampai membuat Vivian kesal, itu Matthew lakukan karena Vivian tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Lepaskan aku Fred, aku harus pergi!" Vivian berusaha mendorong tubuh Matthew.
"Jawab dulu pertanyaanku, dimana kau tinggal?"
"Apa penting untukmu?"
"Tentu saja penting!" jawab Matthew tapi Vivian masih tidak mau menjawab.
"Angel, cepat jawab!" bisik Matthew ditelinga Vivian.
Vivian benar-benar kesal, dia bisa membanting Matthew keatas lantai tapi dia tidak boleh gegabah jika tidak dia akan ketahuan oleh pria berinisial M yang menjadi targetnya.
"Jawab, jika tidak aku akan seperti parasite menempel padamu semalaman!" ancam Matthew.
"What?" Vivian tambah kesal dan rasa kesabarannya sudah diambang batas.
"Lepaskan jika tidak akan aku lubangi kepalamu!" ancamnya.
"Percayalah, kau sudah melubangi hatiku, babe!" jawab Matthew sambil tersenyum.
"Oh my God, kau benar-benar!" Vivian sudah tidak tahan dan sudah siap membanting tubuh Matthew tapi pada saat itu, tiba-tiba saja lampu ruangan mati.
Semua tamu undangan tampak panik dan tidak lama kemudian lampu ruangan menyala dan pada saat itu juga seorang istri pejabat berteriak histeris.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
fulana anonymous
kakeknya baby, bapaknya darling, Matthew babe.... Michael apa ntar
2024-01-10
2
Stephanie Kilanmasse
awal panggilan babe😁😁😁
2023-09-20
0
Veya Henituse
panggilan nya, ngingetin komik sebelah 😁
2023-09-05
0