Evan melangkahkan kakinya dengan gusar, melewati lorong dengan ruangan-ruangan di sisi kanan dan kirinya.
Beberapa anak buah Benedict tersebar di beberapa titik, membuat Evan tidak nyaman. Bukan karena takut jika ia di serang, tapi ia takut jika Jasmine kenapa-napa di luar sana.
Meskipun ia yakin jika Ben tidak akan melakukan hal itu, tetap saja Evan tidak pernah tau apa yang ada di pikiran setan tua itu.
"Jangan menatap ku seperti itu. Atau aku akan mencongkel matamu yang satu lagi." Evan berucap ketika berhadapan dengan Joe yang tertawa puas melihat kedatangan Evan di sana.
"Sebelum kau melakukan itu, aku yang akan lebih dulu memisahkan kepala dari tubuhmu." Joe balik menantang.
Meninggalkan Joe dengan rahang mengeras, Evan pun masuk ke dalam satu ruangan yang paling besar di antara yang lain. Mewah dan elegan dua kata yang pas untuk menjabarkan-nya.
Tidak terlihat siapapun disana, hanya kursi dengan sandaran yang cukup tinggi, serta asap yang timbul dari balik kursi itu.
"Apa yang kau inginkan? Cepat katakan" Evan tak ingin berbasa-basi, bahkan ia tidak berminat mendudukkan dirinya di sana.
Kursi hitam itu berputar, bersamaan sosok pria parubaya yang tengah duduk santai disana dengan ekspresi menjengkelkan.
"Sudah ku duga kau pasti akan datang" Benedict beranjak dari kursinya, dengan masih menghisap rokok di tangannya.
"Terpaksa!" Evan mengeram.
"Aku tak peduli, yang penting kau sudah datang." Ben berjalan ke sisi jendela kaca yang besar, dan menatap ke bawah.
"Kau membawa wanita itu?" Ben bertanya.
"Jangan pernah sentuh wanita ku, atau aku akan menghancurkan perusahaan mu." Evan mengancam.
Anggukan kecil terlihat samar dari tubuh Ben, namun Evan masih bisa melihatnya. "Kau tidak akan melakukan itu"
"Aku akan melakukannya jika kau mengusik kehidupan ku." Balas Evan lagi.
"Kembalilah ke rumah dan kembali bergabung dengan ku, maka semua akan aman." Ben membalik tubuhnya, menatap Evan dengan serius.
"Kenapa tidak Axelo saja, dia sangat menginginkan posisi ini bukan? Aku tidak berminat sama sekali. Aku ingin menikmati duniaku, menjadi manusia normal."
"Normal katamu?" Ben tertawa keras, "sejak lahir saja kau sudah tidak normal." Ejek Ben.
"Dan, ini semua karena ulah mu, kau yang membuat ku seperti ini." Evan sangat marah.
Ben hanya memberikan seringai kecilnya, dan kembali berucap "aku memang sengaja, agar kau menjadi tangguh dan pantas untuk meneruskan perusahaan ayah."
"Cih, Tidak akan. Harusnya kau tau jawabannya bukan? Lalu kenapa masih memaksa?"
"Baiklah jika itu mau mu" Ben meraih ponsel yang tergeletak di atas mejanya, lalu menghubungi seseorang.
"Urus wanita itu" Ben mematikan ponselnya dengan senyum licik.
"Brengsek!! Bedebah!" Evan menendang kursi yang ada di hadapannya, hingga benda itu terjungkal di bawah. Berlari ke luar ruangan itu dengan raut cemas.
Bahkan Evan tak menghiraukan tawa mengejek dari Joe, saat ini fokusnya hanya Jasmine. Ia bersumpah akan menghabisi mereka semua dengan cara yang amat menyakitkan, jika saja anak buah Benedict sampai menyentuh ataupun menyakiti kekasihnya.
Pergerakan lift terasa begitu lama untuk Evan, ia sudah tidak sabar lagi untuk sampai di basment, dan segera menemui Jasmine.
"Jasmine..." Evan berseru lantang begitu pintu lift terbuka, berlari ke tempat dimana ia memarkirkan mobilnya.
Semoga gadis itu baik baik saja?
"Fuc*!!" Evan meremas rambutnya kuat, matanya memerah seolah akan mengeluarkan api. Otot-otot di sekitar wajahnya menenggang hingga timbul ke permukaan.
Napas yang memburu di sertai dadanya yang naik turun menandakan Evan amat marah, dan siap menghabisi siapa saja.
Baru saja Evan berniat membuka pintu mobilnya, terdengar tepukan tangan diiringi tawa mengejek dari arah lift membuat Evan menoleh, dan menunda niat awalnya.
"Bangsat!! Dimana wanita ku?"
Pisau andalannya sudah siap di tangan, dan langsung menyerang Joe yang sedang melangkah ke arahnya.
Berkat kelihaian Joe, pria itu bisa menghindar dan menghimpit tubuh Evan di dinding basment.
"Kau bodoh!!" Bisik Joe membuat Evan semakin marah.
"Aku pastikan akan memisahkan tulang dari daging mu!!" Geram Evan.
"Lakukanlah jika memang aku yang menyakiti wanita mu. Tapi jika tidak, maka kau harus kembali ke rumah dan bergabung dengan ayahmu."
****
Jasmine terkejut ketika Evan datang ke apartemennya dengan wajah tegang, nafasnya memburu sampai dadanya naik turun. Bahkan tadi saat masuk, pria itu sampai mendobrak pintunya dengan keras.
"kau kenapa?" tanya Jasmine heran.
Evan tak bersuara, dia langsung memeluk tubuh Jasmine dengan erat, sangat erat sampai Jasmine kesulitan bernapas.
"apa yang terjadi dengan mu?" Jasmine kembali bertanya, karena Evan tak kunjung bersuara. "Aku tidak bernapas Evan. kendurkan pelukan mu."
Evan pun mengendurkan pelukannya sedikit, hanya sedikit. Lalu hanya hembusan nafas pelan yang terdengar dari pria itu.
Setelah lama kesunyian mengambil alih, kini Evan pun membuka suaranya. "Bisa kah kau berjanji pada ku?"
"berjanji, untuk apa?" Bingung Jasmine.
"Berjanji saja apa susahnya, kenapa harus bertanya!"
"Tentu saja aku harus bertanya lebih dulu, untuk apa aku berjanji. Kalau kau menyebutkan yang tidak tidak maka aku akan menyesalinya nanti."
Evan melepaskan pelukannya, menatap Jasmine dari dekat dengan kening saling menempel.
"Berjanjilah untuk menjaga diri, dan tetap hidup bersama ku." kata Evan.
Dan, Jasmine hanya mendengus. Sifat posesifnya kumat lagi.
Jasmine pun mengalah dengan mengangguk pelan, "I promise."
"Kalau begitu ceritakan padaku, apa yang terjadi dengan mu, sampai kau kesetanan seperti ini?" Jasmine menjauhkan wajahnya dari Evan.
"Aku mencemaskan mu Jessy, aku takut setan itu akan menyakitimu." Evan berujar lirih.
"Aku baik-baik saja, justru aku takut dengan sisi lain mu itu."
Evan tak bersuara, terdiam bagai patung. Memory kelam itu kembali berputar di kepalanya membuat Evan terguncang.
Jasmine menegakkan posisi duduknya, dan memberanikan diri menyentuh pipi Evan.
"Hei, ada apa?"
Yang pertama Jasmine lihat adalah, punggung pria yang bergetar diiringi isakan kecil yang berasal dari pria di sampingnya.
Evan menangis? Demi apa, seorang psycho seperti dia bisa menangis?
Dari artikel yang ia baca, cara efektif untuk menenangkan seseorang yang sedang menangis adalah mengusap punggungnya.
Jasmine mengulurkan tangannya mengusap punggung Evan, perlahan namun bergerak naik turun.
Merasakan ada tangan yang mengusap punggungnya, lantas Evan menoleh dengan raut menyedihkan, matanya merah menggenang dengan bulir bening disana.
Duh, hati kecil Jasmine jadi tersentuh dan tidak tega.
"Jangan pernah meninggalkan ku dengan alasan apapun, aku tidak ingin kehilanganmu" Evan berujar serak sambil menahan tangan Jasmine yang bergerak di punggungnya.
Dan Jasmine hanya menganggukkan kepala bingung, tidak tau harus bereaksi seperti apa melihat sisi lain Evan yang rapuh.
🍁🍁🍁
Tidak ada manusia yang benar-benar kuat, meski seorang psycho sekalipun. Sisi gelap dan kekuatan yang di tunjukan, hanya untuk menutupi kerapuhan dan kesedihan di Lubuk hatinya.
Mereka bisa sakit, menangis, tertawa dan ingin bahagia.
Intinya, gak ada manusia yang sempurna, karena cuma ada di merk rokok.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Reni romli
gilaaa thorrr tegang banget bacanya...
tapi bikin nagih mau baca terusss 💜👍👍👍
2021-12-27
0
KomaLia
eet dah
2021-12-22
1
Cuni Cuni
datang aja...dr pada menyesal
2021-10-31
1