Malam hari pada umumnya dimanfaatkan sebagian orang untuk beristirahat melepaskan kepenatan dari seharian bekerja, tapi berbeda dengan orang yang bekerja di Rumah Sakit atau di tempat-tempat pelayanan yang buka 24 jam.
Berbeda dengan suasana di Apartemen milik gadis manis keturunan Batak itu. Saat yang seharusnya ia beristirahat melepaskan kepenatannya tapi malah melayani dua orang yang tidak mau mengalah pergi dari Apartemennya.
Saat ini Tommy dan Rendi sedang duduk berhadapan dengan kesibukan mereka masing-masing. Tommy yang sibuk dengan benda pipih yang ada di depannya sementara Rendi sibuk menjelaskan tentang keadaan luka tangan Cinta yang ia jahit tadi siang.
Flashback On
Saat itu Tommy menikmati makan malamnya bersama Roma.
"Rom... ternyata kamu pinter masak juga ya."
Tommy memuji masakan Roma padahal Roma hanya memasak Nasi goreng saja, karena bahan makanannya yang di kulkas sudah kosong jadi Roma hanya memasak seadanya saja.
"Biasa aja Bang."
"Gimana kabarmu selama setahun ini?"
"Aku gegana Bang. Aku gelisah galau meranana karenamu. Hiks..."
"Seperti yang Abang lihat, aku baik-baik saja." jawabnya datar.
"Apa kau merindukanku?"
"Sangat... Kalau Abang Rindu ga sama Roma?"
"Biasa aja." Roma masih datar.
"Oya, sekarang kamu beda ya? Gaya bicaramu juga udah beda ga seperti dulu lagi."
"Apa aneh ya Bang? Abang suka yang mana? Yang dulu apa yang sekarang? Aah, apa sih yang aku pikirkan."
"Mungkin karena tuntutan Bang, sekarang aku bekerja sebagai psikolog jadi aku harus membuat pasienku senyaman mungkin. Dulu sih aku masih kesulitan juga menyesuaikannya tapi lama kelamaan terbiasa dan seperti sekarang yang Abang lihat." Sambil melirik ke arah Tommy yang menikmati nasi goreng buatannya.
Pandangan mereka bertemu membuat Roma salah tingkah.
"Kenapa Bang Tommy makin ganteng aja sih. Tapi hati ayolah bekerja samalah. Jangan seperti ini. Kalau begini dia akan tahu kalau aku masih suka padanya."
"Bang..."
"Hmm..."
"Boleh aku bertanya?"
Tommy meletakkan sendok dan garpu keatas piringnya karena baru saja ia selesai makan.
"Mau tanya apa?" Tommy mengambil air putih yang sudah disediakan Roma padanya sebelum ia makan.
"Bang Tommy sendiri gimana kabarnya setahun ini?"
"Seperti yang kamu lihat." Tommy menjawab seperti Roma menjawab pertanyaan.
"Roma serius Bang."
"Emang siapa yang bercanda Roma" Tommy beranjak dari meja makan dan menyimpan piringnya, tapi dengan cepat Roma menghentikannya.
"Bang Tommy biar Roma saja. Abang duduk gih di depan nonton." Roma membersihkan meja makannya dan mencuci sisa piring kotor yang dipakai Tommy karena Roma hanya menemaninya makan dia sendiri sebelum pulang sudah makan diluar bersama Dewi.
"Ga ah, Abang mau temenin kamu aja disini."
"Ini cuma sebentar Bang."
"Ia ga apa-apa Abang temani, atau kamu keberatan Abang disini nemenin kamu?"
"Serah deh Bang. Panjang urusannya kalau debat sama Abang."
"Bang..."
"Hmm..." Tommy melihat pesan di ponselnya.
"Kenapa waktu Roma di rawat di Rumah Sakit di London Abang ga datang jenguk Roma?"
Deg...
Pertanyaan yang sangat ingin di hindari Tommy.
"Abang..."
Ting Tong... Ting Tong....
Belum sempat Tommy menjawab pertanyaan Roma tiba-tiba terdengar suara bell Apartemen berbunyi.
"Siapa sih yang datang malem-malem gini.?" sambil melirik kearah jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Siapa yang datang malam-malam gini, ganggu aja." Batin Tommy.
"Sebentar ya Bang Roma lihat dulu."
Roma berjalan kearah pintu lalu membuka pintu apartemennya.
Roma sangat terkejut melihat seseorang yang didepannya.
"Rendi..."
Mendengar Roma menyebutkan nama laki-laki membuat Tommy langsung menoleh kearah Roma berdiri.
"Cowok itu, bukannya cowok yang datang bersama Roma tadi?" Batin Tommy.
"A.ada apa kesini Ren?" tanya Roma gugup.
"Kenapa? Emang ga boleh aku main ke Apartemen mu?"
"Bukan begitu, tapi tumben aja."
"Jadi aku ga boleh masuk nih?" tanya Rendi.
"Eh, Iya. Masuk yuk."
Baru selangkah Rendi masuk tiba-tiba ia melihat Tommy yang duduk disofa sambil nonton TV.
"Kamu ada tamu Ly?"
"Oh, ini Bang Tommy kakak Sahabatku yang keponakannya tadi siang Aqiqah."
"Bukannya yang Aqiqah anaknya Zio?"
"Iya, tapi ini Bang Tommy Kakaknya Zia juga." Roma sedikit bingung menjelaskan hubungan Zia dengan Tommy. "Oh ya Bang, kenalin ini teman aku Rendi dan Ren ini Bang Tommy."
"Rendi..."
"Tommy..."
Flashback off
Setelah berkenalan mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Roma ke dapur membuatkan kopi untuk Rendi dan Tommy.
"Oh ya Ren, ada apa kamu kesini?"
"Tadinya mau ngajakin Lo kencan." ucap Rendi sengaja menggoda Roma.
Sementara Tommy hanya melirik sebentar kearah Rendi sambil tetap fokus pada layar TV didepannya tapi dengan telinga yang tetap On mendengar obrolan Roma dan Rendi.
"Apaan sih Ren..."
"Kenapa? Lo ga mau?" Rendi melihat kearah Tommy ingin tahu hubungan Roma dengan Tommy.
"Jangan bercanda dong, serius nih aku tanya kamu ngapain tumben datang kesini?"
"Lah aku serius juga Uly."
"Hah, Uly? Kenapa dia manggil Roma dengan Uly? Roma kan paling ga suka kalau di panggil Uly? Tapi kenapa dia ga marah kalau orang ini memanggilnya Uly?" Batin Tommy seperti Roma VS Uly saja.
"Ya udah deh kalau ga ada yang mau kamu obrolin mendingan kamu pulang deh, Aku capek mau istirahat." ucap Roma pada Rendi. "Abang juga pulang Bang..." lanjutnya lalu melihat pada Tommy.
"Lo ngusir gue Ly?"
"Kamu ngusir Abang dek?"
Keduanya kaget dan sama-sama melihat kearah Roma.
"Udah malam Bang, nanti Abang kemaleman pulangnya."
"Kamu juga Ren, kalau kamu ga ada urusan mending pulang juga deh."
"Oke. Oke. Gue kesini mau bahas Cinta."
"Apa? dia mau ngapain? Apa dia mau melamar Roma? Ga, ini ga bisa dibiarkan." Batin Tommy.
Tommy salah mengartikan maksud dari Rendy.
"Dek bahas Cintanya besok aja, ya udah kami pulang aja ya." Tommy mencoba menarik tangan Rendi tapi Rendi merasa heran dan juga risih di tarik oleh Tommy.
"Sorry Bro... Kalau lo mau pulang silahkan pulang saja duluan. Gue masih disini mau bahas masalah Cinta sama Uly dan ga bisa dipending." ucap Rendi dengan bahasa yang sok akrab.
Tommy merasa kesal karena Rendi tidak mau pulang.
"Ya udah kalau dia ga pulang, Abang juga ga pulang dek." ucap Tommy yang sengaja membuat Rendi kesal dengan memanggil Roma dengan sebutan Adek.
"Mareka ini apa-apaan sih. Kenapa jadi pada ngotot ga mau pulang?'
Roma kesal melihat kelakuan kedua pria didepannya yang terlihat seperti anak-anak.
"Apaan sih kalian berdua, Ya udah kalau kalian ga ada yang mau pulang, biar aku yang keluar"
"JANGAN..." teriak keduanya bersamaan.
"Oke. Gue kesini mau bahas masalah Cinta sama lo."
"Yaelah, Cinta lagi Cinta lagi yang mau dibahas bocah tengik ini." Batin Tommy
"Ya udah buruan." ucap Roma
"Tangan Cinta lukanya sangat dalam, dan gue harus memeriksanya langsung besok." Rendi menghentikan ucapannya lalu menyeruput kopi buatan Roma.
"Terus..."
"Sabar Uly..."
"Yaa dia manggil Uly lagi. Kok aku kesal ya dia panggil Roma Uly. Kayak panggilan sayang aja."
"Oke, Lanjut."
"Gue mau bahas gimana caranya besok gue bisa lihat tangan Cinta sementara Lo sendiri bilang kalau Cinta kan ga bisa didekati sama Cowok."
"Oo... Cinta itu nama orang toh. Kirain...'
"Jadi kamu jauh-jauh kesini hanya untuk menanyakan itu?" Roma tampak kesal.
"Ga, gue serius tadi sama ucapan gue. Gue mau ngajak lo kencan, tapi sialnya ada si kadal ini nih. Sebenarnya siapa sih dia?" Batin Rendi.
"Iya." jawab Rendi enteng.
"Kan bisa VC dongok..." ucap Roma kesal.
Mana nih Like, Coment dan Vote nya. Kok masih belum nongol? 🙄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments