Setelah mengantar Daren kerumah sakit dan memastikannya baik-baik saja. Fany keluar dari ruang rawat Daren dan menunggu keluarga Daren di depan meja resepsionis. Fany memperhatikan wanita cantik dan anggun bersama dengan tiga orang pria menghampiri meja resepsionis.
Fany sayup-sayup mendegar wanita tersebut menanyakan pasien bernama Daren.
"Permisi, apa di rumah sakit ini ada pasien bernama Daren Danuwinarta?" tanya Elina menajer Daren. Elina datang bersama Deon dan dua orang pengawal.
Fany yang melihat perawat mengarahakn wanita itu menuju kamar perawatan Daren mengikutinya dari jauh. Fany belum yakin siapa wanita itu, karena memang manajer Daren tidak pernah terlihat oleh media.
"Kau jaga pintu depan rumah sakit! jangan sampai para reporter berhasil masuk dan mengambil gambar Daren!" perintah Elina pada dua pengawal yang di bawanya. Elina khawatir kecelakaan Daren ini akan menjadi topik panas besok pagi.
Kedua pengawal menganguk hormat dan melaksanakan perintah Elina.
"Dan kau Deon, urus konferensi pers yang tertunda!" perintah Elina pada Deon.
"Baik kak." Deon berlalu pergi dan segera melaksanakan perintah Elina.
Fany yang melihat satu persatu pria itu pergi dan menyisakan wanita cantik memasuki ruang perawatan Daren segera mengikutinya, namun langkahnya terhenti saat pintu ruang rawat tertutup rapat. Fany memutuskan berdiri di depan pintu menunggu wanita cantik itu keluar.
"Bangunlah! tidak ada orang lain disini, aku tahu kamu tidak terluka sama sekali." ucap Elina menutup tirai rumah ruang rawat Daren, takut paparazi mengambil gambar Daren.
Ya Elina tidak tahu bahwa Daren di bawa kerumah sakit karena pingsan. Yang Elina tahu Daren hanya pura-pura pingsan untuk menghindari masalah atas perintahnya.
Elina mendegus kesal karena Daren belum juga bangun. "Tidak ada siapa-siapa disini jangan ber akting lagi. Kau sungguh beruntung mendapatkan masalah hari ini, dengan begitu kita tidak perlu berbohong karena terlambat menghadiri konferensi pers." omel Elina duduk di kursi samping brankar Daren.
Elina mulai khawatir saat Daren belum juga bangun. "Hey apa kau benar-benar pingsan!" Elina menguncang tubuh Daren membuat sang empunya tubuh mengeliat dan memegangi kepalanya.
"Kau benar-benar terluka?" tanya Elina merapikan selimut Daren.
"Hanya kepalaku saja yang sakit." Daren bersandar di kepala brankar r di bantu Elina.
"Bagaimana dengan konferensi pers nya?" tanya Daren yang baru teringat dengan konferensi pers yang sempat tertunda karenanya.
"Konferensi pers tetap berjalan sebagaimana mestinya. Aku mengumumkan kau mengundurkan diri menjadi pemaran utama dalam drama frish love dengan alasan kau kecelakaan." ucap Elina santai.
Daren mendelik mendegar perkataan manajernya. "Kenapa kau mengumumkan bahwa aku mengundurkan diri dan butuh istirahat? kau tahu sendirikan ini adalah drama pertamaku, selama ini aku hanya menjadi bintang dengan menyanyi dan aku ingin merasakan rasanya ber akting." protes Daren. Daren sangat ingin memainkan perang utama drama frish love selain alurnya yang bagus, drama itu hampir sama dengan kisahnya.
"Diamlah! sudah beruntung aku menyelamatkan repotasimu di depan publik. Apa kau ingin namamu tercemar karena terlambat datang ke konferensi pers frish love? kamu tahu sendiri bagaimana kepribadian sutradara Radit. Dia mempunyai prinsip tersendiri dan tidak memandang kau aktor papan atas atau bukan. Dia akan menendangmu keluar hanya karena keterlambatanmu." jelas Elina membuat Daren diam seketika.
"Mengerti!" Elina memukul kepala Daren dengan buku.
"Apa kau mau membunuhku!" kesal Daren dan mengelus kepalanya yang terasa sakit.
"Ya maaf, aku tidak tahu bahwa kepalamu itu terluka." Elina mengelus kepala Daren karena merasa bersalah.
Daren yang tidak sengaja melihat tangan Elina terluka segera mengengamnya. "Kenapa tanganmu terluka? apa suamimu menyiksamu lagi?" Daren menatap Elina dengan tatapan menyelidik.
Elina menarik paksa tangannya dari gengaman Daren. "Aku terjatuh tadi." Elina menyembunyikan tangannya dan memgambil tas. "Aku masih ada urusan lain, Deon akan menemuimu sebentar lagi." Elina berjalan menuju pintu dan membukanya. Elina tersentak kaget melihat wanita berdiri di depan pintu.
Fany yang yang melihat Elina membuka pintu memperlihatkan senyumnya.
Tanpa banyak bicara, Elina menarik Fany masuk kedalam ruang rawat Daren. Daren yang melihat kedatangan Fany mendegus kesal dan membuang muka kearah lain. Daren sangat kesal pada Fany karena telah melemparya dengan batu dan merusak mobilnya.
"Apa saja yang kau dengar!"tanya Daren tanpa menatap lawan bicaranya.
"Saya mendegar semuanya." jujur Fany yang memang mendegar semua pembicaraan mereka.
"Kau salah satu paparazi kan? dan sengaja mengupin pembicaraan kami!" tuduh Daren.
"Daren diam lah!" bentak Elina yang mulai kesal dengan sikap Daren yang selalu seenaknya saja dan tidak menghargai orang lain.
"Saya memang mendengar pembicaraan kalian, tapi saya tidak bermaksud untuk menguping, saya datang kesini hanya untuk meminta uang ganti rugi. Kak Daren hampir menabrak saya dan mengakibatkan motor saya rusak, dan lutut saya terluka." ucap Faby the point.
"Kalian tenang saja, saya tidak akan membocorkan apa yang saya dengar hari ini, dan saya akan menganggap bahwa saya tidak pernah mendengarnya." lanjut Fany.
"Halah bilang saja kamu ingin di suap kan?" tuduh Daren.
"Jangan dengarkan Dia! berapa semua ganti rugi yang hari kami bayar?" tanya Elina sopan.
"Setelah saya hitung-hitung semuanya 800 rb sudah termasuk biaya rumah sakit." jawab Fany.
Elina mengeluarkan ponselnya. "Bisa saya minta kode QR nya." pinta Elina memperlihatkan ponselnya yang siap memindai untuk mentasfer uang.
Fany mengulurkan ponselnya, memperlihatkan kode QR nya pada Elina, dan dalam sekejap notif bukti transferan masuk kedalam ponsel Fany. Fany mengecek jumlah uang yang di transfer Elina pada akunnya. Fany membulatkan matanya melihat jumlah transferan dar Elina. "Dua juta? ini terlalu banyak." batin Fany.
Fany menganggap uang dua juta itu terlalu banyak, maklumlah Dia hanyalah anak kost yang tidak mempunyai orang itu.
"Sudah masuk kan?" tanya Elina memastikan.
"......" Fany mengangukkan kepalanya. "Ini terlalu banyak, saya akan mengembalikannya separuh." ucap Fany menyerahkan ponselnya bersiap memindai kode QR Elina.
"Tidak perlu." tolak Elina. Elina ikhlas memberikan uang itu pada Fany.
"Saya janji tidak akan membocorkan apa yang saya dengar hari ini." ucap Fany yang mengira uang yang di transfer Elina adalah uang untuk menutup mulutnya.
"Saya percaya itu, saya memberikanmu uang itu sebagai bentuk terimakasih saya karena telah membawa Daren kerumah sakit." jawab Elina yang mengerti maksud ucapan Fany.
"Kalau begitu saya akan memberikan anda uang ganti rugi untuk kak Daren." ucap Fany yang tidak ingin mendapatkan uang itu dengan cuma-cuma.
Elina menghela nafas melihat sikap keras kepala wanita di hadapannya. "Baiklah jika itu membuatmu nyaman." Fany memindai kode QR yang di perlihatkan Elina dan mentrasfer uang satu juta dua ratus.
"Saya sudah mentrasfernya, kalau begitu saya pamit dulu." Fany pamit undur diri.
"Tunggu," cegah Elina. "Ini kartu nama saya, jika kamu membutuhkan bantuan suatu hari nanti hubungi saya!" Elina memberikan kartu namanya pada Fany.
"Terimakasih kak." Fany mengambil kartu nama itu dan berlalu pergi.
-
-
-
-
-
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Yani
nyimaak
2022-02-02
0
Istri Sahnya eunwoo
lanjut
2021-08-13
0
maemunah
kayaknya seru
2021-07-12
1