Fany kembali kekamarnya mengistirahatkan tubuh dan fikirannya, berusaha terlihat baik-baik saja dan kuat walau hatinya sangat rapu.
Pukul 22 : 30 Daren mengendap endap keluar kamar, menuju ruang tamu mencari sesuatu. Memeriksa dan melempar setiap bantal sofa, namun yang di cari belum juga di temukannya. Lelah mencari di ruang tamu, Ia menuju dapur dan memeriksa tong sampah. Pria itu menumpahkan isi tong sampah dan mengaduk-aduknya namun juga tidak menemukan yang di carinya.
"Sial, kenapa tidak ada !" gerutunya. Pria itu keluar dari apartemennya, berfikir bahwa yang di carinya mungkin sudah di buang ke pembuangan terakhir di sekitar apartemennya.
Nathan yang hendak keluar kamar mengambil air minum mengurungkan niatnya saat melihat Daren sedang mengaduk-aduk isi tong sampah di dapur. Ia memperhatikan gerak-gerik kakak iparnya yang sedikit mencurigakan baginya di balik pintu kamarnya.
Dia melangkahkan kakinya menuju kamar utama di mana kamar kakak iparnya terletak. Pria itu mengetok-ngetok pintu berniat membangunkan Fany. "Apa kak Fany sudah tidur." tanya sedikit berteriak sembari mengetuk pintu kamar kakaknya, karena yang dia tahu pasangan suami istri akan tidur satu kamar.
Fany samar-samar mendegar suara ketukan pintu, namun bukan berasal dari pintu kamarnya, melainkan pintu sebelah. Seketikan gadis itu membulatkan matanya dan buru-buru keluar kamar saat mendengar panggilan Nathan. Dia tidak ingin adiknya mengetahui hubungan sebenarnya dengan Daren. Gadis itu mengendap-endap keluar kamar, dan melangkahkan kakinya menjauhi kamarnya menuju tangga seolah-olah baru saja dari dapur.
Ia menepuk pundak Nathan. "Ada apa Than?" tanyanya.
Nathan membalikkan tubuhnya dan megerutkan keningnya mendapati kakanya di luar kamar, padahal sedari tadi Dia berdiri di depan kamar Daren. "Kak Fany kok ada di luar? bukannya kak Fany tidur di kamar kak Daren?" Nathan penuh selidik.
"Itu...gue...dari toilet, iya dari toilet." jawab Fany salah tingkah dan sedikit gugup.
"Lha bukannya di kamar ada toilet ?" Nathan masih dengan tatapan menyelidiknya.
"Toiletnya lagi macet jadi gue pake toilet di dapur." jawab Fany cengegesan mencoba menetralkan kegugupanya. "Lu ngapain di depan kamar Daren?" Nathan mengerutkan keningnya. "Eh maksud gue di depan kamar gue." gadis itu meralat kata-katanya saat melihat adiknya mengerutkan keningnya.
"Itu aku tadi liat kak Daren sepertinya mencari sesuatu, tapi kak Daren terlihat mencurigakan." Nathan mengutarakan maksudnya.
"Oh itu." Fany mengut-mangut. "Yaudah sana tidur udah tengah malam !" ucapnya mendorong tubuh kekar adiknya yang terlihat seperti kakaknya saja. Dia sangat mengatuk tapi tidak mungkin jika dia kembali kemarnya sebelum Nathan masuk ke dalam kamarnya juga.
"Aku nga mau masuk sebelum kak Fany masuk juga."
"Gue mau nunguin kakak kamu dulu, sana cepat tidur!" Fany kembali mendorong tubuh kekar Nathan masuk kedalam kamarnya.
"Yaudah." akhirnya Nathan menyerah membuat Fany bernafas lega.
Gadis itu benar-benar membuktikan perkatannya menunggui Daren pulang, karena dia tahu apa yang sedang di cari suaminya itu. Gadis itu melangkah mendekati pintu saat mendengar kode pintu apartemen terbuka dan menampilkan Pria tampan walau baru bangun tidur dan rambut acak-acakan karena dari tempat sampah.
"Inikan yang lu cari." Fany senyum penuh kemenangan melihat rambut Daren acak-acakan, Ia dapat membayangkan bagaimana seorang idol mengacak-acak tempat sampah tengah malam begini. Fany menyerahkan naskah yang di cari suaminya, yang sengaja ia simpan saat membereskan rumah pria angkuh itu sebelum mereka menikah.
"Bilang kek dari tadi." gerutu Daren. jika saja ia tahu bahwa Naskah yang dicarinya ada pada Fany, mana mungkin ia rela mengaduk-aduk tempat sampah seperti orang gila, mana tempat sampahnya bau lagi.
"Lah emang lu nanya sama gue? kan nga? lagian kan lu sendiri yang ngerobek tuh naskah, untung gue nga buang." ledek Fany masih dengan kekehan kecilnya.
"Lu benar-benar ya!" kesal Daren merebut naskah yang sedari tadi di perlihatkan Fany padanya. Ia melangkahkan kaki lebarnya menuju kamarnya dan.
Brak !!!
Daren membanting pintu cukup keras membuat Fany tersentak kaget. Gadis itu hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dadanya. "Bisa-bisa gua jantungan." gerutunya melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat Nathan bersedekap di depan kamarnya.
"Kak Fany bertengkar dengan kak Daren?" Nathan bertanya dengan tatapan menyelidikinya, sedari tadi dia sudah curiga dengan kelakuan pengantin baru di hadapannya. Malam ini adalah malam pertama mereka tapi mereka malah berkeliaran tengah malam.
"Nga, gue nga bertengkar." kilah Fany di sertai gelengan kepalanya. "Biasa, kak Daren kalau sudah mendalami karakter ya gitu." lanjutnya.
"Lu kan tahu sendiri kakak iparmu idol dan juga aktor."
"Oh," Nathan ber oh ho riah dan masih berdiri di depan kamar kakaknya.
"Nih anak kek satpam aja." gurutu Fany membatin ia sangat kesal tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. "Ngapain masih disitu sana tidur." usirnya mengibas-ibaskan tangannya.
"Kak Fany juga ngapain disitu? sana tidur !" Nathan membalikkan kata-kata kakaknya. "Aku nga bakalan masuk kamar, sebelum kak Fany masuk." lanjutnya
Fany menghela nafas panjang, melihat sikap keras kepala Nathan yang tidak jauh beda dengannya. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu kamar Daren. Dengan ragu dan perasaan was-was akan mendapatkan bentakan dari suaminya. Ia memegang gagang pintu namun belum juga membukanya.
Fany melepaskan gagang pintu dan berbalik berharap Nathan sudah masuk kedalam kamarnya. Namun dugaannya salah, adiknya ternyata masih berdiri di depan kamarnya dengan senyuman dan tatapan yang tidak pernah lepas darinya. Gadis itu terpaksa masuk kedalam kamar Daren.
Fany mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, namun tidak mendapatkan sang empunya kamar. Dia memutar tubuhnya dan tersentak mendapati suaminya baru saja keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk menutupi bagian bawahnya. Gadis itu mengalihkan pandangan ke arah lain saat tak sengaja melihat dada bidang pria di hadapannya dan juga perut roti sobeknya.
Daren bersedekap kesal mendapati Fany di dalam kamarnya. "Lu ngapain di kamar gue! gue sudah bilang Lu hanya bisa menginjakkan kaki lu di dapur dan kamar lu saja !" bentaknya dengan suara setengah berteriak.
Tanpa pikir panjang dan malu, Fany segera menutup mulut Daren sebelum mengeluarkan sumpah serapah dengan nada tinggi, Ia tidak ingin Nathan mendegarnya. "Kecilkan suara lu, Nathan ada di luar !" bisiknya di telinga suaminya.
Daren menghempaskan tangan Fany dengan kasar. Ia menyeret gadis muda itu menuju pintu dan menyuruhnya keluar. "Keluar !" kesalnya namun setengah berbisik, Ia juga takut Nathan mengetahui yang sebenarnya. Bisa hancur repotasinya jika seseorang mengetahuinya yang hanya mempermainkan sebuah pernikahan tanpa memikirkan perasaan seseorang yang mungkin saja sengsara dan terluka karenanya.
Fany menghalangi tangan Daren yang hendak membuka pintu, Ia takut adiknya masih ada diluar. Namun melihat tatapan membunuh suaminya, gadis itu menyerah dan membuka pintu kamar pria angkuh itu.
Fany mengembangkan senyumnya setelah membuka pintu kamar Daren.
"Kenapa
-
-
-
-
-
TBC
Terima kasih para Reader karena bersedia mengikuti cerita author.
jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.
Hay kakak-kakak tercinta, author potato juga ikut lomba You Are A WRITER season 5 loh.
Jika kakak-kakak tercinta suka dengan cerita author, jangan biarkan votenya kendor ya🙏😊.
Karena dengan vote, komen, dan like kalian insya allah auhtor berkesempatan maju kedepan.
Salam manis dari auhtor potato😊😊😊🥰.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
maemunah
pengantin gilan sih ini
2021-07-12
1
Mega Risma
semnagat semangat up Thor ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
2021-04-03
1