Sejak kejadian ciuman itu, Jasmine merasa ada yang berbeda dengan Evan, pria itu nampak diam membisu sembari menikmati makanannya. Hening melingkupi suasana makan malam di ruangan itu, hanya terdengar detingan sendok yang beradu dengan piring, Jasmine-pun tidak berani untuk memulai bertanya.
"Aku ingin pergi keluar sebentar. Kau diam saja disini." Kata Evan di sela sela menyuapkan makanannya, tanpa melihat wanita yang sedang di ajaknya bicara.
Jasmine mengerutkan keningnya dalam, penuh tanya "kau mau kemana?"
"Hanya sebentar, kau bisa memakai semua fasilitas yang ada disini."
Evan bangkit dari duduknya setelah menyelesaikan makan malamnya, lalu menyambar gelas di sisi kanan dan meminum isinya hingga tandas.
"Kenapa kau tidak mengajakku?"
Jasmine turut bangkit dan mengikuti Evan yang berjalan menuju pintu sembari memakai hodie hitam di tubuhnya.
Merasa Jasmine terus mengikutinya, Evan-pun berbalik sebelum mencapai pintu, lalu berkata dengan nada datar
"kau hanya akan menyusahkan ku saja nanti. Lebih baik kau diam saja di sini."
Dan, yang terjadi kemudian hanya terdengar suara pintu yang di tutup paksa, dan di kunci dari luar. Jasmine hanya mematung di tempat tanpa berani membantah, pria itu bukanlah Evan yang menciumnya siang tadi, sangat dingin dan mengerikan.
Jasmine berbalik, matanya menilik ke seluruh ruangan. Sudah dua kali ia berada di rumah ini, namun ia belum sempat melihat ke seluruh ruangan yang ada di mansion luas ini.
Perlahan Jasmine melangkahkan kakinya menuju pantry, hal pertama yang ia lakukan adalah mengintip isi lemari pendingin milik Evan.
Damn! Pria itu benar-benar keturunan Sultan, isi lemari pendinginnya saja lengkap, seperti supermarket. Sebenarnya apa pekerjaan pria itu sampai ia memiliki semua ini? Apakah Evan anak dari seorang meliuner yang sengaja mengasingkan diri dari publik.
Ah, masa bodoh dengan semua itu, apa pedulinya? Lebih baik ia menikmati saja, toh dia yang mengijinkan untuk memakai semua fasilitas yang ada di mansion ini.
Jasmine menyambar apel merah kesukaannya, serta satu kaleng minuman dingin. Manik abu-abunya menelusuri ruangan di lantai dua.
Rasa penasaran menggelayuti Jasmine, lantas ia berlalu dari sana dan melangkahkan kakinya menaiki tangga sembari memakan buah apel di tangannya, tanpa memperdulikan ke adaan sekitar. Jasmine berjalan menuju sebuah ruangan dengan pintu yang berbeda warna.
Saat ia menyentuh gagang pintu, ternyata tidak di kunci. Jasmine pun memberanikan diri membuka pintu itu lebih lebar dan mengintipnya.
"Wow" adalah kata pertama yang Jasmine ucapkan ketika melihat ruangan yang sangat rapih dan bersih.
Jasmine melangkahkan kakinya lebih dalam lagi untuk melihat lebih jelas isi ruangan itu. Matanya tertuju pada sebuah foto besar yang tertempel di dinding. Seorang wanita tengah duduk di kursi kayu dengan seorang anak kecil, wajahnya terlihat bahagia terlihat jelas dari senyuman tipis di bibirnya.
Jasmine mencoba mendekati bingkai foto itu untuk melihat lebih jelas, ternyata foto anak kecil itu adalah Evan. Evan kecil dengan gigi yang ompong tengah menatap kamera dengan wajah datarnya.
"ternyata kau itu menyeramkan sejak kecil ya?" Jasmine terkekeh geli sendiri memandangi foto itu, dan beralih melihat-lihat barang-barang koleksi Evan yang lainnya.
***
Evan mengetuk-ngetukan jarinya di atas setir mobil, mata hazel-nya terus memperhatikan orang orang yang berlalu lalang di sekitar tempatnya memarkirkan mobil. Ia sedang mencari mangsa untuk melampiaskan nafsu membunuhnya.
Terlihat di ujung sana, seorang wanita tengah berdiri tepi jalan seorang diri. Pakaian nya sungguh tidak masuk akal, di saat cuaca kota Valencia yang dingin menusuk kulit, wanita itu justru memakai pakaian sedikit terbuka. Rok hitam yang hanya sampai lutut, dengan kaus kaki yang panjang untuk menutupi kakinya. Serta jaket yang hanya menutupi lengannya saja, dan membiarkan bagian depannya terekspose sempurna.
"Dasar bodoh!" Gumam Evan. Lalu ia keluar dari dalam mobilnya berniat mendekati wanita itu, dan mengirimnya ke neraka sana.
Evan menghampiri wanita itu dengan mantel hitam di tangannya, tak lupa memasang wajah tampan dengan senyum hangatnya.
"excuse me"
"Yeah, ada apa. Ada yang bisa aku bantu?" Tanya wanita itu dengan nada menggoda, dan sorot matanya mengatakan ketertarikan.
Cih, Evan memandang wanita itu dengan sorot mata menjijikan. Jauh lebih baik sorot mata penuh kebencian yang di layangkan Jasmine padanya, serta sisi arogansi Jasmine yang selalu menantang dirinya.
"Apa aku boleh mengantarmu? Kau sedang tidak menunggu orang lain bukan?" Tawar Evan sembari memakaikan mantel hitam miliknya ke tubuh wanita jalang itu.
"Ya tentu, jika tidak merepotkan mu. Lagi pula kau benar, aku sedang tidak menunggu siapa siapa."
"Baiklah kalau begitu, mari ikut aku." Ajak Evan pada wanita itu, berjalan beriringan dengan merangkul bahu wanita itu dengan manja.
Setelah masuk ke dalam mobil, Evan langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.
"Dimana rumah mu?" Evan melirik sekilas ke arah wanita itu, lalu kembali fokus menatap ke jalanan di depannya.
"Aku tinggal di apartemen dekat dengan kampus." Kata wanita itu dengan nada lembut yang di buat buat, dan itu amat menjijikan.
Evan menganggukkan kepala paham, apartemen itu dekat dengan apartemen kumuh milik Jasmine.
"Aku tau tempat itu. kalau boleh tahu, siapa namamu?"
"Emili"
"Nama yang cantik, sesuai dengan penampilanmu. Sangat cantik dan menarik." Puji Evan dengan seringai kecil di sudut bibirnya.
"Dan kau siapa?"
"Evan."
"Kau juga sangat tampan dan menggoda." Puji wanita itu ketika melihat lesung pipi saat Evan tersenyum.
Setelah itu tidak ada perbincangan di antara mereka, Evan mencari jalan alternatif lain untuk menghabisi nyawa wanita di sampingnya ini. Ia berbelok ke arah lain dari jalur yang seharusnya, karena jalan menuju apartemen seharusnya lurus.
"Kenapa kita mengambil jalan ini? Ini bukan jalan menuju apartemen ku." Tanya wanita itu bingung.
"Aku ingin menemui saudara ku lebih dulu, dia menunggu ku disana"
Evan memasang senyum ramahnya untuk memanipulasi wanita itu, agar tidak menaruh curiga padanya.
"Dimana saudara mu itu?" Tanya wanita itu lagi.
"nanti kau mengetahuinya."
Evan menghentikan laju mobilnya, lalu keluar seorang diri. Evan berpura-pura menghubungi seseorang sembari berjalan menuju sebuah bangunan kosong yang jauh dari keramaian. Ia berjalan sembari menempelkan ponselnya ke telinga, padahal ia tidak sedang menghubungi siapa siapa.
Emili yang tidak sabaran akhirnya turun dari mobil, dan menyusul dimana Evan menunggu saudaranya itu.
"Apa kau yakin saudaramu akan datang kesini? Disini sangat sepi tidak ada siapapun." Kata Emili sembari bergidik ngeri melihat ke adaan sekitar.
"Tunggu sebentar lagi, dia pasti akan datang."
Emili mengangguk dan turut menyandarkan tubuhnya di dinding bangunan. Sesekali matanya melirik ke arah Evan yang nampak sibuk sendiri.
Namun, perlahan Evan merubah posisinya, berdiri di hadapan wanita itu. Mengurung Emili di antara kedua lengannya seolah seperti pria yang ingin merayu.
"Kau sungguh cantik, apa aku boleh mencium mu?" Evan meminta ijin dengan sorot mata mengarah pada bibir Emili.
Dengan malu malu Emili mengangguk, dan saat Evan mulai mendekatkan wajahnya justru tangannya yang mendarat lebih dulu di leher wanita itu dengan sedikit menekannya. Sontak saja Emili terkejut dan langsung meronta, tapi sayang tidak ada satu manusia pun yang melintas.
"Help" teriak wanita itu meminta pertolongan, namun sepinya keadaan sekitar tak membuahkan hasil, Emili tidak ada yang membantu.
"Enyahlah kau dari muka bumi, jalang " bisik Evan lamat lamat. Emili semakin gelagapan menggapai tangan Evan mencoba melepaskan cekikan di lehernya. Namun, sayangnya itu membuahkan hasil, Evan justru semakin kuat mencengkeram leher Emili hingga gadis itu akhirnya menemui ajalnya.
Evan melepaskan tangannya begitu merasa Emili sudah tiada, hingga tubuh padat Emili jatuh terhempas ke lantai dengan bebas.
Setidaknya hari ini ia tidak perlu repot-repot menggunakan pisaunya untuk menyingkirkan jalang itu.
Segera Evan kembali ke mobilnya, dan ingin segera menemui kekasihnya_Jasmine. Wanita itu pasti akan senang melihat dirinya pergi hanya sebentar saja.
Dengan senyuman mengembang, Evan mengendarai mobil hitamnya pulang ke mansion, rasanya ia rindu dan ingin segera memeluk kekasih bar bar-nya itu.
🍁🍁🍁
Enak banget bang ngabisin nyawa orang 😂
Jasmine Martinez
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
KomaLia
kaya motong ayam aja
2021-12-21
1
VS
ya ampuunn, enak banget ngabisin nyawa, kebangetan km thor bisa bisanya punya ide crita gini !
2021-12-13
1
Lee Fay
aku prnah nnton film bau psycho gni, emg org psycho ini gabisa kita duga. Secara awam kita bakal ngira dia bner2 Dermawan hangat menawan baik hati pdahal itu smua topeng buat memanipulasi korban makanya orang yg harus kita waspadai bukan org yg tampilan atau org yg kita anggap jahat tp org yg kelihatan baik krna klo kita tau dia jahat maka tingkat kewaspadaan kita tinggi sdgkn sma org yg keliatan baik? kita lengah smpai gatau bila sewaktu2 dia berbuat jahat
2021-12-09
1