Main Gulat

Tommy POV

Aku sangat kesal melihat sikap Abangnya Roma yang bernama Bara itu. Dia memang kelihatan sekali ga suka denganku. Aku bahkan sudah menolong putrinya. Tapi tetap saja pandangan matanya padaku sangat sinis.

"Kalau begitu kau langsung pulang sekarang!" Perintahnya pada Roma.

Apa-apaan dia menyuruh Roma main langsung pulang, kayak dia ga pernah pacaran aja. Ya masa tega langsung menyuruh Roma pulang. Mana cewek aku main jawab Iya lagi. Hmmm kayak ga ngerti perasaanku aja.

"Mau kemana?" Aku menarik tangannya saat kulihat dia akan berjalan meninggalkanku.

"Pulang–. Abang ga dengar tadi Bang Bara nyuruh aku pulang." Jawabnya tanpa melihat aku.

Aku menarik tangannya dan memeluknya "Kamu ga kangen sama Abang?"

Bukan membalas pelukanku dia malah berontak minta dilepaskan. "Bang, apaan sih lepas! Malu Bang ini tempat umum." Aku tahu ini adalah tempat umum tapi aku sudah melihat kesekitarku tidak ada siapa-siapa disana. Di basement itu masih sepi.

"Ya sudah, pulanglah–." Aku melepaskan pelukanku dan berjalan meninggalkannya. Aku kesal karena dia tidak tahu bagaimana perasaan ku saat itu yang sangat tertekan karena sikap cuek dan sinis dari Abangnya itu.

"Bang–. Bang Tommy, kok Abang marah sih." Dia mengejarku dan berjalan disampingku. Aku melihat dia yang berusaha menyamakan langkah kakinya dengan langkah kakiku, aku tersenyum dalam hati.

"Abang ga marah. Kamu pulanglah." ucapku masih saja berjalan dengan langkah lebar ku.

"Bang–." Akhirnya dia menyerah, dia menarik tanganku, tapi keseimbangan badannya tidak sempurna hampir saja dia terjatuh. Untung aku langsung menopang dan memeluknya agar tidak terjatuh.

"Kamu hati-hati dong."

"Abang tuh kenapa jalannya cepat-cepat aku susah ngikutinya." dia cemberut dan kesal padaku.

"Loh, siapa suruh ngikutin Abang? Bukannya tadi bilangnya kamu mau pulang?" Aku masih kesal mengingat dia yang begitu patuh pada Abangnya itu.

"Tapi Abang marah aku pulang." Wajar aku marah karena dia ga ngerti kalau aku butuh dia sekarang.

"Siapa yang bilang Abang marah?" Aku berusaha menyembunyikan rasa kesalku padanya.

"Abang memang ga bilang kalau Abang marah. Tapi sikap Abang menunjukkan kalau Abang lagi marah." Lagi-lagi dia cemberut.

"Abang ga marah. Kamu pulanglah, nanti kamu dimarahi sama Abang mu itu." Aku tulus menyuruhnya untuk pulang.

Cup.

Apa ini? Dia berjinjit mencium pipiku? Aku terkejut dan juga senang dengan perlakuannya.

"Katanya tempat umum, kenapa malah cium Abang?" Aku sengaja menggodanya, dalam hatiku aku sangat senang sekali.

"Ya udah kalau ga mau, aku ambil lagi."

Cup.

Aaaa apalagi ini dia kembali mencium pipiku. Ini sungguh menggemaskan aku ga tahan dengan perlakuannya. Aku mencium bibirnya dan dia membalas ciumanku dengan lembut.

Aah, saat seperti inilah aku tidak tahan melihatnya. Darahku berdesir ingin sekali aku memakannya habis. Jantungku berdetak sudah melebihi batas ritmenya.

"Dek, kalau begini terus Abang jadi ga tahan–." Aku berbisik ditelinganya dan seketika wajahnya merona.

"Abang apaan sih." Dia mencubit pelan perutku.

"Sakit dek–." Aku pura-pura merasa sakit padahal itu tidak terasa sakit sama sekali malah justru geli.

"Masa iya sakit?" Dia bertanya sambil mengelus perutku.

"Kita nonton dulu mau?" Aku masih ingin bersamanya tapi ku lihat dia tampak berpikir.

"Bang, bukannya aku ga mau. Tapi Abang tahu sendiri kan tadi Bang Bara nyuruh aku pulang. Kalau aku ga pulang sekarang nanti Bang Bara makin ga suka sama Abang. Terus nanti makin susah Abang dapat restunya."

Aku tahu apa yang menjadi kekhawatirannya. Bukan dia tidak mengerti tentang perasaanku tapi dia berusaha menjaga hubungan ku dengannya agar tetap baik di depan Abangnya itu.

"Ya sudah, kalau gitu biar Abang yang antar kamu pulang."

Baru saja aku mengatakan niatku tiba-tiba terdengar pesan masuk ke ponselnya.

📥 Duo NS😎

"Sudah pulang Badi? Kalau belum pulang ke rumah, sebaiknya kamu datang ke rumah Abang. Ada yang mau Abang bicarakan, ajak dia Abang tahu kamu masih bersamanya."

Roma menunjukkan isi pesan Bara padaku. Aku menghela nafasku. Entah apa yang membuatnya ingin bertemu denganku. Padahal kalau dipikir-pikir apalah salahnya kalau dibicarakan tadi. Tapi apalah daya saat ini masih dia yang berkuasa atas diri kekasihku ini.

"Ya sudah yuk." Aku berjalan sambil merangkul bahunya. Aku tahu dia merasa risih tapi aku tidak peduli.

"Pakai mobilku aja ya Bang." Dia menyerahkan kunci mobilnya padaku. Aku segera menghubungi Ken, memintanya untuk kembali ke kantor dan menyuruh supir untuk menjemputku di rumah Bara. Dan aku mengirimkan alamatnya pada Ken setelah Roma menyebutkan alamatnya.

...🍥🍥🍥...

Author POV

Tommy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan Ibukota belum terlalu macet sehingga hanya menempuh 1 jam perjalanan untuk sampai ke rumahnya.

Terlihat Citra menyambut kedatangan Tommy dan Roma. Ia tersenyum manis dan lembut menyapa keduanya.

"Ada apa sih da, Abang nyuruh kita datang?" tanya Roma pada kakak iparnya.

"Aku juga ga tahu da. Masuk yuk." Citra mempersilahkan mereka masuk ke rumah.

"Om danteng–." Lea berlari ke arah Tommy dan merentangkan tangannya meminta digendong oleh Tommy.

Tommy yang melihat senyum manis Lea membuat kegundahannya hilang sesaat. Baru sebentar saja ia mengenal Tommy tapi Lea langsung lengket padanya. Biasanya Lea itu paling sulit dekat dengan orang, apalagi orang itu baru ia kenal. Tapi dengan Tommy Lea terlihat nyaman.

"Lea sudah bangun?"

"tudah Om, Om danteng maaci tudah temuin Mamma Lea." ucapnya dengan pelafalan bahasa yang belum jelas.

"Ia sayang, sama-sama."

Bara keluar dari kamar dan bergabung dengan mereka yang sudah duduk diruang tengah.

"Sudah lama Badi?" tanya Bara basa basi karena tidak mungkin dia tidak tahu kedatangan Roma dengan Tommy karena tadi Tommy menekan klakson mobilnya saat mereka sudah sampai di depan gerbang rumahnya.

"Baru Bang–, ada apa Abang meminta kami datang?" tanya Roma dan itu juga pertanyaan yang ingin ditanyakan Tommy padanya.

"Abang ada perlu dengannya." Bara menatap tajam pada Tommy.

"Mau apa dia ketemu aku? Bukannya tadi kami juga baru ketemu?" Batin Tommy.

"Ada apa Lae?" tanya Tommy.

"Sebaiknya kita bicara di ruang kerjaku saja." ucapnya. "Ma, siapkan kopinya antar ke ruang kerjaku ya." Bara setengah berteriak karena Citra ada didapur membuatkan kopi untuk suaminya dan juga Tommy.

"Iya Pa–."

Tommy mengikuti Bara berjalan keruang kerjanya. Sementara Roma sangat penasaran apa yang akan dibicarakan Abangnya dengan kekasihnya itu.

Roma mendekati Citra didapur terlihat Citra sedang mengaduk kopi untuk suami dan kekasih adik iparnya itu. "Apa Eda benar-benar ga tahu kenapa Bang Bara manggil Bang Tommy datang kesini?"

"Ga tahu Eda, lagian Abangmu itu masih marah sama ku da, gara-gara tadi aku lalai menjaga Lea." ujar Citra karena sebenarnya dirinya juga tidak tahu alasan suaminya memanggil Tommy kerumahnya.

Dua cangkir kopi yang terletak dinampan sudah siap untuk diantarkan dengan sepiring bisquit untuk cemilan sore itu.

Saat Citra ingin mengantarkan kopi dan cemilan itu dengan cepat Roma menyambar nampan itu dari tangan Citra. "Biar aku aja Eda."

Roma berjalan nendekati ruang kerja Bara, sebelum masuk ia menempelkan telinganya ke pintu namun tidak terdengar apa-apa. Roma berteriak dari balik pintu. "Bang aku masuk." Roma melihat pintu ruangan itu tidak terkunci dan dia juga tidak bisa mengetuk pintu karena tangannya memegang nampan yang berisi minuman dan cemilan.

"Masuklah–." Terdengar suara Bara dari dalam mempersilahkan Roma masuk.

Roma masuk kedalam, namun ia tidak melihat ada pembicaraan serius diantara kedua Abangnya yang berbeda status itu. Satu Abang Kandung satu lagi Abang Sayang.

Roma sengaja berlama-lama didalam ruangan itu berharap mereka memulai pembicaraannya namun sia-sia saja usahanya. Sepertinya Bara tahu maksud keberadaannya disana dan Bara langsung menyuruhnya untuk keluar dari ruangannya.

"Keluarlah Badi–."

Dengan langkah gontai Roma pun keluar dari ruangan kerja Abangnya itu.

"Semoga aja mereka ga main gulat didalam."

Mana Jejakmu Saaayy 🤗

Episodes
1 Prolog
2 Negosiasi
3 Bahagianya Bersamamu
4 Histeris
5 Aneh Tapi Aku Suka
6 Ciuman Pertama
7 Roma VS Uly
8 Lagi Bucin
9 Lunch
10 Cuma Nanya
11 Pariban dari Medan
12 Lamunan Panjang
13 Lamaran Mami
14 Bany VS Tommy
15 Cemburu
16 Duren
17 Mengejar Restu
18 Lea
19 Ga Tahan
20 Main Gulat
21 Salah Lagi
22 Anyep
23 Menggumam bukan Membatin
24 Pasien Baru
25 Menggores Luka Lama
26 Lepas Bang, Sakit...
27 Masalah Lain
28 PERTUNOR
29 Syarat
30 Halalkan Aku
31 Di Uji
32 Berpisah
33 Kemana Perginya
34 Bertemu Ken
35 Mual dan Muntah
36 Saksi Mengatakan "Sah"
37 Restu Bara
38 Lalai
39 Siapa Kau?
40 Ledakan Bom
41 Anak Durhaka
42 Pengakuan Tio
43 Roma Pulang Kerumah
44 Lamaran Part-1
45 Lamaran Part-2
46 Udah SAH
47 Teror
48 Surga Dunia
49 Manis-manis Pedes
50 Siapa Tahu–Tempe
51 Jangan!!!
52 Hanya Kecewa
53 Perasaan Bersalah
54 Apa yang Harus Kulakukan?
55 Maafkan Aku Harus Pergi
56 Panggillan Terakhir
57 Second Opinion
58 Mas Tommy Tolong Aku–
59 Keluar–!
60 Sultan Mah Bebas
61 Pembalut
62 Thanks For Your Love
63 Kemarahan Togar
64 Menyerah
65 Anunya–
66 Mau SGM
67 Cewek Apa Cowok?
68 Kendrick Ivander
69 Tak Segampang buat Adonan Kue
70 Olahraga Malam dan Olahraga Pagi
71 Pelengkap Keluarga
72 Kejutan
73 Shopping Limited Edition
74 Hadiah Rendi
75 Dua Garis
76 Tidak Ada Ampun
77 Cemburu Tanda Cinta
78 Gara-gara Banci
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Prolog
2
Negosiasi
3
Bahagianya Bersamamu
4
Histeris
5
Aneh Tapi Aku Suka
6
Ciuman Pertama
7
Roma VS Uly
8
Lagi Bucin
9
Lunch
10
Cuma Nanya
11
Pariban dari Medan
12
Lamunan Panjang
13
Lamaran Mami
14
Bany VS Tommy
15
Cemburu
16
Duren
17
Mengejar Restu
18
Lea
19
Ga Tahan
20
Main Gulat
21
Salah Lagi
22
Anyep
23
Menggumam bukan Membatin
24
Pasien Baru
25
Menggores Luka Lama
26
Lepas Bang, Sakit...
27
Masalah Lain
28
PERTUNOR
29
Syarat
30
Halalkan Aku
31
Di Uji
32
Berpisah
33
Kemana Perginya
34
Bertemu Ken
35
Mual dan Muntah
36
Saksi Mengatakan "Sah"
37
Restu Bara
38
Lalai
39
Siapa Kau?
40
Ledakan Bom
41
Anak Durhaka
42
Pengakuan Tio
43
Roma Pulang Kerumah
44
Lamaran Part-1
45
Lamaran Part-2
46
Udah SAH
47
Teror
48
Surga Dunia
49
Manis-manis Pedes
50
Siapa Tahu–Tempe
51
Jangan!!!
52
Hanya Kecewa
53
Perasaan Bersalah
54
Apa yang Harus Kulakukan?
55
Maafkan Aku Harus Pergi
56
Panggillan Terakhir
57
Second Opinion
58
Mas Tommy Tolong Aku–
59
Keluar–!
60
Sultan Mah Bebas
61
Pembalut
62
Thanks For Your Love
63
Kemarahan Togar
64
Menyerah
65
Anunya–
66
Mau SGM
67
Cewek Apa Cowok?
68
Kendrick Ivander
69
Tak Segampang buat Adonan Kue
70
Olahraga Malam dan Olahraga Pagi
71
Pelengkap Keluarga
72
Kejutan
73
Shopping Limited Edition
74
Hadiah Rendi
75
Dua Garis
76
Tidak Ada Ampun
77
Cemburu Tanda Cinta
78
Gara-gara Banci

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!