Sebagian besar orangtua akan melihat seberapa siap calon menantu dan anaknya untuk berumah tangga. Melangsungkan pernikahan tapi tak ada kesiapan dan keyakinan kuat dari kedua pasangan, ini tentu akan menjadi beban tersendiri dari kedua keluarga pasangan.
Meminta dan mendapat restu dari orangtua untuk melangsungkan pernikahan memang tak semudah yang dibayangkan. Belum lagi, ketika orangtua juga mempertimbangkan tingkat pendidikan pasangan, mempertimbangkan pekerjaan pasangan hingga mempertimbangkan tanggung jawab pasangan di keluarga besarnya.
Dilihat dari segi pendidikan dan pekerjaan Tommy sudah tidak diragukan lagi yang menjadi masalah dan pertimbangan yang sangat berat dari Orangtua Roma adalah status Tommy yang sudah duda. Jika status perceraian Tommy dikarenakan oleh kematian mungkin Orangtuanya akan mudah menerima Tommy tapi statusnya Tommy adalah bercerai hidup dan sulit bagi Roma menjelaskan alasan kenapa Tommy bercerai pada istrinya sebelumnya.
Roma memang bercerita pada kedua orangtuanya tentang status Tommy yang bukanlah pria lajang melainkan duda. Orangtua Roma sempat keberatan namun melihat kesungguhan dari putrinya akhirnya Togar meminta Tommy untuk menemuinya.
Setelah melihat Tommy secara langsung sebenarnya kedua orangtuanya tidak lagi mempermasalahkan status Tommy namun karena permintaan Roma sendirilah yang membuat Tommy harus berjuang mendapatkan restu dari ke empat saudaranya.
Sudah seminggu ini Tommy mendekati saudara laki-laki Roma yang paling bungsu yaitu Banu. Tommy sengaja mendekati Banu lebih dulu karena Banu memiliki usaha showroom sendiri otomatis Banu orangnya berjiwa pebisnis sama dengannya jadi obrolannya lebih nyambung dan akan lebih mudah mendekatinya tentunya.
Tommy sudah memiliki semua data tentang saudara-saudara dari wanita yang ia cintai itu. Tentu saja dengan bantuan Ken.
Saat ini Tommy sedang berada di showroom mobil milik Banu.
"Bang, aku berencana ingin membuka showroom juga Bang, tapi belum dapat tempat yang cocok."
"Biasakan panggil aku Lae, kalau kau mau dapat restu dariku."
"Hehe, maaf Bang, eh maksudnya Lae. Maklumlah Lae belum terbiasa."
"Sebenarnya apa yang lae suka dari adekku si Badi itu?" Sambil sibuk mengerjakan data-data yang ada didepannya.
"Karena dia satu-satunya wanita yang sabar menungguku dan bisa menerima ku apa adanya." ucap Tommy dengan penuh percaya diri. "Meskipun dulu aku pernah sengaja menyakitinya tapi dia tetap bertahan dan menunggu dan menerima ku."
"Apa? Lae pernah menyakiti Badi?" Banu berdiri menarik kerah baju Tommy dengan mengepalkan tangannya bersiap meninju wajah Tommy.
"Tenang dulu lae–." Tommy menahan tangan Banu. "Biar aku jelaskan dulu." Perlahan Banu menurunkan tangannya dan melepaskan kerah baju Tommy.
"Aku memang sengaja menyakiti Roma supaya Roma menjauhiku. Dia terlalu baik untukku Lae."
"Bagus kalau lae sadar adekku itu memang terlalu baik untukmu. Kalau bukan karena Badi yang memang suka padamu aku tidak akan merestui kalian. Aku akan menyuruhnya menikah dengan Robert saja."
"Janganlah lae–." Tommy memelas.
"Baiklah aku akan merestui kalian tapi ingat, sekali saja kau buat Badi menangis, kau akan berhadapan denganku dulu."
"Tidak akan lae. Aku sangat mencintai Roma Lae, kalau tidak buat apa aku harus repot-repot meminta restu lae. Ini adalah syarat dari Roma sendiri lae."
"Ok baiklah. Tapi kau akan tetap berinvestasi di showroom ku kan? Kalau masalah lae mau buka showroom itu terserah Lae saja."
"Hmmm, ujung-ujungnya. Tapi tak apalah, yang penting dia sudah merestui hubungan kami."
"Ken, kau urus semuanya." perintahnya pada Kendrick sekretarisnya. "Kalau begitu lae aku permisi dulu."
"Ok. Karena lae serius ingin berinvestasi, aku kasih satu bocoran."
"Maksudnya?" Tommy yang sudah bersiap-siap untuk pergi, kembali duduk ditempatnya.
"Lae ga perlu repot-repot mendapatkan restu dari kami semua. Cukup lae temui Bara Saudaraku yang kedua. Jika Bara sudah memberikan restunya maka lae ga perlu repot-repot meminta restu sama Bang Bany dan Bang Barman."
"Hadeehhh, ternyata informasi yang aku dapat benar. Bara orang yang paling sulit untuk didekati. Rencananya aku akan menemuinya terakhir. Namun karena petunjuk dari Banu, aku ga mau buang-buang waktu ku lagi."
"Baiklah lae, terimakasih untuk informasinya."
"Oke, sama-sama."
"Semoga kau beruntung Lae." Batin Banu.
Tommy meminta Ken untuk mencari informasi lebih lanjut tentang Bara.
...🍥🍥🍥...
Tommy bersama dengan Kendrick baru saja selesai makan siang bersama seorang investor yang berasal dari negara Filipina. Mereka tertarik dengan beberapa konsep proyek yang akan dibangun Tommy di negara Filipina salah satunya Tommy akan membangun sebuah hotel bintang lima dengan pusat perbelanjaan di tiga lantai pertama. Dilantai bawah pusat perbelanjaan dan dilantai atasnya hotel. Ini akan memudahkan para pengunjung yang menginap dan shopping.
"Mamma... mama... huu.. huuu... Mamma." Tommy mendengar tangisan anak kecil saat melewati sebuah toko boneka.
"Hei sayang, kenapa kamu menangis?" tanyanya pada anak perempuan yang masih berusia sekitar 3 tahun itu.
"Mammaa... mammaa...."
Tommy dan Kendrick melihat ke sekitar mereka tapi tidak melihat seseorang yang sedang kehilangan mencari anaknya.
"Sayang, namanya siapa?" Tommy menggendong anak perempuan itu dan menghapus airmatanya dengan saputangannya. Dan seketika anak itu pun terdiam.
"Lea." jawab anak itu sambil menggosok-gosokkan hidungnya dibaju Tommy.
"Tuan baju anda–." Kendrick melihat baju Tommy kotor dengan ingus anak itu.
"Tidak apa-apa Ken."
"Lea sama siapa kesini?"
"Mammaa... huu.... huuu...." anak itu kembali menangis.
"Lea, cup-cup-cup..." Tommy mengelus punggung Lea. "Lea mau Ice cream?"
"Mau–."
"Oke, Kita makan Ice cream. Tapi Lea janji ga akan nangis lagi ya. Om janji akan mencarikan Mama Lea."
Anak itu mengangguk kepalanya.
"Lea dandi–." ucap gadis kecil itu sambil mengangkat jari kelingkingnya. gadis yang belum jelas mengucapkan kata Janji.
Tommy pun mengaitkan kelingkingnya dengan jari kelingking Lea dan anak itu tersenyum.
"Ken, kamu segera ke bagian pusat informasi dan beritahu kepada petugas disana. Mungkin orangtua anak ini sedang kebingungan mencarinya."
"Baik Tuan."
"Oya Lea tau ga siapa nama panjang Lea?"
"Tau Om." jawab anak itu cepat.
"Siapa namanya?"
"Lea dui tiuty natu tion." eja Lea, tentu saja Tommy menggeleng-gelengkan kepalanya karena bingung dengan apa yang diucapkan Lea.
"Kalau nama Mama?"
"Mama Leon dan Lea." Tommy semakin bingung. Ternyata Lea tidak tau nama Mamanya.
"Ken, kamu bilang nama anaknya Lea dan kamu sebutkan saja ciri-ciri dan pakaiannya. Aku bingung ga tau siapa nama panjangnya."
"Baik Tuan."
"Pergilah, dan tunggu mereka datang. Kami akan menunggu di cafe sana." Tommy menunjuk sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
...🌺🌺🌺...
Ditempat lain, sepasang suami istri dengan seorang anak laki-laki yang digendong suaminya berjalan menyusuri tiap toko yang mereka lewati. Pasutri itu sedang kalut dan sangat cemas mencari putri mereka yang hilang.
"Bagaimana bisa kamu kehilangannya?" tanya sang suami pada istrinya.
"Tadi dia bersamaku Pa, aku hanya menurunkannya sebentar dari gendonganku karena Leon minta dibelikan mainan. Aku menurunkan Lea karena aku ingin membayar mainan Leon. Maafkan aku Pa."
Mereka terus saja mencari disetiap toko maupun tempat bermain disana. Namun mereka sangat kesulitan karena Mall itu sangat besar.
"Kita lapor dulu aja ke bagian informasi." ucap suaminya namun langkah mereka terhenti saat mendengar pengumuman dari pusat informasi Mall itu.
"Selamat siang kepada pengunjung yang terhormat. Kami informasikan kepada pengunjung setia mall kami jika ada yang terpisah dengan seorang anak perempuan bernama Lea dengan ciri-ciri anak rambut hitam sebahu dan memakai pakaian baju kaos berwarna pink motif hello Kitty dengan hotpants dan sepatu berwarna pink. Silahkan datang ke pusat informasi lantai dua. Terimakasih. Kami ulangi sekali lagi– bla.bla.bla."
"Pa, Lea Pa." ucap wanita itu pada suaminya.
"Bagaimana bisa dia sampai dilantai dua?" Pria itu terlhat menahan amarahnya pada Istrinya.
"Maafkan aku Pa, aku tidak tahu." Wanita itu menundukkan kepalanya sambil tetap mengikuti langkah suaminya.
"Lain kali kalau mau pergi ke mall itu ajak satu asisten rumah, biar kamu ga repot sendiri."
"Iya Pa, maaf. tadi aku bareng sama eda Badi tapi tiba-tiba dia ada panggilan dari rumah sakit jadi dia balik lagi kerumah sakit." Jelas perempuan itu yang ternyata adalah kakak Ipar Roma.
"Badi–." ucap Pria itu saat melihat Roma yang berlari kearah mereka.
"Maafkan aku Bang, Eda–."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments