TDSOL- BAB 15

Malam itu Evan sudah bersiap dengan pakaian serba hitam favoritnya. Manik hazel-nya kembali melirik jam yang melingkar di tangannya dengan raut tidak sabar.

"Apa kau sudah selesai? Aku sudah lelah menunggu mu disini baby."

Evan berseru dari lantai bawah, dengan pandangan ke atas, tepat di pintu kamarnya bersama Jasmine.

Tidak lama kemudian munculah sosok yang di tunggunya sejak tadi, Jasmine melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dengan menggerutu. "Kau sungguh tidak sabaran sekali. Kau tidak usah mengajak ku, pergi saja sana sendiri"

Namun Evan tak menghiraukan gerutuan Jasmine, pria itu nampak sumringah melihat penampilan wanita itu yang cukup menggoda.

"Kau sudah siap, ayo kita berangkat" Evan menyatukan tangan-nya dengan jemari lentik Jasmine, dan Jasmine hanya menghela napas panjang, mengikuti langkah pria itu keluar dari bangunan ini.

***

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan restauran mewah, dengan aksen klasik.

"Sudah sampai"

Evan melepaskan seat belt di tubuh Jasmine setelah melepaskan miliknya lebih dulu. Dan, mereka berdua turun dari mobil bersamaan, melangkah masuk dengan tangan saling bertaut.

Ini benar-benar gila, Jasmine belum pernah merasakan kenyamanan seperti ini saat dengan Andreas. Mantan kekasihnya itu selalu berbuat kasar, bahkan tak jarang Andreas bermain tangan. Ya, meskipun Jasmine akui Evan lebih kasar, ketika pria itu kambuh dan memainkan pisau-nya untuk membuatnya tunduk.

Tapi, Evan memiliki sisi yang manis dan absurd, seperti siang tadi.

"Mau pesan apa?" Evan bertanya setelah menarik kursi untuk Jasmine duduk. Kemudian ia turut duduk di sebrang Jasmine.

"Apa saja, asal jangan makan hati." Sahut Jasmine sekenanya. Dan itu membuat Evan mengerutkan keningnya dalam.

"Aku tidak pernah memakan hati, jika mengoyaknya mungkin sering" sahut Evan yang membuat Jasmine berasa ingin muntah.

"Kau! Bisa tidak, untuk sebentar saja jangan membahas masalah itu. Sungguh menjijikan."

"Baiklah, kau tunggu disini sebentar." Evan bangkit dari kursinya dan melangkah pergi setelah mengusap kepala Jasmine.

"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, karena anak buah ku tersebar di seluruh penjuru restauran ini."

Evan berucap serius dengan raut datarnya, dan Jasmine hanya mampu menahan nafasnya sejenak hingga punggung tegap itu semakin menjauh.

Jasmine menoleh ke kanan dan ke kiri, manik abu abunya memperhatikan sekitar. Apakah benar, jika anak buah Evan tersebar di mana mana?

Bosan. Jasmine tidak tau harus berbuat apa, ia berusaha menghibur diri dengan melihat beberapa pasangan yang sedang makan malam romantis di sebelah mejanya.

Jika ia menurut dengan Evan, maka pria itu tidak akan menyakiti nya. Dan, ia akan aman, begitulah peraturannya.

"Hei... "

Jasmine berjengit kaget. Menatap bingung pada pria yang baru saja mendudukkan diri di sampingnya.

"Kau wanita yang kemarin menyelamatkan ku dari si gila itu kan?" Tanya pria itu sumringah.

"Oh, ya...kapan?" Jasmine menautkan kedua alisnya bingung.

"C'mon...kau lupa dengan wajah tampan ku ini? Kau kekasih Evan bukan?"

Pria itu kembali mengingatkan Jasmine dengan menyebut nama saudara tirinya itu.

Jasmine menganggukkan kepala dengan senyum kecut. Ia ingat pesan Evan agar tidak dekat-dekat pria itu, jika ingin berumur panjang.

"Kau ingat?" Pria itu mendekatkan wajahnya dengan mata berbinar.

"Hem, kau pria tidak waras yang berani memancing kemarahan Evan. Lebih baik kau segera pergi dari sini sebelum Evan membunuh mu."

Lucas hanya tertawa menanggapi-nya, meskipun ia tahu Evan tidak pernah main-main dengan ucapannya. Tapi, itu tak membuat Lucas takut.

"Apa ada yang lucu dari ucapan ku?"

Jasmine menggelengkan kepalanya heran, bagian mana dari kata katanya yang terdengar lucu, kenapa pria itu tertawa?

"Kau lucu, pantas saja si gila itu membiarkan mu hidup."

Jasmine berdecih mendengar jawaban Lucas. "Dan, kau sama gilanya dengan Evan."

Lucas kembali tertawa hingga membuat seorang pelayan yang membawa pesanan Jasmine terpaku di tempat karena melihat ketampanan Lucas.

"Baiklah, karena pesanan mu sudah datang, aku akan pergi. Sebelum kekasih mu itu menjadikan ku daging cincang" kekeh-nya geli seraya bangkit dari kursi.

"Aku akan menemui mu lagi lain waktu." Lucas mengedipkan sebelah matanya menggoda.

Jasmine hanya mendengus, menatap punggung pria itu yang perlahan menghilang di balik pintu.

***

"Kau sudah menyiapkan semua yang ku butuhkan?" Evan bertanya pada seorang pria dengan penampilan begitu rapih.

"Kau gila! Meminta menyiapkan berkas dalam waktu singkat. Kau pikir itu mudah?" Petter berdecak sebal sambil melempar berkas itu di hadapan Evan.

"Karena itu aku menyuruhmu, jika mudah aku pasti sudah  melakukannya sendiri." Sahut Evan santai.

Pengacara muda itu duduk di hadapan Evan dan mulai membuka berkas yang di minta, surat surat tentang pengalihan kepemilikan restauran mewah milik Evan menjadi atas nama Jasmine Martinez.

"Kau yakin akan melakukan ini?" Tanya Petter sekali lagi, sebelum ia merubah semuanya.

"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Evan menegakan posisi duduknya meraih selembar berkas itu.

"Yah, kau tak pernah bercanda" mengalah lebih baik, sebelum pria itu menorehkan pisau di tubuhnya.

Petter menatap Evan yang sedang membaca berkas itu serius. Ia masih tidak percaya dengan perubahan Evan yang mendadak, terlebih lagi mau melakukan semua itu demi wanita.

CK! Psikopat itu sudah tobat rupanya. Mustahil.

"Segera selesaikan, dan kirim ke mansion ku besok."

Evan bangkit dari sofa, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dan melenggang keluar dari ruangan itu bersama dengan Petter yang mengekor di belakangnya.

***

"Apa itu gadis yang bernama Jasmine?" Tanya Petter begitu jarak mereka hampir sampai di meja gadis itu.

"Jaga matamu jerk!" Evan mengerang kesal mendapati Petter yang menatap Jasmine tanpa berkedip. Tentu saja membuat Petter tertawa.

"Aku sedang bertanya tentang wanitamu, sudah pasti aku melihatnya. Tidak mungkin kan aku melihat ke arah lain." sahut Petter membela diri.

"Kau ingin aku mencongkel mata mu sekarang juga huh?! Pergi kau dari sini!" Desis Evan seraya meraih pisau dari balik saku celananya.

"Baiklah, baiklah aku akan pergi." Petter mengangkat sebelah tangannya ke udara. Dan berjalan menjauh dari sana, sebelum Evan benar benar menancapkan pisau itu di matanya.

"Apa yang kau lihat?" Evan menghalangi pandangan Jasmine yang terus menatap Petter hingga pria itu menghilang dari balik pintu.

"Siapa dia? Bagaimana bisa bersamamu?" Jasmine menatap bingung, setahunya Evan tidak punya teman, apalagi dengan dandanan yang nyentrik seperti itu.

"Dia pengacara ku" Evan meraih garpu yang di pegang oleh Jasmine, dan menyuap spaghetti itu.

"Pengacara? Untuk apa?"

"Untuk mengatur semua harta-harta ku. Dan aku sudah mengalihkan kepemilikan restauran ini atas nama mu" Evan tersenyum puas mengatakan itu.

"Ma-maksud mu, restauran ini milikmu?" Tanya Jasmine tidak percaya.

"Hem, dan sekarang sudah menjadi milik mu."

Jasmine tertawa menanggapinya, ia bukan anak kecil yang bisa di bodohi. Bagaimana mungkin pria itu dengan mudah mengalihkan hartanya untuk gadis yang baru di kenalnya.

"Aku serius, restauran ini sekarang milikmu."

Jasmine menghentikan tawanya melihat tatapan tajam Evan yang begitu menusuk, hingga membuatnya gugup dominan takut.

"U-untuk apa kau melakukan itu?" Jasmine bertanya gugup.

Evan mengedikan bahunya acuh seraya menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. "Karena aku menyukaimu"

"Kau? Menyukai ku? Jangan bercanda."

Suka dari Hongkong? Setiap kumat saja dirinya selalu di siksa tanpa belas kasih.

"Aku tidak bercanda." Evan kembali menegakkan tubuhnya lebih dekat ke arah Jasmine "dulu kau adalah korban ku, tapi perlahan rasa ingin membunuh mu itu berubah menjadi sayang"

Jasmine mengerjapkan matanya mendengar pengakuan Evan, apakah ucapan pria itu bisa di percaya?

"Tetaplah bersama ku, dan bertahan dengan sisi lainku"

🍁🍁🍁

To be continued...

Terpopuler

Comments

Ning Dwi

Ning Dwi

switttt banget psyco ini lupe lupe😍😍😍

2021-12-23

3

KomaLia

KomaLia

menyeram kan tapi romantis

2021-12-21

1

VS

VS

Jasmine yang dikasih restoran, kok aku yang bahagia

2021-12-13

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!