Fany dan teman-temannya sedang makan siang di ruang istirahat. Fany menundukkan kepalanya saat mendegar ocehan Kirana di sampingnya yang terus mencari tahu calon istri Daren.
"Wah betapa beruntungnya wanita itu bisa menikah dengan Daren." ucap Kirana semakin gencar mencari informasi tantang berita hangat beberapa hari belakangan ini. "Eh, coba lihat calon istri Daren mirip Fany loh!" lanjut Kirana memperlihatkan pada teman-temannya yang lain.
Teman-teman Fany belum ada yang tahu bahwa Fany lah calon tunangan Daren, karena memang dalam foto tersebut wajah Fany tidak terlalu jelas.
Fany yang mendegar perkataan Kirana tiba-tiba gemetar dan menjatuhkan sendok yang di pegangnya kelantai. Fany menundukkan kepalanya berniat mengambil sendok di lantai.
"Fany lihatlah dia sangat mirip denganmu!" seru Kirana.
"Ah jangan ngaco deh, mana mungkin gue jadi tunangan Daren." ucap Fany tanpa Ia sadari.
"Tidak ada yang bilang lo itu tunangan Daren" ucap Nara datar. "Tunangan Daren juga nga cantik-cantik amat, lebih cantik gue di mana-mana." lanjut Nara. Nara jatuh cinta pada Daren pada pandangan pertama. Nara pernah bertemu langsung dengan Daren saat mengikuti casting drama Firs love. Namun Ia tidak lolos karena suatu hal.
"Apa yang di katakan Nara benar, mana mungkin orang seperti kita dapat mengapai Daren." timpal Kirana.
"Lo benar, gue sudah selesai." Fany beranjak dari duduknya dan meninggalkan teman-temannya.
Fany masuk ke dalam toilet untuk menenangkan jantung. Jantungnya hampir saja copot seperti orang yang tertangkap basah mencuri.
"Fany lo kenapa?" Kirana menyusul Fany masuk ke dalam kamar mandi karena melihat tingkah aneh Fany.
"Ran, jika lo tiba-tiba di ajak nikah sama Daren apa lo mau?" tanya Fany memengang kedua lengan Kirana.
"Tentu saja gue mau, siapa coba yang mampu menolak pesona seorang Daren yang seorang bintang." jawab Kirana.
"Tapi lo kan tidak kenal sama dia, lo nga tau bagaimana dia." Fany menguncang tubuh Kirana tanpa sadar.
"Itu bisa di urus setelah kita menikah." Kirana melepaskan tangan Fany dari lengannya. "Sudahlah jangan menghayal terlalu tinggi" ucap Kirana.
"Lo benar." ucap Fany buru-buru keluar dari toilet meninggalkan Kirana.
"Aneh" gumam Kirana.
Fany masuk kedalam ruangan bosnya karena waktunya yang diberikan bosnya hampir habis. Fany meremas jari-jarinya setelah berhadapan dengan bosnya.
"Maaf bos saja belum bisa mendapatkan maaf dari nona Keysa tapi saya akan berusaha mendapatkannya, tolong jangan pecat saya" lirih Fany menundukkan kepalanya.
Bos Fany mengembangkan senyumnya melihat raut ketakutan di wajah Fany. "Saya hanya terbawa emosi kemarin, bekerjalah dengan baik." ucap bos Fany.
"Bos tidak memecat saya kan?" Fany memastikan.
"Kamu karyawan terbaik saya, mana mungkin saya memecatmu." jawab bos Fany.
"Terimakasih bos." Fany memberikan bow dan berlalu pergi sesuai perintah bosnnya.
Paparazi yang selalu membuntuti kemanapun Daren berada, kini beralih mencari informasi tentang tunangan Daren. Paparazi tersebut mengambil beberapa foto butik tempat Fany bekerja, dan juga mengambil beberapa foto Fany keluar masuk kedalam butik tersebut.
"Tunggu saja tanggal mainnya Daren, gue akan membalaskan dendam adikku." ucap paparazi tersebut memandangi foto-foto dan berbagai informasi tentang Daren.
.
.
.
.
.
.
.
Fany pulang ke kostnya setelah makan malam bersama bos dan teman-temannya. Fany dan teman-temannya lembur karena banyak pesanan masuk.
Setelah sampai di kostnya, Fany membersihkan dirinya dan memakai pakaian rapi kembali. Fany akan menemui seseorang malam ini
Dua puluh menit telah berlalu, akhirnya Fany sampai di sebuah rumah tua di pinggir kota. Fany melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah tua itu, dan di sambut hangat oleh wanita paruh baya.
"Akhirnya Kamu datang juga nak, ayo duduk!" wanita paruh baya tersebut mempersilahkan Fany duduk.
"Ada apa nyonya memangil saya malam-malam begini?" tanya Fany.
"Begini nak, soal rumah ini kapan kamu melunasinya?" tanya wanita paruh bawa tersebut.
"Kenapa nyonya menanyakan itu? bukankah kita sudah sepakat dan saya juga sudah menandatangani kontrak, saya akan mencicilnya hingga rumah ini lunas." jawab Fany.
"Tapi nak, ada orang lain yang ingin membeli rumah ini, jika kamu tidak segera membayarnya, saya akan menjualnya pada orang itu, lagi pula orang itu menawarkan harga lebih besar darimu." jelas wanita paruh baya itu.
"Tapi saya sudah menandantangani kontrak itu nyonya." Fany berusaha mempertahankan rumah tua tersebut.
"Di dalam kontak itu di jelaskan jika ada orang lain yang ingin membeli rumah ini dengan harga lebih tinggi, makan perjanjian yang kita buat batal, lagi pula sudah dua tahun lamanya kamu belum melunasi rumah ini." jelas wanita paruh baya itu.
Tak terasa air mata Fany jatuh begitu saja. "Nyonya aku mohon beri aku kesempatan untuk membayar rumah ini. Hanya ini satu-satunya kenanganku dengan ibu dan ayahku." Fany mengengam erat tangan wanita paruh baya di hadapannya.
"Saya mengerti perasaanmu nak." wanita paruh baya tersebut mengusap lembut punggung Fany. "Saya memberimu waktu sampai jam 12 siang untuk melunasi rumah ini." lanjut wanita paruh baya itu.
"Bagaiman aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat nyonya? bisa berikan aku waktu lebih lama lagi." Fany kembali memohon pada wanita itu.
"Saya akan menunggumu jam 12 siang besok." ucap wanita itu meninggalkan Fany.
Fany mengusap air matanya dan berjalan keluar dari rumah orang tuanya. Fany memandangi rumah tua dari luar. Fany kembali mengingat kebersamaanya bersama keluarganya hidup bahagia bersama orang tuanya dan juga adiknya. Namun suatu kecelakaan mengakibatkan ayahnya meninggal dunia, meninggalkan utang yang begitu besar.
Ibu Fany terpaksa menjual rumah besar di hadapanya untuk menutupi utang-utang ayahnya. Ibu Fany yang tidak sanggup lagi hidup dalam kesangsaraan memutuskan untuk meninggalkan Fany sendirian, ibu Fany pergi bersama dengan anak bungsunya. Dengan alasan akan mencari pekerjaan, namun sampai detik ini ibunya tidak pernah kembali apa lagi mengirimkan kabarnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Elina datang ke apartemen Daren jam delapan pagi, namun sang empunya apartemen belum bangun juga. Elina masuk kedalam kamar Daren dan membuka tirai kamar agar matahari masuk kedalaman kamar Daren.
Daren mengeliat saat merasakan tubuhnya hangat karena sengatan matahari pagi. Daren mendegus kesal bangun dari tidurnya tanpa membuka matanya. "Siapa yang menyuruhmu membangunkanku hah!" teriak Daren.
"Kamu membentakku hah!" Elina menjewer telingga Daren.
"Sakit Elina." Daren mengusap telinganya yang memerah akibat manajernya.
"Siapa suruh kau berani membentakku." ucap Elina tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Aku kira kau itu Deon" ucap Daren datar.
"Pantas saja Deon tidak ingin membangunkanmu dan malah menyuruhku, ternyata begini kelakuanmu jika di bangunkan Deon." Elina bekacak pinggang seperti emak-emak memarahi anaknya karena bangun kesiangan. "Sana cepat mandi aku ingin membicarakan sesuatu denganmu!" perintah Elina dan berlalu keluar dari kamar Daren.
-
-
-
-
-
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan like, komen, dan vote nya. jangan lupa juga tambahkan sebagai cerita favorit kalian agar mendapat notifikasi setiap up.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🍂Daun 🍁 Kering🍂
Bow itu apa Kak???
2022-04-30
1
NaNa
kalo udah nikah ma fany ,, pasti nanti bkl cmbru liat kdekatn dgn erlina
2022-01-15
0
Istri Sahnya eunwoo
lanjut
2021-08-13
0