Rumah Sakit Citra Medistra
Teduh, jauh dari ingar bingar kota, tertata rapi, serta bersih. Itulah kesan pertama yang terlintas saat memasuki area Poli Psikiater Rumah Sakit Citra Medistra. Bangunan yang dibedakan antara pasien yang berobat jalan maupun yang rawat inap dengan penyakit yang umum dengan pasien yang memiliki perawatan khusus bagian kejiwaan. Meskipun di daerah yang sama namun bangunannya terpisah. Itu guna untuk kenyamanan bagi pasien yang mengalami gangguan jiwa. Namun bukan rumah sakit Jiwa. Poli Psikiater yang ada di Rumah Sakit Citra Medistra hanya untuk menangani pasien-pasien tergolong dengan gangguan ringan dan masih sadar dengan kondisi kesehatannya. Dan bila mereka menemukan pasien dengan kriteria yang harus mendapatkan penanganan khusus dari Rumah Sakit Jiwa maka mereka akan merujuknya.
Roma terlihat kurang fokus dalam pekerjaannya. Sudah dua kali ia salah memerintahkan perawat jaga yang jaga shif bersama dengannya.
"Dokter Uly ada masalah? Dari tadi galfok terus!" tanya Tara dokter spesialis psikologi yang sudah senior yang seprofesi dengannya.
"Dokter Uly–" Tara menjentikkan tangannya didepan wajah Roma.
Roma pun tersadar dari lamunannya. "Maaf dok, ada apa?"
"Lah kok malah nanya."
"Hmm–, maaf dok."
"Dokter Uly lagi ada masalah?"
"Ga ada dok–"
"Tapi kenapa melamun terus?"
"Hehe–" Roma mengusap tengkuknya.
"Malah cengengesan–"
"Oya, gimana kabar Cinta? Apa sudah ada kemajuan?" Tara mengalihkan pembicaraan ia ingin tahu kondisi pasien yang tidak bisa ia tangani itu. Karena Cinta tidak bisa didekati oleh laki-laki.
"Sudah lumayan dok, responnya juga sudah lumayan. Sekarang sudah mau diajak bicara meskipun jawabnya masih seperlunya."
"Baiklah, kamu perhatikan Cinta terus ya. Saya mau lanjut praktek. Oh ya kamu sudah mau pulang?"
"Iya dok, ini tinggal nyiapin sedikit lagi resume pasien."
"Ya sudah saya kedalam dulu."
Tara meninggalkan Roma dan masuk keruangannya.
drt...drt... drt...
Handphone Roma bergetar di kantongnya. Ia merogoh kantongnya mengambil ponselnya dan melihat nama si penelpon.
📞My Sain💖 Calling....
"Hallo Bang, ada apa?"
"Ada api–" Tommy tersenyum menggoda Roma.
"Panggil Damkar Bang, kenapa malah nelpon aku." Roma menjawab ketus karena dirinya sedang tidak ingin bercanda.
"Haha– gitu aja marah. Jutek amat sih? Abang udah diparkiran nih."
"Hah– mau ngapain?" Bloon Roma kambuh.
"*Ya mau jemput kamulah–, Mami ngundang kamu makan malam."
"Ada apa lagi ini*?" Batin Roma.
"Aku udah dijalan pulang Bang–" Roma berbohong ia merasa tak enak jika menolak langsung.
"*Kamu itu kalau mau bohong ya kira-kira dong dek. Abang nih parkirnya disamping mobil kamu loh–"
"Sial*–!" Umpat Roma dalam hati
"Hehehe–, ketahuan ya? Ya udah tunggu bentar ya."
Roma tak dapat mengelak lagi, dan benar saja Tommy sudah menunggunya diparkiran dan tepat disebelah mobilnya.
"Aku kan bisa datang sendiri Bang, ga usah dijemput segala." Roma masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Tommy.
"Di jemput aja kamu coba ngelak apalagi kalau ga dijemput–."
"Soalnya Roma capek banget Bang, pengen langsung pulang." Roma memberi alasan tapi memang itu yang sebenarnya.
Tommy melihat perubahan raut wajah Roma yang tidak seperti biasanya. Roma yang dikenal Tommy saat ini sangat berbeda dengan Roma yang dikenalnya setahun yang lalu. Roma yang dulu yang begitu agresif dan mendambakan dirinya bahkan tidak malu-malu untuk mendekati dirinya. Kini terlihat begitu sangat menjaga image-nya.
"Kamu ga seneng ketemu Abang?"
"Kok Abang ngomong gitu sih?"
"Abis muka kamu jelek kalau cemberut begitu!"
"Siapa yang cemberut? Aku tuh cuma capek Bang–"
"Aku capek dipikiran Bang, pikiranku kacau sekarang."
Roma kembali teringat kejadian tadi malam dirumahnya.
Flashback On
"Pariban? Siapa mak?" Roma penasaran pasalnya paribannya itu sangatlah banyak.
"Itu Paribanmu si Robert baru datang dari Medan mau melamar kau." ucap Berta sambil menyiapkan makan malam mereka.
Deg...
"What??? Melamar???"
"Melamar gimana maksud Mamak?" Roma mencomot satu biji buah anggur merah yang dipegang Ibunya.
"Nanti kau juga tau maksud dari omongan Mamak. Ayolah ke ruang makan. Memangnya kau ga lihat paribanmu diruang makan lagi ngumpul sama ito-itomu?."
"Enggak, tadi dari kamar langsung ke sini." Roma tidak menyadari kalau paribannya itu sudah duduk bersama saudara-saudaranya.
"Kau gantilah dulu bajumu itu." perintah Berta.
"Alah Mak, ngapain harus cantik-cantik kalau memang dia suka ya harus terima apa adanya lah."
"Kau itu memang susah diatur." Berta menggelengkan kepalanya. Ia sangat tahu betul sifat borunya itu tidak suka dipaksa dan keras kepala seperti suaminya.
"Ya sudahlah, bawa ini ke meja makan." Berta memberikan semangkok Ayam gulai ke tangan Roma.
Roma berjalan keruang makan dan benar saja ia melihat Robert paribannya sudah duduk dimeja makan bersama dengan B-Brother saudaranya.
"Sudah mandi kau boru?" Togar melihat putrinya datang membawa semangkok ayam gulai ditangannya.
"Sudah Pak–"
"Masih kenal kau sama paribanmu ini?" Togar melihat Roma dan Robert bergantian.
"Ya masihlah pak. Iban apa kabar?" Roma terlihat malas untuk menyapa.
"Baik, Iban sendiri gimana kabarnya?"
"Ya–, seperti yang iban lihatlah!"
"Sudah-sudah nanti saja kalian lanjut ngobrolnya ya. Kita makan saja dulu." Berta menyadari kalau Roma tidak begitu menyukai kehadiran Robert diantara mereka.
Mereka pun makan dengan hening, peraturan di rumah keluarga besar Nasution itu sangat pantang bila bicara pada saat makan. Apalagi kalau terdengar decakan suara dari mulut. Togar akan sangat marah dan langsung bilang "Apa tidak bisa kau menutup mulutmu itu saat mengunyah? Kalau bersuara seperti itu sama saja kau seperti b*bi saat makan." Suara tegas dan kasar itu akan sangat menakutkan bagi siapa yang mendengarnya.
Setelah selesai makan mereka berkumpul diruang keluarga sang para istri dari saudara-saudaranya sibuk berada di kamar masing-masing menidurkan anak-anak mereka.
Roma sebenarnya sangat malas untuk bergabung disana tapi Berta memaksanya untuk bergabung.
"Nah, sini boru. Duduklah disamping bapak." Togar menepuk sofa mengisyaratkan agar Roma duduk disampingnya.
Tanpa menjawab Roma langsung duduk disamping Togar.
"Sekarang katakanlah bere maksud kedatanganmu kemari apa?"
Sebenarnya Togar sudah mengetahui tujuan Robert datang kerumahnya tapi ia ingin Robert mengatakan langsung niatnya itu pada putrinya.
"Maksudnya apa Pak?" Roma mulai yakin apa yang dikatakan Ibunya itu benar adanya.
"Makanya kau dengarlah dulu apa yang mau dibilang si Robert samamu." Togar mengelus rambut Roma. "Bilanglah bere–"
"Mauliate Tulang (Terimakasih Paman)" Robert memperbaiki posisi duduknya ia juga terlihat sangat gugup. "Begininya itu Pariban, maksud kedatanganku jauh-jauh dari Medan kesini dengan maksud untuk manopot Pariban jadi parumaen ni da inang (Menantu perempuan untuk Mamak)"
Deg...
Roma benar-benar terkejut apa yang dikatakan Ibunya itu benar adanya. Ia bingung harus berkata apa. Dan bukan hanya Roma ke empat B-Brother itu pun terkejut.
"Bah, kenapa mendadak kali lae?"
Bara melihat ada ketidak nyamanan dengan Roma, ia sangat mengerti dengan sifat adik perempuannya itu dari ke empat saudaranya hanya pada Bara lah Roma begitu terbuka setelah Ibunya.
"G.ga juga sih lae." jawab Robert gugup.
Sudah lama Robert menaruh hati pada Roma tapi Robert takut Roma akan menolaknya. Akhirnya ia memberanikan diri menemui Roma setelah mendapatkan dukungan dari Ibunya yang tak lain adalah saudari kandung dari Togar. Sebelumnya Ibunya sudah meminta pendapat Togar lebih dulu namun Togar mengatakan semua itu tergantung keputusan Roma. Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya kepada putrinya sendiri apalagi Roma adalah putrinya satu-satunya.
"Jadi lae jauh-jauh datang mau melamar adekku inilah?" Banu tampak mulai tidak suka apalagi Banu sangat menentang pernikahan antar sepupu. "Memangnya kapan lae mau menikahi adekku ini?"
"Kalau mamak bilang lebih cepat lebih baik."
"Bah, minta bantuan Namboru rupanya kau ya?" Barman mulai angkat bicara melihat sinis kearah Robert.
Ada perasaan haru dihati Roma saat melihat saudara-saudaranya yang sangat peduli dengannya.
"Kalau Lae mau menikahi ito kami ini, Lae dekatilah dia sama seperti laki-laki lain yang mendekatinya. Gentleman lah Lae, jangan andalkan persaudaraan Namboru dengan Bapak." Kali ini serangan dari Bany langsung tepat sasaran.
"Kami ga melarang siapapun mendekati adek kami ini, tapi kami ga akan terima bila ada laki-laki yang menyakitinya. Laki-laki itu harus berhadapan dengan kami, termasuk juga Lae." Bara kembali menuturkan isi hatinya. Ia memang sangat menjaga Roma.
Robert menahan malu dan amarahnya. Dalam hatinya seperti sulit untuk mendapatkan paribannya itu. Karena ia harus melewati ke empat benteng yang menjaganya.
"Tapi lae, aku ingin dengar jawaban dari Roma langsung–"
Deg...
Jantung Roma kembali berpacu kencang. Ia yang tadinya hanya diam kini kembali tersudut, ia menatap B-Brother nya itu satu persatu seolah meminta bantuan pada mereka.
"Jawablah Boru–" Berta memegang tangan Roma.
"Hmmm– Beginilah itu Bere." Togar mengeluarkan suaranya. Roma berharap Ayahnya itu akan membantunya. "Kau kan sudah dengar apa yang dikatakan Lae-laemu, Tulang pikir pun tidak ada yang salah yang mereka katakan itu. Karena itu bentuk kasih sayang mereka sama ibotonya apalagi si Roma ini kan putri Tulang satu-satunya. Jadi Tulang harap kau pun ga tersinggung dengan ucapan mereka." Togar menarik nafasnya perlahan lalu melanjutkan ucapannya. "Jadi Bere, kasihlah waktu untuk si Roma, biarlah dia berpikir dulu. Karena Tulang lihat dia pun sangat kaget. Kalau Tulang dang sipangorai manang sipanjujui (Tidak melarang bukan juga menyuruh) semua keputusan Tulang serahkan sama boru Tulang ini."
"Cemmana Lae cocok kam rasa?" Bara mencairkan suasana yang sudah tegang dari awal itu.
Flashback off
"Rom–, Roma!" panggil Tommy tapi Roma masih terhanyut dalam pikirannya sendiri.
"Cup." Tommy mencium bibir Roma dan seketika menyadarkan Roma dari lamunan panjangnya.
"Bang Tommy–, apaan sih mesum banget."
"Kok mesum sih?"
"Terus apa namanya kalau main cium-cium tanpa permisi?" Tommy hanya tersenyum lalu memeluk Roma.
"Kamu kenapa dari tadi diam aja? Abang panggil juga ga nyahut-nyahut?"
"Masa sih Abang panggil Roma?" Roma melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Tommy.
"Iya– dari tadi malah."
"Eh Bang kita dimana ini?" Roma mengedarkan pandangannya melihat sebuah mansion yang sangat indah dan besar tepat didepannya.
"Dirumah Mami, ayo turun–" Tommy membuka seatbelt-nya lalu keluar mengitari mobilnya dan membuka pintu untuk Roma.
"Makanya jangan melamun terus jadi ga sadar kan kalau kita udah sampai." Tommy tersenyum mengulurkan tangannya pada Roma.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
• Bere artinya keponakan atau sapaan kekerabatan kepada anak laki-laki dari saudara perempuan (Ayah)
• Tulang adalah saudara laki-laki ibu atau sering kita sebut paman.
• Manopot artinya menemui, melawat, mengunjungi bisa juga diartikan sebagai melamar.
• Parumaen artinya Menantu Perempuan
• Inang artinya Mama
• Lae adalah ipar, sapaan laki-laki kepada saudara laki-laki istri, sapaan sesama laki-laki beda marga, sapaan laki-laki kepada laki-laki yang belum kenal sesama, sapaan laki-laki kepada anak laki-laki saudara laki-laki ibu, sapaan laki-laki kepada anak laki-laki saudara perempuan ayah, sapaan sesama besan laki-laki, sapaan laki-laki kepada suami kakak maupun suami adik, sapaan suami kakak atau suami adik kepada saudara laki-laki istri, suami saudari, saudara laki-laki istri, saudara laki-laki suami kakak peremuan atau adik peremuan, anak laki-laki dari paman (abang atau adik laki-laki ibu) dari kakek, yang satu marga dengan marga ibu (di sini yang harus sebaya dengan kita), sapaan kepada orang yang marganya lain (tetapi tidak boleh ke yang lebih tua dari kita)
• Namboru/Bou panggilan kita terhadap saudara perempuan ayah kita, panggilan terhadap perempuan yang merupakan keturunan semarga kita yang urutannya setingkat dengan ayah kita.
SELAMAT MENYAMBUT HARI LIBUR 😍
Jangan Lupa Absen ya 😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments