Lamaran pernikahan adalah acara di mana satu orang dalam suatu hubungan meminta pasangannya untuk menikah. Jika diterima, itu menandai dimulainya pertunangan mereka, janji bersama untuk menikah di masa depan.
Hari dimana Tommy berjanji akan datang kerumah Roma ternyata Tommy tidak datang. Saat itu Orangtua Roma juga sudah menantikan kedatangan Tommy. Karena sehari setelah berkunjung ke rumah Tommy, Roma memilih untuk pulang keesokan harinya. Ia menceritakan pada Bapak dan Mamaknya kalau ada seorang laki-laki yang ingin bertemu dengan mereka.
Roma sangat kecewa karena Tommy tidak datang bahkan tidak ada kabar sama sekali dari Tommy yang mengatakan kalau dia tidak bisa datang. Bahkan sudah hampir seminggu Tommy tidak bisa dihubungi.
"Bang Tommy kenapa ya? Udah 5 hari ga bisa dihubungi. Pesan aku juga ga pernah dibalas. Apa syarat aku terlalu berat ya? Aku kan cuma minta Bang Tommy ketemu sama orangtua ku, minta restu langsung. Mana hari minggu si Robert udah mau nagih jawabanku lagi. Aaissh kok jadi ribet gini sih hidup aku?"
drt...drt...drt...
Roma melihat ponselnya yang bergetar didalam sakunya.
📞Tri NS 😎 Calling...
"Ada apa Bang Bany telepon ya?" gumam Roma
"Hallo Bang–, ada apa?"
"Dek, kamu udah pulang kerja belum?"
"Tumben nanya, ada apa Bang?"
"Hehe, Abang udah dekat nih ke tempat kerjamu. Abang jemput ya."
"Aku bawa mobil sendiri Bang, ngapain dijemput?"
"Abang udah mau sampe, cepat keluar ya. Abang ga mau nunggu lama."
"Bang, Hallo Bang Bany–."
Tut tut tut
Bany langsung menutup telponnya.
"Yaelah pake main langsung tutup aja." gerutu Roma.
Roma langsung membereskan semua pekerjaannya, ia sangat tahu watak Abangnya yang ketiga itu. Bany paling tidak suka menunggu. Roma duduk bangku pos security Rumah Sakit sambil menunggu kedatangan Bany. Roma mengeluarkan ponselnya bermaksud ingin menghubungi Abangnya Bany. Tapi jari-jarinya malah membuka yang lain. Roma membuka aplikasi WhatsApp nya melihat apakah pesannya pada Tommy sudah terbaca atau belum.
Hari pertama saat Tommy ga ada kabar.
📤My Sain💖
"Bang, kok HPnya ga aktif sih Bang?"
"Abang lagi dimana? Jangan lupa makan ya!"
"Bang, besok jadi ga kerumah? Roma udah bilang sama Bapak kalau Abang mau datang."
Hari kedua.
📤My Sain💖
"Selamat Pagi Bang, jangan lupa tersenyum dan berdoa sebelum melakukan aktivitas ya 😊" masih berpikir positif.
"Abang lagi dimana sih kok dari kemarin HPnya ga bisa dihubungi terus?"
"Abang sibuk ya?"
Sampai sore pesan Roma belum juga dibaca.
"Bang Abang jadi ga sih mau kerumah?"
Sampai malam Tommy belum juga bisa dihubungi, bahkan Tommy tidak datang kerumahnya.
Hari ketiga.
📤My Sain💖
"Bang, sebenarnya Abang dimana sih Bang? Jangan buat Roma takut dong Bang?"
"Apa Abang sengaja menghindariku?"
"Bang😞"
Tiga hari berturut-turut tak ada jawaban dari Tommy bahkan pesannya pun belum terbaca. Dihari ke empat Roma tidak lagi mengirimkan pesan.
Tin... Tin... Tin.
Suara klakson mobil mengejutkan Roma. Ia melihat mobil Bany dan langsung masuk kedalam mobil.
"Katanya udah dekat, tapi 30 menit juga nunggunya." gerutu Roma.
"Hehe, maaf dek. Macet didepan sana."
"Pake seatbelt-nya, jangan cemberut gitu ah, jelek tau."
Bany sudah melajukan mobilnya kejalan yang berlawanan arah dia datang untuk menghindari kemacetan.
"Mau ngapain sih Bang?"
Roma yang memang sangat sensitif beberapa hari ini karena tidak ada kabar dari pujaan hatinya itu membuatnya mudah marah dan merajuk ditambah lagi memang dia lagi PMS.
"Abang mau minta tolong."
"Minta tolong dikantor polisi bukan sama aku–." Roma masih kesal.
"Kamu kenapa sih dek? Lagi PMS kamu ya? Ngegas mulu ngomongnya."
"Mau minta tolong apa Abangku sayaaang?" Roma melembabkan suaranya dengan suara manja.
"Iiihh jijik dek. Biasa aja ngomongnya."
"Aish salah mulu." Roma melipat kedua tangannya.
"Besokkan ulang tahun edamu. Abang tuh mau belikan cincin buat dia tapi Abang ga ngerti selera cewek itu kayak apa. Jadi Abang mau minta tolong kamu yang pilihkan."
"Oh, kirain apa. Jadi mau kemana nih?"
"Kemall yang dekat aja. Abang juga harus balik lagi ke kantor."
"Udah sore, ini juga udah jam pulang kantor Bang."
"Abang mau beresin kerjaan Abang dikit lagi, biar besok pulang bisa lebih awal. Kan Abang mau ngasih surprise buat edamu." Bany tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.
Roma menggeleng-gelengkan kepalanya. "Terserah Abang ajalah."
Bany dan Roma sudah sampai di sebuah Mall. Seperti biasa Bany selalu menggandeng tangan adiknya itu. Sudah kebiasaan dari dulu. Katanya takut adiknya itu hilang kalau tidak digandeng.
Mereka memasuki sebuah toko perhiasan dan memilih-milih cincin untuk istri Bany.
"Bang yang ini gimana?" tanya Roma meminta pendapat Bany.
"Dicoba dulu dek, Abang mau lihat cantik ga kalau kamu pakai."
Roma pun mencoba cincin yang menurutnya cantik dan simpel. Sebenarnya Roma tidak tahu bagaimana selera kakak iparnya itu. Tapi karena ia suka sesuatu yang simpel dan unik akhirnya ia memilih satu yang menurutnya kakak iparnya itu pasti juga akan menyukainya.
"Gimana Bang? Bagus ga?" Roma menunjukkan cincin yang sudah terpasang dijari tangannya.
"Bagus." Bany meminta Roma untuk membukanya.
"Mbak saya pilih yang ini saja." Bany menyerahkan cincin pilihan Roma kepada pramuniaga toko perhiasan itu.
Tanpa sepengetahuan mereka ada dua pasang mata yang sudah menyorot mereka sejak mulai dari mereka memasuki toko perhiasan itu.
"Jadi ini kelakukan kamu dibelakang aku." Hati Tommy sudah seperti kebakaran jenggot melihat kemesraan Roma dan Bany. Bagi mereka yang tidak tahu hubungan Bany dan Roma pasti mengira mereka adalah pasangan kekasih.
Roma langsung membalikkan badannya melihat kearah Tommy.
"Bang Tommy–."
"Bagus ya, kemarin jalan sama cowok lain sekarang juga lain. Terus aku mainanmu yang keberapa? Kamu itu cewek apaan sih? Murahan banget."
Buugkk
Tanpa basa-basi Bany langsung mendaratkan pukulannya diwajah Tommy. Seketika itu juga orang-orang yang berada disekitar mereka langsung berdiri menonton mereka.
"Bang–." pekik Roma pada Bany.
"Apa yang ada lakukan?" teriak Ken sambil membantu Tommy yang hampir tersungkur.
"Hei Bung jaga bicaramu. Dia ini adek saya dan anda ini siapa? Berani-beraninya menghina adek saya?"
Tommy terkejut mendengar bahwa pria yang memukul wajahnya itu adalah calon Abang iparnya.
"Mati gue, Abangnya rupanya? Kenapa gue jadi emosian gini sih? Seharusnya gue tanya dulu Roma baik-baik" Batin Tommy.
"Siapa dia dek?" Bany menatap tajam pada Roma.
Roma terdiam dirinya masih terkejut mendengar ucapan Tommy. Roma tak menyangka kalau Tommy akan merendahkannya dan menganggapnya sebagai wanita murahan.
"Dek, siapa dia?" Bany bertanya kembali karena Roma hanya diam.
Bany adalah Abang Roma yang paling sulit mengendalikan emosinya bila ada yang menghina atau menyakitinya.
"Dia teman aku Bang–."
"Apa teman? Jadi selama ini kamu nganggap aku cuma teman kamu, begitu?" Tommy tak menyangka kalau Roma akan mengakuinya hanya sebagai teman.
"Memangnya anda siapa?" Bany melihat sinis kepada Tommy sambil menusuk-nusuk bahu Tommy. Ia masih tidak suka dengan perkataan Tommy sebelumnya yang merendahkan adiknya.
"Bang, Aku mau ngomong sama dia dulu ya." Roma memegang tangan Bany supaya berhenti bertengkar dengan Tommy. "Abang pulang aja duluan nanti Roma bisa naik taksi."
Bany melihat ada yang berbeda dengan Roma, tatapannya kepada pria yang sudah dihajarnya itu sangat berbeda saat Roma menatap pria manapun selain saudara dan Bapaknya.
"Ga usah, kita pulang sekarang." Bany menarik tangan Roma namun Roma langsung menahannya.
"Bang, Pliis–." Roma menatap sayup pada Bany.
Bany mengusap wajahnya dengan kasar. Iapun tahu watak dari adiknya itu yang keras kepala dan ga mau dibantah.
"30 menit, Abang kasih waktu 30 menit. Nanti kalau setelah 30 menit Abang telpon kamu belum juga pulang. Abang akan balik lagi kesini jemput kamu."
Bany tidak bisa menunggu Roma karena masih ada kerjaan yang harus ia selesaikan dikantor.
"Terimakasih Bang–."
"Abang pulang ya. Kamu hati-hati sama dia, kalau dia macem-macem. Tendang aja batangannya biar mampus sekalian."
"Abang–!" Bany mengusap kepala Roma lembut.
"Awas kalau anda macam-macam dengan Adik saya."
"Maaf." ucap Tommy lalu Bany pergi meninggalkan mereka.
Roma dan Tommy masih berdiri didepan Toko perhiasan. Orang-orang yang menonton kejadian Bany memukul Tommy pun berangsur bubar setelah kepergian Bany.
"Ken, kamu pulang saja dulu. Mobilnya tinggalkan saja."
"Baiklah." Ken pun pergi meninggalkan Roma dan Tommy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments