"Warna kesukaan Daren?" lanjut Andra.
"Merah!" jawab Fany sedikit berteriak karena sudah sangat kesal dengan sikap memaksa Andra.
"Ukuran sepatu?"
"43!" jawab Fany asal.
"Hewan peliharaan?"
"Kucing!"
"Sudahlah semua jawabanmu tidak ada yang benar, sekarang apa susahnya jika kau mengaku bahwa kau hanya pacar pura-pura Daren!" Andra terus memaksa Fany mengakui kebohongannya, karena memang Fany tidak dapat menebak pertanyaan Andra dengan tepat.
"Lo itu sengaja cari masalah ya!" Fany tidak bisa lagi menahan emosinya yang terus di pojokkan. "Ya gue akui, gue bukan tunangan Daren puas lo!" ucap Fany berjalan menuruni anak tangga. Fany melangkahkan kakinya keluar dari butik tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya. Fany menghentikan langkahnya saat seseorang menarik tangannya dan mengamit pinggangnya.
"Warna kesukaan saya adalah merah, ukuran sepatu saya benar 43, hewan peliharaan saya kucing, dan wanita yang saya cintai adalah Fany." ucap Daren menatap Fany dengan senyuman yang begitu memabukkan bagi penikmatnya. "Apa anda sekarang sudah puas? lain kali jika anda ingin mengetahui tentang saya tanyakan langsung ke saya jangan mengganggu calon istri saya!" lanjut Daren dan menarik Fany keluar dari butik. Daren menarik Fany masuk kedalam mobil sport hitamnya dan melaju meninggalkan butik tersebut.
"Sial gue gagal lagi!" batin Andra berjalan meninggalkan butik tersebut tanpa mengatakan sepatah katapun pada pemiliknya.
"Cubit saya bos!" ucap Kirana memandangi kepergian Daren dan Fany tanpa berkedip.
Nara mencubit pipi Kirana dengan keras karena sangat kesal mendapati kenyataan bahwa ternyata Fany adalah calon istri Daren.
"Auw!" pekik Kirana mengelus pipinya. "Ternyata gue tidak bermimpi, ya allah kenapa gue nyia-nyiain kesempatan berfoto dengan Daren, padahal dia tadi ada di hapadanku." ucap Kirana masih tak percaya dengan apa yang Dia lihat. Idola yang sangat di idam-idamkannya sudah di depan mata. "Oh jantung gue hampir copot bos" lanjut Kirana memegang dadanya.
"Kirana kembali bekerja, jangan nge halu terus." bentak bosnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daren menghentikan mobil sportnya di tempat yang lumayan sepi.
"Ah syukurlah lu datang tepat waktu." ucap Fany mengelus dadanya. "Ngomong-ngomong ngapain lu ke butik tempat gue bekerja? kalau lu mau ngomongin tentang pernikahan Kita, jawaban Gue tetap tidak!" lanjut Fany mempertegas kata-katanya.
Daren diam saja, bahkan melirik Fany pun tidak.
"Sepertinya paparazi tersebut sudah pergi, sebaiknya Gue kembali ke butik." Fany melepas seatbelt mobil hendak turun dari mobil mewah Daren.
Daren dengan cepat mencegah Fany turun dari mobilnya. Daren mengengam tangan Fany dengan eret, membuat Fany membulatkan matanya dan menatap Daren dengan tatapan penasaran.
"Mulai hari ini, warna kesukaan gue adalah merah, ukuran sepatu gue 43, dan hewan peliharaan gue adalah kucing. Gue akan melakukan apa yang kamu katakan dan akan memakai apa yang lo sukai. Lo pernah bilang tidak ingin hidup dengan Pria asing kan? maka izinkan gue masuk kedalam hidup lu agar gue tidak menjadi asing bagi lu!" ucap Daren tanpa menatap Fany dan hanya fokus kedepan.
"Apa sih maksudlu, nga jelas tahu!" Fany berusaha melepaskan gengaman Daren namun ngengaman Daren sangatlah erat.
Daren kini beralih menatap mata Fany. "Fany menikahlah denganku!" ucap Daren.
Fany yang mendegar pernyataan Daren hanya diam saja, dan tak beniat menjawab. "Fany gue serius ngomong sama lu, ayo kita menikah!" ajak Daren.
"Jam berapa sekarang?" tanya Fany.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Fany!" geram Daren.
"Gue bilang jam berapa sekarang!" ulang Fany.
"Jam 9, memangnya ada apa sih?" kesal Daren karen Fany belum juga menjawab pertanyaannya. Daren merasa tidak mempunyai harga diri sama sekali di depan Fany, bahkan Fany tidak memperlakukannya layaknya seorang bintang, seperti wanita pada umumnya yang akan histeris jika satu mobil apa lagi melamarnya.
"Antar gue ke alamat ini sekarang!" Fany memperlihatkan alamat tempat dimana Fany akan pergi. Fany baru ingat perjanjiannya dengan nyonya yang menghuni rumahnya.
"Jawab dulu petanyaan gue Fany!" ujar Daren.
"Kita bahas di perjalanan saja, sekarang ayo berangkat tunggu apa lagi!" perintah Fany.
Daren mendegus kesal dan melajukan mobilnya menuju alamat yang di tunjukkan Fany padanya. "Jika bukan karena Elina, gue nga bakalan ngerendahin diri di depan wanita ini." gurutu Daren dalam hati.
Tiga puluh menit telah berlalu, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah tua yang terbilang besar. Daren sangat kesal pada Fany karena selama perjalan hanya sibuk dengan ponselnya, dan tidak membahas pertanyaan Daren sama sekali. "Hei kenapa dari tadi Lu hanya sibuk dengan ponselmu saja? Lu mau ngebohongin Gue hah!" kesal Daren. Daren merasa di permainkan oleh gadis muda di hadapannya ini. Daren merebut ponsel Fany.
"Apa-apaan sih!" Fany kembali merebut ponselnya.
"Harusnya lu itu beruntung bisa bicara dengan gue, apa lagi gue ngajak lu nikah. Banyak wanita di luar sana yang pengen nikah sama gue tapi gua nga mau!" ucap Daren mengingatkan Fany. "Apa susahnya lu bilang ia!" lanjut Daren
"Lah emang Gue maksa Lu buat nikah sama Gue? kan nga, sana nikah sama wanita yang pengen nikah sama lu !" ucap Fany acuh dan turun dari mobil Daren. "Gue mah ogah nikah sama lu."
"Hei lo kira gue sopir lu apa!" teriak Daren kesal saat Fany pergi begitu saja.
Fany yang mendengar teriakan Daren kembali ke mobil sport hitam yang masih terparkir rapi. Fany menundukkan kepalanya agar bisa melihat sang empunya mobil, yang kebetulan kacanya tidak di naikkan. Fany mengambil beberapa uang recehan di kantong celanya dan melemparkannya masuk kedalam mobil Daren. "Gue hanya punya uang segitu, terimakasih atas tumpangannya." ucap Fany dan berlalu pergi meninggalkan Daren yang masih kesal di dalam mobilnya.
Sepuluh menit telah berlalu, Fany kembali dan langsung masuk kedalam mobil Daren. Ya Daren sengaja menunggu Fany, Daren belum nyerah untuk meminta Fany menjadi istrinya demi Elina.
Daren menyandarkan punggungnya ke kursi mobil dan memejamkan matanya. "Sudah selesai urusannya?" tanya Daren tanpa membuka matanya.
"Gue akan nikah sama lu" ucap Fany. Fany terpaksa menerima lamaran Daren, mungkin dengan menerima lamaran Daren Ia bisa membayar rumah orang tuanya.
"Hah, jika gue tahu lu mau nikah sama gue segampang ini. Gue nga bakalan susah-susah merangkai kata-kata yang menjijikkan untuk melamarmu" ucap Daren. Ya Daren sengaja menunggu Fany, karena Ia tahu Fany akan membutuhkan dirinya. Daren tidak sengaja melihat chat Fany dengan temannya yang meminta pinjaman uang, tapi Daren tidak tahu uang itu untuk apa.
"Gue akan nikah sama lu dengan satu syarat"
-
-
-
-
-
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan like, komen, dan vote nya. jangan lupa juga tambahkan sebagai cerita favorit kalian agar mendapat notifikasi setiap up.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🍂Daun 🍁 Kering🍂
Iya Kak bukan ia 😁
2022-04-30
0
Istri Sahnya eunwoo
lanjut
2021-08-13
0
maemunah
hanya di sini artis di tolak🤪
2021-07-12
4