TDSOL-BAB 9

"Baiklah akan ku turuti kemauan mu." Kata Evan seraya turun dari dalam mobil, dan menutup pintu dengan sedikit membantingnya.

Eh, apa Evan benar-benar akan membunuhnya seperti tadi pagi? Tapi, tunggu! Kenapa pria itu justru masuk ke dalam supermarket itu kembali? Harusnya Evan mencekiknya di dalam mobil dan membuangnya ke sungai.

Astaga! Jangan-jangan yang di maksud Evan adalah, menghabisi jasson? Pria yang sudah membantunya tadi. Ah sial!

Segera Jasmine keluar dari dalam mobil, dan berlari cepat mengejar langkah lebar Evan. Pria itu benar benar sakit jiwa, lain kali ia harus berhati-hati dalam berucap. Atau orang lain yang akan menanggungnya.

"Evan, tunggu!" Teriak Jasmine saat netra abu abunya menangkap punggung tegap milik pria sinting itu.

Benar saja, pria itu berhenti dan berbalik ke arahnya. Jasmine menundukkan separuh tubuhnya dengan tangan menyentuh lutut, mengatur nafasnya yang tersengal akibat mengejar Evan.

"Ada apa lagi?" Evan bertanya dengan raut tanpa ekspresi.

Jasmine menegakkan tubuhnya kembali, lalu membalas menatap Evan garang,  seakan ingin mencolok kedua mata Evan dengan kuku kuku tajamnya. "Apa yang akan kau lakukan huh?!"

Evan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian kecil, dan itu membuat Jasmine menelan ludahnya kelat.

"Apa lagi, selain mengirim dia ke neraka." Sahut Evan santai, seakan menghabisi nyawa orang adalah hal biasa seperti menginjak kecoa.

"Don't! Please..." Mohon Jasmine dengan raut frustasi.

Evan nampak berpura-pura berpikir, sebenarnya ia tidak berminat menghabisi nyawa pria tadi. Tapi, karena Jasmine menantangnya, Evan jadi berpikir ulang untuk menghabisi pria tadi saja agar Jasmine menurut padanya. Dan...berhasil.

"Baiklah, dengan satu syarat." Kata Evan dengan mengusap dagunya.

"Apa?"

"Cium aku...disini"

"What?!" Seru Jasmine sedikit keras, ia terkejut dengan syarat yang Evan ajukan. Sontak hal itu mengalihkan perhatian orang-orang yang ada disana dan menatap ke arahnya dengan pandangan heran.

Jasmine mendengus sebal, Yang benar saja? Di tempat ramai seperti ini, mencium pria sakit jiwa? Jasmine lebih baik mencium kaus kaki bau, daripada harus mencium Evan.

"Aku tidak sudi." Sahut Jasmine, dan segera berbalik meninggalkan Evan. Masa bodoh jika Evan menghabisi Jasson. Enak saja pria sinting itu meminta cium, setelah tadi menghina dirinya di depan pria asing, dengan mengatakan tubuhnya tidak seksi dan sebagainya. Cih!

"Hei, kau tidak mau memenuhi syarat yang ku ajukan?"

Langkah Jasmine terhenti sejenak, dan hal itu membuat Evan tersenyum menang.

Tapi, yang terjadi adalah...Jasmine berbalik dengan senyum menyeringai. Kemudian melepaskan sepatu kets putihnya dan melemparkannya ke arah Evan seraya berkata "cium saja sepatu ku!"

Evan terdiam dengan wajah bodohnya.

Seumur hidupnya hanya tidak ada satu wanita pun yang berani menolaknya selain Kanaya, dan kini bertambah satu lagi. Baiklah, untuk kali ini Evan tidak akan melepaskan wanita ini. Tidak ada mengalah untuk kedua kali.

Evan memungut sepatu Jasmine dan berjalan menuju mobilnya, menyusul singa betina yang berani melemparinya sepatu jelek ini.

Jasmine membuang wajahnya ke arah lain ketika Evan masuk ke dalam mobil, dan duduk di sampingnya. Ia sedikit lega, karena Evan tidak jadi membunuh Jasson, jika sampai itu terjadi, Jasmine akan sangat menyesal.

Evan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, meninggalkan gedung bertingkat itu dalam diam. Ia sudah tidak berselera lagi untuk berbelanja, wanita di sampingnya ini benar-benar merusak moodnya, selalu membangkang.

Jasmine jadi teringat sesuatu, saat Evan mengatakan sudah membunuh Andreas bahkan membunuh pria di kelab malam itu juga. Tapi, Kenapa pria di sampingnya ini masih bisa bebas berkeliaran? Harusnya pria sinting ini di tangkap polisi dan ia bisa kembali ke kehidupannya yang dulu. Jasmine memberikan diri mencoba bertanya pada pria di sampingnya.

"Ehm, aku boleh bertanya sesuatu?"

Evan hanya menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke arah jalanan di depannya. "Tanyakan lah." Sahut Evan tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.

"K-kau sudah membunuh berapa orang?"

Evan mengerutkan dahinya dalam, kemudian tersenyum samar seraya menjawab dengan santai "tidak terhitung."

Sial! Harusnya ia tidak bertanya itu pada pria sakit jiwa berparas tampan ini, sudah pasti jawabannya tidak masuk akal. "Ta-tapi kenapa kau masih bebas berkeliaran, padahal kau sudah menghabisi nyawa banyak orang."

"Maksudmu harusnya aku di tahan karena membunuh?" Evan tertawa, jenis tawa ganjil yang membuat siapa saja merinding mendengarnya. "Kau tau bukan, apa yang terjadi pada para penegak hukum itu jika mendekati ku?"

Jasmine menggeser duduknya hingga menempel dengan pintu, jawaban yang terlalu santai dari mulut Evan benar-benar membuatnya ngilu.

Evan menambah kecepatan mobilnya, dengan sesekali melirik sekilas ke arah dimana Jasmine berada. Gadis itu mendadak bisu setelah mendengar jawabannya.

Evan menggelengkan kepalanya sembari memutar setir mobilnya memasuki area hutan, pepohonan hijau yang menjulang tinggi menjadi pemandangan asri semenjak mobil hitam itu melewati pagar besi di depan sana.

Namun pandangan Jasmine tertuju pada sebuah mobil berwarna biru metalik yang terparkir cantik di ujung sana, Dalam otak kecilnya Jasmine terus berpikir. Mobil milik siapa itu? Apakah evan memiliki janji dengan orag lain?

Evan menghentikan mobilnya tepat di samping mobil berwarna biru metalik itu, dan tidak lama kemudian sosok tampan keluar dari dalam mobil itu.

"Kau selalu saja menyusahkan ku!" Gerutu pria tampan yang terlihat sedikit lebih muda dari Evan. Pria itu langsung melemparkan sekaleng minuman ke arah Evan tanpa ragu, dan langsung di tangkap dengan tepat oleh Evan sebelum mengenai kepalanya.

Evan tak mau kalah, ia membalas perbuatan Lucas dengan melempar pisau lipatnya, hingga nyaris mengenai wajah tampan Lucas, jika saja pria tampan itu tidak menangkap benda tajam yang melayang di depannya dengan cepat.

"Kau masih saja lemah." Kata Evan mengejek.

Reflek Jasmine menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya, setelah melihat adegan di depannya. Dengan cepat Jasmine keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekati Lucas. Evan mengerutkan keningnya melihat Jasmine berlari ke arah saudaranya dengan raut panik.

"Apa kau baik baik saja? Hei, tanganmu mengeluarkan banyak darah. Kau terluka" Pekik Jasmine panik.

Sementara Lucas hanya mengedikan bahunya santai dengan senyum mengejek ke arah Evan. "Ini sudah biasa terjadi."

"Apa? Sudah biasa? Jadi si gila itu sering menyakitimu?" Cecar Jasmine tanpa jeda pada Lucas, bahkan melupakan sosok tampan lain yang sejak tadi memperhatikannya dengan raut kesal.

Lucas mengangguk, dan membiarkan Jasmine menyetuh tangannya. Mengabaikan tatapan membunuh yang Evan layangkan padanya. Luka yang di dapatkan itu tidak sesakit yang di bayangkan, ini sudah biasa bagi Lucas karena memiliki saudara seperti Evan.

"Hei, lepaskan tangan mu dari bajingan itu." Seru Evan pada akhirnya, ia muak melihat wanitanya sangat peduli dengan pria lain.

"Diam! Kau yang bajingan! Dasar sinting!" Sahut Jasmine tak kalah ketus.

"Kau berani membantah ucapan ku?"

"Iya, lalu kenapa?" Tantang Jasmine lagi.

Lucas tertawa keras mendengar perdebatan antara Evan dan wanita bar bar di depannya ini. Sungguh pertunjukan yang langka, tentu saja tidak boleh di lewatkan. Dan sepertinya menarik membuat saudaranya itu cemburu. Lantas dengan sengaja Lucas menyentuh tangan Jasmine dan meletakkan di pipinya seraya berkata "dia sering memukul wajahku di sini"

"Sial! kali ini aku benar-benar akan mematahkan tanganmu luke." Seru Evan dengan mengeratkan giginya.

Tak terima miliknya di sentuh orang lain, Evan segera berjalan mendekat dengan mengepalkan tangan, dan siap melayangkan pukulan ke wajah Lucas, namun Jasmine menghalangi niatnya dengan sengaja berdiri di depan Evan sembari mendelik tajam.

Lucas mengedikan bahunya dengan senyum mengejek, serta mengucap kan kata kata yang membuat Evan semakin murka. "Sepertinya wanita mu lebih menyukai ku dude."

dengan cepat Evan mengangkat tubuh Jasmine ke atas bahunya, lalu melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah mansion.

"Hei, lepaskan aku...bastard sialan!" Seru Jasmine sembari meronta-ronta.

Evan tak menghiraukan teriakan Jasmine, membiarkan wanita itu memukuli punggungnya. Yang terpenting ia harus menjauhkan bajingan itu dari wanitanya.

"Akan ku beritahukan tentang ini dengan yang lain. Termasuk Benedict." Seru Lucas seraya berbalik menuju mobilnya sebelum Evan merobek mulutnya dengan pisau aneh milik saudaranya itu.

🍁🍁🍁

to be continued...

Terpopuler

Comments

KomaLia

KomaLia

cemburu dia

2021-12-21

1

Mutiah Siti Musthofa

Mutiah Siti Musthofa

ngeri2 sedap

2021-11-15

1

Indah Ipong

Indah Ipong

dua bersaudara yg aneh😂

2021-10-31

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!