Saat ledakan terjadi Vivian melompat keluar dari jendela kaca sedangkan Charlie dan Felicia terpental akibat ledakan bom yang dahsyat.
Tubuh Vivian jatuh keatas sebuah kap mobil yang terparkir dibawah, dia berusaha untuk menahan sakit ditubuhnya dan berusaha untuk bangun dari atas kap dan dari atas sana, sebuah puing bangunan mendarat kebawah dan dia ada dibawahnya. Dengan cepat, Vivian segera melompat turun dan pada saat itu?
"Bruagh!" puing bangunan menghantam mobil hingga hancur.
Pengunjung Club panik dan berlari keluar, bunyi alarm kebakaran berbunyi memekakkan telinga.
Sambil memegangi lengannya yang mungkin terkilir, Vivian segera berjalan pergi. Banyak luka terdapat ditubuhnya dan dia harus mencari kedua rekannya.
Tidak butuh lama, mobil Ambulance dan mobil pemadam kebakaran mulai berdatangan begitu juga dengan mobil polisi.
Petugas mulai mengevakuasi club itu sedangkan para tamu Club yang semula menikmati musik dan minuman berhamburan keluar dari Club.
Ledakan begitu dahsyat dan menyebabkan lantai tiga hancur, pria tua mati hancur berkeping-keping akibat ledakan. Didalam Club listrik mati dan air menyala dari setiap selang yang terdapat di atas plafon ruangan tapi lampu emergency tetap menyala.
Dengan tubuh yang dipenuhi luka, Vivian berjalan mendekati kerumunan untuk mencari kedua rekannya. Dia harap Charlie dan Felicia masih hidup dan tidak terkena ledakan.
Dia tidak menyangka jika ada bom lain didalam ruangan itu, sepertinya target memang begitu berbahaya dan mereka tidak boleh meremehkannya.
Seorang pria berdiri tidak jauh di luar Club dan tersenyum, dialah target yang di incar oleh Vivian dan kedua rekannya.
Selagi Vivian dan kedua rekannya sibuk melumpuhkan kamera cctv dan belum naik kelantai tiga, pria itu dengan para anak buahnya menyandera si pria tua yang memang semula menjadi pionnya.
Mereka sempat berbicara sebentar didalam ruangan tapi tidak lama kemudian, pria itu pergi karena seseorang sudah mengatakan kepadanya jika ada tiga agen yang sedang mengincarnya malam ini.
Dia meletakkan bom aktif di tubuh pria tua itu sebelum pergi dan memberinya ancaman, jika pria tua itu pergi maka bom akan meledak.
Tanpa sepengetahuan pria tua itu pula, dia sudah meletakkan bom aktif lainnya yang sudah dia rancang sedemikian rupa, bagaimanapun dia sudah berencana membunuh semuanya saat transaksi selesai karena pria tua itu sudah melihat wajahnya.
Setelah mendapatkan uang yang dia inginkan maka semua akan dia bunuh tapi sayang, ketiga agen mengagalkan transaksinya.
Pria itu tersenyum saat melihat Vivian, apa dia harus bermain-main dengannya? Sepertinya menyenangkan dan mungkin dia perlu mengundang Vivian supaya datang kepadanya.
Pria itu segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Siapkan sebuah kartu undangan dan berikan itu kepadanya, aku ingin lihat apa dia berani datang kepadaku?!" perintahnya kepada seseorang yang dia hubungi.
Tentu orang yang dia perintahkan akan menjalankan perintahnya dan besok kartu itu aka segera terkirim ke orang yang dimaksud.
Kembali ke Club, Vivian sedang ditangani oleh tenaga medis yang ada disana, matanya masih mencari dua rekannya yang belum juga terlihat. Apa mereka tidak bisa keluar karena terjebak kobaran api?
Saat itu para pemadam kebakaran semakin sibuk karena api yang semakin besar dilantai tiga.
"Sir, dua orang terjebak dilantai tiga," seorang pemadam kebakaran menghampiri atasannya dan memberi laporan.
Saat mendengarnya Vivian sangat kaget, dua orang? Apa itu rekannya atau pelayan Club?
"Bagaimana situasinya? Apa sulit di evakuasi?"
"Api sangat besar dan sulit untuk menuju lokasi korban!"
Vivian langsung bangkit berdiri, itu pasti kedua rekannya. Tidak akan dia biarkan kedua rekannya mati.
"Dimana lokasi kedua korban itu?" dia bertanya pada pemadam kebakaran yang baru saja memberi laporan.
"Sebelah barat, mereka tidak bisa keluar karena terkepung kobaran api"
Sebelah barat? Sudah dipastikan itu adalah Felicia dan Charlie. Tanpa pikir panjang Vivian mengambil beberapa alat yang ada dimobil kebakaran dan segera berlari masuk kedalam club yang sedang di evakuasi.
Para pemadam kebakaran mencegahnya tapi dia tidak perduli, kedua rekannya lebih penting. Dia bahkan membasahi dirinya dengan air sebelum masuk kedalam dan merobek pakaiannya untuk menutupi hidungnya.
Memang ledakan yang terjadi dilantai tiga begitu dahsyat, bahkan lantai dua juga terkena efek ledaknya.
Api membakar apa saja yang ada, wajar jika kedua rekannya terjebak dan dia harap, mereka berdua baik-baik saja saat dia datang.
Vivian berlari menuju tangga darurat, lantai satu masih aman dan api belum terlihat tapi saat dia naik kelantai dua, api yang begitu besar tampak menyala dari anak tangga yang dia naiki.
Terkadang dia bertemu dengan beberapa petugas pemadam yang sedang sibuk mengevakuasi korban lainya, dia bahkan dilarang untuk naik keatas tapi dia tidak perduli.
"Felicia, Charlie!" Vivian mulai berteriak.
Dia harap kedua rekannya dapat mendengar suaranya.
"Charlie, Felicia!" dia kembali berteriak.
Vivian berlari melewati kobaran api sambil menyemprot kobaran api menggunakan alat pemadam yang dia ambil tadi dan menaiki anak tangga untuk menuju lantai tiga.
Saat dia sudah tiba dilantai tiga, api tampak membakar apa saja tanpa kendali. Bangunan mulai tampak runtuh dan dia berusaha mencari kedua sahabatnya diantara kobaran api.
"Cherlie, Felicia! Please jika kalian masih hidup jawab aku!" Vivian berteriak lagi.
Vivian menelan ludahnya saat melihat kobaran api yang begitu besar didepannya.
"Charlie, Felicia!" Vivian berteriak sekencang mungkin.
Saat mendengar suara Vivian, Charlie bangkit berdiri. Mereka terjebak api karena sebuah puing reruntuhan menimpa kaki Felicia saat ledakkan terjadi.
Karena tidak mau meninggalkan rekannya, Charlie menemani Felicia sampai bantuan datang tapi api menjalar dengan begitu cepat.
Puing yang menimpa kaki Felicia lumayan besar dan dia tidak bisa mengangkatnya sendirian, Felicia tampak sudah lemas, kakinya remuk dan asap hitam mengepung mereka.
"Charlie!" terdengar suara teriakan Vivian lagi.
"Felicia!"
"Angel, kami disini!" Charlie berteriak memanggil rekannya.
Vivian diam saja, sepertinya dia mendengar suatu rekannya.
"Angel!" Charlie berteriak lagi dan kali ini Vivian dapat mendengarnya.
"Charlie dimana kalian?" teriaknya.
"Ruangan nomor lima, kaki Felicia tertimpa reruntuhan dan kami tidak bisa pergi!" jawab Charlie sambil berteriak.
"Aku akan kesana!" jawab Vivian sambil berteriak pula.
Ruangan nomor lima? Dia ingat betul ruangan itu ada di ujung lorong.
Sepertinya dia tidak punya pilihan selain menerobos kobaran api yang begitu besar didepannya, jika dia memanggil pemadam dia khawatir kedua rekannya tidak bisa bertahan ditengah kobaran api.
Api menyala semakin besar sehingga sebuah puing bangunan yang terbakar mulai runtuh.
Vivian memejamkan matanya, dia tidak akan membiarkan kedua rekannya mati begitu saja. Dia pasti dapat menyelamatkan mereka dan mengeluarkan mereka dari kobaran api yang semakin besar.
Api semakin berkobar dan dengan keberanian yang ada, Vivian melompat dan menerobos kobaran api. Kulitnya sedikit terbakar tapi dia tidak perduli, dia terus berlari mencari celah dari kobaran api dan menghindari reruntuhan bangunan.
Saat tiba di depan ruangan nomor tiga, sebuah lubang besar menganga di atas lantai dan itu adalah akibat ledakan.
Disebrang sana kedua rekannya berada, Charlie tampak berusaha mengangkat puing yang menimpa kaki Felicia dengan sekuat tenaga.
Untuk mencapai kedua rekannya, Vivian harus melewati lubang besar itu. Ini sedikit sulit apalagi api terus menyambar-nyambar.
Tapi dia tidak punya banyak waktu dan menundanya, Vivian memundurkan langkahnya, dia harus melompati lubang besar itu.
Sambil menghitung dalam hati, Vivian berlari sekuat tenaga dan melompati lubang yang ada di atas lantai.
Dia harap kakinya sampai tapi ternyata salah, Kaki Vivian tidak mendapat pijakan dan tubuhnya jatuh kebawah dimana kobaran api menyala dengan dasyat dibawah sana.
"Oh tidak!" Vivian berteriak dan tangannya berusaha menggapai untuk mencari pegangan dan beruntungnya, dia dapat menggapai sebuah kayu dan memegangnya dengan erat.
Kini tubuhnya menggantung di antara lantai tiga dan dua, Vivian melihat kebawah dimana api sedang menyala dan menelan ludahnya. Hampir saja, jika sampai dia jatuh kebawah mungkin dia akan menjadi seperti bebek panggang.
Vivian segera meraih kayu yang menjadi pegangannya dengan satu tangannya lagi, dia segera menggapai keatas dan mengangkat tubuhnya supaya bisa naik.
Beberapa saat berusaha, Vivian sudah naik keatas dan tampak terengah-engah. Panas karena api dan asap benar-benar membuatnya sulit bernafas, dia berharap kedua rekannya baik-baik saja dan tidak kehabisan oksigen.
Vivian segera berlari dan pada saat tiba didepan ruangan nomor lima, tampak Charlie terduduk diatas lantai sedangkan Felicia sudah pingsan.
"Charlie."
"Oh Angel, akhirnya kau datang."
"Bagaimana keadaan Felicia?"
"Buruk, sepertinya kakinya patah."
"Ayo cepat, kita harus segera keluar!"
Charlie mengangguk dan segera bangkit berdiri, mereka mengangkat puing yang menimpa kaki Felicia dengan sekuat tenaga. Setelah berhasil, mereka segera memapah tubuh Felicia yang sedang tidak sadarkan diri.
"Bagaimana Angel, kita harus keluar dari mana?" tanya Charlie.
Ini benar-benar sulit, dia tahu mereka tidak bisa mencapai tangga darurat apalagi dengan keadaan Felicia, belum lagi lubang besar yang ada didepan ruangan nomor tiga, mereka tidak akan bisa melewatinya.
Vivian melihat sekitarnya, sepertinya ruangam nomor lima belum terkena api, saat dia melewati ruangan nomor empat tadi api baru sampai disana.
"Ayo masuk kedalam, kita harus keluar lewat jendela."
Charlie mengangguk dan mereka segera memapah tubuh Felicia dan masuk kedalam ruangan nomor lima.
Didalam sana tidak ada siapa-siapa, mereka segera berjalan menuju jendela kaca yang ada diruangan itu. Mereka bisa melompat kebawah sana tapi Felicia?
Sepertinya mereka harus mencari cara untuk menurunkan tubuh Felicia, Vivian mengambil sebuah kursi yang ada dan melemparkannya kearah jendela sampai pecah.
Mereka butuh oksigen dan pada saat mendengar pecahan kaca dan melihat benda jatuh, petugas pemadam yang sedang bertugas memadamkan api diluar jendela lantai tiga langsung melihat kearah datangnya suara.
Mereka langsung mengarahkan mobil pemadam dan beberapa orang naik menggunakan tangga, mereka berharap ada orang yang selamat didalam ruangan itu.
Dibantu dengan sebuah alat penerangan untuk menyinari ruangan itu, mereka menemukan Vivian dan kedua rekannya sedang berada didalam. Dengan sigap para petugas mengevakuasi ketiga agen yang selamat. Mereka diberi alat bantu untuk bernafas dan segera dibawa kerumah sakit.
Vivian sangat bersyukur, walaupun misi mereka gagal tapi mereka selamat dan saat dia kembali bertugas, dia akan mendapat sebuah undangan yang akan membawanya pergi jauh dan mengubah takdirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 299 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
PASTI DPT INFO DRI AGEN YG PENGIRI...
2024-05-28
1
Ida Lailamajenun
Vivian emg cewek tangguh👍👍jgn" target mrk nih cinta pertama nya Vivian lagi
2023-03-10
1
🍁K3yk3y🍁
wowwwwww selalu keren ceritanya
2023-02-10
0