TDSOL- BAB 18

Evan menopang dagunya memperhatikan Jasmine yang masih melanjutkan makannya hingga nyaris tandas semua makanan yang di bawanya. Bahkan tak sedikit noda makanan mengotori bibirnya.

Tangannya terulur meraih tisu, dan membersihkan area bibir Jasmine yang kotor. Sesaat Jasmine terdiam dengan perlakuan Evan yang tiba-tiba berubah romantis seperti film yang sering ia tonton.

"Kau mau mencuri kesempatan? Dasar modus!!" Ucapnya ketika tersadar sembari menampik tangan Evan menjauh.

Evan tersenyum tipis mendengar umpatan Jasmine, "aku mesum dengan kekasih ku, apa salahnya?"

Jasmine mendengus sebal, "jelas saja tidak boleh. Kita kan belum menikah. Aku tidak mau rugi."

"Justru aku yang rugi jika di sentuh oleh mu. Ketampanan ku akan luntur perlahan." Balas Evan dengan kekehan kecil.

Jasmine berdecih, sok tampan sekali pria itu. Ia pun melempar kentang goreng yang ada di dekatnya ke arah Evan.

"Heii, apa yang kau lakukan?" Evan menyingkirkan makanan itu dari bajunya, dan mengelap noda minyaknya dengan tisu.

"Itu agar ketampanan mu tidak luntur Tuan tampan..." Sahut Jasmine dengan sedikit penekanan di bagian kalimat terakhir.

"Dasar kau yah, sepertinya kau harus di beri hukuman..." Evan beranjak dari kursinya dan melangkah cepat ke arah Jasmine. Dengan cepat gadis itu berlari menjauh sambil terkekeh geli, ia terus berlari kesana kemari menghindari kejaran Evan .

Hingga terdengar suara ponsel yang berdering, mengalihkan perhatian Jasmine. Gadis itu langsung berlari ke arah meja dimana ponselnya tergeletak dan masih berdering.

Baru saja ia menggeser tanda terima pada layar enam inci itu, ponselnya sudah berpindah tangan. Evan baru saja merebut benda itu dari tangannya.

"Selamat siang Nona Jasmine... Boleh aku berbicara sebentar, ini mengenai kekasih mu itu." Kata seseorang di sebrang sana begitu panggilan terhubung.

"Apa yang ingin kau bicarakan dengan kekasihku?" Evan menyahut dengan nada datar sambil meremas ponsel Jasmine, geram. Karena ternyata yang menghubungi Jasmine adalah Joe.

"Hahaha, kau sedang bersama wanita mu ternyata, kebetulan sekali..."

Jasmine memperhatikan raut wajah Evan dari dekat, pria itu yang tadinya ceria berubah menjadi kesal ketika mengangkat panggilan itu.

"Siapa?" Tanya Jasmine tanpa suara, namun Evan hanya melirik sekilas, dan malah mengabaikan pertanyaan gadis itu. Evan bergegas melangkahkan kakinya menjauh menuju balkon.

"Issh, menyebalkan sekali, itu kan ponselku!!" Gerutu Jasmine, hingga terdengar oleh Joe yang malah tertawa di sebrang sana.

"Cepat katakan saja apa tujuan mu!!" Tanya Evan sekali lagi.

"Aku hanya menjalankan perintah ayah mu saja, dia ingin kau kembali bergabung dalam organisasi" katanya.

"Tidak akan!" Sahut Evan cepat.

"Kau yakin? Ku pastikan wanita mu dalam bahaya mulai saat ini. Dan itu karena mu..."

"Brengsek!! Akan ku habisi kau" Otot-otot wajah Evan timbul ke permukaan.

"Baiklah, segera temui ayahmu, sebelum pisauku yang menancap lebih dulu di tubuh kekasih mu itu."

Ancaman Joe tidak main main, Evan tidak ingin mengambil resiko jika terjadi sesuatu pada Jasmine.

"Katakan pada Iblis tua itu, aku akan menemuinya. Dan jangan pernah menyentuh kekasih ku."

"Akan aku sampaikan pada ayahmu, dia pasti akan senang mendengarnya."

Evan memutus panggilan itu, dan meremas ponselnya kuat, hingga buku-buku tangan-nya memutih. Lalu, kembali masuk ke dalam untuk menemui Jasmine.

Evan meletakan benda pipih itu ke atas meja dengan raut tidak bersahabat. Ia melirik Jasmine yang duduk di hadapannya, bisa ia lihat raut penasaran di wajah gadis itu yang seolah menunggu penjelasan darinya.

"Dia Joe, orang suruhan ayahku." Jelas Evan sambil meraih segelas air dan meminumnya.

"Darimana dia tau nomor ku? Dan kenapa dia tidak langsung saja menghubungi mu?"

"Mudah saja mereka mencari nomor mu, kau tentu tau kan siapa aku..." Sahut Evan, dan Jasmine memasang wajah kesal. Ia hampir saja lupa bahwa dirinya sudah memasuki dunia Evan yang penuh dengan teka teki.

***

Mobil hitam yang Evan kemudian berhenti di sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Terhitung sudah hampir dua tahun lamanya ia tidak menginjakan kaki di tempat itu, sejak ia memilih keluar dari perusahaan sang ayah.

Evan keluar dari dalam mobil yang sudah terparkir di basment khusus untuk keluarga Matias. Ia mengedarkan pandangannya pada sekitar yang nampak gelap, dengan sedikit penerangan di sudut sudut saja.

Ini adalah kantor milik Benedict, yang sudah lama sekali ia tinggalkan. Bahkan tidak pernah terpikirkan sedikitpun ia akan kembali lagi kesini.

Derap langkahnya yang tenang begitu terdengar memenuhi area sepi itu, tidak ada satu manusia pun yang lewat di sana, tapi jangan pernah berpikir untuk berbuat jahat, karena kamera pengintai tersebar di segala sisi.

"Aku benci sekali tempat ini" ujar nya sambil terus melangkah menuju lift.

Dari tempatnya berdiri saat ini, Evan dapat melihat beberapa orang berjaga di dekat lift dengan senjata di tangan mereka.

Seorang penjaga berpakaian serba hitam menatap ke arahnya dengan sedikit anggukan.

"Selamat datang Tuan Evan" sapa pria tinggi itu dengan nada datar namun tetap menunjukan rasa hormatnya.

Evan tak menjawab, hanya menganggukkan kepala sekilas. Tatapan tajam yang Evan layangkan mampu membuat para pria berpakaian hitam itu menunduk.

"Menyingkir lah!"

Mereka semua serentak menepi, memberi akses untuk Evan masuk ke dalam lift.

Siapa yang tidak akan tunduk jika di tatap oleh iblis pencabut nyawa seperti Evan yang terkenal bengis dan tanpa ampun itu. Hanya dengan mendengar namanya saja sudah membuat aliran darah terasa berhenti, apalagi jika harus bertatap mata seperti itu. Mungkin jantung mereka langsung pamit permisi dari tubuh, sebelum di koyak oleh Evan.

CK, menyeramkan!.

Begitu Evan menghilang di balik pintu lift, mereka mulai berbisik.

"Benar-benar tampan." Kata pria berkepala plontos.

"Jangan katakan jika kau menyukainya?" timpal temannya dengan nada jiji.

"Tentu saja tidak, aku masih menyukai wanita. Kau tentu tau selera ku bukan?" Sahut berkepala plontos itu menjelaskan.

"Seleramu? Si gadis penjaga kantin yang bertubuh gendut itu?"

Hahahaha...

kedua pria yang sejak tadi hanya mendengarkan perdebatan, kini turut mentertawakan temannya. Dan langsung mendapat pukulan ringan di perut mereka dari si pria berkepala plontos itu.

"Jangan mengejek wanita ku. Dia itu tidak gendut, hanya saja...kelebihan berat badan." Katanya setelahe mencari kata kata yang pas untuk sang kekasih.

"Ya, ya... Kau benar. Kekasih mu hanya kelebihan berat badan." Mereka membenarkan, namun kembali tertawa sambil berlarian menghindari serangan si pria yang sedang mengacungkan pistol di tangannya.

"Kemari kau!! Biar ku lubangi kepala kalian semua!!" Kata si pria itu sambil terus mengejar.

Dan teman-temannya itu masih berlarian sambil tertawa, mereka tau jika ucapan pria itu hanya bercanda. Dan suasana basment yang tadinya sunyi dan terkesan seram itupun menjadi ramai akibat ulah mereka.

🍁🍁🍁

To be continued...

Terpopuler

Comments

VS

VS

Jasmine yang dilap bibirnya, aku yang melayang

2021-12-13

1

Indah Ipong

Indah Ipong

uhh..tampan sekali Si Evan

2021-11-01

1

sheka

sheka

lanjut

2021-08-22

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!