TDSOL- BAB 4

Jasmine berjalan ke arah Evan dengan mengangkat tinggi tinggi tas yang di pegang-nya, dengan niat memukul kepala pria sinting itu agar menjaga kata-katanya.

Evan bangkit dengan cepat dan menahan pergelangan tangan gadis itu, dengan sorot mata yang menyiratkan sisi gelapnya yang nyaris mendominasi.

"Apa yang mau kau lakukan dengan tas itu?" Tanya Evan dengan suara beratnya.

Jasmine merasakan sesuatu yang berbeda dengan mata itu, dengan cepat Jasmine memalingkan wajah dengan perasaan takut. "Ehm, aku...aku cuma mau meletakan tas ini di sofa. Jangan berpikir buruk."

Perlahan Evan melepaskan cekalannya, setelah mendengar penjelasan dari Jasmine. Evan kembali terduduk seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Kenapa kau diam saja? Aku haus"

Jasmine meletakan tasnya di sofa, menarik nafasnya dalam. Kemudian berbalik sambil mengepalkan tangannya kuat. Dengan perasaan kesal setengah mati Jasmine berjalan menuju pantry kecil miliknya. Pria itu benar benar sedang mengerjai dirinya, hanya karena sudah merasa menjadi pahlawan pria itu berbuat seenaknya. Ini tidak bisa di biarkan!

Jasmine membuka lemari pendingin di dekat kitchen set mini miliknya, mencari minuman untuk pria sinting itu. Manik abu-abunya menjelajah isi pintu dimana minuman dingin berjajar rapih disana. Jasmine mengurungkan niatnya mengambil minuman yang manis, tangannya beralih menyentuh botol bening dengan air mineral tanpa rasa, tidak ada manis manisnya seperti minuman di indo.

Dengan santai Jasmine membawa botol itu berjalan ke ruang tamu dimana pria sinting itu menunggu.

"Minumlah" Jasmine meletakan botol itu di meja, tepat di depan Evan.

"Hanya air mineral? Kau tidak punya Gin atau Cava?" Tanya Evan dengan raut tidak percaya.

Jasmine menggelengkan kepala "kau pikir aku ini siapa? Itu minuman mahal."

Evan mengangguk, ia percaya dengan kata kata gadis di depannya ini. Dari tempat tinggalnya saja jelas gadis itu bukan orang berada. "Setidaknya Casera kau pasti punya, karena harganya terjangkau."

"Tidak punya, jangankan untuk membeli meminuman seperti itu, untuk bayar sewa apartemen ini saja aku harus bekerja keras." Sahut Jasmine kesal.

"Baiklah aku percaya, kau memang mengenaskan."

Haiishh...menyebalkan sekali! Masih untung di beri minum, harusnya aku beri dia sianida saja. Gerutu Jasmine dalam hati.

Evan menyambar botol air mineral itu, dan meminumnya hingga tandas. Namun ke heningan di antara Jasmine dan Evan teralihkan saat pintu apartemennya di ketuk dari luar.

Jasmine segera bangkit dari sofa, berjalan malas menuju pintu. Siapa yang berani bertamu ke apartemennya, ia benar-benar sedang tidak ingin di ganggu. Namun, saat membuka pintu Jasmine terkejut melihat sosok yang berdiri di balik pintunya.

"Jasmine.." pekik seseorang itu sambil memeluk tubuh Jasmine hingga terhuyung kebelakang.  "Aku senang akhirnya kau pulang."

"Lepaskan bodoh. Kau bisa membunuhku" Seru Jasmine bercanda.

Seseorang itu segera melepaskan pelukannya dengan cengiran khas-nya "Maaf, aku terlalu senang melihat kau masih hidup dan berdiri depan ku."

Jasmine mendorong kening sahabatnya itu. Teman satu kampus sekaligus anak dari pemilik coffe shop tempatnya bekerja.

"Jadi kau berpikir aku sudah mati?"

"Bagaimana tidak? Sejak kemarin kau tidak ada kabar. Aku pikir kau tertangkap oleh teman Andreas" Jelas Lucia dengan wajah seriusnya.

"Ah sudahlah, aku tidak ingin membahas mereka. Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan wanita barunya"

"Dia sudah mati." Sahut Evan menyela pembicaraan mereka berdua.

Jasmine dan Lucia menoleh bersamaan ke arah sumber suara, terlebih lagi Lucia yang terkejut dengan pria tampan yang sedang berjalan ke arah mereka.

"A-apa maksudmu dia sudah mati?" Tanya Jasmine dengan raut bingung.

"Iya, aku sudah membunuh bajingan itu. Dia tidak pantas hidup." Kata Evan lagi dengan wajah tanpa ekspresi.

"are you kidding me?"

"No, I am serious." Sahut Evan datar tanpa ekspresi.

Jasmine yakin jika pria sinting di sampingnya tidak berbohong, terlihat jelas dari raut wajahnya dan otaknya yang sinting. Tapi, kabar ini tidak baik untuk sahabatnya, tidak ada yang boleh mengetahui hal ini. Bisa bisa ia terseret kasus pembunuhan yang sama sekali tidak di lakukannya.

"Oh em...sebaiknya kau pulang saja Lucia, tidak usah kau pikirkan kata katanya. Dia hanya sedang bercanda." Jasmine mendorong tubuh sahabatnya itu keluar lalu menutup pintu itu rapat.

"Jasmine, kau tega sekali padaku. Aku bahkan belum berkenalan dengan kekasih barumu itu." Seru Lucia dari balik pintu, mengetuk pintu itu berulang-ulang.

"Sudahlah kau pulang saja, lagi pula pria sinting ini bukan kekasihku." Sahut Jasmine dengan sedikit berteriak. Jasmine tidak lagi mendengar suara sahabatnya dari balik pintu, yang berarti Lucia sudah pergi dari apartemennya.

Evan yang tengah bersandar di dinding seketika tersenyum menyeringai, sepertinya menjadikan gadis bodoh itu sebagai kekasihnya sedikit menarik. Ia bisa sedikit bermain-main dan mendapatkan teman untuk menghabisi musuhnya.

"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa menurutmu itu lucu?" Sentak Jasmine dengan memicing tajam.

Evan mengedikkan bahunya acuh, kini mata hazel Evan menelusuri penampilan Jasmine dari atas hingga bawah. Cukup cantik.

Jasmine menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, menatap pria di depannya waspada. Tatapan pria sinting itu bagai menelanjangi dirinya.

"Hei! Jaga matamu jerk!" Umpat Jasmine kesal.

"Aku baru menyadari, ternyata kau gadis yang menarik" seru Evan dengan senyum yang sulit di artikan.

Jasmine mundur beberapa langkah, lepas dari si gila Andreas kini masuk ke kandang harimau sinting.

"Aku tidak menarik. Bahkan tubuhku juga jelek." Kata Jasmine dengan wajah di buat buat jelek.

Evan tertawa pelan, seraya menggelengkan kepalanya. Gadis itu berpikir terlalu jauh, tidak terlintas sedikitpun di kepalanya untuk meniduri gadis itu. Sampai saat ini wajah Kanaya masih memenuhi dunia-nya, dan mungkin tidak akan terganti, karena ia juga tidak berniat untuk mengganti posisi Kanaya dengan gadis lain.

"Jadilah kekasih ku." Kata Evan dengan wajah serius.

"A-apa ma-maksud mu?" Tanya Jasmine terbata.

"Aku mau kau jadi kekasihku. Apa itu masih kurang jelas?"

Jasmine menganga lebar, pernyataan pria sinting itu menguras energinya.

Di saat semua pria menyatakan dengan romantis, dengan kejutan yang manis. Tapi pria di depannya ini seperti sedang menawarkan kematian padanya.

"Tidak mau! Lagi pula kau juga seorang pembunuh." Seru Jasmine lantang, mencoba melawan dengan sisa keberaniannya.

"Baiklah...sepertinya aku perlu sedikit bermain denganmu, agar kau tau bahwa aku tidak suka di bantah." Evan mengeluarkan pisau lipat di saku celananya. Melangkah kakinya perlahan mendekati Jasmine, seraya tangannya memainkan pisau itu dengan gerakan menggoda.

"A-apa yang akan kau lakukan?! Jangan bercanda, ini tidak lucu." Seru Jasmine lagi dengan berjalan mundur.

"Sayangnya aku sedang tidak bercanda."

Evan terus melangkah maju memojokkan Jasmine hingga ke dinding, mencengkeram kedua pipi Jasmine. Dengan sengaja Evan memainkan pisau itu di pipi mulus Jasmine yang berdiri bergetar.

"Ja-jangan." Mohon Jasmine dengan bibir bergetar, bahkan bulir bening mulai menetes di pipi mulusnya. Jasmine mengatur nafasnya yang memburu, dengan degub jantung yang menggila.

Evan mendaratkan pisau tajamnya itu di bawah rahang Jasmine dengan sedikit menekan, menggores sedikit hingga mengeluarkan darah.

"Bagaimana? Apa kau setuju menjadi kekasih ku?"

🍁🍁🍁

To be continued...

Terpopuler

Comments

Yu Gina

Yu Gina

Hero

2022-02-07

0

BARAKHA RICHARDO

BARAKHA RICHARDO

ya amplooopp....si pakboii minta dikelonin jga nihhh🤣🤣😂😂😂

2021-12-07

2

nobita

nobita

ini namanya pemaksaan Evan..

2021-11-29

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!