Pariban dari Medan

Tok...Tok...Tok... suara ketukan kaca mobil mengejutkan Tommy dan Roma.

"Damn..." umpat Tommy.

"Siapa tuh Bang? Apa ada razia polisi? Abang sih pake berhenti sembarangan." gerutu Roma.

"Kamu tenang dulu–"

Tok... Tok... Tok....

Kaca mobil Tommy kembali diketuk. Perlahan Tommy menurunkan kaca mobilnya.

Seseorang langsung menunduk dan bertanya "Kak ngapain berhenti disini? Apa mobil kakak mogok?"

"Sial Kakak kira siapa, kamu ngagetin Kakak aja–, Ngapain kamu disini?"

Tommy kesal ternyata Zia yang mengetuk kaca mobilnya. Ia tidak pernah menyangka kalau yang mengetuk kaca mobilnya itu adalah Zia. Karena sebelumnya yang terlihat hanyalah pakaian yang serba hitam. Sama seperti Roma ia mengira yang datang itu adalah petugas Polisi yang sedang razia.

"Kok kakak marah sih?" Zia menautkan kedua alisnya bingung dengan sikap Tommy.

"Tadi aku lewat, ga sengaja lihat mobil kakak berhenti. Aku pikir kakak lagi butuh bantuan makanya aku sama mas Candra berhenti nyamperin Kakak, eh ternyata lagi enak-enak sama si Rom Rom. Hayoo lagi ngapain tadi?" Zia melirik Roma ia sengaja menggoda temannya itu.

Zia tidak sengaja melihat plat mobil yang sama dengan milik Tommy berhenti ditepi jalan dan meminta Candra untuk menghampiri mobil itu ia takut kalau Tommy sedang membutuhkan bantuan.

"Apaan sih kamu Zi–." Roma memalingkan wajahnya ia sangat malu pada sahabatnya itu.

"Makanya kalau mau enak-enak noh di hotel! Jangan di tepi jalan begini. Untung aku yang datang kalau polisi gimana? Langsung di tilang deh. Terus di bawa ke KUA."

"Mau dong ke KUA." Tommy melirik Roma sengaja menggodanya.

"Huu... itu sih emang maunya Kakak. Udah jalan sana–"

"Iya. Iya, ini juga mau jalan. Bawel–" Tommy mengacak-acak rambut Zia.

Tin... Tin..

Suara klakson mobil dari belakang, sepertinya Candra yang mulai cemburu melihat istrinya senyum-senyum dengan Tommy. Candra tidak tahu kalau Roma ada didalam mobil Tommy. Ia sengaja tidak keluar dari mobil karena menjaga Chessy yang sedang tidur.

"Iya sebentar." teriak Zia.

"Udah sono–, ntar ga di kasih jatah lagi kamu karena posesifnya suami kamu tuh ruaaar biasa!" ejek Tommy.

"Ih, Kak Tommy apaan sih. Ya udah hati-hati! Jangan ngebut ingat lagi bawa anak perawan orang. Jangan dibawa ke hotel belum Halal. Makanya cepet di Halalin." Peringatan dari Zia sebelum akhirnya Zia meninggalkan mereka berjalan ke mobilnya.

"Berisik–"

Tommy kembali melajukan mobilnya dan setelah mengatar Roma ia kembali ke kantornya.

...🍥🍥🍥...

Mansion Nasution

Tren rumah dan arsitektur memang tidak berjalan cepat seperti tren musik atau pakaian. Namun secara perlahan dan pasti, tren itu ada. Termasuk tren dekorasi rumah, yang ternyata bisa berbeda-beda di tiap negara. Meski begitu desain rumah klasik tak pernah ada matinya. Ditengah gempuran akulturasi budaya, desain rumah klasik berhasil mempertahankan diri. Bahkan, tak sedikit orang yang menggunakan desain rumah klasik dari negara lain sebagai tema huniannya.

Namun berbeda dengan Mansion milik keluarga besar Nasution itu. Setelah pensiun ia memiliki cita-cita ingin membangun sebuah istananya dengan bergaya tradisional dan unik dibagian luarnya dengan perpaduan klasik gaya Belanda yang banyak ditemukan di rumah-rumah kuno di Indonesia. Ciri khas rumah klasik yang terlihat sangat berkarakter dari jumlah jendela dan kamarnya yang sangat banyak. Untuk pemilihan warnanya, rumah klasik mereka menggunakan warna-warna yang netral dan terang, baik pada bagian interior maupun eksterior rumahnya.

Semua keluarga besar Nasution sudah berkumpul. Hanya tinggal menunggu kedatangan Roma.

"Mak... Pak... Roma pulang–" teriak Roma saat memasuki rumahnya.

"Berisik woi–, kau kira ini di hutan?" ucap Banu Abang Roma nomor empat.

"Bang Banu–" Roma berlari memeluk Abang bungsunya itu.

"Hei... Hei... Hei... Badi–, Ingat aku itu dah kawin, cemburu nanti Eda kau." Banu menjauhkan Roma darinya sementara Istri Banu Elina hanya tersenyum melihat tingkah konyol suami dan adik iparnya itu yang harus di panggilnya dengan sebutan Eda.

"Abang–." Panggil Roma manja dengan wajah yang cemberut sambil menghentak-hentakkan kakinya karena Banu menolak memeluknya. "Ingatlah Bang–, sebelum dia jadi Edaku dia itu hanya orang lain–" Roma kesal namun percayalah itu hanya candaan antara saudara saja.

"Haha, iyalah–,kaulah yang menang. Sini–" Banu merentangkan tangannya lalu memeluk adik perempuan satu-satunya itu.

"Kau hanya memeluk Banu saja Badi?" Suara berat dari belakang mengejutkan keduanya.

"Bang Bara–" Roma memeluk Bara Abangnya nomor 2.

"Hei ingatlah Badi, Abangmu itu bukan cuma Banu sama Bara saja. Kau tidak mau memelukku juga?"

"Bang Bany–" Roma berpindah kepelukan Bany Abangnya nomor 3 lalu pandangannya teralih pada pria yang berdiri didepannya. "Iya.iya cuma Abanglah yang paling berhak atas aku. Karena Abang yang lebih dulu lahir." Roma langsung berpindah kepelukan Barman sebelum Abang tertuanya itu protes.

"Adek bungsuku yang paling cantik dan paling manja." Barman membalas perlukan Roma.

Dikeluarganya Roma di panggil dengan nama Badi, karena waktu kecil Roma sempat iri pada saudara-saudaranya yang memiliki nama berawalan dari huruf B itu, sedangkan hanya namanya yang berbeda berawalan huruf R. Karena nama lengkap Roma adalah Romauly Badia Nasution, akhirnya Barman memanggilnya Badi yang diambil dari Badia hanya untuk menyamakan awalan nama mereka dan sejak saat itu semua keluarganya memanggilnya dengan nama Badi.

"Kalian itu sudah pada menikah dan juga sudah punya anak, tapi masih juga memanggil nama pantang itu. Kapan sih kalian berubahnya–" Seorang wanita paruh baya datang dari dapur menghampiri anak-anaknya.

"Mamak–" Roma memeluk wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Bertanita Siregar ibu dari kelima bersaudara itu.

"Kau juga, jangan panggil Abang terus sama saudara-saudaramu, panggillah Ito, dan jangan lagi kau panggil dengan nama mereka tapi panggil dengan nama panggoraannya."

"Ah, Mamak ini kolot kali, apalah arti sebuah nama. Kalau ga boleh disebut." Roma yang memang sudah berbaur dengan dunia luar tidak terlalu memperhatikan adat istiadat dari suku dan tanah kelahirannya itu lagi.

"Ga boleh kau bilang begitu boru. Tokka–, Pantang itu!" Berta selalu menasehati putri bungsunya itu supaya tidak lupa akan adat istiadat daerahnya.

"Dengar itu dek–" ucap Barman.

"Kau itu pun sama saja, kau yang lebih tua seharusnya kau yang mengajarkan adek-adekmu, kau juga seharusnya panggil Ito sama itomu Badi." Barman yang mendapat semprotan dari Berta pun terdiam dan tertunduk.

"Iyalah Mak, kek manalah ya kan, namanya juga lupa. Apalagi awak nikah sama orang sunda jadi lupa Mak sama tutur."

"Itu jangan dijadikan alasan. Yang namanya tutur dan adat-istiadat itu, kemanapun kita, walaupun kita sudah tinggal di perantauan, tapi kita tidak boleh lupa akan budaya kita. Tutur kita supaya tidak dipandang rendah kau Amang kalau kau jumpa sama sesama kita orang batak. Meskipun kalian sudah menjadi anak rantau tapi kalian tidak boleh lupa akan adat istiadat dari suku batak." Kali ini nasehat datang dari Togar Ayah dari kelima bersaudara itu. Dan Kelima bersaudara itupun saling menganggukkan kepalanya.

"Bapak–" Roma memeluk Togar lalu mereka berkumpul diruang keluarga.

"Sudah datang kau Boru?" Togar mencium puncak kepala Roma. "Ya sudah, mandilah dulu kau Boru, bau Rumah Sakit kau Bapak cium, sakit hidung Bapak nyiumnya." Togar menggoda putri kesayangannya itu sambil menutup hidungnya dengan jari jempol dan telunjuknya.

"Bapak–" Roma mencubit pelan perut Togar.

"Auw– sakitlah Boru!" Togar mengusap perutnya yang dicubit Roma dan yakinlah itu tidak sakit.

Roma meninggalkan semua keluarganya masuk ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap makan malam bersama.

...🌺🌺🌺...

Makan malam keluarga besar Nasution ini menjadi rutinitas bulanan mereka karena memang semua anak-anak Togar sudah berkeluarga semua hanya tinggal putri bungsunya saja.

Roma keluar dari kamarnya dengan memakai kaos warna kuning kesukaannya dan celana jogger coklat.

"Baju apa yang kau pakai itu Boru?" tanya Berta saat melihat Roma berjalan ke dapur.

"Apa yang salah mak? Kan dirumahnya bukannya mau kemana-mana." jawab Roma acuh.

"Ganti sana–, Apa kau tidak malu kalau dilihat paribanmu memakai baju begini?"

"Pariban? Siapa mak?" Roma penasaran pasalnya paribannya itu sangatlah banyak. Karena perbedaannya kalau Ayahnya memiliki 4 orang anak laki-laki, sementara saudara perempuan Ayahnya yang dipanggil dengan sebutan Namboru ada 4 orang. Yang artinya semua anak laki-laki yang lahir dari saudara perempuan Ayahnya itu adalah paribannya. (Panjelasan lebih jelasnya ada dibawah ya 😊)

"Itu Paribanmu si Robert baru datang dari Medan mau melamar kau." ucap Berta sambil menyiapkan makan malam mereka.

Deg...

"What??? Melamar???"

...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

•Eda adalah tutur timbal balik antara kita (perempuan) dengan istri saudara (laki-laki) kita.

•Ito adalah tutur timbal balik antara laki-laki dan perempuan yang bersaudara, yang semarga.

•Panggoaran adalah gelar atau nama panggilan kepada orang tua dengan menggunakan nama anak sulungnya.

•Boru artinya Anak perempuan. Biasanya seorang Ibu akan memanggil putrinya dengan panggilan Boru.

•Tokka/Tongka merupakan kata seruan peringatan akan hal-hal yang pantang, tabu, pamali untuk dilakukan atau disebutkan.

•Amang Panggilan kepada ayah kandung, sehari-hari menggunakan kata Bapak/bapa. Dan sering juga digunakan saat memanggil anak kesayangan (Laki-laki)

•Pariban arti sebenarnya sepupu. yang dimana kata pariban ini adalah tradisi perjodohan yang di anut Suku Batak jaman dulu. Dan di jadikan sebagai tradisi dan juga adat. Sampai sekarang pun tradisi itu masih bisa di temukan dikalangan Suku Batak, walaupun tidak keharusan seperti dulu lagi. Dan kata pariban ini sudah sangat umum di masyarakat Suku Batak.

• Dari sudut sebagai Laki-Laki

Pariban itu anak perempuan dari Tulang, yang dimana Tulang itu adalah abang atau adek kandung dari ibu kita sendiri

• Dari sudut sebagai Perempuan

Pariban itu anak laki laki dari Namboru, yang dimana Namboru itu adalah kakak atau adek (Perempuan) kandung bapak kita sendiri.

...💖💖💖...

Sebelumnya Author minta maaf ya Bagi warga Batak. Bila ada kesalahan dalam penjelasan tentang beberapa istilah yang Author gunakan 😊

Semoga kalian syukaa 🤗

Author juga lebih Syukaa lagi kalau kalian Like dan Coment ya 😍

Tinggalkanlah Jejakmu supaya Author bisa mengenalmu. Kalau kalian ga meninggalkan Jejak kalian jujur Author takyuuut 🤐

Author kira yang baca NOVEL Author itu semua SILUMAN karena ga kelihatan Jejaknya 😁😜

Happy Reading 😊

Episodes
1 Prolog
2 Negosiasi
3 Bahagianya Bersamamu
4 Histeris
5 Aneh Tapi Aku Suka
6 Ciuman Pertama
7 Roma VS Uly
8 Lagi Bucin
9 Lunch
10 Cuma Nanya
11 Pariban dari Medan
12 Lamunan Panjang
13 Lamaran Mami
14 Bany VS Tommy
15 Cemburu
16 Duren
17 Mengejar Restu
18 Lea
19 Ga Tahan
20 Main Gulat
21 Salah Lagi
22 Anyep
23 Menggumam bukan Membatin
24 Pasien Baru
25 Menggores Luka Lama
26 Lepas Bang, Sakit...
27 Masalah Lain
28 PERTUNOR
29 Syarat
30 Halalkan Aku
31 Di Uji
32 Berpisah
33 Kemana Perginya
34 Bertemu Ken
35 Mual dan Muntah
36 Saksi Mengatakan "Sah"
37 Restu Bara
38 Lalai
39 Siapa Kau?
40 Ledakan Bom
41 Anak Durhaka
42 Pengakuan Tio
43 Roma Pulang Kerumah
44 Lamaran Part-1
45 Lamaran Part-2
46 Udah SAH
47 Teror
48 Surga Dunia
49 Manis-manis Pedes
50 Siapa Tahu–Tempe
51 Jangan!!!
52 Hanya Kecewa
53 Perasaan Bersalah
54 Apa yang Harus Kulakukan?
55 Maafkan Aku Harus Pergi
56 Panggillan Terakhir
57 Second Opinion
58 Mas Tommy Tolong Aku–
59 Keluar–!
60 Sultan Mah Bebas
61 Pembalut
62 Thanks For Your Love
63 Kemarahan Togar
64 Menyerah
65 Anunya–
66 Mau SGM
67 Cewek Apa Cowok?
68 Kendrick Ivander
69 Tak Segampang buat Adonan Kue
70 Olahraga Malam dan Olahraga Pagi
71 Pelengkap Keluarga
72 Kejutan
73 Shopping Limited Edition
74 Hadiah Rendi
75 Dua Garis
76 Tidak Ada Ampun
77 Cemburu Tanda Cinta
78 Gara-gara Banci
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Prolog
2
Negosiasi
3
Bahagianya Bersamamu
4
Histeris
5
Aneh Tapi Aku Suka
6
Ciuman Pertama
7
Roma VS Uly
8
Lagi Bucin
9
Lunch
10
Cuma Nanya
11
Pariban dari Medan
12
Lamunan Panjang
13
Lamaran Mami
14
Bany VS Tommy
15
Cemburu
16
Duren
17
Mengejar Restu
18
Lea
19
Ga Tahan
20
Main Gulat
21
Salah Lagi
22
Anyep
23
Menggumam bukan Membatin
24
Pasien Baru
25
Menggores Luka Lama
26
Lepas Bang, Sakit...
27
Masalah Lain
28
PERTUNOR
29
Syarat
30
Halalkan Aku
31
Di Uji
32
Berpisah
33
Kemana Perginya
34
Bertemu Ken
35
Mual dan Muntah
36
Saksi Mengatakan "Sah"
37
Restu Bara
38
Lalai
39
Siapa Kau?
40
Ledakan Bom
41
Anak Durhaka
42
Pengakuan Tio
43
Roma Pulang Kerumah
44
Lamaran Part-1
45
Lamaran Part-2
46
Udah SAH
47
Teror
48
Surga Dunia
49
Manis-manis Pedes
50
Siapa Tahu–Tempe
51
Jangan!!!
52
Hanya Kecewa
53
Perasaan Bersalah
54
Apa yang Harus Kulakukan?
55
Maafkan Aku Harus Pergi
56
Panggillan Terakhir
57
Second Opinion
58
Mas Tommy Tolong Aku–
59
Keluar–!
60
Sultan Mah Bebas
61
Pembalut
62
Thanks For Your Love
63
Kemarahan Togar
64
Menyerah
65
Anunya–
66
Mau SGM
67
Cewek Apa Cowok?
68
Kendrick Ivander
69
Tak Segampang buat Adonan Kue
70
Olahraga Malam dan Olahraga Pagi
71
Pelengkap Keluarga
72
Kejutan
73
Shopping Limited Edition
74
Hadiah Rendi
75
Dua Garis
76
Tidak Ada Ampun
77
Cemburu Tanda Cinta
78
Gara-gara Banci

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!