Evan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia ingin lebih cepat sampai dan menemui kekasihnya_Jasmine.
Tapi, tunggu! Ruangan itu?
Apa ia sudah mengunci ruangan itu atau tidak ya? Lalu dimana ia meletakkan kunci ruangan itu?
Pikiran Evan kacau tidak menentu, memikirkan Jasmine yang seorang diri di dalam mansion dengan satu ruangan rahasia.
Evan terus berharap jika Jasmine tidak membuka ruangan rahasia miliknya. Mengingat betapa keras kepala-nya wanita itu, Evan tidak yakin jika Jasmine tidak membukanya.
"Ah, Sial!" Evan memukul stir mobilnya keras.
"Semoga saja Jasmine tidak memasuki ruangan itu." Rapal nya di sepanjang perjalanan.
Mobil hitam milik Evan menerobos pintu besi yang berdiri kokoh di depan sana, kemudian memarkirkan mobilnya asal di pelataran mansion-nya dan turun dari mobil itu dengan tergesa-gesa.
Perasaan senangnya karena bisa membunuh wanita itu dengan cepat tanpa mengotori pisau-nya lenyap seketika. Pikiran Evan kini beralih pada Jasmine yang mungkin saja memasuki ruangan rahasianya.z
Evan membuka pintu itu dengan mata menelusuri ke seluruh ruangan. Dimana kekasihnya?
"Jasmine"
Panggil Evan sembari menaiki anak tangga, setelah melihat lantai bawah tidak menemukan wanita itu.
Kemudian berlanjut menuju kamar tidurnya, serta balkon. Wanita itu tidak ada dimana-mana.
Hanya tinggal satu ruangan saja, yaitu ruangan rahasia tempat dimana ia menyimpan barang-barang pribadinya.
Ketika Evan ingin membuka kuncinya, ternyata ruangan itu tidak terkunci. Segera Evan melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.
"Jasmine..."
wanita itu menoleh dari sebuah album foto yang sedang ia pandangi di atas pangkuannya.
"Hei, kau sudah pulang." Jasmine berseru dengan suara cerianya seperti biasa. "kemarilah"
Evan berjalan mendekat ke arah Jasmine yang sedang duduk di sofa dengan sekaleng minuman dan buah apel di atas meja.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Evan datar begitu berdiri di samping wanita itu.
Jasmine mengerjapkan matanya beberapa kali, kenapa Evan terlihat tidak suka ia berada disini? bukan kah pria itu sendiri yang mengijinkan dirinya bebas melakukan apa saja di rumah ini selama dia pergi.
"Aku? aku sedang melihat-lihat foto masa kecilmu." kata Jasmine.
wajah misterius dan mata hazel milik Evan yang berada di atas wajahnya. "kecuali tempat ini, tidak boleh.".
Jasmine menatap wajah Evan yang serius itu, sungguh menyeramkan batin Jasmine.
"kenapa?" tanyanya sedikit penasaran.
"Ini ruangan terlarang, lebih baik kau keluar sekarang."usirnya pelan.
Jasmine mengerutkan dahinya dalam, kenapa Evan melarangnya? memang ada apa dengan ruangan ini?
"tidak ada alasan, ini rumah ku. Dan aku tidak suka kau memasuki area pribadi ku." kata Evan dengan nada datar.
"Tapi aku ingin melihat-lihat" Jasmine kembali menatap bingkai foto tadi, "apa itu ibu mu?" tunjuknya.
"Kau ini banyak bicara sekali!!" Evan mengangkat tubuh Jasmine ke atas bahunya, seperti memanggul beras.
"Heii turun kan aku!!" pekik Jasmine sembari meronta-ronta.
Tapi sayangnya pekikan itu tak mempengaruhi Evan, pria itu tetap membawa Jasmine keluar dari ruangan itu dengan cara memanggulnya. dan segera menutup pintu itu kembali seperti semula, juga menguncinya rapat.
"lepaskan aku Evan?!" Jasmine kembali berteriak. dan Evan langsung melempar tubuh Jasmine ke atas tempat tidur.
"aawww" Jasmine kesakitan di bagian bokong dan sikunya.
Evan sudah tidak memiliki hati, bahkan tangisan Jasmine pun sama sekali tidak di di iraukan ya.
"a-apa yang akan kau lakukan?"
"mengikatmu tentu saja."
"Aku tidak mau mengambil resiko, jika kau akan melarikan diri dariku nantinya." Evan meraih tangan Jasmine yang meringkuk di ujung tempat tidur, dan mengikatnya di sisi ranjang. Ikatan itu begitu kuat, hingga Jasmine merasakan perih di pergelangan tangannya.
"Kau menyakitiku Evan, ini sakit sekali" Evan tidak memperdulikan tangisan kesakitan dari bibir Jasmine. Ia tidak ingin kehilangan wanita itu.
Evan mencengkeram kedua pipi Jasmine dengan satu tangan, mendekatkan ke wajahnya dan berbisik pelan " aku sudah memperingatkan mu, untuk tidak melawanku bukan? Lalu kenapa kau masih melakukannya? Ini lah yang pantas kau dapatkan."
"You are crazy, you monster. I hate you." Umpat Jasmine dengan berderai air mata.
Evan menepuk kepala Jasmine, seraya tertawa pelan, seolah semua perkataan-nya itu sesuatu hal yang lucu. " Kau benar sayang. Dan aku menyukainya."
Jasmine berdecih dan menjauhkan kepalanya. Pria di depannya ini benar-benar gila, jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Akan aku pastikan kau melihat mayat ku, setelah ini." Tantang Jasmine.
Dan perkataan itu kembali menyulut emosi Evan yang sejak tadi berusaha di tahan oleh pria itu. Evan menarik rambut panjang Jasmine ke belakang, hingga wanita itu mendongak dan meringis kesakitan.
"Akan ku pastikan kau merasakan yang lebih dari ini"
Evan berkata dengan rahang mengeras dan sorot matanya bagai menguliti Jasmine hidup-hidup.
Evan mengambil pisau di sebuah kotak khusus di bawah tempat tidurnya, Evan nampak memilah pisau mana yang akan ia gunakan untuk memberi pelajaran pada wanita itu agar tidak melawan.
Pilihannya jatuh pada pisau dengan ujung yang tumpul, tidak besar, tidak juga kecil. Kemudian berjalan mendekat ke arah Jasmine yang semakin terlihat pucat.
"Kau orang pertama yang mencicipi-nya."
Jasmine menggeleng cepat, "don't... please. Don't do it"
Tangisan itu tak merubah keputusan Evan. Ia duduk di tepi tempat tidur sembari mengusap lembut lengan Jasmine.
"Baiknya aku lakukan dimana ya?...disini? Atau disini?" Evan menimang-nimang pisaunya.
Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan, Jasmine tetap setia menggelengkan kepalanya.
Sebelum melakukan itu, Evan menyambar plaster berwarna abu-abu di atas nakas. Dan menutup mulut Jasmine rapat-rapat.
"Emm... mmm_" Jasmine terus meronta.
Namun itu tidak menyurutkan niat Evan untuk menghukum Jasmine, berani sekali wanita itu ingin pergi darinya. Itu tidak akan pernah terjadi, dan Evan tidak bisa menerima kenyataan itu. Dari pertama wanita itu menginjakkan kakinya di dalam mansion-nya, wanita itu sudah di tandai oleh Evan.
Psikopat memiliki kecenderungan menganggap orang lain terbagi menjadi dua, sebagai mangsa atau saingan. Dan Evan tidak memilih keduanya, hingga membuat sikapnya berubah-ubah terhadap Jasmine.
Evan sedikit menekan pisau tumpul itu di lengan Jasmine, membentuk pola abstrak. Darah segar mengalir dari lengan wanita itu dengan tubuh bergetar, tak luput air mata mengalir deras di wajah mulus Jasmine.
Evan membuang pisau itu ke lantai setelah melukai Jasmine, air mukanya berubah pias. Kedua tangan Evan menangkup kedua pipi Jasmine dan menghapus air mata itu.
"Sssttt, semua sudah selesai."
Evan mengecup kening Jasmine lama, seakan ia menyesali perbuatannya yang sudah menyakiti wanita itu. Dan segera melepas plaster yang menutupi bibir wanita itu.
Sementara Jasmine terdiam bagai mayat hidup, pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong. Rasa nyeri menjalar di sekujur tubuhnya hingga tidak bisa menangis, Evan benar-benar menyiksa dirinya dengan kejam. Entah sampai kapan, Jasmine tidak pernah tau apa ia mampu bertahan dengan keadaan seperti ini.
"Maafkan aku" kata Evan tulus dengan wajah ketakutan yang nyata.
Jasmine tak bergeming, mata grey-nya menatap manik hazel milik Evan, seakan mencari kebenaran dari kata kata penyesalan pria gila yang kini sedang memeluknya erat.
"Kenapa kau seperti ini?" Tanya Jasmine lirih.
Evan melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Jasmine yang sedang menata ke arahnya. "Karena aku tidak ingin kau pergi meninggalkan ku."
Mata hazel itu menampilkan sorot mata kesedihan dan kesakitan penuh luka. Pria itu melepaskan ikatan di tangannya dengan hati hati.
"Jika kau seperti ini maka aku akan membencimu."
"Itu lebih baik, asal kau tetap disini." Evan membuka ikatan terakhir lalu mengusap darah di lengan Jasmine dengan saputangan miliknya.
"Kau gila!"
Evan menghentikan aktivitasnya, lalu melempar saputangan itu ke atas nakas. Kemudian berjalan menjauh dan berhenti tepat di depan jendela kaca yang menampilkan pepohonan hijau di luar sana.
Terdengar helaan nafas kasar, Evan bergerak gelisah berjalan dari sisi kanan ke sisi kiri berulang-ulang, ia sangat membenci sebutan itu. Terlebih lagi yang mengucapkan itu adalah wanitanya.
Kemudian, Evan mendekati Jasmine dan menarik dagu wanita itu agar menatap ke arahnya."Dan kau harus tau, pria gila ini menginginkan dirimu dan hanya kamu."
"You are mine Jasmine."
🍁🍁🍁
ya bang, Jasmine punya Abang. Dan yang disana punya aku😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ning Dwi
thor aku suka sekali sma alur ceritanya sampek di baca berulang2 🤣🤣🤣
2021-12-23
2
KomaLia
lebih baik aku mati bang dari pada aku tersiksa
2021-12-21
1
Nyoman Sumartini
ayoo Jasmine bikin Evan jatuh cinta
2021-11-01
1