TDSOL-BAB 10

Jasmine tak hentinya mengumpat, bahkan mencakar punggung Evan yang hanya terlapisi kaos hitam saja. Masa bodoh jika tubuh pria sinting itu luka luka, memang itu yang ia inginkan.

Evan menjatuhkan tubuh Jasmine di sofa dengan sedikit mendorongnya hingga Jasmine memekik kesakitan.

"Kau tidak bisa bersikap lembut sekali saja padaku?"

Jasmine melakukan kesalahan besar sudah membentak seorang Evan, pria itu bukanlah manusia biasa yang bisa di suruh suruh, terlebih oleh wanita.

"Ada harga yang harus kau bayar jika ingin aku bersikap lembut padamu" sahut Evan santai dengan seringai kecil di bibirnya.

"Aku tak punya uang jika itu yang kau minta"

"Aku tidak butuh uang." Sahutnya santai setelah mendudukkan dirinya di samping Jasmine.

Jasmine berdecih, harusnya ia tau jika pria di depannya ini golongan sultan yang tersembunyi. Lalu apa yang di minta jika bukan uang?

"Jika kau meminta dengan tenaga ku, aku tidak mampu! Kau lihat tubuhku yang kurus ini bukan?" Bantah Jasmine dengan pandangan menelusuri tubuhnya sendiri.

"Cium aku, maka aku akan bersikap lembut padamu."

Jasmine menjatuhkan rahang-nya lebar, mendengar permintaan Evan. Pria itu masih berusaha keras untuk mendapatkan ciuman darinya.

Menyebalkan sekali! Dasar mesum!

"Kau tidak akan pernah mendapatkan itu!"

Jasmine bangkit dari sofa ketika Evan mulai mendekat padanya. Dan, kali ini pandangan Evan terasa berbeda, seperti bukan Evan yang biasanya, terasa dingin dan kelam.

"Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau."

"Aku pengecualian." Balasnya cepat.

Evan menyeringai seraya melangkah maju mendekati Jasmine, menghadapi wanita keras kepala seperti Jasmine sungguh menguras emosi.

"Aku bisa mendapatkan itu tanpa persetujuan darimu."

Jasmine terus melangkah mundur hingga tubuhnya terpojok di tepi kitchen set milik Evan, bahkan pria itu terus melangkah maju.

"Stop!" Jasmine mengangkat tangan menahan tubuh Evan.

"Kenapa? Kau takut?"

Evan masih terus melangkahkan kakinya kaki panjangnya, dengan sengaja menyudutkan wanita keras kepala itu hingga tak berkutik.

"Apa kau akan membunuhku?" Tanya Jasmine dengan wajah yang mulai pucat.

"Tergantung" sahut Evan santai. "Jika kau mau menuruti kemauan ku, aku tidak akan membunuh mu."

"Kau tahu bukan, bahkan aku tidak takut dengan kematian."

Bohong. Bahkan Jasmine mengucapkan kata-kata itu dengan bibir bergetar. Masih mencoba mempertahankan dirinya meski saat ini tubuhnya terasa lemas. Ia yakin, Evan bisa saja membunuhnya saat ini juga, seperti melempar pisau pada pria di luar saat itu.

"Tapi sayangnya tubuhmu berkata lain."

Evan mengurung tubuh Jasmine di antara lengan kekarnya. Namun gadis di depannya ini tak kunjung jinak, bahkan dengan sengaja memancing emosinya, dengan kata-kata menantang.

"Kalau kau ingin membunuhku lakukanlah dengan cepat" ucap Jasmine.

Evan mendekatkan wajahnya dengan raut tanpa ekspresi. "Aku tidak berniat membunuh mu"

"Lalu untuk apa kau melakukan ini padaku?!" Sergah Jasmine cepat.

"Cium aku, itu saja."

Jasmine menarik nafasnya dalam, mencoba mengendalikan emosi-nya. Ia tidak mau tunduk begitu saja, terlebih di perintah seenaknya oleh pria itu. Ia bukan wanita murahan yang mudah di taklukkan.

"Baiklah" Jasmine menghela napas pelan, "memohon lah padaku, maka aku akan mencium mu"

Jasmine menyeringai kecil, ia ingin membalikan keadaan, dan membuat Evan menurut dengan nya.

"Aku tidak pernah memohon pada siapapun." Ucap Evan di depan wajah Jasmine dengan kilat mata penuh gairah.

"Untuk mendapatkan sesuatu, seseorang harus berusaha bukan?" Jasmine menahan dada Evan agar tidak menghimpit tubuhnya di antara tepian set kitchen.

"Aku bisa saja memaksamu." Evan semakin memojokkan Jasmine, hingga tubuh mereka seakan menyatu. Merasakan setiap hembusan nafas wanita itu yang semakin memacu adrenalin-nya.

"Apa susahnya memohon padaku, dan kau akan mendapatkan apa yang kau mau."

Jasmine berucap dengan senyum menggoda, menahan sakit di pinggangnya yang terhimpit di antara tepian kitchen set dengan tubuh kekar Evan.

Evan terdiam. Pria itu nampak berpikir dengan syarat yang di ajukan oleh Jasmine. Dan, Jasmine bisa melihat itu dari tatapan tajam nan kelam milik Evan.

Kini tatapan kelam itu berubah menjadi tatapan hangat yang penuh kilatan gairah.

"Fine, dengan satu syarat. Jangan pernah berpikir untuk mendekati pria lain meski aku tak melihatnya."

"Itu tidak akan terjadi jika kau bisa bersikap lembut padaku." Tantang Jasmine lagi, seperti Evan belum tahu siapa dirinya. Ia hidup seorang diri di kota yang keras ini, hingga mengharuskan dia menjadi wanita yang kuat dan tidak mudah tunduk.

"Baiklah"

Jasmine tersenyum menang, akhirnya pria itu mengalah dan menuruti kemauannya.

Evan menghela napas panjang sebelum akhirnya mengatakan apa yang ingin wanita itu dengar.

"Kiss me... please." Kata Evan dengan raut memohon.

"Dengan senang hati Tuan psycho."

Jasmine berjinjit, melingkarkan tangannya di punggung Evan. Lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Evan, sedikit meremas rambut kecoklatan pria itu sebelum kakinya melemas karena sengatan akibat ciuman itu.

Berawal dari kecupan ringan, berubah menjadi ******* yang semakin panas dan menuntut. Evan menggigit bibir bawah Jasmine untuk memberi akses padanya lebih leluasa menelusupkan lidahnya, dengan tangannya yang mulai menjelajahi pinggang ramping milik Jasmine.

Tak mau kalah begitu saja, jemari lentik Jasmine mengusap punggung bidang Evan dengan pola abstrak. Dan membalas ciuman panas Evan dengan menghisap bibir pria itu.

Sejenak Evan melepaskan pangutannya karena khawatir wanita di depannya ini kehabisan napas.

Evan menyatukan keningnya dengan gadis itu, dengan napas yang berantakan. Kemudian menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai kecil seraya berucap.

"Kau bisa membuatku memohon, maka aku bisa membuatmu mendesah kan namaku dan merintih di bawah tubuhku.

Setelah mengatakan itu Evan kembali menyerang bibir Jasmine yang sedikit membengkak karena ulahnya. Ciuman itu berubah penuh gairah hingga Jasmine kesulitan mengimbangi permainan Evan, bahkan tangan pria itu mulai menelusup masuk ke dalam pakaiannya.

Jasmine menarik napas dalam, kemudian mendorong tubuh pria depannya itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Jujur saja saat ini lututnya terasa lemas dan mulai terhanyut dengan sentuhan pria itu. Tapi, ia tidak mau di bodohi lebih dari ini.

Pangutan itu terlepas secara paksa karena Jasmine mendorong tubuhnya dengan cukup keras. Evan mengangkat kedua tangannya ke udara dengan tatapan bingung.

"Kau tidak akan pernah mendapatkan lebih dari sekedar permainan ini."

Jasmine mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangannya. Melempar tatapan kebencian pada pria di depannya ini.

"Kau mau memanipulasi ku dengan permainan mu itu huh?!" Ujar Jasmine berang.

Evan menyugar rambut kecoklatan miliknya ke belakang, sembari mengigit bibir bawahnya. Bibir wanita singa itu benar-benar membuatnya lupa diri, rasanya begitu lembut dan menggoda.

"Tidak ada yang memanipulasi mu" Evan melangkahkan kakinya melewati Jasmine yang memasang benteng diri, lalu menggelengkan kepala dengan senyuman ganjil.

"Ah...huh! Haruskah aku percaya padamu, Tuan sakit jiwa?!"

Evan meletakan botol minuman yang di pegangnya dengan sedikit hentakan, ia tidak suka dengan panggilan itu.

Jasmine berjengit kaget dengan reaksi yang Evan berikan, mata hazel itu berubah kelam dengan sisi gelap yang mendominasi. Jasmine menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia sudah mengatakan tidak akan memancing emosi pria itu jika ingin berumur panjang.

"Aku menyukai rasa bibir mu."

Wajah pucat ketakutan Jasmine berubah menjadi merona malu, jawaban singkat pria itu benar-benar membuat jantungnya bekerja sangat buruk. Kata kata sederhana tapi cukup membuat darahnya berdesir cepat.

"Kau merona, apa kau senang aku mengatakan itu?" Evan melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyum kemenangan.

"Tidak?!"

"Baiklah nona blushing, kau harus di hukum karena berbohong."

Segera Jasmine berlari menjauh, menaiki undakan anak tangga dengan tertawa kencang. Sejenak berhenti dan berbalik sambil menjulurkan lidahnya ke arah Evan.

Dengan gemas Evan mengejar wanita itu sembari membuka kaos hitam yang membalut tubuh kekarnya. Sengaja memamerkan tatto di sekujur tubuhnya pada wanita itu yang nyaris menghilang di balik pintu.

🍁🍁🍁

To be continued...

Bang, biar aku yang bagian ngasih hukumannya. Ini jatah aku 😂

Terpopuler

Comments

Ning Dwi

Ning Dwi

ihh gemes ❤️❤️

2021-12-23

2

KomaLia

KomaLia

waah mulai bucin dia

2021-12-21

1

VS

VS

hukumannya bikin ketagihan bikin salah

2021-12-13

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!