TDSOL-BAB 17

Hari itu, Jasmine merasa sedikit bahagia sambil menatap ke sekeliling ruangan, tepatnya Apartemen sederhana miliknya yang beberapa hari ini ia tinggalkan. Semuanya masih nampak sama, tidak ada yang berubah.

"Ah, rasanya nyaman sekali. Tidak ada yang lebih nyaman selain tinggal di rumah sendiri."

Jasmine merentangkan kedua tangannya di atas tempat tidur nan tipis itu. Ia rindu tidur di ranjang itu sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya.

Entah kerasukan apa, pria sinting itu mau melepaskan dirinya untuk kembali pulang ke apartemen. Padahal sejak kemarin pria itu bersikeras melarangnya untuk pulang, karena takut ia akan melarikan diri. Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba mengijinkan?

Aneh! Pikirnya.

"Ah, yasudahlah. Masa bodoh, aku harus menikmati masa masa ini sebelum si gila itu datang mengganggu."

Jasmine meraih ponselnya, mencari kontak Lucia sahabat-nya, dan mulai mengetikan pesan singkat disana.

Lucia, kau sedang apa? Aku sudah kembali ke apartemen, datang dan bawakan makanan yang enak untuk ku ya.

Jasmine terkikik sendiri membaca pesan yang ia kirim pada sahabat-nya itu.

Sejak bersama Evan, ia sudah tidak lagi bekerja di tempat ayah Lucia yang otoriter itu. Dan, sudah beberapa hari ia mangkir dari mata kuliah. Untungnya Lucia mau membantu memberikan alasan pada dosennya, jika ia sedang dalam masalah dan pulang ke kampung halaman menemui orangtuanya.

Helaan napas panjang Jasmine hembuskan, karena lama tidak mendapatkan balasan dari Lucia.

Tiba-tiba perasaan sepi menggelayuti Jasmine, biasanya di setiap kesempatan ia selalu bertengkar dengan pria menyebalkan itu. Ada saja tingkahnya yang membuatnya kesal.

Dulu, Jasmine ingin sekali pergi dari pria itu. Tapi, kenapa baru sebentar saja ia berpisah dengan pria itu, rasanya tidak mengenakan sekali seperti ini.

Ah, sial! Kenapa ia jadi memikirkan si gila Evan itu.

Ting! Bunyi pesan masuk.

Jasmine membuka pesan tersebut, namun kemudian ia mengerutkan keningnya ketika membaca nama yang tertera di sana.

Lovely? Cih. Kapan aku memberi nama aneh di dalam ponsel ku.

Lovely : jangan terus memikirkan ku, aku tau saat ini kau sedang rindu. Tunggu aku.

Jasmine meringis ngilu membaca isi pesan tersebut, siapa juga yang sedang rindu.

Tunggu? Jadi lovely itu Evan? Si pria gila... WTF.

Jasmine : jangan terlalu percaya diri Tuan, tidak ada alasan untuku merindukan dirimu.

Kirim. Jasmine tersenyum puas membalas kata kata Evan, mematahkan rayuan recehnya.

Lovely : Aku juga sangat merindukanmu, sebentar lagi aku akan menemui mu.

Jasmine : tidak usah datang, aku juga tidak peduli.

Lovely : baiklah, aku percepat. Beberapa menit lagi aku sampai.

Jasmine melempar benda pipih itu ke samping, membiarkan benda itu terus berbunyi tanpa berminat untuk membalas, atau sekedar melihatnya.

Kali ini bukan nada pesan singkat yang terdengar, melainkan panggilan suara. Awalnya Jasmine mengabaikannya, namun panggilan itu tak kunjung berhenti dan sangat menggangu.

"Dasar psykopat jelek" Jasmine menggerutu sambil meraih benda pipih itu, dan langsung menggeser tombol hijau pada layar touchscreen-nya tanpa melihat siapa si penelpon.

"Ada apa lagi?" jawabnya ketus.

"Wohoo, santai Nona. Tidak perlu marah-marah begitu."

Jasmine langsung menjauhkan ponselnya dengan dahi berkerut. Suara bariton dari balik line telepon itu bukanlah suara Evan.

"K-kau siapa?" Tanyanya takut-takut.

Terdengar kekehan pelan dari sebrang sana seolah menertawakan Jasmine. "Kau sungguh tidak mengenal suara ku?"

"Jangan bercanda, ini tidak lucu" balas Jasmine sekenanya.

"Sabar Nona, aku tidak sedang melucu, aku hanya ingin berteman dengan mu."

Dan detik kemudian suara bel di depan pintu apartemennya berbunyi. Jasmine pun menoleh ke arah sumber suara, lalu kembali menatap layar ponselnya.

"Katakan siapa dirimu atau aku matikan sekarang?"

"Ok, ok. Baiklah, aku Lucas, kau bisa memanggil ku Luke."

"Luke?" Jasmine mencoba mengingat, namun suara bel kembali terdengar membuyarkan pikiran Jasmine.

"Tunggu sebentar!!" Jasmine berseru dari dalam kamar, berharap si tamu bersabar sedikit.

"Ada apa? Apa ada yang mengganggu mu?" Luke turut bertanya ketika mendengar kegaduhan di sana.

Jasmine pun segera beranjak turun dari tempat tidur dengan ponsel yang masih menempel di telinga.

"Sepertinya ada tamu yang tidak sopan, berkunjung." Sahut Jasmine sekenanya.

"Jangan di buka kalau begitu." Luke memberi usul.

Jasmine berdesis, "memang kau siapa berani mengatur ku?"

"Aku? Aku temanmu sekarang."

Sambil berjalan menuju pintu Jasmine berdesis mendengar ucapan Lucas "aku bahkan belum setuju."

"Ayolah Nona, setuju saja..."

"K-kau? Cepat sekali?" Jasmine terkejut.

"Siapa?" Lucas turut bertanya.

Buru-buru Jasmine mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, dan langsung menyimpan ponselnya dalam saku celana.

"Kenapa di matikan?" Evan bertanya sambil menyelonong masuk ke dalam apartemen Jasmine.

"Ahh, tidak. Itu...emm hanya telepon salah sambung." Dustanya dengan degub jantungnya yang berdebar-debar tidak karuan karena sudah membohongi Evan.

"Salah sambung?" Dahi Evan berkerut menatap Jasmine.

Gadis itu mengangguk cepat.

"Tapi kenapa wajah mu terlihat ketakutan begitu?"

"Hum, ketakutan? Aku tidak ketakutan. Kau terlalu berlebihan." Jasmine berkelit, dan langsung meraih paperbag yang di bawa oleh Evan.

"Kau bawa apa?" Tanyanya dengan senyum ceria, untuk mengalihkan perhatian Evan.

Evanpun seketika lupa dengan kecurigaannya, "tentu saja makanan, kau kan suka makan"

"Wahh, ini makanan kesukaan ku."

Jasmine berbinar bahagia melihat beberapa kotak makan yang di bawa oleh Evan, semuanya makanan favoritnya.

"Kau menyukainya?"

"Tentu saja..." Sahutnya tanpa menatap Evan, matanya masih fokus dengan aneka makanan yang ada di hadapannya. Kemudian Jasmine langsung meraih sendok, dan mencicipinya.

Evan tersenyum melihat cara makan Jasmine yang tidak malu-malu, bahkan mulutnya sampai penuh dan kesulitan mengunyah.

"Kau mau coba?"

Evan menggeleng seraya tangan-nya menahan sendok yang Jasmine arahkan padanya. "Tidak, aku tidak lapar. Semuanya untuk mu makan lah."

"Yasudah, akan aku habiskan semuanya. Jangan menyesal ya nanti." Kata Jasmine.

"Tidak akan, karena aku punya kau untuk mengganjal lapar ku." Sahut nya santai, membuat Jasmine nyaris tersedak.

Tapi Evan justru tertawa, namun tangannya tetap menyodorkan air minum untuk Jasmine sambil berucap. "pelan-pelan saja Nona, aku tidak meminta makanan mu."

Jasmine meraih air minum itu dan meminumnya hingga habis tak bersisa, lalu meletakan gelas itu di atas meja dengan sedikit hentakan.

"Dasar otak mesum!!!" Serunya sambil mengacungkan garpu pada Evan, setelah makanannya tertelan sempurna.

Evan pun bangkit dari sofa mencoba menghindari serangan Jasmine. Dan yang terjadi selanjutnya adalah mereka berdua saling kejar-kejaran memutari sofa dengan Jasmine yang memegang garpu, dan Evan yang tertawa terbahak.

Hingga akhirnya Jasmine tersandung kakinya sendiri dan oleh kedepan. Evan yang melihat itupun langsung menangkap tubuh Jasmine agar tidak terjatuh ke lantai, tapi malah jatuh ke atas sofa dengan posisi saling tumpang tindih.

🍁🍁🍁

To be continued...

Terpopuler

Comments

VS

VS

cut !

2021-12-13

1

Tati Aulia

Tati Aulia

semakin abang evan marah malah bikin kelepek2

2021-11-05

1

Indah Ipong

Indah Ipong

mulai nih....romantis2 an aja thor ,jangan yg sadis2😂

2021-11-01

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!