TDSOL- BAB 1

2 Bulan berlalu.

Rintikan hujan menetes membasahi kota Valencia siang itu, awan mendung serta hawa dingin yang menusuk kulit, nyatanya tak menyurutkan seorang pria yang tengah duduk santai di dalam mobil hitamnya untuk mencari mangsa.

Pria bermata hazel itu sejak tadi mengamati beberapa manusia yang berlalu lalang di jalan, tak ada satupun yang menarik perhatiannya. Padahal saat ini ia ingin sekali membunuh seseorang, karena kekesalannya pada setan tua yang sudah mengusik ketenangannya.

Mata hazelnya terfokus pada segerombolan wanita dan anak kecil yang sedang duduk di bus shelter, untuk menunggu angkutan umum.

Tiba-tiba saja terjadi keributan di sana, seorang anak kecil menangis meraung sambil memukuli wanita yang mungkin ibunya. Sepertinya anak kecil itu sudah bosan menunggu atau mungkin sudah lelah ingin beristirahat. Namun, sang ibu dari  anak tersebut terlihat bingung, sudah mencoba merayu dan menghibur tetap saja anak itu tidak mau diam.

Anak kecil itu berhasil menarik perhatian Evan yang sejak tadi menunggu mangsa untuk melampiaskan amarahnya.

Ya, pria yang duduk di dalam mobil hitam itu adalah Evan Leandro Matias. Seorang pria tampan yang memiliki sisi gelap, atau Psycho.

Sebelumnya Evan tidak pernah membunuh anak kecil, mangsanya adalah wanita dan pria yang berperilaku buruk, yang memancing sisi lain Evan untuk bertindak mendahului Tuhan. Yaitu membunuh mereka dengan koleksi pisau miliknya. Lalu mengirim mereka ke neraka sana. Tapi, sepertinya membunuh anak kecil itu tidak buruk, hitung-hitung sebagai perdananya membunuh seorang anak kecil yang menjengkelkan.

Setelah mencari-cari sesuatu di dalam mobilnya untuk di pakai merayu anak kecil tersebut, Evan segera turun dari mobil dengan memasang senyum ramah di wajahnya.

Perlahan Rain sneaker itu menyentuh aspal yang basah. Evan melangkahkan kaki panjangnya keluar dari dalam mobil itu dan menutupnya kembali dengan santai. Di tangannya sudah ada satu lollipop, entah milik siapa, mungkin korbannya yang kemarin saat menumpang di mobilnya.

Entahlah Evan tidak peduli.

Ketika Evan berhasil menyebrang jalan dan berdiri tidak jauh dari anak kecil itu, tiba-tiba saja seorang wanita dengan dandanan yang tak enak dilihat mendahului dirinya  mendekati anak kecil itu.

Evan mematung, memperhatikan wanita berpenampilan aneh itu dengan seksama. Sepertinya wanita itu menarik juga untuk di jadikan target, juga sekaligus mencoba pisau koleksi terbarunya. wanita berambut pirang dengan sedikit bergelombang, memasang senyum manisnya pada anak kecil itu.

"Hei tampan, kenapa menangis hum?" Wanita itu berjongkok menyamakan tingginya dengan anak tersebut. kemudian menggenggam jemarinya, dan mengusap air mata anak kecil itu.

"Aku bosan, aku ingin segera pulang dan menemui Ricard." Cicit bocah laki laki sekitar usia lima tahunan itu, yang mulai meredakan tangisnya.

"Siapa Ricard? Teman mu? Atau..."

"Dia anjing ku. Aku sudah meninggalkan-nya sejak tiga jam lalu, pasti Ricard sangat kesepian dan juga kelaparan" sahut bocah kecil itu menyela ucapan Jasmine.

Melongo, Jasmine sampai bingung mau bertanya apa lagi. Bocah dengan jaket abu abu dan celana jeans itu terlalu jauh berpikirnya. Dan ekspresi yang Jasmine tampilkan membuat orang yang ada di sana tertawa, begitu juga pria yang sejak tadi berdiri di belakang Jasmine.

Jadi yang membuat bocah laki laki itu menangis sampai meraung-raung, adalah anjingnya? Dan siapa nama anjingnya? Ricard?

Damn, nama sekeren itu hanya untuk anjing? Jiwanya seketika meronta dengan deretan nama mantannya yang tak sekeren anjing itu.

"Ehm" Jasmine berdehem pelan sebelum membuka suaranya, "Ricard pasti saat ini baik baik saja di rumah mu, dia anjing pintar yang setia menunggu mu pulang."

"Darimana Kaka tau kalau Ricard itu pintar? Apa Kaka diam diam memperhatikan anjingku?"

What? Damn it! Anak kecil itu berhasil mempermalukan seorang Jasmine di depan umum dengan ocehannya.

"Hahaha" Jasmine tertawa hambar "mana mungkin aku memperhatikan Ricard mu itu, aku saja tidak tau dimana rumah mu"

Sial, bocah ini!! Dirinya tidak se-menyedihkan itu walau tidak cantik, sampai ia harus memperhatikan seekor anjing!.

"Kakak terlihat cantik dengan wajah itu" cicitnya dengan senyum tipis, dan ocehan bocah itu kembali memancing tawa orang-orang yang ada bus shelter yang di dominasi oleh wanita dan anak-anak.

"Hahaha, ok aku menyerah. Siapa namamu tampan?"

Jasmine mengalihkan pembicaraan sebelum bocah laki laki itu, semakin menjatuhkan dirinya. Sungguh memalukan.

"Evan..."

Reflek Jasmine menoleh kebelakang, mendengar suara bariton yang menyahut dari balik punggungnya. Jasmine bangkit berdiri menatap pria asing dengan tubuh tinggi itu dengan dahi berkerut.

"Tunggu, kenapa Paman yang menjawab? Kaka cantik ini sedang bertanya padaku." Kata bocah itu sambil berdiri di antara Jasmine dan Evan, lalu sang ibu menarik anaknya kembali mundur. "Hugo tidak boleh menyela pembicaraan orang dewasa, tidak sopan."

"Ah, tidak apa apa. Siapa namamu tampan?" Jasmine kembali menatap bocah kecil itu, mengabaikan Evan.

"Namaku Hugo Nathanael. Nama Kaka siapa?" Bocah laki-laki itu tak mau menyerah sampai membuat Evan mengeram kesal.

Jasmine membungkuk kan setengah tubuhnya, lalu menjawil hidung mancung anak laki laki itu.

"Baiklah Hugo yang cerdas, namaku Jasmine, atau kau bisa memanggilku Jessy." ujarnya dengan senyum tipis.

"Hey boy, bus-nya sudah datang. Cepatlah naik dan temui Ricard mu itu sebelum dia mati kelaparan." Sindir Evan mengusir Hugo begitu bus berukuran sedang itu berhenti di belakangnya.

Hugo mendengus seraya mengikuti langkah ibunya menaiki bus, kemudian melambaikan tangannya pada Jasmine begitupun sebaliknya. Dan entah kenapa Evan merasa tidak terima.

Jasmine segera berbalik badan begitu bus itu melaju perlahan, meninggalkan pria asing yang tadi memperkenalkan diri. Ia harus segera sampai di coffe shop untuk menyambung hidup, sebelum pemilik kedai yang terkenal otoriter itu memecatnya.

"Hey, tunggu!"

Jasmine menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang. "Ada apa?"

Evan berjalan mendekat "kau mau kemana? Biar aku yang mengantar mu"

Jasmine menaikan sebelah alisnya menatap Evan, ia sedang tidak ingin berurusan dengan pria manapun. Ia masih syok dengan kematian mantan kekasihnya yang begitu mengenaskan. Ia tidak ingat persisi kejadian malam itu, yang ia ingat hanya ada seorang pria misterius yang menolongnya, namun ketika ia tersadar ia sednag berada di rumah sakit.

"Bukan urusanmu! dan aku tidak butuh tumpangan." Sahut Jasmine ketus. Lalu kembali melanjutkan langkahnya mengabaikan pria asing itu.

Kesal. Evan mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, ia tidak terima di acuhkan oleh wanita itu. Untuk pertama kalinya seorang Evan di abaikan.

Diam-diam Evan mengikuti Jasmine dari belakang, tanpa sepengetahuan wanita itu. Evan tidak suka kekalahan, dan Evan tidak pernah terima penolakan.

Satu hal lagi, Evan sangat menyukai sikap wanita itu yang memancing ***** membunuhnya meningkat drastis.

Tiba-tiba saja perasaan Jasmine tidak enak, seperti ada yang mengikutinya dari belakang, lantas Jasmine memelankan langkahnya dan berbalik badan. Namun, ternyata tidak ada siapa-siapa disana, hanya orang-orang yang berlalu lalang dengan kendaraan masing-masing, dan pejalan kaki yang sibuk dengan ponselnya.

Jasmine menghela napas lega, namun tetap rasanya masih ada yang mengganjal di hatinya. Ia merasa ada sesuatu yang mengancam. Apa teman-teman mantan kekasihnya itu menerornya? Ingin balas dendam dengannya?

Ah, tidak, tidak mungkin. Itu bukan salahnya.

Jasmine menggelengkan kepala, dan mempercepat langkahnya agar segera sampai di tempat kerja. Setidaknya disana banyak orang dan ia akan aman. Dan, ia akan sibuk disana, setidaknya itu bisa mengurangi sedikit masalahnya.

Sementara dari balik pohon Evan terus mengawasi Jasmine yang mulai memasuki sebuah ruko berlantai dua itu. Setelah tahu dimana tempat wanita itu bekerja, lantas Evan segera berbalik menuju mobilnya yang ia parkirkan di sebrang jalan tadi. Dan akan kembali menemui wanita itu untuk menjadi mainan-nya malam ini.

🍁🍁🍁

To be continued...

Terpopuler

Comments

Sienochi Bohay

Sienochi Bohay

kurang sangar thor visual'z😊🙏

2021-12-27

1

KomaLia

KomaLia

serem cerita nya

2021-12-21

1

Pecinta Halu

Pecinta Halu

😁😁😁serrem ya..lanjut

2021-12-03

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!