"Kenapa? apa kakak butuh sesuatu?" tanya Nathan bersedekap di depan pintu kamar Daren.
"He...hehehe." Fany cengegesan sembari mengelengkan kepalanya. Gadis itu begitu kesal pada suaminya, sudah di bilangin Nathan mungkin saja ada di luar namun tetap saja menyuruhnya keluar kamarnya. Dia mencubit perut suaminya membuat pria itu meringis kesakitan.
Daren yang mendapat serangan hanya bisa menutupi rasa sakitnya dengan melemparkan senyumnya pada Nathan. Melepaskan cubitan istrinya dari perutnya dan meremas tangan gadis itu kuat-kuat di belakangnya.
"Tidak, tidurlah sudah malam !" Fany kembali menutup pintu dan menatap tajam Daren yang sedang berkacak pinggang di hadapannya.
"Puas lu ! sudah gue bilang Nathan ada di luar." gerutu Fany mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Gue belum puas sebelum lu keluar dari kamar gue!" Daren menarik paksa agar gadis itu bangun dari duduknya dan menariknya kepintu.
Fany menepis tangan suaminya dan mendudukkan tubuhnya di karpet depan tempat tidur pria itu. "Lu mau Nathan tahu semuanya?" ancamnya bersedekap dan menyandarkan tubunya di kaki ranjang.
"Nga lah !" jawab Daren cepat. "Tapi gue nga mau tidur sama lu." lanjutnya yang tidak ingin Fany naik ke ranjangnya.
"Lu tenang aja, gue akan tidur di lantai." jawab Fany.
"Lu bahkan tidak termasuk kriteria tidur di lantai kamar gue !" kesal Daren melihat gadis muda di hadapannya sangat keras kepala melebihi dirinya. Ia menghela nafas kasar dan melangkah mendekati gadis itu. Pria itu sekali lagi menyeret istrinya dengan kasar agar keluar dari kamarnya.
"Gue nga mau !" Fany berusaha melepaskan cengraman suaminya dari tangannya dan berlari naik ke ranjang. Ia sangat kesal mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya saat malam pertama mereka, dan gadis itu akan membalas suaminya dengan membuatnya kesal. Lagi pula Ia tidak ingin adik laki-lakinya tahu bahwa dia sengsara dengan pernikahnnya.
"Lu benar-benar ya ! turun nga dari kasur gue !" garam Daren menarik kaki Fany agar turun dari tempat tidurnya.
"Nga mau !" Fany berusaha bertahan di atas ranjang dengan memegangi sprei hingga sprei ranjang suaminya tak beraturan. "Lu sendiri yang bilang gue tidak ada kriteria tidur di lantai, jadi gue akan tidur di ranjang bersama lu." Fany menyeringai walau pria itu tidak melihat itu karena Ia sedang tengkurap berusaha bertahan di atas ranjang, karena suaminya terus menarik kakinya.
"Dasar bocah !" geram Daren berusah menarik Fany agar turun dari ranjangnya.
Merasa akan Kalah, Fany membalikkan tubuhnya dan menarik handuk yang menutupi bagian tubuh suaminya. Ia menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut setelah pria itu melepaskan tarikan pada kakinya. Gadis itu meruntuki kebodohannya yang baru saja melakukan hal bodoh dengan menarik handuk suaminya.
Daren buru-buru mengambil handuk dan menutupi tubuhnya kembali dan menuju ruang ganti untuk memakai piyama tidur.
"Dasar gadis aneh, lihat saja nanti kau akan menyesal bermain-main denganku !" rahang Daren mengeras, ingin rasanya Ia menampar dan memukul istrinya, namun jiwa dan hatinya menolak untuk melecahkan seorang wanita.
"Akh !" Daren meninju dindin tembok ruang gantinya, meluapkan segala emosi yang tidak bisa ia lampiaskan pada istrinya. Setelah menengkan diri, ia keluar dari ruang ganti baju dan mendapati istrinya tengah bersandar di kepala ranjang memainkan ponselnya. Tanpa berkata apapun, pria itu naik ke atas ranjang di mana istrinya sudah membatasi nya dengan bantal guling.
Daren ikut bersandar di kepala ranjang dan memejamkan matanya. "Sepertinya lu sangat terobsesi dengan gue, sampai-sampai lu melakukan hal licik hanya untuk tidur dengan gue. Apa susahnya coba lu tinggal bilang mau tidur sama gue." celotehnya, pria itu mengangap kelakuan istrinya sekarang hanya untuk menarik perhatinnya. Toh di adalah Idol yang di gemari banyak wanita jadi tidak mungkin jika seorang Fany gadis kecil di sampingnya tidak jatuh hati padanya.
Fany memutar bola mata jengah mendegar ocehan pria dia sampingnya yang terlalu kepedean menurutnya. Ia memang mengakui pernah mengagumi Daren tapi itu sebelum ia bertemu langsung dengannya. Sekarang gadis itu malah ilfil melihat sosok Daren yang sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang Ia lihat di dunia maya.
Fany meletakkan ponselnya di atas nakas. "Lu nga usah kepedean jadi orang." balasnya malas berdebat dengan Daren.
Daren membuka matanya dan menoleh kearah istrinya. "Tolong ambillin naskah gue !" perintahnya dingin.
Fany menuruti permintaan suaminya, mengambil naskah di atas nakas dan memberikannya pada pria itu. "Kanapa malam itu lu repot-repot merobek naskah itu jika ujung-ujungnya lu cari juga." gerutunya yang tidak mengerti dengan jalan pikiran pria di sampingnya.
"Diam lu ! tidur sana nga usah ngurusin urusan orang." balas Daren ketus membaca setiap dialog yang akan di perankannya dalam drama frish love.
"Gue nga bisa tidur jika lampu menyala." keluh Fany.
Daren hanya membuang nafas panjang, bagaimana ia bisa mematikan lampu kamar jika dia sedang membaca naskah.
"Gue heran kenapa lu menolak jadi pemerang pendamping di drama itu? bukankah pemerang pendamping didalam cerita itu sangat menantang, tidak menonton seperti pemeran utama yang jalan hidupnya lurus-lurus saja. Kalau gue sih lebih suka pemerang pendampingnya, pria yang dari kecil hidup di lingkungan tanpa cinta dan kasih sayang, membuatnya kuat menjalani hidup yang penuh rintangan ." celoteh Fany seakan sudah mendalami peran yang akan di mainkan suaminya.
"Siapa yang nyuruh lu membacanya ?" tanya Daren sinis. Ia geleng-geleng kepala melihat istrinya di sampingnya sudah terlelap dengan mudahnya masih menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Pria itu merasa heran dengan gadis di sampingnya, katanya tidak bisa tidur dengan lampu menyala namun nyatanya tidurnya sangat lelap.
Tidak lama kemudian Daren menyusul Fany kedalam mimpi setelah lelah membaca naskah dengan posisi yang sama. Pria itu kembali terjaga saat mendegar suara tangisan di dalam kamarnya. Ia menatap heran pada gadis di sampingnya, gadis yang selalu terlihat ceria dan kuat sedang menangis dalam tidurnya.
"Bu...ibu...jangan tinggalkan Fany." hanya itu yang terus keluar dari mulut Fany.
"Hei gadis kecil bangun." panggil Daren tanpa menyentuh istrinya. Namun gadis itu tetap mengigau.
"Bangunlah ! tidak ada yang akan meninggalkanmu." Daren mengoyang-goyangkan lengan istrinya namun gadis itu tak juga bangun dan terus mengigau.
Fany menarik lengan kekar Daren dan memeluknya dengan sangat erat. "jangan tinggalkan Fany bu." Gadis itu menetesakn air matanya membasahi lengan suaminya.
"Gue bukan ibu lu, jadi cepat bangun !" kesal Daren merasa risih dengan pelukan Fany di lengannya.
"Bu jangan tinggalin Fany."
Daren menghela nafas panjang. "Iya gue ibu lu, dan gue tidak akan meninggalkan lu, jadi berhenti menangis." bujuknya mengelus puncuk kepala istrinya. Ia kasihan melihat gadis itu begitu hancur sampai-sampai sedihnya terbawa mimpi.
"Fany janji tidak akan jadi anak nakal." lirih Fany.
"Iya gue tahu, tidurlah." bujuk Daren.
-
-
-
-
-
TBC
Terima kasih para Readers karena bersedia mengikuti cerita author.
jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
maemunah
hemhemhem
2021-07-12
2
Mega Risma
lanjut kan thorr
2021-04-06
3
Sayekti
next
2021-04-05
2