Udara kota Valencia pada malam hari terasa menusuk kulit, terlebih lagi akhir tahun yang sudah memasuki musim dingin, suhunya bisa mencapai tujuh derajat Celcius. Bayangkan saja?
Jasmine mengeratkan jaket yang di pakainya begitu keluar dari dalam mobil Evan, dengan langkah malas Jasmine mengikuti pria sinting itu dari belakang, entah apa yang akan pria itu lakukan dengan mengatakan membutuhkan bantuannya.
Bibir Jasmine tak luput dari gerutuanya atas tindakan Evan yang semena-mena padanya. Seperti saat ini, ia terus mengikuti langkah Evan dari belakang yang memasuki sebuah kelab malam.
Musik yang memekakkan telinga mulai terdengar, begitu Jasmine melangkahkan kakinya ke dalam ruangan dengan lampu kelap kelip yang mengikuti alunan musik. Di tambah bau alkohol yang begitu menyengat membuat Jasmine ingin muntah.
Evan menarik lengan Jasmine agar mendekat ke arahnya, lalu berbisik di telinga gadis itu.
"Kau lihat, pria yang sedang bersama wanita di sudut ruangan itu?" Kata Evan menujuk seseorang dengan dagunya, ke arah pria yang di maksud.
Jasmine mengangguk, lalu bertanya dengan melakukan hal sama seperti yang Evan lakukan. Mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu dan mulai berbisik "Kenapa dengan pria itu?"
"Kau rayu dia, bawa ke belakang kelab ini" kata Evan dengan tatapan tajam mengarah ke pria berkulit kecoklatan itu. Pria setengah mabuk yang sedang asik mencumbu para wanita yang nyaris tanpa busana di sampingnya, sembari tangannya meraba-raba bagian tubuh wanita itu.
Cih, menjijikan!.
"Cepat lakukan!"
"What?!" Seru Jasmine tidak terima, bagaimana bisa ia merayu pria menjijikan seperti itu. Bahkan untuk mendekatinya saja ia tidak sudi.
Evan mencengkeram pipi Jasmine dan menariknya mendekat, menatap gadis itu tajam seolah ingin menelan hidup-hidup "kau mau menolak?!"
Jasmine menggelengkan kepalanya, sambil mengeratkan giginya kuat menahan kesal. "You crazy!"
"Yes, i'm crazy...why?!" Balas Evan lambat lambat tepat di depan bibir Jasmine, sejenak membuat dirinya merasa tersengat. Kemudian mendorong gadis itu menjauh darinya.
"F*CK you!" Jasmine mengacungkan jari tengahnya.
Evan tertawa sambil mengangkat satu tangannya dengan gerakan mengusir. Mata hazelnya terus memperhatikan langkah Jasmine yang terlihat berhenti beberapa kali, bahkan gadis itu sempat menoleh ke arahnya dengan mengepalkan tinjunya.
Dengan cepat Evan membuang wajahnya ke arah lain, sebelum ada yang curiga dan merusak semua rencananya.
Jasmine menatap pria yang di maksud Evan dengan pandangan ngeri bercampur jijik, bahkan Jasmine nyaris muntah saat melihat tangan pria itu sedang meraba bagian paha wanita dengan pakaian amat minim itu.
Sungguh menjijikan! Batin Jasmine.
"Hei, sedang apa kau berdiri di sana?"
Jasmine berjengit kaget mendengar suara bariton yang baru saja menegurnya, Jasmine menyingkirkan rambut pirangnya ke balik telinga, menatap pria itu sekilas kemudian kembali menunduk.
"Hei, Apa kau bisu?" Sentak pria berkulit kecoklatan itu kesal, karena Jasmine merusak mood-nya dengan berdiri di hadapannya.
Jasmine mengangkat wajahnya sempurna, membalas tatapan pria itu dengan tak kalah bengisnya.
Namun, reaksi pria itu justru tertawa dengan bersama para wanita di sampingnya. Mentertawakan Jasmine yang terlihat bodoh, di tambah penampampilanya yang sangat tidak menarik.
Merasa di remehkan oleh pria jelek dengan rambut klimis itu, jiwa pembangkang Jasmine merasa di rendahkan. Dengan keberanian yang tersisa, Jasmine berjalan mendekat dengan memasang senyum manis dan berucap dengan nada menantang.
"Aku ingin tahu, apakah pria sepertimu bisa mengalahkan permainan ku??"
Carlie mengehentikan tawanya mendengar tantangan dari gadis bodoh yang baru saja ia tertawakan.
Merubah posisinya duduk tegak setelah melepaskan tangannya dari bahu para wanita penghibur di sampingnya. Lalu menatap Jasmine dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Aku tidak tertarik" sahut Carlie santai dengan nada mengejek. Dan, itu jelas membuat Jasmine semakin tertantang. Sudah dua pria yang meremehkan tubuhnya, pertama Evan si pria sinting, lalu pria jelek di depannya ini.
Sementara Evan masih terus memperhatikan gerak gerik Jasmine dari balik kursi di depan meja bar. Ia sudah tidak sabar menghabisi pria rendahan dengan sejuta keburukan yang sudah berani mengusik dirinya. Namun, detik kemudian Evan memicingkan matanya begitu melihat Jasmine membuka jaketnya perlahan.
"Apa yang sedang gadis bodoh itu lakukan?" Desisnya.
Evan nyaris bangkit dari kursinya saat melihat Jasmine mulai membuka kemejanya.
"Stop!" Seru Carlie mengangkat tangannya, lalu bangkit dari berdiri. "Ikut aku"
Jasmine mengikuti langkah pria dengan rambut klimis itu dari belakang, namun saat pria itu mengajaknya ke lantai atas, Jasmine segera menolak. Ia ingat perintah si pria sinting itu untuk membawanya ke belakang kelab.
Kali ini Jasmine yang menuntun langkah pria di belakangnya, dengan degub jantung yang tidak beraturan Jasmine terus menoleh ke belakang, berharap Evan datang sebelum si klimis itu menyentuhnya.
"Ternyata Kau sangat liar di banding penampilan mu b*tch" seru Carlie begitu wanita di depannya membuka pintu belakang kelab.
Jasmine membalikkan tubuhnya dengan menyilang-kan kedua tangannya di depan dada, melempar tatapan mengejek pada pria di depannya dan kembali membuka suara.
"Kau meremehkan ku jerk!"
Dengan cepat Carlie mendorong tubuh Jasmine hingga membentur dinding kelab, Seringai licik sudah terpatri di bibir Carlie, suasana yang sepi di tambah angin yang cukup dingin membuat Carlie ingin segera mencari kehangatan dari wanita di depannya.
Carlie mendekatkan wajahnya dengan beringas ingin mencium bibir wanita bermulut pedas itu. Sedangkan Jasmine terus bergerak gelisah, berusaha mengelak, dan menghindari ciuman kotor dari pria jelek di depannya ini.
"Kau ingin ingin mencoba kejatanan ku huh?! Desis Carlie seraya menampar pipi Jasmine keras hingga menyisakan luka robek di sudut bibir wanita cantik itu.
Cuih! Jasmine meludah tepat mengenai wajah Carlie, dengan berani Jasmine mengumpat tepat di depan pria setengah mabuk itu. "Kau sangat menjijikan bastard sialan!"
Charlie seketika membungkam bibir Jasmine dengan bibir busuknya, di tambah cengkraman di pergelangan tangan Jasmine yang begitu kuat membuat Jasmine tidak bisa berbuat apa-apa selain menyumpahi Evan si pria sinting dan bajingan busuk di depan ini. Di tengah ketakutan yang sudah memuncak, saat tangan Carlie mulai meraba kemeja bagian bawah Jasmine. Tiba tiba saja pria itu sudah tidak ada di depannya, dan justru jatuh terhempas ke lantai.
Carlie mengusap pipinya yang amat nyeri, pukulan itu begitu kuat. Belum pernah Carlie merasakan pukulan sekeras itu yang setara bagai pukulan besi. Carlie mendongak, menjangkau seseorang yang berdiri di depannya, yang sudah berani menyentuh wajahnya dengan kasar.
"Shit! Kau membawa kekasihmu?!" Bentak Carlie dengan tangan memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
Evan segera menyeret Carlie menjauh dari hadapan Jasmine, dan meminta gadis itu untuk menunggunya di mobil. Ia ingin bermain lebih dulu dengan si brengsek yang sudah menyentuh kekasihnya.
Jasmine tak mengindahkan perkataan Evan, seolah menulikan telinganya. Diam-diam wanita itu mengikuti langkah Evan dari belakang, berjalan melewati semak-semak dan pohon yang menjulang tinggi.
Mata Jasmine membelalak seketika, saat melihat Evan memainkan benda tajam di tangannya dengan brutal. Pria sinting itu merusak wajah Carlie serta mematahkan tangan pria berkulit kecoklatan itu tanpa belas kasih.
"You crazy! psycho! F*CK you!" Teriak Jasmine yang mengintip dari balik pohon besar. Kemudian berbalik meninggalkan pemandangan yang menyakitkan mata dan membuat isi perutnya bergejolak.
Jasmine mempercepat langkahnya menjauh dari monster mengerikan itu. Namun, saat langkah kakinya nyaris mencapai area parkir, tiba-tiba seseorang menarik bahunya dan mendorongnya hingga membentur bodi mobil.
"Kenapa kau mengikuti ku? Aku sudah menyuruh mu untuk menunggu di dalam mobil bukan?" Evan berucap pelan dengan sisi gelapnya yang mendominasi, tepat di depan wajah Jasmine.
Jasmine menatap kesal dominan takut pada manusia gila di depannya ini, bahkan tangan pria itu masih berlumuran darah Carlie.
"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi" pinta Jasmine dengan raut memohon.
Evan menggelengkan kepala, semakin menekan cengkeramannya di bahu Jasmine. kemudian mengusap sudut bibir gadis itu dengan kasar.
"Tidak akan! Tidak semudah itu lepas dariku"
Jasmine mendorong tubuh Evan agar menjauh. Tapi, bukannya menjauh Evan justru mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Jasmine lembut, amat lembut agar tidak menyakiti wanita itu.
Jasmine mematung di tempatnya dengan membelalakkan matanya lebar, tubuhnya seakan membeku. Bahkan niat awalnya untuk pergi dari Evan melebur seketika bersama ciuman hangat itu.
Evan melepas pangutannya, menempelkan keningnya dengan nafas yang masih tak beraturan.
"jangan pernah bermimpi untuk pergi dariku" ujar Evan tepat di depan bibir Jasmine.
🍁🍁🍁
To be continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
VS
auw.. auw.. 🙈
2021-12-13
1
Rofikotul Maula
benar2 mengerikn seklgus membukkn
2021-12-06
2
Pecinta Halu
Makin seruuuu
2021-12-03
1